
“ Dia mempunyai dua orang putra kembar, namun tidak menikah. Aku ingin bersamanya sangat ingin, tapi aku khawatir jika putranya tidak menyukaiku. Aku juga belum bertemu dengan kedua putranya. Aku akan bahagia sekali jika kedua putranya itu menerimaku,” ucap Nelson dengan sedikit cemas.
Teman-temannya menyemangati Nelson. “ Berusahalah untuk mendapatkan hati kedua anaknya,” ucap Yohan.
“ Jangan cemas begitu. Kau bahkan belum bertemu mereka,” ucap Robin.
Mereka tidak pernah melihat Nelson secemas ini disebabkan seorang wanita, mereka bahkan meminta Nelson untuk mengenalkan calon kakak ipar kepada mereka. Nelson hanya tersenyum seraya berkata. “ Jika waktunya sudah tepat, akan aku kenalkan dia pada kalian,” ucapnya.
Mereka berada di bar sampai mereka semua mabuk, namun tidak dengan Nelson. Toleransi alkohol Nelson sangatlah tinggi jadi dia tidak mudah mabuk.
Nelson meminta kepada Evan untuk menghubungi seseorang agar mereka membawa pulang para sahabatnya ke rumah mereka masing-masing, sedangkan Nelson kembali ke mansionnya.
Saat dia melangkah ke dalam rumah, dia melihat bayangan Bella yang tersenyum hangat padanya, dia teringat dengan kehadiran anak-anak yang membuatnya tidak kesepian di mansionnya. Nelson hanya tersenyum getir meratapi mansion yang kosong, dingin, dan tanpa kehangatan.
Di pagi hari Bella yang masih tertidur.
Dean telah bangun lebih awal, seperti biasa dia mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak untuk sarapan pagi ini.
__ADS_1
Dion juga masih tertidur, Dean tidak membangunkannya karena adiknya pasti kelelahan setelah bekerja semalaman. Setelah menyiapkan meja makan tiba-tiba dia merasakan kepalanya sangat sakit.
“ Ah.. apa yang terjadi padaku?” Ucapnya seraya memegangi kepalanya.
Dean berpegangan pada meja hingga akhirnya dia terjatuh meringkuk, tak ada yang mendengar Dean yang terjatuh, dia meringkuk di bawah meja makan sendirian.
Dean yang merintih kesakitan beberapa menit kemudian rasa sakitnya mereda, Dean bangkit menuju kamar mandi berniat membasuh wajahnya, dia melihat wajahnya di cermin begitu pucat, di dalam batinya dia berkata.
“ Tidak biasanya aku seperti ini?
“ Ibu bangunlah, ini sudah pagi,” bisiknya.
Bella perlahan membuka kedua matanya, dia tersenyum seraya berkata. “ Pagi anakku sayang.”
Dean berkata.” Apakah tidurmu nyenyak?”
Bella menjawabnya dengan mengangguk, kemudian bangun dan mencium kening Dean.
__ADS_1
“ Pergilah mandi makanan sudah siap,” ucapnya.
Setelah melihat ibunya berjalan ke kamar mandi, dia berjalan keluar dari kamar ibunya. Dean menahan rasa sakit di kepalanya di balik pintu kamar ibunya, Dion yang sudah bangun melihatnya khawatir, dia pergi menghampiri dan bertanya pada kakaknya.
“ Apa yang terjadi? Apa kakak sakit? Dion semakin khawatir melihat wajah Dean yang pucat pasi itu.
“ Aku… aku tidak apa-apa! Aku hanya merasa pusing saja, mungkin dengan istirahat sebentar nanti akan membaik, jangan berlebihan,” ucap Dean.
“ Sepertinya sakitnya parah kakak, wajahmu memperlihatkan semuanya. Kau perlu ke rumah sakit,” ucap Dion.
“ Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja. Jadi jangan bicara pada ibu tentang apa pun, aku tidak ingin ibu cemas. Tidak perlu ke rumah sakit, sebentar lagi akan membaik.” Pinta Dean.
Dion hanya mengangguk menuruti keinginan Dean.
Dukung dengan cara; like vote, dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹
Bersambung
__ADS_1