
Di sisi lain Bella sedang berada di balkon, dengan seksama melihat Nelson dan kedua putranya yang sedang bermain air di sungai kecil belakang rumah, Bella bahkan mendengar suara gelak tawa mereka bertiga. Dia merasa ikut bahagia melihat kedua putranya sangat akrab dengan Nelson, pilihannya untuk bersama Nelson memang benar. Nyatanya kini dirinya dan kedua putranya bahagia. Bella menatap mereka kagum.
Hampir semua pelayan memperhatikan mereka bertiga, menatap kagum, kedua anak itu merubah tuan mudanya, yang dingin dan angkuh itu menjadi pribadi yang lebih ceria dan sesekali memperlihatkan senyuman yang menawan, membuat para gadis terpesona.
Hari telah semakin gelap, tak terasa Nelson telah menghabiskan setengah harinya untuk bermain dengan anak-anak.
Kepala pelayan menghampiri mereka, dengan lembut berkata. “ Tuan muda, tuan Evan telah datang.”
Nelson tanpa menatapnya berkata. “ Antarkan dia ke sini.”
Kepala pelayan menjawab, “ Baik tuan muda.”
Kepala pelayan pun beranjak pergi untuk menjemput Evan. Setelah lima menit akhirnya Evan datang menghampiri Nelson. Dan satu pandangan yang membuatnya tidak percaya, seorang Nelson yang dingin dan angkuh itu mampu membuat anak-anak tertawa dengan lepasnya. Raut wajah Nelson tidak sedingin seperti biasanya, dia terlihat begitu hangat, terlihat senyuman yang tulus darinya.
Evan dengan lembut dan hormat berkata. “ Presdir, segala sesuatunya sudah sudah beres, jadwal keberangkatan tepat pukul 23.00 malam ini.”
Nelson segera beranjak dari air menghampiri Evan, dengan suara pelan namun dingin dia berkata, “ Kerja bagus.” Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Nelson.
Evan kemudian bertanya, “ Presdir, apakah Anda sudah melihat berkas yang sudah saya berikan?”
Dengan tenang Nelson menjawab. “ Belum, aku belum memeriksanya. Ada apa?”
Evan menjawab. “ Tidak, tidak ada presdir.”
Nelson berkata, “ Sebaiknya kau tinggal, makan malam lah di sini bersama kami.”
Evan menjawab, “ Tidak, tidak perlu. Saya bisa makan di luar.”
__ADS_1
Dion menimpalinya, “ Ayolah paman, makan malam lah bersama kami. Bukankah makan bersama itu lebih menyenangkan?
Evan berkata, “ Baiklah Presdir.”
“ Anak-anak ayo kita sudahi hari ini. Kalian pasti kedinginan bukan bermain air?” Nelson bertanya seraya membantu anak-anak ke tepi. Para pelayan juga sudah bersiap untuk memberikan handuk kering pada mereka.
Nelson bertanya pada anak-anak, dia berkata. “ Pakailah handuknya, agar tidak dingin. Apakah kalian senang?”
Dion menjawab. “ Ya , kami berdua sangat senang ayah. Bagaimana jika kita bermain bersama lagi lain hari?”
Nelson dengan tersenyum berkata, tentu saja. Tunggu ayah pulang, kita akan bermain bersama lagi. Apa yang kau inginkan dari ayah jika pulang nanti?”
Dion sedikit berpikir hingga akhirnya dia berkata, “ Tidak perlu, asalkan kalian kembali dengan sehat itu sudah cukup bagiku.”
Dengan lembut Nelson mengusap kepala Dion. Evan merasa sangat asing dengan sikap Nelson yang begitu hangat pada mereka berdua, berbeda saat bersama dirinya.
Ketika masuk ke dalam mansion, Bella yang sudah menantikan mereka bertiga berkata. “ Sudah puas mainnya?”
Setelah lima belas menit menunggu akhirnya Nelson telah rapih, setelah makan malam rencananya Nelson dan Dean akan berangkat ke bandara. Anak-anak sudah selesai mandi, Bella membantu menyiapkan makan malam, membantu koki memasak beberapa hidangan sederhana lainnya, Evan sedang sibuk dengan Ipadnya. Sedangkan Nelson menemani anak-anak nonton di ruang keluarga, serta mengobrol dan sesekali tertawa. Evan sungguh merasakan hal baru, setelah sekian lama dia bekerja dengan Nelson. Namun, akhirnya dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sisi hangat dari presdir yang biasanya angkuh dan bertangan dingin itu.
Pukul 19.00 tepat, meja makan telah siap, Bella dengan anggun berjalan menghampiri mereka, suaranya yang lembut terdengar memanggil semua orang untuk datang ke meja makan.
“ Makan malam telah siap,” seru Bella.
Semua orang pun bergegas ke meja makan, di sana terlihat banyak hidangan telah tersaji dengan rapih dan mewah.
Bella dengan senyumannya mempersilahkan Evan untuk mengambil makanannya, dengan lembut dia berkata. “ Makanlah Evan, jangan sungkan.”
__ADS_1
Namun, yang dirasakan Evan adalah sepasang mata memperhatikannya dengan ganas yang membuatnya bergidik ngeri. Di meja makan semua orang makan dengan tenang tanpa suara, hanya sendok, garpu , dan piring yang terdengar bergesekan. Evan melihat sekelilingnya anak-anak makan dengan lahap dan tenang. Setelah 15 menit berlalu, perlahan-lahan mereka meninggalkan meja makan. Hanya menyisakan Bella yang membantu untuk membereskan meja makan. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat lembut di telinganya, “ Bella, jangan membereskan meja makan lagi! Ada pelayan yang akan menyelesaikannya.” Nelson berkata seraya memeluknya dari belakang.
Bella yang menyadari banyak orang di ruang makan dan dapur. Dengan lembut berkata, “ Nelson, hentikan. Di sini terlalu banyak orang, jika mereka melihat kita seperti ini bagaimana?”
Nelson membalas perkataan Bella, dia berkata, “ Apa yang harus kau takutkan? Kita suami istri, lagi pula mereka di didik untuk tidak mendengar, dan melihat apa yang terjadi di sini! Kau mengerti sekarang,”
Bella sedikit tercengang kala Nelson berbicara seperti itu, wajahnya sedikit merona di buatnya.
Nelson berkata, “ sebentar lagi aku berangkat, apa kau sudah mengemas keperluanku?”
Bella menjawab dengan sedikit gugup, “ Ya, sudah. Tinggal meminta Evan untuk membawanya ke mobil.”
Nelson seraya mengecup keningnya berkata.” ketja bagus, terima kasih.”
Setelah semuanya selesai dan lengkap. Mereka berpamitan pada Bella dan Dion. Bella menghampiri Dean, seraya memeluknya dia berkata,.“ Jangan nakal, patuhi perkataan ayahmu, jaga kesehatanmu ya sayang!”
Dean hanya menganggukkan kepalanya.
Nelso seraya berbisik berkata. “ Jaga dirimu dengan baik selama aku tidak ada disampingmu, jagalah Dion dengan baik, temani dia. Dan tunggulah aku pulang, dan kita akan membuat pesta pernikahan.” Nelson mencium kening Bella sebelum melangkahkan kakinya keluar. Setelah memeluk Bella dan Dion akhirnya Nelson dan Dean berangkat.
Di perjalanan menuju bandara Nelson dan Dean tertidur. Kini tersisa Evan dan Roy yang masih terjaga. Roy dengan sopan dan lembut berkata. “ Tuan Evan, silahkan tidurlah. Perjalanan menuju bandara cukup jauh, sebaiknya anda istirahat juga.”
Evan berkata, “ Akh ya, baiklah. Jika akan sampai tolong bangunkan saya.”
“ Baik tuan.” Jawab Roy.
Roy dengan hati-hati mengemudi, takut akan membangunkan orang yang sedang tertidur di kursi belakang. Menatap majikannya memeluk seorang anak, membuatnya merasakan kebahagiaan yang tak ternilai. Jika di pikirkannya lagi. Roy telah bekerja cukup lama di keluarga Hongli. Namun baru kali ini dia menyadari bahwa majikannya memiliki sisi yang begitu baik, dan hangat.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹
Bersambung