
Oliver sedikit terpaku kala mendengar perkataan Dean. Biasanya dia mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan dari anak-anak orang kaya yang menyewa jasanya. Namun, berbeda dengan Dean, walaupun berwajah dingin, dan angkuh. Dia memiliki hati yang hangat, perilakunya sangat bagus, Oliver kagum dengan didikan orang tuanya.
Dean melambaikan tangannya, seraya bertanya. “ Mr. Olaf… Mr. Olaf, apakah Anda mendengarkan ku?”
Oliver sedikit kaget, seraya berkata. “ Ahh, iya. Ada apa Tuan muda? Apakah Anda membutuhkan sesuatu?”
Dean berkata, “ Tuan Evan sudah berada didepan, sebaiknya kita pergi.”
Nelson menghampiri Dean seraya berkata. “ Sayang, apakah kita akan mampir kesuatu tempat lebih dulu?”
Dean berkata, “ Tidak perlu ayah, sebaiknya kita kembali ke hotel.”
Nelson menjawab. “ Baiklah, Nak.”
Nelson berjalan meninggalkan Oliver di lobi rumah sakit, dia masih terpaku. Hingga akhirnya panggilan Dean menyadarkannya.
Dean berkata. “ Mr. Olaf, ayo pergi.”
Oliver mengikuti Nelson menuju mobilnya, dia memasukkan barang bawaannya ke dalam bagasi mobil, dia pun duduk di kursi depan bersama dengan Evan yang mengemudi.
Mobil maserati berwarna hitam itu meleseat ke jalanan, hingga bayangannya tertelan padatnya jalan raya. Di dalam mobil sangat hening tak ada yang bersuara, bagi Oliver yang baru pertama kali bertemu keluarga yang tidak banyak bicara, membuatnya sedikit canggung.
Tiba-tiba terdengar suara lembut namun sedikit parau. “ Ayah, bisakah kita makan terlebih dahulu? Aku sangat lapar,”
Nelson berkata, “ Tentu saja. Evan cari restoran terlebih dahulu, putraku ingin makan sesuatu.”
Evan menjawab. “ Baik, Presdir.”
Setelah berkeliling, mereka berhenti disebuah restoran mewah. Setelah memarkirkan mobil mereka turun. Namun Oliver tidak ikut turun.
Nelson bertanya, “ Ada apa? Kenapa kau masih disitu?
Oliver menjawab. “ Biasanya jika orang yang saya jaga makan bersama keluarganya, saya diminta untuk menunggu dimobil Tuan.”
Nelson sedikit terdiam, saat dia hendak mengatakan sesuatu. Dean mendahuluinya,
Dean berkata. “ Mr. Olaf, ikutlah bersama kami. Kami tidak akan meninggalkanmu disini. Anda harus ikut makan bersama kami.”
Oliver begitu bahagia kala mendengar perkataan Dean, tidak biasanya dia mendapatkan perlakuan yang begitu hangat.
Oliver bangkit dari duduknya, dan keluar dari mobil, seraya berkata. “ Baik Tuan.”
Sungguh anak yang luar biasa bukan?
Mereka memasuki restoran dan memesan cukup banyak makanan dan minuman.
Melihat Oliver hanya makan sedikit, Dean berkata seraya tersenyum. “ Mr. Olaf, makanlah lebih banyak, agar kau tidak lemas saat menjagaku.”
__ADS_1
Nelson yang mendengar perkataan putranya pun mengalihkan pandangannya, pada Oliver dia berkata. “ Makanlah lebih banyak, kau perlu banyak tenaga untuk menjaga putraku.”
Oliver merasa senang, karena dirinya mendapatkan keluarga yang baik, walau terkesan dingin dan angkuh.
Setelah lima belas menit berada di restoran, mereka pun beranjak pergi.
Di perjalanan tiba-tib saja, Dean merasakan sakit di kepalanya.
“ Ahhh, Ayah…” seru Dean.
Nelson panik, dia bertanya, “ Ada apa? Bagian mana yang sakit? Evan menepilah?”
Evan melihat sekeliling jalan, namun terlihat dari pemberitahuan bahwa di larang menepi.
Nelson berkata. “ Apa yang kau lakukan? Bukankah aku memintamu untuk menepi?”
Evan menjawab. “ Maaf Presdir, tapi di sana tertulis dilarang menepi.”
Nelson panik, karena melihat Dean kesakitan.
Oliver dengan sigap pindah ke kursi belakang, dengan susah payah dia meraih Dean.
“ Biarkan aku memeriksanya Tuan.” Oliver berkata seraya memeriksa Dean.
Setelah diperiksa, dengan cekatan Oliver menyuntikkan obat pada bagian tubuh Dean, setelah menunggu sebentar Dean pun kembali tenang. Nelson melihat Oliver begitu cekatan dalam menangani Dean sedikit lega.
Nelson berkata, “ Aku berharap kau akan mendedikasikan hidupmu untuk menjaga Dean.”
Di Hotel semua staff sudah menunggu dan berbaris di pintu masuk gerbang, menunggu kedatangan Nelson dan yang lainnya. Mereka mendapatkan kabar bahwa sebentar lagi Presdir aka tiba. Dan waktu yang di tunggu pun tiba. Akhirnya mobil maserati hitam itu berhenti di depan hotel, terlihat staff hotel yang lain membukakan pintu mobil untuk mereka.
Terdengar suara serentak Pegawai dan Staff Hotel mengucapkan.
“ SELAMAT DATANG KEMBALI PRESDIR.” seraya membungkuk hormat pada Nelson.
Nelson berjalan masuk, seraya menggendong Dean. Sedangkan Oliver, dia masih terpaku dengan penyambutan Staff hotel.
Dalam hatinya berkata. “ Sungguh, orang yang mempekerjakan dirinya adalah orang yang sangat kaya raya.”
Semua pegawai hotel baru kali ini melihat bos besar mereka secara langsung.
Nelson berjalan masuk menuju kamarnya, dia membaringkan putranya. Sedangkan Evan memberitahu Oliver kamarnya.
“ Tuan Oliver.” Panggil Evan.
Oliver berkata, “ Iya tuan Evan.”
Evan berkata, “ Ikuti aku.”
__ADS_1
Oliver mengikuti Evan, seraya mendengarkan penjelasan Evan tentang pekerjaannya.
Evan berkata, “ Tuan Oliver, di sini Anda tidur bersama Tuan muda Dean, Anda bisa menggunakan lemari yang sudah tersedia, tentang makanan, semua makanan bisa Anda makan. Yang tidak boleh hanya makanan yang tertulis nama Presdir. Apakah Anda sudah mengerti?”
Oliver menjawab, “ Mengerti Tuan.”
Evan berkata. “ Baik jika begitu, saya undur diri. Silahkan beristirahat, selagi Tuan muda tidur.”
Evan meninggalkan kamar Dean, yang akan menjadi kamar Oliver juga. Sedangkan Oliver masih termangu memandangi tempat tidur yang mewah, kamar yang bagus, serta makanan yang lengkap, sungguh beruntung pikirnya.
“ Ayah.” Dean yang terbangun berusaha memanggil ayahnya Nelson.
Nelson sedang berada diruang kerja. Tidak mendengar teriakan putranya. Dengan perlahan dia berjalan keluar kamar, dia mencoba mencari seseorang untuk membantunya.
“ Ayah… ayah… ayah…”
Dean berusaha memanggil Ayahnya. Namun, tak ada sahutan. Oliver yang mendengar suara Dean pun bergegas keluar kamar untuk memeriksa keadaan Dean.
Yang terlihat olehnya adalah seorang anak laki-laki yang sedang duduk menatap keluar kaca jendela. Terlihat wajahnya cukup pucat.
Oliver mencoba menghampirinya, seraya berkata. “ Tuan muda, ada yang bisa aku bantu?”
Dean memalingkan pandangannya, seraya berkata, “ Ahh, Mr. Olaf. Apakah kau melihat ayahku?”
Oliver menjawab. “ Mungkin Presdir berada di ruang kerjanya.”
Dean bangkit dari duduknya, seraya berkata. “ Tolong bantu aku berjalan. Aku ingin menemui ayahku!”
Oliver memdekat seraya memapah Dean, seraya berkata. “ Tentu saja, Tuan muda.”
Oliver membawa Dean menuju ruang kerja Nelson.
Tok…. Tok… tok.
Suara pintu di ketuk. Nelson yang mendengarnya pun berkata, “ Masuk.”
Oliver, seraya memapah Dean pun memasuki ruang kerja. Oliver berkata, “ Tuan, Tuan muda ingin bertemu Anda!”
Nelson yang mendengar perkataan Oliver pun mengalihkan pandangannya. Dengan lembut dia bertanya, “ Kau sudah bangun, Nak? Ada apa?”
Dean berjalan menghampiri Nelson, seraya berkata. “ Aku hanya ingin melihatmu! Karena aku tidak menemukanmu saat aku terbangun.”
Nelson menggendong Dean seraya berkata. “ Maaf jika ayah tidak ada disampingmu, kala kau terbangun dari tidurmu. Ayah harus menyelesaikan pekerjaan ayah terlebih dahulu.”
Dean bertanya, “ Apakah aku mengganggu waktu kerjamu ayah?”
Nelson menjawab. “ Tentu saja tidak! Bisakah kau menunggu sebentar? Ayah akan segera menyelesaikan pekerjaan ayah.”
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹
Bersambung