
Yohan berkata. “ Nelson akan membunuh kita jika terjadi sesuatu padanya,” ungkapnya.
“ Kau benar, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan pada kita?” ungkap Robin bergidik ngeri kala mengatakannya.
Andre berkata. “ Kapan Nelson sampai?” ucapnya.
Evan berkata. “ Mungkin besok pagi, dia baru sampai ke sini,” ucapnya.
Andre menghirup napas beratnya. Dia menatap Oliver. Menghampirinya seraya bertanya. “ Oliver, tolong jelaskan padaku apa yang terjadi?”
Oliver masih gemetar saat Andre menanyakan sesuatu. Yohan mencoba untuk membantunya agar tenang.
“ Oliver ikuti arahanku,” ucapnya.
Oliver memperhatikan Yohan.
“ Tarik napas dalam-dalam lalu buang,” Oliver mengikuti arahan Yohan hingga membuatnya lebih tenang.
Ronald memberikan air pada Oliver.
“ Jadi bagaimana? tanya Yohan.
“ Aku tidak tahu persisnya. Saat aku bangun. Aku sudah mendapati Tuan kecil sudah tergeletak, dan bersimbah darah.”
“ Aku tidak tahu kapan persisnya, aku tertidur hingga tak mendengar apa pun,” ungkap Oliver.
“ Baiklah. Itu semua sudah terjadi. Biar aku yang menjelaskannya pada Nelson, saat sampai di sini.” ucap Evan.
Evan berkata. “ Kalian pulanglah. Biar aku yang menjaganya,” ucapnya.
Andre menyela perkataan Evan. “ Aku akan menemanimu di sini,” ungkapnya.
Evan kembali berkata. “ Baiklah, kau Robin. Bawalah Oliver bersamamu,” ucapnya.
“ Baiklah nanti siang kami akan kembali ke sini untuk bergantian menjaganya,” ucap Yohan.
Evan menganggukkan kepala seraya berkata. “ Baiklah. Sekarang pergilah.”
Evan dan Andre menunggui Dean. Sedangkan yang lainnya kembali ke hotel.
Evan menatap Dean yang masih tak sadarkan diri juga, pandangannya begitu pilu kala melihat alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.
“ Aku harap kau bisa melewati ini semua,” batinnya.
Andre menepuk pundak Evan. “ Tenanglah dia pasti bertahan.” hiburnya.
Evan menutup wajahnya dia begitu terluka melihat Dean tak berdaya seperti itu.
“ Aku akan berbicara dengan Nelson besok. Mungkin sekarang dia sudah berada di perjalanan,” ucap Andre.
Evan menganggukkan kepalanya.
“ Aku akan mencari makanan. Tunggulah sebentar,” ucap Andre.
__ADS_1
Andre pun pergi meninggakan Evan.
Evan menatap di balik kaca dengan sedihnya. Dia tidak pernah berpikir jika Dean akan mengalami hal mengerikan seperti imi.
“ Maafkan aku. Maafkan aku karena tidak menjagamu dengan baik,” ucapnya dengan lirih.
Kini sudah pukul 07:30 pagi. Dean masih berada di ruang intensif.
Andre menghampiri Evan. “ Makanlah. Setidaknya kau harus mengisi perutmu. Bagaimana kau menjaganya kalau kau jatuh sakit?”
Evan terdiam, sesaat kemudian dia pun memakan makanan yang dibawakan oleh Andre.
“ Bagaimana? Apakah ada kemajuan?” tanya Andre.
Evan menggelengkan kepalanya seraya berkata. “ Belum. Sampai saat ini dia belum sadarkan diri,” ucapnya.
“ Tenanglah. Mungkin sebentar lagi dia akan sadar,” ungkap Andre.
Dean masih berada di ruang perawatan intensif, dan belum bisa ada yang menjenguknya.
Di pesawat.
Nelson sangat gelisah. Rasanya dia ingin segera sampai. Begitu pun Bella, dia terisak tanpa suara. Jet pribadi yang mewah pun tidak bisa mengalahkan kekhawatiran mereka.
Dion yang melihat tingkah kedua orang tuanya pun hanya terdiam, dalam hatinya dia berdoa untuk kesembuhan kakaknya.
“ Ya Tuhanku. Selamatkanlah kakakku. Jangan biarkan dia menghadapmu begitu cepat. Biarkanlah Dean menjalani hidupnya hingga kami tumbuh dewasa. Aku mohon padamu. Jangan ambil dia begitu cepat dari kami. Berikanlah kesembuhan untuknya..amin,” ucapnya dalam hati.
Nelson yang melihat Bella terisak pun, dengan lembut dia memegang tangannya seraya berkata. “ Semuanya akan baik-baik saja. Tenangkan dirimu. Dean pasti bisa melewati ini,” ucapnya.
Bella memejamkan matanya, seraya memegang erat tangan Nelson.
Nelson yang terbang dari Shanghai pun tiba siang ini. Tanpa pergi ke hotel dia segera datang ke rumah sakit. Setelah di jemput oleh Ronald.
“ Apakah kau ingin ke hotel terlebih dulu?” Tanya Ronald.
“ Tidak perlu, kita langsung ke rumah sakit saja. Bawalah istri dan putraku ke hotel,” pinta Nelson.
Bella bereaksi dan berkata. “ Aku tidak ingin ke hotel. Aku ingin segera bertemu dengan Dean,” ucapnya.
Ronald bertanya. “ Lalu bagaimana? Apakah langsung ke hotel saja?” ucapnya.
Nelson terdiam sejenak, dia pun berkata. “ Kita ke rumah sakit saja.”
Mobil pun melaju pesat membelah jalanan kota Quebec, Kanada.
Di rumah sakit Andre sedang menunggu di dalam ruang perawatan intensif. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda Dean akan tersadar.
“ Bangunlah. Ayah dan Ibumu sedang dalam perjalanan ke sini, mungkin sebentar lagi mereka akan sampai,” ucap Andre.
Andre memejamkan matanya seraya menggenggam tangan Dean. Dan sesaat dia merasakan gerakan jari tangan Dean.
Andre terperanjat, dia mencoba memanggil namanya. “ Dean. Apakah kau mendengarku? Jika kau mendengarku gerakkanlah jari tanganmu,” pintanya.
__ADS_1
Dean yang masih tidak sadarkan diri. Namun dia merespons perkataan Andre.
Andre berteriak memanggil Dokter, dan Dokter beserta perawat pun segera datang ke ruangan Dean.
Dokter memeriksa Dean. “ Apakah kau mendengar perkataanku? Jika mendengarnya coba untuk mengedipkan matamu,” ucap sang Dokter.
Namun, kali ini dia tidak merespons perkataan Dokter. Dengan berat hati Dokter berkata. “ Mungkin ini hanya perasaan Anda saja,” ucap Sang Dokter. Mereka pun meninggalkan ruang perawatan intensif.
Andre yang masih termangu kala mencerna situasi yang sedang terjadi. “ Apakah aku ini sedang berhalusinasi? Jelas-jelas aku merasakan gerakannya,” batinnya.
Di luar pintu rumah sakit Nelson segera berlari. Namun, dia melupakan bahwa dirinya datang bersama Bella dan juga Dion.
Dengan napas yang tersengal-sengal dia datang ke ruangan perawatan intensif. Di luar ada ada Andre, Evan, Robin, Yohan, dan juga Oliver.
Penampilan Nelson cukup berantakan. Namun, ketampanannya tidak memudar sama sekali.
“ Mengapa kau berantakan sekali?” tanya Andre.
Dengan napas tersengal-sengal dia berkata. “ Bagaimana keadaannya? Apakah sudah siuman?” tanya Nelson.
“ Nelson tenanglah. Kondisinya cukup stabil. Hanya saja dia belum siuman,” ucap Yohan.
Nelson menarik napas beratnya seraya berkata. “ Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada putraku?”
“ Nelson. Bukankah kau bersama kakak ipar?” tanya Robin.
“ Ah sial. Aku melupakannya,” ucap Nelson seraya memijat dahinya.
Dari kejauhan terlihat Bella bersama Ronald, serta Dion yang di gendong oleh Ronald.
Mata Bella berkaca-kaca saat sampai di depan pintu ruangan perawatan intensif.
Evan menjelaskan kejadian yang dialami oleh Dean. Nelson sedikit marah. Namun dia berusaha meredam kemarahannya mengingat dia sedang berada di tumah sakit.
Andre berkata. “ Masuklah. Mungkin dengan kehadiran kalian dia bisa cepat siuman, tetapi hanya satu orang yang di perbolehkan masuk,” ucapnya.
Nelson menguatkan hatinya, setelah berunding dengan Bella. Akhirnya Nelson yang masuk ke dalam.
Saat melihat putranya yang terbaring tak berdaya, hatinya sangatlah terluka.
Tak terasa buliran air mata menetes tanpa henti. Di pegangnya tangan kecil Dean dengan begitu erat.
“ Putraku. Ini aku ayahmu, cepatlah siuman. Ibumu sudah menunggumu di luar. Maafkan ayah karena tidak menjagamu dengan baik, maafkan ayah, Nak,” ucapnya.
“ Mengapa semua ini terjadi padamu? Kau pasti kesakitan sekarang. Ayah mohon bangunlah. Kasihanilah ibumu.”
Nelson berdoa. “ Ya Tuhan. Berikanlah kesembuhan untuk putraku. Pindahkanlah rasa sakitnya padaku. Jika perlu akan aku tukarkan hidupku, untuk kesembuhannya. Aku mohon Tuhan.” doanya. Seraya menciumi tangan kecil Dean.
Tiba-tiba Dean mengerakkan tangannya perlahan, Nelson yang merasakannya terperanjat kaget. Dengan cepat dia memanggil Dokter.
Dean membuka matanya perlahan, hal yang pertama dia lihat adalah wajah tampan Nelson. Dengan lemah dia berkata. “ Ayah. Kau sudah datang,” ucapnya.
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹🌹
__ADS_1
Bersambung