ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 95


__ADS_3

Dengan bantuan staf kantor, Nelson berhasil keluar dari kantor lewat pintu khusus, agar tak terlihat oleh orang lain!


Di dalam mobil, Dion panik melihat Nelson yang begitu kesakitan, wajahnya pucat pasi, keringat dingin mulai bercucuran membasahi wajah pucat Nelson.


“ Kenapa begitu lama?”


“ Cepatlah sedikit!” Teriak Dion yang panik.


Roy menancap gas, dan melaju cukup cepat menyusuri jalan utama, menuju rumah sakit.


“ Ayah, bertahanlah. Sebentar lagi akan sampai, aku mohon bertahanlah!”


Dion memegangi tangan Nelson, tanpa memedulikan lukanya sendiri.


Setelah lima belas menit berkendara, akhirnya mereka sampai di rumah sakit.


Para dokter telah menunggu kedatangan Nelson.


Saat mobil berhenti, staf rumah sakit segera memindahkan Nelson ke ranjang rumah sakit.


Dion masih menangis. Namun, Dokter tidak terlalu menghiraukannya, karena tidak tahu siapa Dion.


Roy yang melihatnya pun, segera menggendong Dion menuju IGD untuk mendapatkan perawatan untuk lukanya.


Dion telah mendapatkan pertolongan pertama, dan di sarankan untuk Ct-Scan untuk lebih lanjut.


Saat menunggu Nelson, Dion meminjam ponsel Roy, dengan cepat dia menekan beberapa nomor, dan melakukan panggilan.


Tut… tut… tut.. Panggilannya tersambung. Namun, tidak ada jawaban.


Setelah beberapa kali mencoba menghubungi rumah Anita, tak ada jawaban. Hingga akhirnya seseorang memjawabnya.


“ Halo, dengan siapa?” tanya di seberang telepon.


Dion yang mengenal suara ibunya Bella pun dengan cepat memanggilnya, seraya menangis dia berkata. “ Ibu, ibu ini aku Dion!”


“ Dion, ada apa? Kenapa suaramu terdengar seperti kau sedang menangis?” Bella sedikit bingung.


“ Ibu, apakah kau tidak mencintai ayah lagi? seru Dion.


“ Sebenarnya apa yang sedang terjadi?” tanya Bella.


“ Ibu, jika kau masih mencintai ayah, datanglah kemari. Lihatlah ayah ! Aku tidak ingin ibu menyesal nantinya!”teriak Dion.


Bella mencoba menenangkan putranya. “ Kau masih anak-anak, kau tidak akan mengerti perasaan ibu nak?”


“ Tapi ibu. Nyawa ayah sedang dalam bahaya!”


“ Aku takut ayah meninggalkan aku!” ungkap Dion, suaranya yang putus asa membuat Bella panik.


“ Bu, ayah masuk rumah sakit, dan sekarang kondisinya tidak baik, aku takut bu! Sangat takut!”


“ Cepatlah datang kemari!”

__ADS_1


“ Ayah membutuhkanmu, aku mohon, Ibu!” Dion yang dengan putus asa memohon pada ibunya Bella.


Bella yang mendengar bahwa Nelson masuk ke rumah sakit pun segera bergegas pergi ke rumah sakit. Air mata mulai mengalir deras, di wajah Bella.


Dalam hatinya berkata. “ Aku mohon Nelson, jangan mati! Aku mohon bertahanlah! Aku mohon!” Seraya menangis dia menghentikan taksi di tengah jalan.


Dion di tarik oleh seorang Dokter dan perawat. Namun, Dion menolak, bahkan dia memeluk kursi tunggu.


“ Tuan muda, Anda harus melanjutkan pemeriksaan lebih lanjut!” ucap seorang Dokter.


“ Aku ingin berada di sini!”


“ Aku ingin menemani ayahku!” Dion berteriak, wajahnya di penuhi air mata.


“ Tuan muda, jika kau bersikap seperti ini, akan menghambat pemeriksaannya.” Dokter kembali mengingatkan Dion.


Perawat dan Dokter kembali saling menarik dengan Dion.


Dion memohon dengan sangat, pada Dokter. “ Aku mohon izinkan aku berada di sini! Aku mohon !”


Dokter dengan putus asa kembali membujuk Dion. “ Tuan muda, bukankah jika ingin menunggu, kepalamu harus di obati terlebih dahulu!”


Dion kembali berpikir sejenak, dia pun berkata. “ Aku tidak ingin pergi, aku ingin bersama ayahku!”


Darah segar pun kembali mengalir di kepala Dion. Dokter dan perawat panik. “ Darah, darah dokter!” ucap sang perawat.


Dokter pun mengalihkan pandangannya, “ Tuan muda, jangan bergerak!” ungkap Dokter, seraya memegangi dahi Dion, yang terus mengeluarkan darah.


“ Aaahhh, tak bisakah dokter, bersikap lembut padaku?” seru Dion.


Dion sedikit berteriak. “ Mengapa semua orang tidak mengerti keinginanku!”


Roy sedikit bingung dibuatnya, dia kembali mencoba untuk membujuk Dion. “ Tuan kecil, jika Tuan muda Nelson bangun, serta merta melihat keadaanmu yang kacau seperti ini, bagaimana?”


Dion sedikit termenung, tiba-tiba Sandra Hongli, dan Leo Hongli pun datang!


Sandra bertanya dengan cemas. “ Roy, apa yang terjadi?”


Roy berkata. “ Jadi begini Nyonya, Tuan muda mengalami pendarahan di dalam perutnya! yang di akibatkan karena terlalu banyak mengonsumsi minuman beralkohol tinggi!” Ungkap Roy.


Sandra kembali bertanya. “ Lalu bagaimana keadaannya sekarang?”


Roy kembali menjawab. “ Tuan muda, sekarang sedang menjalani operasi, untuk mengatasi pendarahan di perutnya, Nyonya!”


Sandra lega kala mendengar kabar dari Roy. Namun, dia juga merasakan kecemasan yang luar biasa.


Leo yang sedari tadi memperhatikan Dion pun, perlahan menghampirinya, seraya berkata. “ Dion!”


Dion mengalihkan pandangannya, dia mengedarkan pandangannya, untuk menemukan asal suaranya, saat tatapan mata mereka bertemu, Dion segera menghambur ke pelukan Leo.


Dion berteriak. “ Kakek!” seraya berlari ke pelukan Leo.


Leo sedikit khawatir kala melihat luka yang telah di balut kembali mengeluarkan darah, dengan cemas dia bertanya, “ Apa yang terjadi?”

__ADS_1


“ Mengapa dokter dan perawat saling menarik tubuhmu?”


“ Ada apa dengan kepalamu?” Leo terus menerus melancarkan pertanyaannya.


Dengan cekatan, Dokter pun menjelaskan. “ Begini Tuan. Tuan kecil, tidak ingin melanjutkan pemeriksaan.”


“ Kami mencoba membujuknya kembali, ke tempat pemeriksaan.”


“ Namun Tuan kecil, bersikeras tidak ingin pergi!”


“ Jadi saya, dan perawat saling menarik tubuh Tuan kecil, agar dia mau melakukan pemeriksaan lebih lanjut, untuk lukanya!”


Leo menatap nanar cucunya itu, seraya berkata. “ Dion, bukankah kau ingin bertemu ayahmu?” Tanya Leo.


Dion menganggukkan kepalanya.


Leo kembali berkata. “ Jika begitu, bukankah kau harus di obati?”


“ Lukamu juga terlihat cukup serius, sehingga kau harus melakukan tes selanjutnya!”


“ Sekarang, apakah kau ingin pergi?” Leo bertanya dengan sabar dan lembut.


Dion kembali termenung, dengan putus asa dia berkata. “ Kakek, apakah jika aku sudah menyelesaikan tesku, apakah aku bisa ketemu ayah?”


“ Tapi aku takut! Aku takut ayah akan pergi meninggalkan aku !” Dion kembali menangis.


Darah kembali mengalir di bekas luka yang telah dibalut itu!


Leo dengan cekatan, segera menggendong Dion, serta memberi isyarat Dokter untuk segera menuju tempat pemeriksaannya.


Sandra, menatap nanar kepergian mereka berdua.


Dalam pangkuan Leo, Dion berkata. “ Kakek, apakah ayah akan baik-baik saja?”


“ Aku takut! Jika ayah akan meninggalkanku! Aku takut jika ayah tidak ada, siapa yang melindungi ibuku?” Perlahan Dion meneteskan air matanya di bahu Kakeknya.


Dengan suara yang sedikit bergetar, dia menjawab pertanyaan cucunya itu. “ Tenanglah, ayahmu hanya sakit sedikit! Itu tidak akan membuatnya mati begitu saja!” ungkap Leo.


Leo mengerti tentang kecemasan cucunya itu, mengingat dia baru saja dekat dengan ayah kandungannya sendiri!


Dion kembali di bawa ke IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama lukanya.


“ Kenapa lagi dengan anak yang terluka di kepala?”


Sudah aku katakan dia harus mendapatkan Ct-Scan untuk kepalanya!”


“ Mengapa kau membawanya kembali ke sini!”


“ Di sini aku sudah terlalu sibuk!” ungkap kekesalan seorang Dokter jaga IGD.


Leo mendengar semua ucapan kekesalan dari dokter tersebut.


Leo mencoba untuk tetap tenang, seraya berkata. “ Cucuku, kakek akan pergi sebentar, tunggulah di sini!”

__ADS_1


Dion hanya menganggukkan kepalanya.


Bersambung


__ADS_2