
Setelah selesai bicara Nelson pun menutup kembali ponselnya, dia memejamkan kedua matanya, rasanya begitu sesak, dan pengap. Pikirannya sudah tak karuan.
Di sisi lain.
Bella tengah berada di depan pintu kamar Mario, dia masih ragu, apa tindakannya benar untuk menemuinya. Tetapi ibu Mario memohon padanya untuk melihatnya sebentar.
Dia benar-benar bimbang, pelan-pelan Bella menghirup udara segar sejenak, lalu dia pun mengetuk pintu kamar.
Tok… tok… tok.. suara pintu di ketuk. Namun, tak ada jawaban apa pun dari dalam.
Bella mendorong pintu dengan perlahan, saat dia memasuki kamar, terlihat seorang pria yang begitu kacau dengan duduk di tempat tidurnya, tatapannya begitu kosong, kala melihat hamparan langit yang luas melaui jendela kamarnya.
Mario yang mendengar langkah kaki pun berbalik, wajahnya terlihat kuyu, janggut dan kumis dibiarkan tumbuh subur di wajahnya, di perkirakan Mario kehilangan cukup berat badan hanya dengan sekali lihat. Sejenak Mario memicingkan ujung matanya, setelah menyadari yang datang adalah Bella, tiba-tiba Mario mengulas sebuah senyum padanya. Namun, entah kenapa? Senyumannya terasa begitu pagit.
“ Bagaimana kabarmu? Mengapa kau begitu kacau sekarang?” Bella mulai bertanya.
Tetapi Mario hanya menundukkan kepalanya, dia bahkan tak bersuara sedikit pun. Membuat Bella merasa canggung berada di dekatnya.
Bella menghela napasnya, lalu bertanya. “ Apa kau seperti ini karena rasa bersalahmu pada Yeni? Atau karena penyesalanmu?”
Seketika Mario mengangkat dagunya, dia berbalik lalu memandang Bella. Tatapannya begitu dalam, hingga terasa menusuk.
“ Kau tahu apa? Bukankah kau awal dari semuanya?” Mario berkata dengan sedikit mengejek.
Seketika Bella terdiam, dia tidak menyangka jika Mario akan bicara seperti itu padanya.
“ Aku… “ Bella tidak meneruskan perkataannya. Dia malah tersenyum suram. “ Kau benar, jika saja dia tidak bertemu denganku, atau mulai pertengkaran denganku. Mungkin Yeni tidak akan berakhir seperti ini! Dan juga keluargamu tidak akan terseret masalah lebih jauh.”
Mario termenung, dia berpikir memang benar, semua masalah ini di karena kan Yeni yang suka mencari masalah, dan saat dia bertemu dengan Bella, dia malah memulai pertengkarannya, dan memicu masalah menjadi semakin besar.
Di raut wajahnya terlukis ketidakmampuan dirinya, yang semakin membuat dirinya kecewa. “ Sebaiknya kau pergi, aku tidak ingin terlibat masalah.”
Seketika Bella bangkit dari duduknya, sebelum pergi dia berbalik lalu berkata. “ Sepertinya pertemuan ini memang sebuah kesalahan dari awal. Memang sebaiknya kita tidak pernah bertemu.” Selesai berkata Bella pun melangkah pergi meninggalkan Mario yang masih termangu, mencerna perkataan dari Bella.
Bella bukannya segera menuju kamar Dean. Bella malah pergi ke taman untuk menenangkan dirinya. Dia duduk di salah satu kursi yang berada di sana. Dia termenung di sana cukup lama, entah apa yang ada di pikirannya.
Di kamar rawat Dean.
Tok.. tok.. tok.. suara pintu di ketuk, terdengar suara Nelson mempersilahkannya masuk,.
Evan kemudian masuk membawa setumpuk berkas, dan juga sebuah map coklat.
“ Presdir, ini yang Anda inginkan!” Seraya menyerahkan kumpulan berkas serta map coklatnya pada Nelson yang tengah berdiri di depan kaca jendela yang besar.
Nelson tak bicara dia fokus memandang keluar jendela. Sesaat setelah mendengar perkataan Evan, dia pun berbalik menatap Evan yang tengah berdiri menunggu perintah. Nelson berjalan menuju sofa, dia duduk seraya membaca berkas yang di berikan oleh Evan. Evan yang mengerti situasi pun dengan sigap dan cekatan menjelaskan tentang apa yang terjadi hari ini.
Singkatnya salah satu anggota keluarga Fan mencari Bella untuk membantu Mario yang sedang terpuruk atas kematian Yeni, dan Bella juga menyetujui permintaan keluarga Fan.
Setelah selesai mendengarkan perkataan Evan, raut wajah Nelson menggelap, bahkan suhu dalam ruangan juga turun, Evan merasakan aura yang mencekam dalam diri Nelson. Dia hanya bisa menelan kasar salivanya. Melihat sekelilingnya tidak ada yang bisa membantunya.
__ADS_1
“ Jadi Tuan Muda Fan di rawat di sini?” tanya Nelson.
Evan menganggukkan kepalanya.
“ Apakah istriku masih bersama dengannya?” Nelson bertanya dengan nada suara yang begitu dingin.
“ Terakhir saya lihat Nyonya memasuki kamar rawat Tuan Mario,” ucapnya seraya menundukkan kepalanya.
Di raut wajahnya terlukiskan sedikit kekecewaan. “ Baiklah untuk saat ini aku tidak akan datang ke kantor. Tolong kau urus sisanya,” ujar Nelson padanya.
“ Baik, Presdir,” ucap Evan, seraya undur diri meninggalkan Nelson.
Saat Evan tengah menutup pintu terlihat Bella tengah berjalan gontai menuju ke arahnya.
“ Nyonya,” Evan menyapa dengan sopan dan hormat.
Bella yang menyadari Evan di depannya pun segera membenahi dirinya.
“ Kau datang?” Seraya mengulas senyum lembut di wajahnya.
“ Presdir sudah menunggu Anda Nyonya,” Evan pun berlalu meninggalkan Bella yang masih mematung di luar.
Bella tahu tidak ada yang bisa dia sembunyikan dari suaminya, bahkan hal sepele pun dia bisa mengetahuinya.
Bella mengeluarkan bedak dari dalam tas tangannya, dia mencoba untuk memperbaiki riasan di wajahnya agar tak terlihat habis menangis. Setelah siap dia pun melangkah maju, untuk masuk ke dalam kamar.
Nelson tengah berdiri di depan jendela, silaunya cahaya matahari membuatnya tak bisa memandang wajah suaminya.
Nelson tidak bicara, dia hanya berjalan mengitari sofa, lalu dia pun duduk. Bella merasa canggung, tidak biasanya suaminya diam seperti ini padanya. Dia terus menundukkan kepalanya tanpa berani memandang wajah Nelson.
“ Apakah tidak ada yang ingin kamu katakan?” Nada suaranya begitu dingin saat bertanya pada Bella.
Bella tertegun, dia menggigit bibir bawahnya, seraya berkata. “ Apa yang ingin kamu dengar dariku?” jawabnya lirih.
Nelson sejenak tertegun, apakah tindakannya yang salah, atau perkataannya yang tidak benar? Dia menghela napas beratnya lalu berkata. “ Apa kamu tidak ingin menceritakan apa yang terjadi hari ini padaku? Apa kamu tidak ingin berbagi sesuatu denganku? Lalu kamu anggap aku ini apa? Bukankah aku suamimu?” Nelson beranjak dari duduknya, dia meraih lengan istrinya untuk mendekat padanya.
Bella tetap menundukkan kepalanya, sungguh dirinya tidak bisa menatap wajah suaminya.
Nelson membuang napasnya, dengan pelan dia memegang dagu Bella, mencoba mengangkat wajahnya agar dia bisa melihatnya.
Nelson menangkap sorot matanya begitu rapuh, seakan dirinya telah tersakiti oleh sesuatu. Entah mengapa hatinya begitu sakit kala melihat raut wajah yang di penuhi kesedihan.
“ Ada apa? Mengapa kamu seperti ini?” Nelson bertanya berpura-pura tidak tahu apa yang telah terjadi pada istrinya itu.
“ Suamiku, hari ini aku menemui Mario dan…” Bella tidak meneruskan perkataannya.
Nelson tersenyum simpul. “ Lalu apa yang kamu lakukan?”
Bella menatap Nelson yang tengah tersenyum. “ Aku mencoba bicara padanya yang berniat menyusul Yeni. Dia berkata bahwa semua masalah yang tengah di hadapi olehnya, itu adalah salahku,” Bella terisak kala selesai berkata.
__ADS_1
Nelson yang awalnya ingin marah pun meredam emosinya kembali, dia tidak tega melihat istrinya bersedih. “ Sudah ku katakan bukan bahwa itu semua bukan kesalahanmu. Mereka berani menyentuh istri dan kedua putraku, tak kan hidup nyaman. Itu semua adalah buah dari perbuatan mereka, jelas itu bukan salahmu.”
“ Tapi…” perkataan Bella kembali terhenti.
“ Sudahlah, biarkan dia berpikir sesukanya, yang jelas kamu tidak melakukan apa-apa. Kamu harus ingat bahwa merekalah yang telah menyakitimu, dan kedua putra kita. Aku hanya memberikan mereka pelajaran, ujar Nelson seraya mendekap istrinya yang tengah menangis itu.
Bella yang menerima pelukan hangat dari suaminya, tak kuasa menahan tangisnya. Dirinya yang bertemu dengan pria lain. Namun, suaminya tidak marah, dia bahkan menenangkan dirinya yang tengah bersedih.
Di sisi lain.
Mira Yu masih dalam keadaan berkabung, dirinya masih tenggelam dalam kesedihan. Dia masih merenung sendirian di dalam rumahnya, bahkan sejak kematian putrinya dia sudah tidak terlihat keluar rumah.
Mira memeluk Foto Yeni begitu erat di dalam kamarnya, dia meringkuk sendirian, setiap malam masih menangis mengingat mendiang putrinya.
Saat tengah malam Mira yang tengah terlelap pun terbangun karena suara guntur yang menggelegar. Dia terbangun dengan napas tersengal-sengal. Di pejamkannya kedua matanya, tak terasa buliran air mata, membasahi wajahnya.
Di dalam mimpi itu Yeni tengah berteriak minta tolong. Namun, dia sendiri tidak bisa menolongnya, hingga akhirnya teriakan Yeni di telan kegelapan.
Mira memegangi dadanya terasa begitu sesak, wajah tua itu begitu gelap. Dalam benaknya sekarang adalah balas dendam, dan balas dendam.
Di tengah malam itu Mira berjalan menuju altar di mana foto Yeni terpajang, di sebuah lemari sebuah guci abu tersimpan rapi di sana, dia tersenyum pahit. Kini dia merasakannya yang namanya ketidakadilan hidup.
Di rumah yang kecil dia sendirian, suaminya Lian Xia tengah dalam pelarian, sehingga dirinya berkabung sendirian.
“ Ah, sungguh malamg nasibku ini,” Mira menatap putrinya.
“ Tunggu Ibu, Nak! Ibu akan membalaskan dendammu itu. Akan ibu buat orang yang pernah menyakitimu, sama menderitanya denganmu. Ibu janji padamu, ibu akan menghancurkan mereka, terutama Mario,” Mira kembali berbalik sekilas terbayang wajah Yeni, hatinya begitu hancur, dia terduduk seraya memegangi dadanya yang sesak, buliran air mata memgalir deras di wajahnya yang kuyu.
Satu minggu kemudian.
Mario telah keluar dari rumah sakit, begitu pula dengan Dean. Saat berada di lobi rumah sakit, Dean bersama dengan ibunya.
Mario yang tengah berjalan bersama ibunya menghentikan langkah kakinya. Ibunya melirik ke arah di mana Mario memalingkan pandangannya.
Tatapannya tertuju pada seorang wanita, dan seorang anak laki-laki yang tengah duduk di sofa lobi. Ibu Mario mengamati keduanya dan ternyata itu adalah Bella.
“ Apakah anak yang bersamanya adalah putra sulungnya?” batinnya.
Mario yang sedari tadi tertegun, mulai melangkahkan kakinya menuju Bella.
“ Mario,” Ibunya setengah berteriak padanya. Namun Mario tidak menghiraukan suaranya. Dia terus menghampiri Bella yang tengah menunggu seseorang.
“ Bella,” Mario memanggilnya, tatapannya begitu hangat, kala memandangnya.
Bella berbalik, saat tatapannya jatuh pada sosok Mario, senyuman yang awalnya hangat pun, seketika meredup. Mario yang menyadari sikap Bella pun hanya bisa tersenyum tipis, dia sadar telah menyakiti perasaannya tempo hari sehingga dia ingin meminta maaf padanya.
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. Salam sayang dan sehat selalu.🙏🥰🫶❤️🌹
Bersambung