ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 80


__ADS_3

Nelson kaget, saat melihat Dean telah siuman, Nelson bangkit dari duduknya, dan bertanya. “ Apakah ada yang sakit? Apa kau merasakan pusing? Jika kau merasa tidak nyaman beritahu ayah.” Nelson dengan segera memanggil dokter dan perawat untuk memeriksa keadaan Dean. Setelah melakukan pemeriksaan, dan melakukan X-ray ulang hasilnya cukup bagus.


Nelson bertanya, “ Bagaimana Dokter keadaan Dean?”


Dokter berkata. “ Keadaannya baik-baik saja, tulang tengkoraknya memang mengalami keretakan. Namun, itu tidak parah dan tidak mempengaruhi sel kankernya, sehingga tidak membahayakan nyawanya.


Mendengar perkataan dokter, Nelson bernapas dengan lega. Dokter dan perawat pun meninggalkan kamar Dean.


“ Ayah, apa maksud dari perkataanmu tadi?” Dean kembali bertanya.


Nelson sedikit bingung menjelaskannya pada Dean, dengan segala pertimbangan pun akhirnya Nelson memberitahu Dean dengan pelan dan hati-hati.


Nelson berkata. “ Sebenarnya, kalian berdua adalah anak kandung ayah.”


Dean tidak berekspresi, dia terlihat tenang, dan berkata. “ Aku sudah menduganya, jadi kau adalah pria yang membuat ibuku kesulitan? Menjadikannya aib dikeluarganya?”


Nelson menjawab. “ Aku bukanlah bajingan, aku bahkan tidak tahu mengapa ibumu bisa berada di dalam kamarku sepuluh tahun yang lalu! Namun yang jelas aku berusaha mencari ibumu, namun aku tidak menemukan petunjuk apapun saat itu.”


Dean kembali berkata dengan lembut. “ Aku tidak terlalu mempermasalahkannya, jika kau mengharapkan reaksi bahagia dariku mungkin kau tidak akan mendapatkannya, tapi jika itu Dion mungkin kau akan mendapatkan reaksi yang tidak terduga. Sejak dulu dia menginginkan seorang ayah dalam hidupnya.”


Nelson terheran-heran bagaimana bisa anak ini menganggap semuanya biasa, seperti tidak ada yang terjadi, seraya berkata. “ Apakah kau tidak marah padaku? Apa kau tidak membenciku?”


Dean menjawab. “ Aku. Atas dasar apa aku membenci dan menyalahkanmu, sedangkan kesalahannya terjadi karena ibuku sendiri. Aku tidak bisa menghakimimu. Bahkan jika ibuku pun tahu bahwa kau adalah pria yang tidur dengannya, dia tidak akan membencimu, karena malam itu bukanlah kesalahanmu.”


Nelson tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia segera memeluk putranya itu dengan erat seakan dia tidak ingin Dean pergi. Dia berharap jika nanti Bella tahu kebenarannya, Bella tidak akan membencinya, ataupun meninggalkannya.


Di Mansion.


Keesokan paginya, Bella dibangunkan oleh suara yang sangat lembut, perlahan mengecup keningnya, kemudian pipinya. Bella bergumam dan berkata. “ Nelson..” namun saat dia membuka matanya, yang


tertangkap dalam pandangannya adalah wajah Nelson versi mini. Ya, semakin hari wajah Dion semakin mirip Nelson.

__ADS_1


Dion memeluk Bella seraya berkata. “ Bangunlah, agar ibu melihat kenyataan bahwa ayah tidak ada di sini.”


Bella menghela napasnya, seraya berkata. “ Apa yang kau tahu? Anak kecil sepertimu mengerti apa?”


Dion menjawabnya dengan sedikit kesal. “ Tentu saja aku tahu, dan mengerti! Jika ibu tidak merindukan ayah, bagaimana bisa kau mengira bahwa aku adalah ayah?” Dion tersenyum penuh kemenangan.


Bella sedikit menunduk, dia berpikir bagaimana bisa putranya berkata seperti itu.


Bella berkata, “ Ibu, apakah kau tidak merindukan kakak? Aku sangat merindukannya! Kenapa kakak tidak menghubungiku lagi?”


Bella bangkit dari tidurnya, dengan lembut dia menarik Dion ke dalam pelukannya, seraya berkata. “ Ayah bilang, jika kakak ingin sendirian dulu, mungkin suasana hatinya sedang tidak baik untuk sekarang, jadi bersabarlah, cepat atau lambat kakak pasti akan menghubungi kita lagi!


Dion berkata dengan sedikit nada sedih, “ Aku takut bu, aku takut jika kakak akan meninggalkan aku, aku takut jika kakak tidak akan kembali pulang.” Dion sedikit terisak.


Bella menenangkan Dion seraya berkata. “ Tenanglah, kakakmu di sana baik-baik saja. Kenapa kau berbicara seperti itu? Kakakmu di sana sedang berobat dan mereka akan segera pulang, berhentilah menangis. Anak laki-laki harus kuat, jangan gampang menangis. Apa kau mengerti sekarang?”


Dion mendongak, menatap mata ibunya, seraya menganggukkan kepalanya.


“ Baiklah.” Hanya itu yang terlontar dari Dion.


Dion keluar menuju halaman rumah, dia berjalan dengan tidak semangat. Kepala pelayan melihatnya cukup merasa sedih, kala melihat Tuan kecilnya murung tak bergairah.


Kepala pelayan memanggil Dion, seraya berkata. “ Tuan kecil, apakah Anda mau memakan kudapan sebelum sarapan?”


Dion berhenti berjalan seraya menatap kepala pelayan, dengan sedikit bersemangat dia bertanya. “ Apakah kakek dan nenek ke sini hari ini? Apakah mereka tidak sibuk?”


Kepala pelayan menjawab. “ Tuan dan Nyonya besar tidak akan datang hari ini? Karena Tuan dan Nyonya besar ada urusan keluarga yang harus di selesaikan.”


Wajah Dion semakin murung. Dia seperti kehilangan harapannya. Dion berjalan lunglai kembali ke kamarnya.


Bella yang baru selesai mandi dan berpakaian, turun ke lantai bawah, seraya bertanya. “ Di mana Dion, aku tidak melihatnya?”

__ADS_1


Kepala pelayan menjawab. “ Tuan kecil kembali ke kamarnya Nyonya.”


Bella kembali bertanya, “ Apakah terjadi sesuatu?”


Kepala pelayan hanya menggelengkan kepalanya.


Bella kembali naik ke lantai dua menuju kamar Dion. Di sana dia melihat Dion meringkuk dengan menahan tangis yang sesegukan.


Bella menghampirinya seraya berkata, “ Apa yang terjadi? Apakah kau bisa menceritakannya pada ibu?”


Dion menatap nanar ibunya, seraya berkata. “ Ibu, bisakah kau tidak bekerja lagi? Aku ingin ibu menemaniku, mendengarkan ceritaku, dan mendengarkan pendapatku! Aku ingin semua itu.”


Bella sedikit tercengang kala mendapat permintaan dari putranya, tidak biasanya dia seperti itu.


Bella bertanya. “ Jika ibu tidak bekerja, lalu siapa yang akan membiayai hidup kita? Siapa yang akan memenuhi kebutuhan kita?”


Dion dengan lantang berkata. “ Ayah, aku, dan kakak akan menghidupimu, kami akan memberikanmu uang untuk membeli sesuatu yang kau inginkan. Kami masih mampu bu!


“ Dion.” Bella merasa bersalah.


Dion berkata. “ Ibu, aku sangat kesepian, semenjak kakak dan ayah tidak ada, rasanya hidupku sunyi, aku ingin seseorang menjadi teman bicaraku, aku ingin berkeluh kesah bu, aku ingin bermain bersama bu! Karena otak yang jenius ini, aku tidak bisa memiliki teman. Hanya kakak satu-satunya temanku, dan sekarang aku merasa kehilangan, aku takut seakan kakak akan pergi jauh dariku. Aku ingin ibu ada di rumah, disisiku dan kakak, aku hanya ingin waktumu ibu, sudahkah ibu meraih mimpi ibu, tapi pernahkah ibu bertanya pada kami?” Dion semakin menangis, air mata mengalir deras di pipinya.


Bella merasa sangat sedih, ternyata selama ini kedua putranya tidak baik-baik saja dengan kejeniusannya. Bahkan Dion kini mengeluh pada dirinya. Mengingat dirinya tidak pernah ada di sisi kedua putranya saat mereka membutuhkan.


Bella menangis tertahan seraya berkata. “ Maafkan ibu, Nak! Maafkan ibu. Karena ibu bukanlah ibu yang baik untuk kalian. Maafkan ibu karena tidak memikirkan perasaan kalian berdua saat ibu tinggalkan.


Dion berkata. “ Lalu apakah ibu akan berhenti bekerja? Ataukah ibu akan memilih pekerjaan ibu dibandingkan kami?


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2