ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 173


__ADS_3

“ Apa aku mengganggumu?” Mario bertanya dengan sedikit canggung.


Bella menundukkan kepalanya, seraya berkata. “ Ada apa?” ucapnya pelan.


“ Itu, untuk tempo hari, seharusnya aku tidak melampiaskannya padamu. Sungguh aku tidak berniat menyakitimu,” Mario menunduk menyadari kesalahannya.


“ Lalu apa yang kau inginkan dariku?” Bella berkata dengan nada yang sedikit dingin.


Mario menghela napasnya, dengan mengumpulkan keberaniannya untuk meminta maaf pada Bella. “ Aku ingin minta maaf padamu. Sungguh aku sangat menyesal. Tempo hari aku sangat kalut sehingga tanpa sadar menyalahkanmu. Dan aku tahu kesalahanku di mana? Jadi aku mohon maafkan aku,” ucapnya lirih, seakan memohon pada Bella agar dia memaafkannya.


“ Semuanya telah berlalu, tidak ada yang perlu di bicarakan.” Suara Bella yang dingin seakan menusuk pada hatinya.


Entah mengapa Mario merasakan sakit di hatinya, kala wanita yang ada di hadapannya ini berkata dengan begitu dingin, Mario tersenyum pahit.


Dean yang sedari tadi memejamkan matanya pun terbangun, dia memicingkan ujung matanya, melirik siapa pria yang tengah bicara dengan ibunya.


“ Ibu, siapa dia?” Suaranya yang pelan pun dapat mengalihkan tatapan mata keduanya yang secara bersamaan memandangi wajah Dean.


Bella tersenyum simpul padanya, dia pun berkata. “ Dia…” belum sempat meneruskan perkataannya, Nelson telah datang menghampiri mereka.


Nelson memicingkan matanya, tatapannya begitu tajam pada Mario, seakan menembusnya.


“ Apa urusanmu sudah selesai?” Tanya Nelson seraya melirik keduanya.


Bella menganggukkan kepalanya, lalu mendekat pada suaminya.


“ Tuan muda Fan, karena sudah tidak ada urusan lagi, kami akan pergi, ujar Nelson pada Mario yang tengah berada di hadapannya.


Nelson menggendong Dean, sedangkan lengan satunya, menggenggam tangan istrinya, lalu melangkah pergi meninggalkan Mario sendirian.


Tersirat jelas kekecewaan dalam wajahnya, Mario tersenyum pahit selepas mereka pergi.


Ibu Mario melihat Bella berlalu di depan matanya. Dia segera menghampiri putranya yang masih tertegun di tempatnya.


“ Mario,” Ibunya menepuk bahu putranya pelan.


Mario pun berbalik, raut wajahnya melukiskan kesedihan. Ibunya yang melihatnya, merasakan sakit tetapi tak berdarah.


“ Ibu, sepertinya aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Rasanya aku selalu menyakiti perasaan orang yang berada di dekatku.” Ibunya hanya bisa memeluk putranya, mencoba menenangkannya. Kedua matanya berkaca-kaca meratapi kesedihan putranya.


Di dalam mobil.


Nelson tidak bicara begitu pula Bella. Dean yang merasakan suasana di dalam mobil begitu dingin, dia lebih memilih memejamkan matanya.


Sesampainya di Mansion pun Nelson tak bicara, membuat Bella di landa rasa bersalah.


Nelson masuk ke dalam tanpa menunggu Bella lebih dulu. Dia melangkahkan kakinya yang panjang seraya menggendong Dean yang berada di pelukannya.


Setelah menidurkan Dean di kamarnya, kemudian meminta Oliver untuk menjaganya. Sedangkan dirinya masuk ke dalam ruang kerjanya.


Sandra yang melihat tingkah Nelson yang abnormal pun menghampiri Bella yang tengah tertunduk lesu.


“ Bella, apa yang sedang terjadi? Ada apa dengan Nelson?” Tanya Sandra dengan sedikit cemas.


Menanggapi pertanyaan mertuanya, Bella hanya menggelengkan kepalanya. Tanda dia tidak tahu apa yang membuat Nelson diam seperti itu.

__ADS_1


Sandra menghela napasnya, lalu mengusap lembut punggung menantunya, Bella hanya tersenyum pahit.


Bella yang mengintip dari balik dinding itu sedikit menghela napasnya. “ Apa yang sebenarnya terjadi sekarang?” batinnya.


Di ruang kerja Nelson tengah berdiri di depan jendela besar yang mengarah ke taman belakang. Terselip sebatang rokok di sela jari-jarinya yang lentik, tampak asap rokok memenuhi seluruh ruangannya. Nelson memejamkan matanya, sembari menyesap kembali rokoknya.


Saat Nelson memandang keluar, sekilas tampak sesosok anak tengah berjalan sendirian, terlihat dia membawa sebuah laptop di antara lengannya.


“ Dion,” batinnya.


“ Sedang apa dia sendirian?”


Sesaat kemudian seorang anak menghampiri Dion yang tengah duduk di bawah pohon.


“ Bukankah itu Dean? Bukankah dia sedang tertidur di kamarnya?” Kebingungan mulai melanda dirinya.


Di taman belakang Dean berjalan menghampiri Dion yang telah duduk di bawah pohon. Di ikuti dengan Oliver di belakangnya.


“ Dion,” Dean memanggil adiknya pelan.


Dion merasa seseorang memanggilnya pun berbalik, matanya berbinar kala memdapati sosok Dean yang tengah berada di depannya.


“ Dean,” dia bangkit dari duduknya, Dion berhambur di pelukan Kakaknya.


Tubuh Dean yang belum siap pun hilang keseimbangannya, untungnya ada Oliver yang berada di belakangnya untuk menahan beban tubuh Dion.


“ Dion lepaskan aku,” pintanya.


“ Ah, maaf. Aku terlalu bahagia melihatmu, Kak.” ujarnya seraya tersenyum simpul padanya.


“ Apakah sudah bisa bermain? Kakak baru saja keluar dari rumah sakit.” Dion bertanya dengan sedikit cemas.


“ Tuan kecil, sebaiknya Tuan jangan berbuat macam-macam,” Oliver memperingatkan Dean.


Dean menghela napasnya, di satu sisi dia ingin menemani adiknya untuk bermain, di satu sisi dia tidak ingin membuat orang khawatir padanya.


Dion tahu, semenjak Dean di rumah sakit, dia sudah tidak bisa bermain dengan leluasa lagi. Dengan berat hati dia berkata. “ Tidak perlu bermain di luar, nanti kita bermain di dalam saja.” Dion mengulas senyum. Namun, bagi Dean itu adalah kekecewaannya.


“ Dion kemarilah,” seraya menunjuk tempat duduk di sampingnya. Dion pun mengikuti arahannya, dia duduk di samping Dean.


“ Kau pasti sangat kesepian sekarang? Semenjak aku sakit, kau pasti sudah banyak kehilangan waktu untuk bersama Ayah dan Ibu. Maafkan aku, karena sudah membuang waktu berhargamu,” Dean berkata dengan lirih, suaranya bergetar, dia merasa bersalah pada adiknya.


“ Apa yang kakak bicarakan? Aku bahkan tidak melakukan apa-apa untukmu! Aku sudah tahu jika perhatian Ayah dan Ibu, pasti akan tertuju padamu. Jika kakak ingin tahu, aku merasa iri atau tidak? Tentu saja aku iri.” Dion tersenyum pahit di depan Dean.


“ Tetapi aku sangat mencintai dirimu, asalkan kau tetap bersama denganku, aku tidak peduli dengan yang lainnya. Aku hanya ingin kakak sembuh, dengan begitu kita bisa melewati semuanya,” Dion memegang erat tangan kurus Dean.


Mata Dean berkaca-kaca kala mendengar ucapan adiknya, dia menelan salivanya dengan kasar. Buliran air mata menuruni wajah Dean, dia terisak, suaranya tertahan. “ Maafkan aku, jika saja aku tidak sakit aku aka…” perkataannya terhenti, dengan sekejab Dion telah memeluknya erat, seakan Dean akan pergi menjauh darinya jika dia melepaskan pelukannya.


“ Sudah jangan bicara lagi, aku tidak ingin mendengarnya. Berhenti meminta maaf, karena itu semua kehendak Tuhan. Lagi pula kita tidak bisa tawar menawar pada Tuhan, biarkan semuanya berjalan sesuai kehendaknya. Ayah selalu berkata seperti itu padaku, jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri,” Dion menatap wajah Dean, tatapannya begitu dalam.


Oliver yang mendengar percakapan keduanya, tak mampu menahan emosinya, kilauan crystal bening tanpa sadar jatuh membasahi wajahnya.


Melihat kedua putranya tengah berpelukan, Nelson merasa bahwa semenjak putra sulungnya sakit, putra keduanya Dion lebih sering bersama kakek dan neneknya dibanding bersama dirinya dan Bella.


Nelson menghisap kembali rokoknya, dia bersandar pada dinding, memejamkan matanya merenungi tentang apa yang telah terjadi.

__ADS_1


“ Ah, sepertinya aku melupakan putraku yang lain,” Nelson menghela napas beratnya.


Di saat dia termenung, pintu pun di ketuk, mengalihkan pandangannya, terlihat Bella tengah berjalan masuk. Bella tidak menutup pintu dengan benar, sehingga meninggalkan sedikit celah untuk mengintip. Sedangkan di belakangnya Sandra tengah mengintip dari sela pintu yang sedikit terbuka.


Nelson mengisap kembali rokoknya, dia berjalan mengitari meja kerjanya, lalu duduk di kursinya.


“ Ada apa?” Suaranya rendah namun terkesan dingin.


Bella tertunduk, dia mencoba untuk memandang wajah Nelson yang dingin bagaikan es di musim dingin.


“ Aku bahkan tidak tahu letak salahnya di mana?” ujar Bella pada suaminya yang tengah menatapnya. Tatapannya begitu dalam hingga menusuknya ke dalam.


“ Apa kamu tidak tahu kesalahanmu di mana?” Nelson menyeringai.


Bella mengangkat dagunya, lalu berkata. “ Apa perubahan sikapmu ini ada hubungannya dengan Mario yang mendatangiku? Apa kamu cemburu? Aku bahkan tidak melakukan apa pun! Mengapa Kamu marah seperti ini?” Bella setengah berteriak pada Nelson yang berada di hadapannya.


Nelson memejamkan matanya, dia bangkit menghampiri Bella yang terisak. Namun, tidak menangis.


Nelson berjalan saat berada di hadapannya, dia menarik lengan istrinya hingga tubuh kecil itu jatuh dalam pelukan Nelson, entah mengapa Bella selalu merasa nyaman dan tenang saat Nelson memeluknya.


“ Ya, aku cemburu kala wanitaku bertemu dengan mantan tunangannya. Rasanya aku ingin menghajarnya saja, karena sudah berani mendatangi wanitaku,” nada suaranya terdengar marah. Namun sedikit menggoda.


“ Namun kamu juga bersalah, karena mengizinkannya untuk bertemu denganmu. Jadi hukuman apa yang pantas untukmu saat ini?” Nelson berbisik dengan begitu menggoda di sebelah telinga Bella.


Bella yang mendengarnya tersipu, wajahnya memerah, entah ada apa? Tetapi saat berada dekat dengan Nelson tubuhnya selalu bergetar, detak jantungnya selalu berdegup kencang, darahnya berdesir, mengalir begitu deras hingga puncak kepala.


“ A-apa maksudmu? Mengapa seperti ini?” ucapnya dengan terbata-bata.


Nelson menyeringai jahat, dia berhasil menggoda istrinya. Nelson pelan-pelan menjilat daun telinga istrinya, memberikan sedikit sensasi pada Bella, dia terus melakukan aktivitasnya. Sedangkan Bella mulai terbawa suasana. Tanpa sadar dia melenguh manja.


Nelson yang mendengarnya pun menyeringai, dengan jahilnya dia menghentikan aktivitasnya itu yang membuat Bella sedikit kecewa. Dia mengerucutkan bibirnya, sorot matanya begitu kecewa.


Bella mengatur napasnya, yang sedari tadi terengah-engah karena ulah suaminya itu.


Nelson hanya tersenyum nakal kala melihat istrinya uring-uringan. “ Kemarilah,” pintanya.


Bella yang tengah cemberut pun terpaksa mengikuti perintahnya, dia pun mendekat pada Nelsonyabg tengah berdiri menghadap jendel.


“ Lihatlah,” ujarnya, seraya menunjuk pada dua anak yang tengah bermain di taman belakang, di ikuti seorang pria dewasa yang sedang menemani keduanya.


Bella tertunduk pun, mengangkat dagunya, mengalihkan pandangannya pada jari telunjuk Nelson yang tengah mengarah pada anak-anak yang tengah bermain.


“ Lihatlah mereka berdua, sudah lama aku tidak melihat mereka bermain bersama,” ujarnya.


Bella tak bicara, dia menatap kedu putranya yang tengah bermain, entah mengapa dadanya terasa sesak, dia memegangi dadanya, matanya berkaca-kaca kala memandang aktivitas keduanya.


Dia menggigit bibir bawanya, kini dia baru menyadari bahwa putra keduanya pasti kesepian, tanpa kehadiran saudaranya.


Dirinya sibuk bolak-balik ke rumah sakit untuk bergantian menemani Dean, nyatanya dia melupakan putra keduanya.


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏😍🫶❤️🌹🌹🌹

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2