
“ Dapatkah kau berdiri? Aku tidak bisa berada di posisi ini begitu lama.” Pinta Nelson.
Bella yang mendengar perkataannya, segera bangkit, tanpa memedulikan Nelson yang jatuh karena ulahnya.
Seketika Nelson berteriak. “ Aaahhh.”
“ Maafkan aku, maafkan aku!” Bella meminta maaf berkali-kali.
Roy dan Bella menolong Nelson dan menidurkannya kembali di ranjangnya.
Dion hanya tersenyum kala melihat ibu dan ayahnya.
“ Apakah kau terluka?” Nelson kembali bertanya.
“ emmm, hanya sedikit!” Seraya Bella melepas sepatunya.
Dan betapa kagetnya Nelson kala melihat luka di kaki Bella.
Nelson berkata. “ Roy panggil dokter, untuk mengobati istriku!”
Nelson meminta Bella untuk mendekat padanya seraya menunggu dokter datang.
“ Bella dengarkanlah baik-baik! Kau mengerti!” Nelson kembali menegaskan perkataannya.
Seraya memegang tangan Bella dia berkata. “ Aku tahu. Aku mencintaimu, hanyalah sebuah klise.”
“ Namun, hanya kata-kata itulah yang dapat ku ucapkan padamu !”
“ Hanya dengan memilikimu di sampingku, menghabiskan hari dengan tersenyum, dan menangis bersamamu. Hal itu kini menjadi makna dalam kehidupanku!”
Bella tidak mampu berkata apa pun, kala mendengar pengakuan Nelson. Dirinya di buat terharu oleh Nelson.
Dion mencoba menelpon kakaknya Dean.
Drrrttt… drrrttt… ponsel Dean bergetar.
Terlihat dilayar ponsel Dion melakukan Video call.
Dean mencoba menjawab panggilannya, dan terlihatlah Dion dengan balutan perban di kepalanya.
“ Kakak! Akhirnya kakak menjawab panggilanku!” Seru Dion yang sangat bersemangat kala melihat, dan mendengar suara Dean.
Dean cemas, kala melihat luka di kepala Dion, dia berkata. “ Apa yang terjadi padamu?”
Dion tersenyum seraya berkata. “ Ah ini, aku tidak hati-hati! sehingga aku terjatuh, dan melukai kepalaku!”
“ Ya! Kenapa kau tidak hati-hati!” Dean sedikit marah pada Dion.
“ Aku kan sudah bilang aku tidak sengaja! Mengapa kakak memarahiku balik?”
Dean yang melihat Dion menunduk, merasa sedikit bersalah pada Dion.
__ADS_1
“ Baiklah, maafkan aku karena sudah membentakmu!” Dean berkata dengan perasaan bersalah.
Dion yang melihat gelagat kakaknya sedikit tidak enak hati, seraya tersenyum dia berkata. “ Eh, kakak. Kenapa seperti ini? Aku sangat merindukanmu! Ibu juga sangat merindukanmu! Apakah kakak, sudah menghubungi ibu? Jika belum, hubungi ibu sekali-kali, jangan biarkan ibu tersiksa karena rindu pada kakak!”
“ Aku harap kakak bisa sembuh, dan kembali bersama kami lagi!”
“ Kakak, apakah kau menjalani pengobatan di sana?”
“ Aku sangat sedih, saat kakak tidak bersamaku!”
“ Aku tahu tentang rasa sakitmu, tapi aku mohon, bertahanlah, jangan menyerah akan rasa sakitmu!”
“ Jika kakak mau, aku akan menemanimu, dan berjuang bersamamu! Ah, tidak kami semua akan bersamamu, dan menjagamu?”
“ Kenapa kakak, diam saja? Apakah kau sakit?”
Dean sedikit temenung kala mendengar perkataan adiknya Dion.
Dean ingin memastikan, dia sedikit tersenyum seraya berkata, “ Emmm, Dion apakah kau akan lebih bahagia, jika aku terus bersamamu
Dion dengan semangat dia menjawabnya. “ Tentu saja, aku menantikan kita bisa hidup dan tumbuh dewasa bersama!”
Kemudian Dion bertanya. “ Apakah kakak tidak mau hidup bersama denganku?” Dion menatap nanar pada kakaknya Dean.
Dean terdiam sejenak, dengan suara sedikit bergetar, dia berkata. “ Aku pasti akan hidup lebih lama, dan tumbuh dewasa bersamamu!” walau dalam hatinya, dia tidak yakin akan perkataannya sendiri.
Dion sedikit bersemangat, dia kembali berkata. “ Aku harap pengobatan kakak berjalan dengan lancar!”
Dean tersenyum seraya berkata. “ Tentu saja, aku akan sembuh! Jangan bersedih lagi!”
Dion tersenyum, seraya berkata. “ Aku sangat menantikannya! Hari di mana kita berkumpul lagi!”
“ Kakak, ayah di rawat di rumah sakit!”
Dean sedikit kaget. “ Apa yang terjadi?”
Dion berkata. “ Saat kakak memberitahuku bahwa ayah adalah ayah kandung kita.”
“ Aku sangat senang saat itu! Tapi tidak dengan ibu. Ibu meninggalkan ayah, saat ibu tahu kebenarannya, bahkan ibu tidak pulang ke rumah!”
“ Ayah minum alkohol sangat banyak, sampai mabuk. Sehingga ayah, mengalami pendarahan di dalam perut!”
“ Kemarin ayah baru selesai menjalani operasi, jadi masih dalam tahap pemulihan!” Ungkap Dion.
Dean bertanya. “ Apakah ibu menemani ayah?”
Dion pun menjawab. “ Tentu saja, karena ibu sangat mencintai ayah!”
“ Bahkan ibu sampai berlari untuk sampai ke sini, saat jalanan macet total! Sungguh ibu sangat luar biasa!” Seru Dion.
Dean tersenyum. “ Baguslah jika ibu berada di sisi ayah, aku cukup lega mendengarnya.”
__ADS_1
“ Sampaikan salam rinduku pada ibu! Jaga baik-baik, selagi aku tidak ada di sampingmu.”
“ Akan ku tutup teleponnya, sampai jumpa adikku!”
Dean pun menghentikan panggilannya, Dean kembali merenungkan perkataan adiknya, dalam hatinya dia berkata. “ Ah, sepertinya aku harus kembali memulai pengobatanku!”
“ Aku harus segera meminta ayah agar memberitahu ibu secara perlahan.”
Tok.. tok… tok suara pintu di ketuk.
“ Tuan kecil, makanan telah siap.” Ucap Evan.
“ Paman Evan, bisakah Anda tinggal sebentar di sini? Aku ingin meminta pendapatmu, karena ayahku sedang sakit jadi aku ingin meminta pendapatmu!” Ucap Dean.
Evan sedikit kaget. “ Apa Presdir sakit?”
“ Emmm… ayah sedang berada di rumah sakit! Ungkap Dean.
Evan bertanya. “ Tuan kecil, apa yang ingin Tuan kecil bicarakan?”
Dean sedikit ragu. Dean berkata, “ Apakah aku bisa segera melakukan pengobatan kembali?”
Evan terdiam sejenak, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan.
“ Tuan kecil, apakah benar Tuan kecil ingin memulai kembali pengobatan itu?”
Dean menganggukkan kepalanya. “ Emmm.. Setidaknya aku ingin berusaha, dan berjuang melawan penyakitku!”
Evan sedikit senang, sungguh tidak terduga tuan kecilnya ingin mendapatkan perawatannya kembali.
“ Presdir pasti senang mendengar kabar ini!”
“ Saya akan mengabarkan kabar baik ini padanya!” Evan terlihat sangat bahagia.
Dean menundukkan kepalanya, seraya berkata. “ Aku ingin hidup, aku ingin tumbuh dewasa, bersama adikku!”
“Aku merenung karena perkataan adikku Dion.”
“ Perkataannya membuatku sadar akan keegoisanku sendiri! Aku hanya memikirkan perasaanku sendiri, tanpa memikirkan perasaan yang lainnya.
Evan menghampiri Dean, meraih tubuh kurusnya, dia memeluknya seraya berkata. “ Tuan kecil masihlah anak-anak, wajar saja jika berpikir egois.”
“ Tuan kecil sudah sangat hebat, bisa melewati rasa sakit yang tak terhitung jumlahnya. Saya harap Tuan kecil dapat menang melawan penyakit itu! Tidak apa-apa jika Tuan kecil ingin menangis maka menangislah, jika perlu saya dan Presdir akan menangis bersama Tuan kecil!”
Tiba-tiba tangis Dean pecah, seraya memeluk Evan dia menangis sejadi-jadinya. Oliver yang melihat momen itu hatinya begitu tergugah, hatinya sedih dan juga bahagia.
Dalam hatinya dia bahagia, karean Tuan kecilnya sudah bersemangat lagi untuk kembali memulai pengobatannya setelah sempat menyerah.
“ Tuan Evan, makanan sudah siap dari tadi, mungkin sudah dingin.” Terdengar suara Oliver dari arah meja makan.
“ Ah, Mr. Oliver sudah memanggil kita, sebaiknya kita pergi!” Ucap Evan.
__ADS_1
Dean mengusap air matanya, Evan menggendong Dean menuju meja makan.
Bersambung