ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 170


__ADS_3

Gisel tidak sanggup menatap Robin, yang bisa dia lakukan hanya menundukkan kepalanya, menghindari tatapan yang ditujukan padanya.


Sesaat kemudian, Bella keluar bersama dengan Zoya yang mengikutinya di belakang.


“ Ah, siapa pria itu?” Zoya bertanya.


Bella yang melihat punggungnya sudah tahu bahwa itu adalah Robin.


Zoya pun bereaksi, dan berkata. “ Maaf Tuan, apa yang Anda butuhkan di sini? Karena di sini hanya menjual pakaian wanita saja, jika tidak ada kepentingan silahkan keluar,” ujar Zoya pada pria yang membelakanginya.


Karena Bella cukup pintar, dia mengerti dengan situasinya, dia pun segera berkata. “ Zoya, bagaimana kalau kita keluar? Rasanya di sini terlalu panas.” Ucapnya seraya membawa Zoya keluar Studio.


Setelah menarik Zoya keluar, dirinya terdiam sejenak, tiba-tiba dia menepuk dahinya cukup keras. “ Aw, mengapa aku tidak membawa mantel saat keluar? Ah bodohnya aku,” dengan setengah mengumpat.


Zoya yang melihat adegan itu sedikit terperanjat kaget, bagaimana bisa wanita di depannya itu begitu ceroboh. Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan tidak berdaya.


Bella mengenakan congsam modern berdiri di luar pada musim semi, benar-benar sangat indah dan membeku.


“ Nona Bella, apa Anda tidak merasa dingin?” Zoya bertanya dengan gemetar.


Bella menatap Zoya, dia hanya mengenakan gaun selutut tanpa membawa mantel juga.


Zoya kembali bertanya. “ Bisakah kita masuk untuk mengambil mantel?”


“ Kalau kau tidak takut melihat apa yang tidak seharusnya kau lihat. Atau mendengar sesuatu yang tidak seharusnya kau dengar. Lalu keesokan harinya kau menghilang karena Bosmu menculikmu. Maka silahkan masuk,” Bella berkata seraya mengusap telapak tangannya.


Raut wajah Zoya terlihat jelas bahwa dirinya sangat tidak berdaya. Dia hanya memohon dan berdoa dalam hati agar pria yang berada di dalam agar segera keluar.


Atmosfer di dalam toko begitu kuat, keduanya masih tertegun satu sama lain.


Robin memandang setiap inci studio dengan tatapan dingin, seraya berkata. “ Demi menghindariku, kau telah melakukan pengorbanan besar. Bahkan kau rela, melepaskan kariermu di bidang militer hanya untuk kembali merancang pakaian? Jadi selama ini kau bersembunyi di sini, di tempat ini!” Robin meliriknya dengan tatapan sedikit mengejek.

__ADS_1


Gisel selalu menundukkan kepala, tidak banyak bicara, yang di lakukannya hanya diam, mendengarkan setiap perkataan yang di lontarkan Robin padanya. Kedua matanya yang indah berkaca-kaca.


Seseorang yang tangan kanannya sudah cacat dan bahkan sulit memegang sesuatu. Bagaimana mungkin masih berkualifikasi dan bertahan di militer?” dalam batinnya Gisel mengejek dirinya sendiri.


Sudut bibir Robin terangkat sebuah senyuman yang penuh ironi. “ Apakah kau akan selalu diam seperti ini? Dan tidak ingin berbicara denganku?”


Gisel menggigit bibir bawahnya lalu berkata. “ Harus berkata apa lagi? Tidak ada yang harus di katakan lagi? Aku membuka usahaku sendiri, bukan untuk mencari masalah. Lagi pula di sini hanya menjual pakaian wanita, tidak ada pakaian untuk pria. Jika Tuan tidak ada kepentingan lagi, silahkan pergi,” Gisel berkata dengan dingin pada Robin.


Setelah mendengar perkataan Gisel, wajah Robin menggelap, dengan sekejab dia melemparkan sebuah kartu hitam miliknya pada Gisel yang tengah tertegun.


“ Akan aku beli semua pakaian wanita yang ada di sini. Bungkus semua pakaian yang berukuran M yang ada di sini, aku ingin membelinya semua.” ujar Robin pada Gisel.


Gisel memandang wajah Robin, kedua manik indah itu telah berkaca-kaca, terlihat begitu pahit, dengan suara yang berat dia berkata. Kami tidak menjual pakaian sesuai ukuran, pakaiannya di buat khusus olehku.”


Robin menyeringai. “ Kalau begitu ukurlah sekarang,” seraya mengambil meteran baju yang ada di meja kerja Gisel.


Melihat Gisel tidak bergerak, dia berkata. “ Mengapa kau terdiam? Apakah aku harus membantumu? Apa kau sudah lupa dengan…” sejenak Robin menghentikan perkataannya.


Selesai berkata Robin memandang wajah Gisel yang kian merah padam, ada sedikit penyesalan saat dia melontarkan perkataannya pada Gisel.


Gisel mengangkat dagunya, mematap Robin dengan tatapan yang dalam. Dia bertanya dengan nada suara yang cukup tinggi. “ Robin, apa yang kau inginkan dariku?” Perlahan kilauan crystal bening menuruni wajah cantiknya.


“ Aku juga sama ingin tahunya, apa yang kau inginkan?”


“ Gisel, sembilan tahun yang lalu, kau melarikan diri diam-diam. Dan sampai detik ini kau tetap melarikan diri dariku? Sampai kapan baru bisa berhenti melarikan diri?” Kedua tangan Robin memegang bahu Gisel dengan erat dan kuat, seakan dia tidak akan melepaskannya.


Robin mencoba memeganginya agar dia tidak lagi melarikan diri darinya.


Sembilan tahun yang lalu, mereka berdua telah berbagi rasa suka maupun duka bersama-sama, mereka melalui medan pertempuran juga menjalankan misi bersama. Hingga suatu insiden terjadi di mana Gisel di sandera oleh gang Mafia, Gisel mengalami cedera yang sangat parah. Namun tiba-tiba dia menghilang dari rumah sakit, dan juga hilang dari pandangan Robin.


Robin mencari ke seluruh dunia, untuk menemukan wanitanya. Namun, tak ada perunjuk satu pun tentang keberadaannya. Dia sangat putus asa, dia bagaikan binatang buas yang rusak, dia tenggelam dalam keputusasaan yang tak berujung.

__ADS_1


Kemudian, wanitanya datang kembali, tanpa penjelasan apa pun. Dirinya merasa seperti orang bodoh. Menunggunya kembali, saat dia kembali dia melarikan diri lagi, dia bahkan pergi tanpa meninggalkan apa pun untuknya.


“ Gisel, mengapa aku selalu di tinggalkan? Apa kau tahu bagaimana putus asanya diriku? Kau bahkan pergi tanpa berpamitan denganku?”


Sepasang mata indah menatapnya begitu dalam, kilauan crystal bening tampak berenang di dalam matanya.


Gisel mengulas sebuah senyuman, dia tersenyum pahit, dan penuh ironi.


“ Aku tidak ingin seseorang memarahiku. Bukankah kepergianku, bisa mengabulkan harapan kedua orang tuamu untuk…” perkataan Gisel terhenti, wajahnya yang cantik dan bersih itu kini di penuhi air mata.


“ Gisel, apakah kau benar menganggapku seperti itu?” Suara Robin begitu rendah dan berat, sorot matanya penuh dengan rasa sakit dan kekecewaan.


“ Jadi, bagaimana menurutmu tentangku? Apakah kau tidak tahu, berada di sisimu, aku hanya akan menjadi pelacur selamanya.” Gisel memejamkan kedua matanya, hatinya begitu sakit kala melontarkan perkataan itu pada sosok pria yang masih di cintai olehnya.


Robin tertegun kala mendengar perkataan Gisel, raut wajahnya terlukis kekecewaan, dia menghirup napasnya dalam-dalam, dadanya yang bidang itu menunjukkan kembang-kempis paru-parunya yang berusaha tetap bernapas.


Robin merasakan sesak di dadanya, hingga dia sulit untuk bernapas. Di pejamkan kedua matanya. Perlahan dia memegang kedua tangan Gisel, terlihat terdapat banyak bekas luka. Semakin membuat Robin terluka.


“ Mengapa kau bicara seperti itu padaku? Aku bahkan selalu menunggumu di sini, dengan perasaan yang tetap sama untukmu. Tapi mengapa kau sangat tega terhadapku?” Robin tersenyum pahit di depan Gisel.


“ Tak bisakah kita kembali? Aku sangat ingin bersamamu. Mengapa kau hanya diam saja? Cepat katakan sesuatu!” tak terasa buliran air mata itu pelan-pelan menuruni wajah Robin.


Gisel tertegun sejenak. Namun dia kembali menguatkan hatinya. Di hempaskannya tangan Robin, lalu dia berkata. “ Jika kau mencari wanita lain, kau akan bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Wanita yang bisa meraih hati kedua orang tuamu, bukannya seperti diriku wanita yang sudah cacat ini,” Gisel berkata dengan begitu berat, dia sangat tidak tahan saat mengatakannya.


*


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶❤️🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2