
Seorang pria yang tinggi besar dan tegap itu berjalan dengan begitu anggun, raut wajahnya begitu gelap. Nelson bersama Andre dan juga Robin, sedangkan Yohan dan Ronald tengah sibuk dan berada di luar negeri.
Nelson melihat keberadaan istrinya yang tengah menundukkan kepalanya.
“ Nelson.” Sandra setengah berteriak memanggil namanya.
Bella mengangkat dagunya, dia menatap nanar pada suaminya. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis.
“ Dean dan Dion mereka…” perkataannya terhenti, dia tak kuasa menahan tangis. Kilauan air mata menuruni wajahnya yang kuyu.
Nelson menghampirinya, dia memeluk istrinya yang rapuh. Raut wajah Nelson sangatlah gelap, seakan dia ingin melahap orang hidup-hidup.
“ Tenanglah aku akan menemukan mereka, tidak akan aku biarkan mereka menyakiti kedua putra kita. Aku berjanji.” Ucapnya seraya mengusap air mata istrinya.
Bella menatap suaminya, dengan suara terisak dia berkata. “ Aku mohon, selamatkan mereka berdua.” Sorot matanya begitu putus asa, membuat Nelson begitu hancur.
“ Nelson,” ujar Sandra yang begitu panik.
“ Pulanglah, biar Oliver di jaga oleh mereka, seraya menunjuk pada dua orang yang tengah berdiri di depan pintu.
“ Tolong bawa istriku pulang,” pintanya. Seraya melangkah pergi menuju bangsal di mana Oliver di rawat.
Roy dan Sandra memapah Bella, membawanya masuk ke mobil yang telah terparkir di pintu masuk rumah sakit.
Kini Nelson berada di kamar Oliver, dia mendapat luka yang cukup serius, kepalanya di perban, wajahnya tampak pucat.
Nelson telah mengetahui rincian kejadian dari Andre. Namun, dia ingin lebih memastikan siapa yang berani-beraninya menyinggung Nelson Hongli.
Setelah mendengar penjelasan dari Oliver, dia pun berbalik pergi meninggalkan Oliver yang tengah tertunduk. “ Tuan, jika Tuan kecil tidak di temukan, saya takut jika penyakitnya akan kambuh. Tuan kecil pasti kesakitan.” ucapnya lirih.
Sorot mata Nelson begitu tajam. Dia pergi tanpa bicara sepatah kata pun meninggalkan Oliver yang tengah menyesali kejadian hari ini.
Hari sudah mulai gelap, Nelson masih mencari keberadaan kedua putranya, dia semakin cemas karena tidak ada tanda-tanda dari penjahat yang membawa kedua putranya.
Dia bahkan telah mengerahkan banyak orang untuk menemukan keduanya. Namun, tidak ada titik terang.
Nelson telah memeriksa seluruh CCTV yang ada di taman bermain. Namun, mereka tidak menangkap sosok yang membawa pergi Dean, maupun Dion keluar dari sana.
Nelson sempat merasa putus asa, tapi Andre yang bertugas untuk memeriksa CCTV pun menemui titik terang. Dia memutar kembali rekaman dari kamera dashboard sebuah mobil yang tengah terparkir di area belakang taman bermain.
Dengan seksama Andre menonton rekamannya, dia melihat bahwa benar adanya bahwa Dean dan Dion di bawa masuk ke dalam mobil secara bergantian.
Andre membawa berkas, di mana sekelompok orang yang menggunakan sebuah mobil Van untuk membawa Dean dan Dion lewat area belakang taman bermain.
Di raut wajah Nelson tersirat kemarahan yang begitu besar. Sorot matanya begitu tajam, bahkan Andre saja dibuat bergidik ngeri olehnya.
“ Lalu apa kau sudahbtahu di mana keberadaan mobil yang membawa putraku?” Nada suaranya begitu dingin.
“ Mobil dengan pelat nomor ini terakhir terekam di jalanan Shanghai. Namun, Van itu tidak terlihat lagi di mana pun.” ujar Andre pada Nelson.
Cepat kerahkan semua orang untuk mencari di sekitaran Shanghai.” Perintah Nelson pun turun, Andre segera memosisikan orang-orang untuk fokus mencari kedua putra Bosnya.
Di sebuah gudang tua, Dean dan Dion tengah terikat. Dean yang sedari tadi telah bangun menyadari bahwa keduanya tengah dalam situasi yang berbahaya.
__ADS_1
Dean berusaha melepaskan dirinya dari ikatan sang penculik. Namun, seberapa keras dia mencoba tetap tidak bisa lepas. Dion perlahan membuka matanya, dia menatap wajah kakaknya yang berada di atasnya. “ Kita ada di mana?” ucapnya lirih.
“ Suuut,” Dean berdesis mengisyaratkan agar Dion tidak banyak bicara.
Dion memandang area sekitar, tampak gelap, dia menyadari bahwa dirinya berada dalam gudang tua.
Terdengar suara pintu di buka, seorang pria datang menghampiri keduanya. Dia menyeringai jahat, setelah melihat mangsanya dia menelepon seseorang dan berkata. “ Mereka berdua telah berada di tanganku, mau kau apa kan mereka?”
“ Hmm, baiklah.” Sang pria menganggukkan kepalanya. Lalu melirik pada dua anak yang menatapnya tajam.
Dean melirik ke arah luar, tampak hari telah berganti malam. Dia juga tidak tahu sejak kapan dia berada di dalam gudang? Bersama dengan Dion, yang dia ingat hanya saat Oliver tersungkur karena di hantam oleh seseorang, di dalam hatinya berharap Oliver selamat.
“ Biarkan mereka malam ini di sini! Kalian berjagalah,” perintah sang pria yang di perkirakan adalah pimpinan mereka.
Sang pria pun meninggalkan mereka untuk kembali ke tempatnya.
“ Bagaimana ini? Aku takut,” ujar Dion.
“ Tidak apa-apa, aku akan melindungimu. Bertahanlah sebentar lagi.” Dean tersenyum, mencoba untuk menenangkan adiknya yang tengah ketakutan.
“ Aku sangat takut, sangat takut,” entah apa yang merasukinya? Dion terus merengek pada Dean.
Dean menghela napas beratnya. “ Dion sadarkan dirimu,” dia setengah berteriak, seketika Dion menghentikan rengekannya, dirinya cukup kaget kala menatap wajah Dean yang begitu gelap.
“ Setidaknya diamlah, itu akan sedikit membantuku,” ujarnya.
Walau dirinya tahu ini semua tidak akan mudah untuk di lalui. Dirinya juga penasaran siapa yang berani melakukan hal ini pada mereka.
Dean terus berusaha melepaskan ikatan di tangannya, begitu perih hingga dia meringis kesakitan.
“ Siapa pun tolong, tolong kakakku!” Teriaknya dengan putus asa.
Dua penjaga yang bertugas tidak menghiraukan teriakan Dion, mereka malah sibuk minum di luar gedung.
“ Dean, Dean,” teriak Dion. Dean masih mencoba bertahan agar tidak hilang kesadaran. Dia berusaha keras untuk melawan rasa sakitnya. Napasnya tersengal-sengal, di raut wajahnya terlukis rasa sakit tak tertahankan.
“ Tidak apa-apa Dion, aku baik-baik saja,” ucapnya lirih. Matanya begitu sayu, terlihat begitu lelah.
“ Aku lelah, aku ingin tidur sebentar, bangunkan aku sebentar lagi,” pintanya pada adiknya. Dion sangat khawatir. Namun dirinya juga tidak berdaya sungguh ironi.
Di Mansion.
Bella masih dalam keadaan panik, dia begitu khawatir dengan kedua putranya. Bella memandang keluar jendela, tampak hari telah berganti malam akan tetapi suaminya belum memberi kabar.
“ Ibu, bagaimana ini?” Bella memeluk Sandra, sembari menangis.
Nelson menunjukkan wajah suram saat kembali ke mansion, walau pun terlihat tenang akan tetapi Nelson juga dilanda kekhawatiran yang cukup besar, mengingat putra yang satunya adalah anak yang sakit.
“ Suamiku bagaimana? Apa kamu menemukan petunjuk? Mengapa begitu lama? Apa yang akan terjadi pada kedua anak kita?” Bella terisak seraya memukul pelan dada bidang Nelson.
Nelson sadar akan ketakutan istrinya, Dean seharusnya meminum obatnya akan tetapi malam ini dia melewatkannya. Entah apa yang akan terjadi pada putra sulungnya? Nelson tidak mampu membayangkannya. Nelson memijat dahinya, kali ini sungguh tidak berdaya. Sejenak dia berpikir bahwa Dean memakai jam tangan khusus yang di rancang untuk keadaan darurat seperti ini.
Nelson segera bergegas pergi menemui Andre, untuk mencari lokasi terakhir Dean yang di baca oleh sistem Nelson.
__ADS_1
Bugg… pintu di buka dengan kasar, Nelson berlari menghampiri Andre. “ Periksa di mana perangkat ini terakhir melintas?” Perintah Nelson segera dilaksanakan oleh Andre.
Namun sayang terakhir perangkat itu tercatat di sekitaran Shanghai sesuai dengan data dari pelat mobil palsu yang melintasi daerah itu. Namun, tidak ada tanda-tanda lain yang mencurigakan lagi.
“ Petunjuknya berhenti sampai di situ.” Andre menundukkan kepalanya.
“ Aaaa, mengapa tidak ada petunjuk satu pun!” Nelson setengah berteriak, dia mengalihkan pandangannya ke atas matanya berkaca-kaca, dia menggigit bibir bawahnya.
Brrraaaakkk
Kursi di tendang oleh Nelson hingga membentur dinding. Napasnya begitu memburu, matanya memerah, terlihat amat putus asa. Nelson duduk menghadap kaca jendela besar, dia menatap langit yang kini berganti pagi.
Nelson menggosok wajahnya dengan kedua telapak tangannya dengan begitu kasar, dia tidak bisa membayangkan putranya tengah kesakitan.
Andre baru pertama kali melihat Nelson begitu putus asa, bahkan dalam medan pertempuran dia tidak pernah putus asa. Andre menghela napas beratnya, dia kembali memperhatikan monitor.
Di sisi lain, di sebuah gudang tua itu mereka kedatangan tamu, dia seorang wanita yang sudah berumur. Namun tampak agak muda karena perawatan.
“ Hubungi keluarganya dan minta uang tebusan sebanyak mungkin!” Wanita itu memberi perintah pada empat pria yang ada di hadapannya.
Drrrttt… Drrrttt… ponsel Nelson bergetar, hingga membangunkan Nelson yang setengah terjaga itu.
Dia melirik ponselnya, tampak nomor yang melakukan panggilan adalah nomor yang tidak di kenal.
Dengan sedikit ragu Nelson menjawab panggilan itu, dan ternyata adalah salah satu komplotan penculik putranya.
“ Halo, Tuan muda Nelson,” terdengar suara seorang pria yang tengah berbicara dengannya.
Nelson mengisyaratkan tangannya, agar stafnya dapat melacak di mana panggilan itu di lakukan?
Nelson melanjutkan percakapannya dengan sang pria.
“ Jika kau ingin mendapatkan anakmu hidup-hidup maka kirimkan kami sejumlah uang tiga milyar untuk satu orang anak. jika kau tidak memenuhinya maka jangan salahkan jika kami membunuhnya. Atau mungkin bisa aku mulai dengan anak yang sakit ini,” sang pria melayangkan ancaman pada Nelson.
“ Jika sampai putraku tergores akan ku kejar kalian hingga ke ujung dunia sekalipun.” ucap Nelson pada pria yang mengancamnya.
“ Eiih, aku bahkan tidak takut dengan ancamanmu,” ujar sang pria, nada suaranya begitu mengejek Nelson.
Seorang staf akhirnya mendapatkan koordinat dari panggilan yang masuk.
“ lebih baik siapkan uangnya, dan kirim ke pelabuhan Shanghai, pukul 22:00 malam nanti.” ucap sang pria, dia pun memutuskan panggilannya.
Petugas gabungan telah berkumpul, mereka di berikan arahan untuk mencari siapa yang telah melakukan panggilan pada Nelson.
Nelson menyusun rencana, agar bagaimana menangkap orang yang telah menculik kedua putranya.
Di saat Nelson tengah menyiapkan uang beserta Strategi mereka. Dean dan Dion tengah mencoba untuk melepaskan diri dari ikatan yang menjerat tangan mereka.
*
*
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶❤️🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Bersambung