
“ Dia cukup baik bagi ibu. Karena dia telah memberi tumpangan, dan jasnya agar ibu tidak kedinginan,” ungkapnya.
Dean sedikit tersenyum, saat memperhatikan raut wajah ibunya yang mulai memerah ketika ibunya menceritakan seorang pria.
“ Apakah ibu menyukainya?” Dean kembali bertanya sedangkan Dion hanya ikut menyimaknya.
“ Entahlah… sekalipun ibu menyukainya, belum tentu dia menyukai ibu. Mengingat bagaimana tingginya derajat dia, banyak wanita yang sangat menginginkan dia. Dibandingkan ibu yang hanya wanita biasa dan…” Bella menghentikan kata-katanya. Seraya menunduk dia merasakan kesedihan yang amat dalam.
Dean yang melihat itu pun menghentikan pertanyaannya. Seraya berkata. “ Sebaiknya ibu tidur sudah larut malam, tidak baik bagi wanita menangis di malam hari. Dan jangan bersedih lagi kami akan selalu ada untukmu ibu,” ucap Dean seraya memeluk ibunya dan mencium keningnya bergantian bersama Dion, sebelum meninggalkan kamar.
Dean masih berdiri di depan pintu kamar ibunya, dia tadinya akan menanyakan siapa ayah kendungnya itu? Namun dia kembali mengurungkan niatnya ketika melihat keadaan ibunya yang tidak stabil.
Mereka berdua kembali ke kamar tidurnya masing-masing setelah memastikan ibunya tidur.
Kembali ke Nelson Hongli.
Di tengah malam Nelson kembali ke mansionnya. Dia merasa sangat hampa di dalam hidupnya, dia juga ingin kehangatan dalam rumahnya.
__ADS_1
Seraya berjalan masuk ke dalam, dia hanya melihat kepala pelayan yang menyambutnya pulang, tiada orang lain lagi.
Begini penampakan kamar pak presdir yang kesepian.
Nelson berjalan menuju kamarnya, melihat ke dalam ruangan besar yang kosong dan dingin, dia terlintas bayangan Bella ketika dia memberikan tumpangan. Nelson merasa nyaman bersama Bella walaupun mereka tidak berbicara satu sama lain.
Dia hanya tersenyum, di dalam bak mandi Nelson teringat dengan Dean dan Dion seakan dia merindukan kedua anak itu. Dia ingin bersama dengan mereka berdua, ingin melewati harinya bersama kedua anak itu.
“ Apakah aku bisa bertemu dengan mereka lagi?” Batinnya.
Terlihat senyuman dari sudut bibir Nelson, entah kenapa? Dia merasa seakan ada ikatan batin bersama kedua anak itu.
Kembali ke Bella Xia.
Bella yang tertidur kembali memimpikan kejadian sembilan tahun yang lalu, malam di mana dia kehilangan kehormatannya oleh orang yang bahkan tidak dikenalnya, sentuhan demi sentuhan yang menyakitkan baginya masih kerasa.
__ADS_1
Keringat dingin membasahi wajahnya, Bella berteriak memanggil nama ibunya. “ Ibu… ibu… ibu…” teriaknya minta tolong.
Namun tidak ada yang datang menghampirinya, dia merasa putus asa hingga terdengar suara kedua putranya yang putus asa membangunkannya dari mimpi buruk, yang selalu menghampirinya setiap malam.
“ Ibu… ibu… sadarlah… ibu…”
Bella begitu kaget ketika tersadar, Dion menangis dengan pilu karena memanggil-manggil nama ibunya. Namun ibunya tidak merespons, Bella sambil memeluk Dion, dia mengusap air matanya dan berkata. “ Ibu baik-baik saja, jangan menangis lagi.”
“ Ibu minumlah airnya,” seraya Dean memberikan segelas air putih pada ibunya.
“ Apakah mimpi itu lagi?” Dean bertanya pada ibunya.
Bella memberi jawabnya dengan cara mengangguk.
“ Sebaiknya ibu kembali tidur, ini sudah hampir pagi. Tidurlah lebih lama, tubuhmu mungkin terlalu lelah bekerja,” ucap Dean.
Bella kembali tidur, sedangkan Dean menunggu melihat ibunya dari celah pintu, dalla batinya dia berkata. “ Tak bisakah kau berbagi rasa sakitmu pada kami, setidaknya berbagilah padaku,” batinnya.
__ADS_1
Jangan lupa; like, vote, dan komen ya guy. Terima kasih 🙏🥰🫶🌹
Bersambung