ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 169


__ADS_3

Nelson hanya menganggukkan kepala, pertanda mengizinkan Robin untuk berbicara dengan istrinya.


Robin membawa Bella menuju rooftop rumah sakit, setelah dia membeli kopi. Bella yang masih bingung dengan situasi yang terjadi, hanya mengikutinya.


“ Duduklah,” ujar Robin seraya mempersilahkan Bella untuk duduk.


Bella yang sedikit bingung itu pun tersentak oleh suara Robin yang rendah, namun tetap berwibawa.


Robin menundukkan kepalanya, lalu bertanya. “ Dari mana kakak ipar mendapatkan gaun itu?”


Dia telah mendatangi studio yang membuat gaunnya. Namun gadis penjaga toko itu hanya berkata bahwa pengantin wanita sendiri yang membawanya. Tidak ada petunjuk yang lainnya. Sehingga dia harus bertanya langsung pada Bella.


Setelah mendengar pertanyaan Robin, Bella tanpa sadar mengerutkan kening. Dia tak habis pikir, benar-benar sebagai orang yang berkarier dalam bidang militer, bertanya langsung pada intinya.


Robin melirik pada Bella yang tengah terdiam, dengan tidak sabar dia berkata. “ Jangan bilang kakak ipar tidak tahu?”


“ Aku tahu.” Dia menganggukkan kepalanya dengan pelan. Sedetik kemudian dia balik bertanya.


“ Sebenarnya ada apa? Mengapa aku harus memberitahumu?” Seraya melirik pada raut wajah Robin.


Robin merapatkan bibirnya dengan erat, udara di sekitar tubuhnya menjadi dingin. Setelah terdiam sejenak, dia mulai memohon. “ Tolong katakan padaku di mana dia?”


Bella melihat sorot matanya yang begitu putus asa pun, sedikit luluh. “ Besok aku akan pergi ke studio White Rose untuk mengambil pesananku. Kau bisa ikut pergi bersamaku. Tetapi aku tidak tahu dia ada di sana atau tidak? Kebetulan Dean ada yang menjaganya, sehingga aku bisa ke sana sebentar.” Bella menyesap kopi yang ada di tangannya, sejenak menatap Robin yang tengah memandangi langit.


“ Sepertinya dia sangat berarti baginya, aku bahkan tidak tahu tentang ini! Aih, mengapa begitu rumit?” Bella menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, menepis semua bayangan yang ada di benaknya.


“ Apakah kau sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaanmu? Jika sudah aku harus kembali ke kamar Dean, karena sebentar lagi Nelson akan pergi bekerja.” ujarnya pada Robin yang masih menatap langit.


Robin hanya diam, tak lagi terdengar suaranya. Bella pun beranjak dari tempatnya. Sebelum pergi dia berkata. “ Aku akan memberitahumu kapan aku kan datang ke sana.” Bayangan Bella pun berlalu dari pandangannya.


Setelah Bella kembali ke kamar Dean, Nelson bertanya. “ Apa Robin bertanya padamu tentang baju pengantin?”


Bella menganggukkan kepalanya seraya berkata. “ Apa dia bertanya padamu?


Nelson menggelengkan kepalanya, lalu berkata. “ Tidak, aku hanya sedikit berpikir tentang seseorang,” Nelson mengulas sebuah senyum yang penuh arti.


“ Aku akan pergi bekerja, Evan sudah menungguku di bawah. Maafkan aku meninggalkanmu di sini bersama anak-anak,” ucapnya seraya mengecup lembut kening istrinya.

__ADS_1


Bella hanya mengulas senyuman saat Nelson beranjak pergi. Dia mengalihkan pandangannya pada dua sosok anak kecil yang tengah tertidur bersama, berbagi ranjang yang sama.


Keesokan harinya setelah dia pulang dari rumah sakit bersama Dion, dia menyadari bahwa ada sebuah mobil Audi A8 warna hitam yang telah berada di pekarangan mansion.


Robin menunggu kedatangan Bella sejak pagi di ruang tamu.


Bella melirik pada Robin yang tengah menunggu dengan sabar, ketulusan hatinya terpancar dalam sorot matanya.


“ Maafkan aku, kau pasti sudah menunggu lama? Aku akan pergi bersiap sebentar,” ucapnya dengan cepat hingga Robin tidak dapat menangkap apa yang di katakan olehnya.


Setelah menunggu selama lima belas menit, akhirnya Bella turun, dia mengenakan gaun selutut berwarna pastel dengan mantel berwarna cream.


“ Ayo kita pergi,” ajaknya pada Robin.


Bella masuk ke dalam mobil Audi A8 warna hitam milik Robin, dia duduk di samping Robin yang tengah duduk di kursi kemudi. Perlahan Bella mengeluarkan secarik kertas yang berisikan alamat studio yang akan di kunjunginya hari ini.


Dia memberikannya pada Robin, dia melirik sejenak, seketika dia membelalakkan kedua matanya, memandangi sketsa yang ada di tangannya saat ini. Dengan mata yang berkaca-kaca Robin bertanya. “ Apa dia memberikannya padamu?”


Bella menganggukkan kepalanya. “ Bahkan yang menjahitnya juga dia sendiri, ku dengar gaun itu telah selesai beberapa tahun yang lalu.”


Robin menggigit bibir bawahnya, menahan emosinya agar tidak pecah. Dia menundukkan kepalanya, lalu menghidupkan mesin mobil. Dia dengan cepat melajukan mobilnya membelah jalanan kota.


“ Aku akan masuk lebih dulu, jadi pergilah untuk memarkir mobilmu lebih dulu,” ucap Bella seraya menunjuk sebuah Studio kaca yang ada di depannya.


Selesai berkata, Bella menutup mobil Robin lalu melangkah pergi.


Bella berdiri di depan studio, pelan-pelan mendorong pintu, lonceng angin yang tergantung di bagian atas pintu, mengeluarkan suara yang begitu enak di dengar.


Terdengar suara begitu familier menyambut kedatangannya, seraya memberikan senyuman yang begitu lembut.


“ Selamat datang Nona, apakah ingin mengambil pakaian?” tanya penjaga toko pada Bella.


“ Maaf agak telat, akhir-akhir ini aku sibuk,” Bella mengulas senyuman pada sang penjaga toko.


“ Apa kalian berdua sibuk melakukan perjalanan bulan madu?” Sang gadis penjaga toko yang di ketahui bernama Zoya itu bertanya dengan penasaran.


“ Bukan, urusan keluarga, setelah menikah kau akan mengetahuinya,” Bella tersenyum lembut, begitu manis. Siapa pun yang memandangnya akan terpesona olehnya.

__ADS_1


Saat Bella datang ke toko, kebetulan Gisel juga berada di Studio, dia menatap lembut Bella yang tengah berdiri, menunggu Zoya mengambil pakaiannya.


Sedetik kemudian Zoya datang, dengan sebuah Chongsam semi modern, terlihat begitu indah dengan sekali pandang, pakaiannya sangat unik dan inovatif.


“ Apakah aku bisa langsung mencobanya?” Bella sangat tidak sabar untuk mengenakannya di tubuhnya.


“ Tentu saja, ruang gantinya ada di sebelah sana. Kau bisa menggunakannya,” Gisel berkata seraya menunjukkan di mana tempatnya berada.


Gisel hanya memandangi Bella yang tengah pergi dengan Zoya menuju ruang ganti. Namun sedetik kemudian raut wajahnya kembali muram, dia tersenyum dengan begitu pahit.


Di ruang ganti Bella tengah mencoba pakaiannya. “ Apakah bagus?” tanyanya pada Zoya.


Saat Zoya melirik Bella, setengah mulutnya terbuka, begitu terkejut hingga tak bisa bicara. Benar-benar indah. Walau sudah tahu jika Bella yang mengenakannya akan terlihat cocok untuknya.


“ Zoya apa kau mendengarku?” ujar Bella setengah berteriak karena Zoya tidak mendengarnya.


“ Ah iya, Nona sangat cantik, begitu indah hingga aku tak bisa berkata-kata,” ucap Zoya seraya memuja penampilan Bella.


Di luar lonceng angin di pintu berbunyi lagi. Gisel melemparkan sebuah senyuman dan berbalik, seraya berkata. “ Selamat datang, ada yang bisa…” Gisel tidak menyelesaikan kata-katanya, dia terdiam sejenak, senyumannya tertegun di wajahnya yang cantik.


Robin tengah berdiri di ambang pintu, cahaya matahari menutup sebagian bayangannya, fitur wajah yang memesona, sepasang manik hitam memancarkan sorot mata yang begitu dalam.



Visual Robin dan Gisel


Gisel menggigit bibir bawahnya, dia tertegun menatapnya, dan kedua telapak tangannya mengepal begitu erat, hingga kuku jari tangannya menembus kulitnya.


“ Kenapa? Apa kau sudah tidak mengenaliku?” ucap Robin seraya melangkah maju ke arahnya.


Tubuh Robin yang besar dan kekar itu menutupi keberadaan Gisel yang ada di hadapannya. Tatapannya begitu intens, dan mendominasi.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih untuk dukungannya. 🙏🥰🫶❤️🌹🌹


Bersambung


__ADS_2