
“ Ayah, berhubung Ayah ada di rumah ayo kita pergi ke tempat bermain?” Nelson berbalik menatap putra sulungnya. Tatapannya sedikit khawatir mengingat belum lama ini kedua putranya di culik di tempat hiburan.
“ Apa kau yakin, Nak?” Nelson kembali bertanya. Dean dengan mantap meyakinkan Nelson agar mereka pergi ke sana. Akan tetapi raut wajah Dion berbeda, dia masih memiliki rasa takut untuk pergi ke tempat ramai.
Dean menghela napasnya lalu berjalan menghampiri adiknya. “ Apa kau masih takut untuk pergi ke sana?” Dion hanya menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah Dean yang ada di hadapannya.
Dengan lembut Dean mengusap puncak kepala adiknya, lalu berkata. “ Jika kau masih belum siap ke sana, mari pergi ke tempat lain. Ya kan Ayah?” Nelson hanya menganggukkan kepalanya kala menanggapi perkataan putranya Dean.
Bella hanya terdiam tidak ingin berkata, kedua mata indahnya berkaca-kaca dia mencoba menahan tangisnya berusaha mengalihkan pandangannya agar air matanya tidak jatuh. Walau sudah berangsur pulih akan tetapi luka itu tetap ada, dan menghantui anak-anaknya, terutama Dion.
“ Apa kau tidak apa-apa?”Tanya Nelson karena menyadari istrinya yang hendak menangis. Bella sedikit terisak akan tetapi dia menggelengkan kepalanya.
“ Tidak apa-apa.” Jawab Bella seraya berusaha memberikan sebuah senyuman di wajahnya yang sedih.
“ Bagaimana, apa kau ingin ikut?” Nelson bertanya pada Dion yang sedari tadi menunduk, dia hanya menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia akan ikut bersama mereka.
“ Baiklah, kita pergi sekarang!” Nelson berteriak gembira membawa kedua putranya untuk berganti pakaian. Sedangkan Bella mengekor di belakangnya.
“ Oliver, cepat bersiap kita akan pergi keluar.” Oliver pun segera bergegas masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Nelson membantu kedua putranya berganti pakaian, saat Dion dan Dean melepas baju bagian atasnya tampak tubuh itu di penuhi bekas luka. Deg hati Nelson terasa begitu sakit kala menatap punggung Dean, tampak jelas bekas luka berat maupun ringan terlukis di punggung kecilnya. Nelson mencoba untuk menahan tangisnya namun tak bisa, kilauan crystal bening itu membasahi wajahnya yang tampan.
“ Ayah, ada apa?” Dion yang menyadari Nelson menangis dengan lembut menghapus air mata Ayahnya. Dean yang mendengar percakapan keduanya pun mendekati Ayah dan adiknya. Dia dengan santainya menepuk bahu Ayahnya, menatapnya dalam.
“ Tidak apa-apa Ayah, anak lelaki terluka itu wajar bukan?” Dean berkata dengan sedikit mambanggakan dirinya sendiri. Dion yang tidak menyadari bekas luka kakaknya yang memang sangat banyak pun terperangah kala menatap tubuh saudaranya.
“ Dean…” Dion tidak sanggup menyelesaikan perkataannya. Buliran air mata itu langsung turun melewati wajah kecil Dion.
“ Ayolah, ini semua tidak apa-apa. Sungguh, kata dokter bekasnya akan menghilang dengan seiring berjalannya waktu,” Dean meyakinkan Adik dan juga Ayahnya.
Dean segera mengenakan pakaiannya dengan cepat agar tidak ada yang melihat. Dia pun bergegas memeluk keduanya, Dean berbisik pada adiknya. “ Dion, ini semua bukan salahmu! Jadi berhentilah menangis. Atau aku akan memukulmu!” Dean sedikit mengancam adiknya sehingga Dion menghentikan tangisannya. Dean dengan cekatan mengusap lembut air mata yang ada di wajah saudaranya.
“ Bisakah kita pergi sekarang?” Dean bertanya pada keduanya. Nelson pun beranjak mengganti pakaiannya yang sudah di siapkan istrinya, lalu membawa putranya untuk turun. Bella juga yang sudah bersiap, menunggu mereka di bawah sambil membawa ponsel dan dompet milik suaminya.
“ Mengapa lama sekali?” Bella sedikit protes pada mereka yang baru saja menuruni anak tangga.
__ADS_1
“ Tak perlu marah seperti itu, saat kamu marah wajahmu makin menggemaskan bagiku.” Nelson malah menggoda istrinya, membuat Bella tersipu hingga wajah cantiknya memerah bagaikan sebuah tomat.
“ Berhentilah menggodaku,” Bella setengah berteriak pada suaminya. Dia tak kuasa menatap wajahnya saat ini. Dion hanya tersenyum tipis menanggapi tingkah kedua orang tuanya. Sedangkan Dean hanya menggelengkan kepalanya, tidak percaya Ayahnya yang berwibawa itu bisa bersikap seperti itu.
Nelson beserta keluarganya pun melangkah pergi meninggalkan Mansion tak lupa juga Oliver yang ikut di belakangnya. Hari ini Nelson yang mengemudikan mobilnya sendiri, Bella duduk di depan samping kemudi, sedangkan anak-anak duduk bersama di kursi belakang bersama Oliver. Dari jauh para pengawal yang di siapkan Nelson mengikuti dari belakang. Mereka menuju ke pusat perbelanjaan yang berada di bawah naungan Hongli Group.
Cuaca hari ini sangatlah cerah. Terlihat awan putih yang menggantung indah di atas langit. Nelson beserta keluarga kecilnya turun dari sebuah mobil Bentley warna hitam. Anak-anaknya begitu bahagia kala melihat bangunan luas yang sudah ada di depan mata. Setelah memarkirkan mobil mereka sekeluarga masuk ke dalam pusat perbelanjaan, suasana di dalam begitu mewah dan hanya kalangan atas saja yang masuk ke sana.
Bella takjub akan visual yang di sajikan oleh pihak pusat perbelanjaan, bagaimana tidak? Saat memasuki pintu masuk mereka sudah di sambut bak bangsawan. Staf di sana sudah tahu akan kedatangan Nelson, mereka pun memberikan pelayanan yang sangat bagus, Bella tidak tahu bahwa pusat perbelanjaan itu masih berada di bawah naungan Hongli Group milik Nelson.
“ Suamiku, di sini sangatlah mahal, apakah tidak apa-apa jika berada di sini?” Bella bertanya dengan cemas karena dirinya baru pertama kali memasuki pusat perbelanjaan yang sangat mewah seperti ini. Karena semua kebutuhannya selalu di siapkan oleh suaminya.
“ Tidak apa-apa. Apa kau tidak percaya pada kekuatan suamimu ini?” Nelson tersenyum seraya mengajak kedua putranya masuk menjelajahi toko-toko di sekitarnya. Bella tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Sedangkan Oliver tidak bicara sedikit pun dia hanya mengikuti ke mana Tuannya pergi.
Nelson tampak bahagia menemani anak-anaknya masuk ke sebuah toko pakaian bermerek. Dion bersama dengan ibunya mencari pakaian yang cocok dengan mereka. Dean berada di tempat pakaian wanita, dia menatap sebuah gaun berwarna Peach pada lemari kaca yang ada di dalam toko. Setelah menimang-nimang Dean meminta tolong untuk membungkus gaun tersebut. Akan tetapi pelayan di sana tidak memercayai kemampuan membeli Dean, bahkan pelayan tersebut berani menghinanya.
Dean menghela napasnya lalu berkata. “ Jika tidak memberikannya ya sudah, aku pergi saja!” Dean segera pergi meninggalkan toko tersebut. Pelayan itu acuh tak acuh saat melihat kepergian Dean.
Dean menghampiri Ayahnya, lalu berkata. “ Bukankah itu merek perusahaan Hongli? Mengapa begitu angkuh?” Dean sedikit tidak puas dengan pelayanan toko tersebut. Nelson hanya tersenyum menanggapi perkataan putra sulungnya. Lalu Nelson bertanya dengan penasaran. “ Lalu apa yang akan kau lakukan?
“ Ayah sudah menghubungi Evan, dia akan mengurus masalahnya.” Nelson mengusap kepala putranya yang di tutupi Hudi seraya tersenyum lembut.
“ Ayo kita ke tempat lain Ayah, biarkan Mr. Olaf yang bersama dengan Ibu. Aku ingin membeli sesuatu.” Dean menarik lengan Nelson dan membawanya berjalan ke sebuah toko pakaian wanita. Dan kebetulan toko itu milik ayahnya.
Dean terdiam di sebuah lemari kaca, dia menatap sebuah gaun berwarna Dark Navy. Sederhana namun terlihat sangat elegan jika di padukan dengan kulit putih milik ibunya, Bella. Nelson menghampiri Dean lalu bertanya.
“ Sangat cantik bukan?” ujar Nelson pada Dean.
“ Ehm, sangat cantik. Apa lagi saat ibu mengenakannya,” Dean terus memandanginya hingga seorang pelayan menghampirinya.
“ Tuan, apakah sudah ada yang Anda inginkan di toko kami?” Ucapnya sopan dan hormat pada keduanya. Dia belum tahu jika pria di hadapannya adalah pemilik sebenarnya.
“ Aku menginginkan ini.” Tangan kecilnya menunjuk pada gaun yang ada di lemari kaca. Mata pelayan toko sejenak berbinar-binar karena model terbaru dan juga edisi terbatas itu sangat mahal sehingga saat orang mengetahui harganya mereka urung membelinya.
“ Tuan, apakah Anda yakin ingin membeli gaun ini?” Nelson hanya menganggukkan kepalanya pelan. Lalu mengalihkan pandangannya pada Dean.
__ADS_1
“ Ayah, jangan ikut campur. Aku yang akan membayarnya.” Dean dengan percaya diri berjalan menuju kasir. Pelayan itu mengeluarkan gaun yang terpajang di dalam lemari kaca. Beberapa orang pengunjung memperhatikan anak dan seorang pria tampan yang menunggu pesanan mereka di bungkus dengan rapi. Nelson cukup terkejut saat putranya hendak membayar pesanan mereka, ternyata Dean memiliki banyak uang di kartunya. Nelson tidak bisa berkata apa-apa saat mengetahuinya yang ada hanyalah rasa kagum pada putra sulungnya. Setelah barang selesai di bungkus mereka pun pergi meninggalkan toko, lalu berjalan menemui Bella dan juga Dion.
“ Lihatlah, ternyata Ayah dan Anak itu yang membelinya. Tas belanjanya saja begitu eksklusif. Aku sangat ingin menjadi wanita yang mendapatkan hadiah itu.” ujar wanita muda yang berada di dalam toko.
“ Aku juga.” Sahut wanita di sebelahnya.
Pelayan toko tidak percaya bahwa gaun yang selama ini ada di dalam lemari kaca itu sudah terjual, dia sangat senang karena mendapat komisi yang sangat besar dari bosnya. Dirinya seperti mimpi dengan apa yang terjadi hari ini, sungguh hari keberuntungan baginya.
Selagi menunggu Dion beserta ibunya Dean berdiri di sebuah jendela kaca yang sangat besar, tatapannya tertuju ke arah luar, langit biru itu seakan menarik Dean agar terus memandanginya. Nelson menghampirinya, Dean berpaling seraya tersenyum pada ayahnya, Nelson dengan senang hati membalas senyuman putranya Dean.
“ Apa belum selesai?” Tanya Nelson. Dean hanya menggelengkan kepalanya pelan. Nelson menyerahkan segelas teh chamomile.
“ Apa ini, Ayah?” Dean mengira-ngira isi dari gelasnya.
“ Minumlah, Ayah dengar kau tidak bisa tidur nyenyak.” Nelson memyesap minuman miliknya. Setelah mendengar perkataan dari Ayahnya Dean pun mencoba meminum meminumnya. Nelson hanya tersenyum.
“ Apa kau menyukainya?” Dean hanya menganggukkan kepalanya.
“ Ayah jika aku sudah benar-benar sembuh, bisakah aku kuliah lagi di luar negeri, aku ingin menggunakan kejeniusan yang di berikan Tuhan untuk mengobati orang-orang yang bernasib sama denganku.” Pinta Dean pada Ayahnya.
Nelson tertegun, lalu berkata. “ Apa pun yang kau inginkan Ayah akan turuti sepanjang ayah mampu untuk mengabulkannya, sakarang kita masih harus berjuang sedikit lagi untuk mematikan sel kanker yang masih ada di tubuhmu dengan beberapa kali kemoterapi, bersabarlah, Nak.” Dean menyeringai mendengar perkataan ayahnya.
Perlahan Nelson berjalan menghampiri Dean, dia mendekap tubuh kecil putranya. “ Cita-citamu sungguh mulia, Ayah akan selalu mendukungmu.” bisiknya pada Dean.
Di saat yang sama Dion beserta yang lainnya selesai berbelanja, mereka bertiga menjinjing tas belanja, tak ada satu pun dari mereka yang berjalan dengan tangan kosong.
“ Aku sudah selesai.” Ujar Bella. Dion terlihat semringah, wajahnya berbinar-binar kala menatap tas belanja miliknya.
*
*
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹
Bersambung
__ADS_1