ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 89


__ADS_3

Bella berkata. “ Kemarilah.”


Anita pun duduk di samping Bella.


Bella berkata. “ Anita, kau ingat bukan? Bahwa aku telah melewati baerbagai rasa sakit dalam hidupku, untuk melahirkan kedua putraku Dean dan Dion.”


Anita menjawab, dengan sedikit menundukkan kepalanya dia berkata. “ Tentu saja, itu adalah titik balik hidupmu, aku tahu bagaimana kehidupanmu saat itu!”


Bella tersenyum getir. “ Awalnya aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku telah mengandung, bahkan di dalam rahimku ada dua nyawa yang tidak berdosa.”


“ Bahkan dalam pikiranku sempat terlintas untuk menggugurkan kandunganku.”


“ Namun, aku tak kuasa melakukannya, ketika aku merasakan gerakan pertama janinku, aku sangat takjub.”


“ Dan aku pun bertekad untuk mempertahankan kandunganku, aku selalu berdoa pada Tuhan, agar selalu melindungi diriku, dan kedua putraku. Hingga mereka terlahir kedunia ini.”


“ Dan kini, aku tidak tahu harus benci atau marah pada Nelson, sedangkan kejadian itu aku juga membuat kesalahan. Seandainya aku tidak terjebak oleh wanita ****** itu, aku pun tidak akan pernah bertemu dan tidur dengannya.”


Anita mencoba mendekati Bella, sebisa mungkin menenangkannya, seraya berkata. “ Jika sekarang hatimu membencinya maka lakukanlah! Namun, setelah kau bersamanya, kau tidak bisa mempungkiri bukan? Bahwa dia bukanlah pria bajingan yang selama ini kau kira?”


“ Aku sendiri mampu melihat, bahwa perlakuan Nelson padamu, dan kedua putramu sangatlah tulus. Nelson mencintaimu, dan kedua putramu tanpa syarat.”


“ Nelson begitu mencintai Dean dan Dion sebelum dia tahu bahwa mereka anak kandungnya, mengingat kedua orangtua Nelson begitu baik padamu.”


“ Aku akan bertanya padamu, sekarang apakah rasa bencimu terhadap Nelson, sebesar rasa cintamu padanya?”


“ Aku tidak akan memintamu untuk terus bersama Nelson, jika kau sendiri tidak menginginkannya.”


“ Namun, pikirkan juga perasaan Nelson dan anak-anak. Dean dan Dion membutuhkan ayahnya, untuk mendampingi tumbuh kembangnya. Mereka akan sangat membutuhkan yang namanya kasih sayang seorang ayah dan keluarga yang utuh.”


Bella menyela perkataan Anita, dengan sesegukan dia berkata. “ Tapi Anita aku…” Bella menghentikan perkataannya, terlihat butiran crystal bening turun membasahi wajah cantik Bella.


Anita tak mampu berkata apa-apa lagi, yang bisa dia lakukan hanya memeluk Bella dengan erat, seraya berkata. “ Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja.”


Di mansion.

__ADS_1


Nelson yang berada di kamarnya sedang merenungi kejadian hari ini, hari di mana dia mengungkapkan kebenaran pada Bella, wanita yang mampu menyentuh hatinya yang dingin. Nelson merasa begitu hampa kala Bella meninggalkannya, saat dia memalingkan pandangannya pada Dion, Nelson merasakan kehangatan untuk sejenak.


Nelson beranjak pergi menuju Bar yang berada di kawasan elit, dengan cepat dia melajukan mobil maserati hitamnya yang menambah kesan dingin.


Setibanya di sana, Nelson di sambut oleh Ronald sahabatnya. Mereka pun memasuki ruang VVIP, di sana sudah ada Andre, Yohan, dan Robin.


“ Hai… saudara kita Nelson, bagaimana kabarmu?” Seru Andre yang sedari tadi memperhatikan Nelson.


Nelson tidak mengatakan sepatah kata pun, dengan di ngin dia melangkahkan kakinya ke dalam ruangan.


Robin yang melihat Nelson pun memberanikan diri, dengan hari-hati dia bertanya. “ Apakah terjadi sesuatu?”


Nelson melirik Robin, dengan dingin dia menjawab. “ Ehmm..”


Semua orang saling memandang satu sama lain, dengan sigap Andre bertanya. “ Apakah kau bertengkar dengan kakak ipar?”


Nelson menyalakan sebatang rokok, dengan anggunnya dia menyesap rokok di tangannya, dengan dingin dia berkata. “ Ya, di rumahku sedang ada keributan!”


Semua orang kembali saling memandang satu sama lain. Mereka cukup bingung dengan jawaban Nelson.


Yohan pun menimpali perkataan Ronald, “ Ya, kau benar. Segala permasalahan dengan wanita, akan bisa di selesaikan di atas ranjang!”


Nelson yang mendengar perkataan kedua sahabatnya pun, dengan dingin dan mendominasi berkata. “ Diamlah jika tidak ingin aku lampiaskan padamu!”


Seketika Yohan dan Ronald pun terdiam kala mendengar ancaman yang menakutkan dari Nelson. Ya, bila di ingat lagi, Nelson adalah seorang perwira berpangkat jendral di usia muda, sehingga dia begitu di segani, dan di hormati oleh orang lain. Tak ada seorang pun yang berani menyinggung Nelson.


Ronald dengan sedikit kaget berkata. “ Eh, kau benar-benar membuat kami takut.”


“ Tenanglah, jika kau dalam kesulitan, kami akan membantumu dengan sepenuh jiwa dan raga kami.”


Nelson dengan begitu anggunnya mengisap rokok, terselip sebatang rokok di sela jari-jarinya yang begitu lentik, dan indah.


Nelson dengan dingin berkata. “ Temani saja aku minum. Dan jangan banyak bertanya.”


Seketika teman-temannya mengerti, dan tidak ingin menggoda Nelson lagi.

__ADS_1


Setelah tiga jam berada dalam Bar, terlihat semua orang menatap Nelson dengan tatapan tajam. Ya, bagaimana tidak? Nelson memiliki toleransi alkohol yang tinggi, dia mampu meminum banyak alkohol tanpa merasa mabuk. Namun, kini dia terlihat putus asa, dia begitu banyak minum alkohol, terlihat di meja banyak botol minuman yang telah kosong , di teguk habis oleh Nelson.


Nelson hanya berkata. “ Tidak perlu memedulikan aku, nikmati saja waktumu.”


Andre, hanya bisa terdiam, dia menatap Ronald dengan tatapan bingung.


Ronald pun ikut bertanya dengan hati-hati, dia berkata. “ Apakah kau tidak ingin berbagi rasa sakitmu dengan kami?”


“ Apakah kami tidak layak, untuk mendengarkan masalahmu? Kau terlihat putus asa, Nelson!”


Nelson hanya menggoyangkan gelas minumnya, dengan dingin dan angkuh dia berkata. “ Tidak ada yang harus aku katakan pada kalian.” seraya Nelson beranjak pergi meninggalkan Bar.


Nelson berjalan dengan begitu anggunnya, dengan tatapan dingin dia keluar dari bar, Nelson berdiri cukup lama di luar bar, terselip sebuah rokok di sela jemarinya yang lentik nan indah itu.


Mobil pun tiba di depan pintu masuk Bar, Roy yang keluar mobil pun dengan segera membukakan pintu mobil untuk Nelson.


Namun, saat Nelson hendak menuruni anak tangga, tiba-tiba saja Nelson hilang keseimbangan, dan hampir terjatuh, jika Roy tidak menangkap tubuhnya.


“ Apakah Anda tidak apa-apa, Tuan muda?”


Roy melihat Nelson meringis kesakitan, dengan hati-hati dia membantu Nelson untuk masuk ke dalam mobil.


Roy bertanya. “ Tuan muda, sepertinya Anda harus pergi ke rumah sakit!”


Nelson tidak mengatakan apa-apa, dia terlihat begitu kesakitan.


Tanpa menunggu Nelson menjawab, Roy dengan segera memacu mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit yang di naungi oleh Hongli Group. Sepanjang jalan Nelson terus menerus memegangi perutnya yang sakit, terlihat begitu menyakitkan.


Roy berkata dengan panik. “ Tuan muda bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Bertahanlah sedikit lagi.”


Nelson hanya mengernyitkan dahinya, tanda rasa sakit yang menyakitkan untuknya.


Sesampainya di depan IGD Nelson segera ditangani oleh Dokter jaga, staf rumah sakit yang mendengar Nelson berada di bangsal rumah IGD pun segera berkumpul untuk melihatnya.


Author tunggu yah suntikan semangat dari kalian, seperti biasanya. Like, vote, dan komen yang membangun. Itu adalah Amunisi untuk author agar tetap semangat menulis disini untuk kalian. Terima kasih🙏🥰🫶🌹🌹

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2