
Seorang pria datang memasuki gudang, dia melirik keduanya dengan tatapan dingin.
“ Makanlah, kalian belum makan sedari kemarin.” ucap sang pria.
Dean melirik pada makanan yang di bawakan olehnya, ada dua kotak makanan, dan juga air minum dalam botol.
Saat sang pria ingin melangkah pergi, Dean pun berkata. “ Tak bisakah Anda melepaskan ikatan kami? Kami sangat lapar, tetapi bagaimana kami bisa makan? Jika kedua tangan terikat di belakang?” ujar Dean, nada suaranya begitu memelas.
Sang pria pun melirik pada keduanya, jika di pikir memang tidak mungkin mereka berdua bisa makan. Dia pun akhirnya memindahkan ikatan keduanya menghadap ke depan agar mereka bisa makan.
“ Terima kasih paman,” ucap Dean terasa begitu hangat untuk seorang seperti dirinya.
Dean mencoba memakan makanannya. Namun karena penyakitnya, Dean tidak bisa makan banyak.
Dion tampak begitu lapar, dia bahkan menghabiskan makanannya dengan begitu cepat, terlihat jelas dia kelaparan karena dari kemarin siang mereka tidak memakan apa pun.
Dean menggeser makanannya pada Dion agar dia memakannya sampai habis.
“ Bukankah ini milik Kakak?” Dion bertanya dengan tatapan nanar.
“ Tidak apa-apa, kau tahu sendiri bukan? Jika aku tidak bisa makan banyak, jadi ku berikan untukmu.” Ujarnya seraya mengulas senyum padanya.
“ Kau harus makan banyak, karena kita kan berusaha untuk kabur dari sini, kau mengerti?” Dean menggerakkan kedua tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala adiknya.
Sedetik kemudian raut wajah Dean yang tadinya hangat dan lembut itu, berubah menjadi dingin, tatapannya begitu tajam.
Hari telah berganti malam, sudah dua malam Dean dan Dion di tawan oleh sekelompok orang tidak di kenal, mereka bahkan memeras orang tuanya.
Nelson telah bersiap dengan pasukannya, dia membawa dua kantong tas yang berisikan uang tunai.
Andre datang menghampiri Nelson, setelah menyapa dengan sopan dan hormat Nelson dan kawan-kawan pun berangkat menuju tempat yang sudah di janjikan sebelumnya.
Dean tengah berusaha melepaskan tali pengikatnya, pergelangannya terluka, bahkan mengeluarkan darah, begitu menyakitkan.
“ Kakak tanganmu,” matanya berkaca-kaca memandang Dean yang tengah berusaha keras membuka talinya.
“ Bergentilah menangis, kau memang penakut.” Nada suaranya terkesan mengejek.
Sesaat kemudian, Dean berhasil melepaskan dirinya, dia memegangi lengannya yang sakit, lalu kembali fokus untuk menyelamatkan adiknya.
Dion berhasil lepas dari ikatannya, di pandu Dean dia berjalan mengitari gedung. Melihat ada sebuah harapan mereka pun bertekad untuk kabur.
Dean menyalakan jam tangannya yang mati, tampak pukul 20:30 itu berarti sudah dekat dengan kesepakatan, para penculik akan memindahkan mereka ketempat lain.
Dean menghela napasnya. “ Dengar Dion kita akan keluar dari sini, kau harus lari secepat mungkin.
Dean melihat sebuah jendela bawah yang mengarah keluar, dia berpikir itu akan membawa mereka ke tempat lain.
“ Baiklah aku akan lewat lebih dulu, kau tunggu sebentar,” Dean pun melewati celah jendela itu, setelah dapat keluar dia memeriksa sekelilingnya, setelah di rasa aman, dia pun membawa adiknya keluar.
__ADS_1
Dengan mengendap-endap mereka berdua berlari menuju hutan di belakang gudang tua.
Di sebuah pelabuhan, personil telah bersiaga di setiap sudut menunggu kedatangan seseorang. Nelson menatapnya tajam, seorang pria menghubunginya lagi, dia meminta Nelson meletakkan tas yang berisi uang itu dekat tempat sampah.
“ Di mana putraku?” tanya Nelson setengah berteriak.
“ Ya ampun, bersabarlah sebentar lagi, mereka akan sampai dalam beberapa menit lagi.” Ujarnya pada Nelson.
Nelson hanya bisa bersabar menunggu sedikit lagi, mau tidak mau dia harus menuruti perkataan orang tersebut.
Tiba-tiba seseorang tengah berlari membawa kantong uang itu, menjauh dari Nelson yang tengah mengamatinya.
“ Tim satu, target telah terlihat. Dia mengarah ke barat,” suara dari seberang earphone pun terdengar di telinga Nelson.
“ Tim dua mengejar target, over.” Para personil yang di tugaskan pun pergi mengejar target.
Nelson berniat untuk mengejar akan tetapi di hentikan oleh Andre. “ Nelson berhenti,” teriaknya seraya membawa laptopnya ke hadapannya.
“ Sepertinya putramu menyalakan jam tangannya, lihat dia berada di dua kilo meter dari sini, itu cukup dekat. Kita harus segera memeriksanya di sana, lihatlah mereka sedang bergerak,” ujar Andre, setidaknya memberikan harapan pada Nelson.
“ Robin, aku serahkan urusan di sini padamu, kami akan pergi ke suatu tempat. Tangkap bajingan itu.”
“ Baik, Bos,” jawab Robin.
“ Biarkan yang lain yang memgurus orang itu, sebaiknya kita bergegas. Kemungkinan mereka juga sedang di kejar.” Nelson dan Andre pun bergegas pergi mengendarai mobilnya.
Bella tampak kuyu dan tak bergairah, dia tidak makan dalam dua hari ini. Ya, jika di pikirkan lagi, bagaimana bisa seorang ibu yang baru saja kehilangan kedua putranya dapat makan dan tidur dengan tenang?
Perasaan takut dan gelisah tengah menghantui Bella, membuatnya terus terjaga tanpa bisa memejamkan matanya walau hanya sesaat.
Tok… tok.. terdengar ketukan pintu dari luar kamar.
Bella melirik sejenak, tatapannya jatuh ke arah pintu. Terdengar suara. “ Nyonya, ada Nona Anita ingin bertemu dengan Anda.”
Napasnya terdengar berat, dengan lemah dia berkata. “ Biarkan dia masuk, tolong antarkan dia ke kamarku.”
Sang pelayan pun meninggalkan Bella dan mempersilahkan Anita untuk masuk ke dalam kamar.
Saat Anita masuk ke dalam kamar di mana Bella berada, dia begitu takjub dengan interior yang di suguhkan di depan matanya. Suasana di dalam kamar mencerminkan pemilliknya sendiri, dingin tapi sangat elegan. Di sudut kiri tampak seorang wanita tengah memandang ke arah jendela, dari pagi hingga ke malam lagi Bella tidak beranjak dari tempatnya.
Saat mendengar suara langkah kaki, Bella mengalihkan pandangannya, wajah yang kusam, kedua matanya memiliki kantung mata yang cukup hitan, mata yang biasanya terlihat indah itu kini sayu, matanya sembab menandakan dia telah menangis untuk waktu yang cukup lama.
“ Anita.” Suaranya terdengar parau, tatapannya begitu kosong kala menatap Anita.
Anita terperangah, kedua matanya berkaca-kaca. Dia menghampiri Bella yang tengah duduk di sudut jendela. Dia segera memberi pelukan hangat untuknya, saat ini jiwa Bella begitu rapuh, tampak begitu rapuh.
“ Bella apa yang sebenarnya terjadi? Aku mendengar dari Andre bahwa anak-anak di culik? Siapa yang melakukannya?” Anita bertanya dengan nada sedikit tinggi, dia tidak habis pikir jika ada orang yang tega melakukan hal mengerikan seperti itu padanya.
Bella menggelengkan kepalanya pelan, matanya kembali berkaca-kaca, kepalanya tertunduk sedih, amat sedih. Bahkan Anita dapat merasakan kesedihannya.
__ADS_1
Anita memeluknya semakin erat, dengan pelan dia mengusap punggung Bella seraya berkata. “ Suamimu, dan semua orang telah berusaha mencari. Percayalah mereka pasti dapat menyelamatkan anak-anakmu, jadi beristirahatlah sejenak. Kau tampak lelah. Kau juga harus makan makananmu, apa tidak kasihan pada suami dan anak-anak? Jangan menyakiti tubuhmu seperti ini!” Anita terus mencoba untuk membujuk Bella agar mau memakan makanannya. Tetapi Bella masih saja menundukkan kepalanya tidak berniat untuk makan.
Bella mengangkat dagunya, tatapannya begitu dalam. “ Anita bagaimana aku bisa? Duduk dan bersantai sedangkan nasib kedua putraku belum jelas. Bagaimana aku bisa makan dan tidur, sedangkan kedua putraku tidak tahu makan atau tidak? Memikirkannya saja sudah membuatku gila.” Bella memandang ke langit-langit, tampak kilauan air mata turun membasahi wajah kuyunya.
Anita menutup mulutnya, dia juga tak kuasa menahan sedihnya, mereka saling berpelukan, mencoba meredam kesedihan yang saat ini tengah di alami.
“ Bella, suamimu sangat mengkhawatirkanmu, dia bahkan memintaku agar kau bisa makan. Nelson juga sama denganmu, dia juga pasti ketakutan, wajah tampan itu tampak kuyu. Makanlah walau hanya sedikit, agar kau memiliki tenaga, saat bertemu dengan kedua putramu. Bukankah Nelson telah berjanji, akan membawa mereka kembali.” Anita terus membujuk Bella agar makan sesuatu.
Setelah drama bujuk-membujuk berhasil, akhirnya Bella menuruti permintaan Anita.
Di sisi lain.
Di padang rumput yang di kelilingi hutan, Dean dan Dion berlari, medan yang gelap cukup menguntungkan keduanya untuk melarikan diri dari komplotan penculik, di tambah mereka belum menyadari jika mereka telah kabur. Dean dan Dion terus menyusuri hutan mencari jalan untuk menuju ke jalan utama.
Di gudang tua, sang bos memerintahkan agar anak-anak itu di bawa untuk di jadikan jaminan, akan tetapi saat seseorang hendak memeriksa ke dalam gudang, ternyata anak-anak itu telah kabur.
“ Bos, anak-anak itu lolos,” teriak seorang anak buah yang berada di dalam.
Sang bos yabg berperawakan garang itu membelalakkan matanya, seketika wajahnya berubah menjadi gelap. Aura di sekitarnya juga berubah tampak mencekam.
“ Bagaimana bisa ini terjadi?” Teriak sang Bos yang dengan marah dia membanting kursi yang ada di hadapannya.
“ Tadi setelah saya memgantarkan makanan, mereka masih berada di sini, keduanya juga berada dalam keadaan terikat Bos,” ujar penjaga satunya.
“ Cepat cari mereka, pasti belum jauh, lagi pula di sini jauh dari pemukiman.” Sang Bos kembali berteriak.
Sang anak buah pun pergi mencari anak-anak yang kabur itu, menyusuri padang rumput dan hutan, di mana kedua anak kembar itu melintas.
Di tengah pelariannya Dean terjatuh, kepalanya berdenyut, sangat sakit. Dalam beberapa detik itu, Dean bagaikan di ambang keputusasaan, dalam kesakitannya dia memandang wajah adiknya yang begitu cemas.
“ Dean, Dean,” Dion terus memanggil nama kakaknya, berharap Dean tidak kehilangan kesadarannya.
Dion telah banjir air mata, wajahnya basah oleh keringat dan juga air mata yang bercampur jadi satu. Sungguh pemandangan yang begitu pilu.
Dean menghirup napas panjang berharap rasa sakitnya berkurang, setelah dia merasa agak baik Dean bangkit, dengan rasa sakit yang masih menjalari kepalanya.
“ Dion, ayo,” Dia mengajak Dion untuk kembali berlari menyusuri jalanan yang begitu sepi. Tampak begitu terpencil hingga mereka berlari sejauh apa pun tetap tidak menemukan rumah, atau pemukiman warga.
“ Ah sial, sampai kapan kita berlari?” Dion bertanya dengan putus asa.
“ Sampai kita bisa lolos dari orang jahat itu.” Dean menjawab adiknya, seraya mengulas sebuah senyuman.
*
*
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih untuk dukungannya.🙏😍❤️🫶🌹🌹
Bersambung
__ADS_1