ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 190


__ADS_3

Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut bukan main, setelah penantian selama dua minggu itu akhirnya Dean berhasil kabur dari malaikat maut. Tidak lama dokter Kevin pun tiba di kamar Dean, dengan seksama dia memeriksa Dean dan ternyata kondisinya stabil, saraf yang berhubungan dengan otak tidak ada yang bermasalah, sungguh ajaib.


“ Kita harus memberitahu Nelson, cepat hubungi dia.” Ujar Dokter Kevin pada Andre.


“Aish, kenapa tidak tersambung?” Andre sedikit kesal karena tidak ada jawaban.


“ Hubungi Evan, bukankah dia ikut bersama Nelson?” ujar Dokter Kevin memberi solusi pada Andre.


Andre pun menghubungi Evan dan mengatakan semua yang terjadi di rumah sakit. “ Apa?” Evan berteriak kaget saat mengetahui bahwa Dean telah siuman.


Evan menerobos masuk dalam keramaian, Nelson yang tengah berada dengan orang-orang penting, tiba-tiba di hampiri oleh Evan dan berbisik padanya.


“ Tuan muda, Dean sudah siuman.” Matanya membelalak tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Evan. Seketika Nelson berdiri membuat tamu lain mengalihkan pandangannya pada Nelson.


Nelson beranjak dari tempatnya, dia juga tidak lupa membawa Bella dan juga Dion untuk segera menemui Dean yang telah siuman. Dengan cepat Evan memacu Maserati hitam itu menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, Dean tengah terduduk di tempat tidurnya, saat dia menoleh pada Bella, dengan pelan dia memanggil ibunya. Tangis Bella pecah, dia berhambur untuk memeluk putra sulungnya. Nelson dan Dion sama-sama berkaca-kaca, kilauan Crystal bening itu perlahan menuruni wajah keduanya. Bella memeluk Dean dengan begitu erat, seakan tidak ingin melepaskannya pergi. Tak henti-hentinya Bella mengucapkan syukur karena Tuhan telah memberikan kesembuhan untuk putra sulungnya.


“ Ya Tuhanku, terima kasih karena engkau telah mengabulkan doaku, dan mengembalikan Dean padaku dalam keadaan baik, walaupun masih ada beberapa tahap lagi yang harus di laluinya untuk benar-benar sembuh. Terima kasih.” batin Bella seraya menetaskan air mata haru.


“ Jangan menangis. Maaf karena membuat ibu khawatir.” Ujar Dean pada ibunya.


Dion yang berada di ambang pintu itu berjalan menghampiri Dean, wajah tampannya sudah basah oleh air mata miliknya. Dia memeluk Dean seraya mengucapkan terima kasih padanya karena sudah kembali. Nelson pun tak mau kalah, dia juga datang untuk memeluk keduanya, tak lupa dia juga mengajak istrinya berpelukan.


Momen haru itu di saksikan oleh semua orang yang ada di dalam ruangan, tak terasa mereka juga ikut terharu karena Dean telah kembali dari kematian. Dokter dan perawat juga ikut merasakan kebahagiaan yang tengah menghampiri keluarga Nelson.


Di tempat lain.


Robin meninggalkan Yohan di apartemen, melajukan mobilnya ke tempat yang biasa dia datangi dulu bersama Gisel. Dia berdiri di depan mobil Audi R8 miliknya, asap rokok yang di keluarkannya berkerlap-kerlip di gelapnya malam dengan bantuan sorot lampu mobil. Robin berdiri di sana sejak sore tadi, menunggu seseorang datang, akan tetapi hingga malam orang yang di tunggu tak kunjung pulang.


Saat Robin putus asa dan hendak pergi dari sana, karena berpikir mungkin wanita yang di cintainya itu sudah tidak tinggal di sana. Akan tetapi saat dia hendak melajukan mobilnya, dia menangkap sesosok wanita yang sangat familier baginya. Ya, wanita itu adalah Gisel mantan kekasih Robin yang selama ini hilang bagai di telan bumi.


Gisel melambai pada seorang pria yang berada di dalam mobil, Robin tidak bisa menahan amarahnya, dengan cepat dia menghampiri mereka. Dia menarik Gisel dengan sedikit kasar. Senyuman yang tadinya hangat itu berubah menjadi senyuman pahit.


“ Robin, apa yang kau lakukan?” Gisel setengah berteriak padanya.


“ Apa yang aku lakukan?” Harusnya aku yang bertanya seperti itu?” Robin malah balik meneriakinya.

__ADS_1


Gisel tidak percaya dengan apa yang di lihat dan di dengarnya saat ini, setengah mulutnya terbuka, matanya membelalak, Gisel membuang wajahnya mencoba menahan air mata yang hampir jatuh.


Revan yang berada di dalam mobil pun keluar, di raut wajahnya terlukis amarah yang belum usai.


“ Apa yang sedang kau lakukan? Apa hakmu hingga kau berani berteriak padanya?” Revam melepaskan tangan Robin yang sedang mencengkeram lengan adiknya.


Robin membelalakkan matanya, dia tidak percaya bahwa pria yang ada di hadapannya adalah Revan Kakak dari Gisel.


“ Kakak.” Ujarnya saat berhadapan dengan Revan.


“ Aku bukan Kakakmu! Berhenti memanggilku seperti itu.” Teriaknya. Revan mengalihkan pandangannya pada Gisel yang sedari tadi terdiam.


“ Kau tidak apa-apa? Sebaiknya kau pergi naik ke atas.” Gisel menggelengkan kepalanya. Dia berpikir pasti akan ada waktunya dia harus berhadapan dengan Robin lagi.


Gisel menguatkan hatinya lalu berkata. “ Tidak Kakak, malam ini kakak kembali ke rumah saja. Aku bisa mengatasi ini semua.”


Revan tidak percaya dengan apa yang di lontarkan oleh adiknya itu. Mengingat rasa sakit apa yang sudah di berikan oleh Robin padanya di masa lalu.


“ Tapi…” Gisel menggenggam tangan Kakaknya, dia tersenyum lembut mengangguk pelan, mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja. Revan hanya bisa pasrah jika adiknya sudah berkata seperti itu. Dia pun pergi meninggalkan mereka, sebelum dia pergi dia berbisik di sebelah telinga Robin.


“ Ayo.” Gisel mengajak Robin untuk naik ke apartemen di mana unitnya berada, Robin mengikuti langkah Gisel. Tubuhnya tegap walau kecil, akan tetapi tubuh Gisel sangatlah tangguh, dia berjalan tanpa mengurangi keanggunannya sedikit pun. Robin menatap punggungnya yang sudah lama tidak melihatnya berjalan di depannya.


Klik! Pintu unit pun terbuka.


“ Masuklah.” Gisel mempersilahkan Robin untuk masuk ke dalam. Robin pun masuk ke dalam mengikutinya.


Tiba-tiba langkah Robin berhenti, dia melirik sekelilingnya, tidak ada yang berubah sama sekali di dalam tampak seperti dulu. Barang-barangnya tertata rapih dan sama persis dengan terakhir kali dia datang ke sini. Kini Robin mendapatkan jawabannya, bahwa Gisel yang bersikap angkuh dan dingin itu masih memiliki sedikit perasaan padanya.


“ Duduklah.” Gisel mempersilahkannya untuk duduk, lalu dia beranjak ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Robin. Robin melihat sekelilingnya, memang tidak ada yang berubah, dulu saat mereka masih berada di militer, keduanya sering menghabiskan waktu cutinya di apartemen ini. Terlintas kenangan-kenangan manis saat masih bersama dulu.


“ Minumlah.” Gisel menyerahkan secangkir teh pada Robin.


“ Terima kasih.” Robin mengamatinya sebentar. Lalu meminumnya perlahan.


“ Jadi kau datang ke sini ada perlu apa?” Gisel bertanya dengan nada suara yang terkesan dingin.

__ADS_1


“ Aku hanya ingin memastikan sesuatu padamu, aku mohon kau menjawabnya dengan jujur.” Gise hanya menatapnya nanar.


“ Apa yang ingin kau tanyakan padaku?” Gisel balik bertanya.


“ Apa kau masih memiliki perasaan terhadapku?” Robin setengah berlutut di hadapannya, wajahnya penuh pengharapan. Akan tetapi berbeda dengan Gisel.


“ Walaupun aku masih mencintaimu, itu semua tidak ada gunanya lagi. Kau tahu dengan benar, tak hanya keluargaku yang menentang hubungan kita akan tetapi keluargamu lebih menentang hubungan itu. Aku bisa apa?” Gisel berkaca-kaca sembari tersenyum pahit di depan Gisel.


Kini Robin tahu kendala sebenarnya mereka adalah dari pihak keluarganya sendiri, walau Gisel masih mencintainya akan tetapi mereka tidak berdaya di buatnya.


“ Gisel, aku berjanji akan memperjuangkanmu kembali. Aku akan meyakinkan kedua orangtua ku untuk menerimamu lagi. Akan tetapi aku mohon jangan tinggalkan aku lagi, aku sangat mencintaimu lebih dari apa pun. Maafkan aku kerena dulu tidak mempercayaimu.” Robin berlinang air mata saat memegang erat tangan Gisel.


“ Robin, hubungan kita sudah lama berakhir, jadi untuk apa kau mempermasalahkannya lagi? Sebaiknya kau pergi dari sini, sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan.” Nada suaranya sedikit bergetar, terdengar jelas bahwa Gisel menahan tangisnya di hadapan Robin.


Robin tahu betul keluarganya menentang hubungan mereka berdua semenjak insiden di masa lalu, saat Gisel terjebak dalam dunia hitam dan terpengaruh narkoba. Akan tetapi semua rumor itu baru terungkap belakangan ini, di saat dirinya telah kehilangan sebagian jiwanya yang telah pergi meninggalkannya.


Gisel tertegun, dia menatap nanar kepergian Robin, hati kecilnya begitu sakit melepasnya. Gisel terduduk di lantai, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, kilauan Crystal bening jatuh membasahi wajahnya. Gisel terisak sendirian di dalam. Seseorang tengah berdiri di pintu, mendengarkan jerit tangis pilu itu.


Saat Gisel memintanya untuk kembali ke rumah, dia tidak pulang melainkan dengan sabar menunggu pembicaraan keduanya usai, selepas mendapati Robin keluar dengan wajah yang kusut. Dia memutuskan untuk segera pergi ke unit di mana Gisel tinggal. Revan merasa frustrasi mendengar kembali jeritan yang sudah lama tak terdengar itu, kedua matanya berkaca-kaca, dari sorot matanya begitu memancarkan kemarahan yang membara, dia tidak bisa membiarkan semua kejadian masa lalu itu kembali menyakiti Adik satu-satunya. Revan pergi berbalik mengejar Robin yang sudah lebih dulu keluar gedung apartemen. Dengan cepat dia masuk ke dalam mobil, memacu mobilnya dengan kecepatan penuh membelah jalanan yang cukup sepi pengendara mengejar Robin.


Di bawah guyuran hujan Revan mengemudi dengan gila, dia mengejar mobil Audi R8 hitam milik Robin, di depannya tampak mobil yang di cari-carinya tengah melaju pelan.


Biiip.. Biiip… Biiip. Revan menekan klakson mobil beberapa kali, dia berharap agar Robin menghentikan mobilnya. Akan tetapi Robin tidak bergeming, dia terus melajukan kendaraannya membelah hujan yang cukup deras.


“ Ah sial!” Revan mengumpat sendirian. Dia kembali memacu mobilnya menerobos jalanan licin itu, jika mengemudi tanpa teknik cukup berbahaya. Namun bagi Revan itu semua hanya rintangan kecil.


Robin yang sedikit risih pun menghentikan laju kendaraannya, dia menepi ke bahu jalan menunggu orang yang terus mengejarnya. Robin menunggu di dalam mobil karena hujan cukup lebat, tiba-tiba seorang pria mengetuk jendela mobilnya, dengan sekejab Robin membuka pintu mobilnya, tiba-tiba lengan kekar itu menarik tubuh Robin hingga keluar dari dalam mobil.


“ Kakak?” Robin kebingungan, apa yang sedang terjadi?” Revan menariknya dengan buas, dia di lemparkan ke tepi jalan. Revan meninju wajahnya cukup kuat tampak di sudut bibir Robin mengalir sedikit darah. Saat Revan akan meninjunya lagi, Robin dengan cepat menghindar dan memukulnya balik. Kini giliran Revan yang mendapat pukulan, tubuhnya terhuyung ke belakang.


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih atas dukungannya.🙏🥰❤️🫶🌹🌹

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2