
“ Silahkan nona, presdir sudah menunggu Anda di dalam.” Evan mempersilahkan Bella untuk masuk.
Ketika Bella masuk dia melihat pemandangan yang sangat mengagumkan. Nelson yang berdiri menghadap kaca jendela besar. Di sela jarinya terselip sebatang rokok.
Nelson menghisapnya perlahan, Bella yang melihatnya tak mampu berkata-kata, bagaimana seorang pria yang hanya sedang merokok bisa begitu memesona. Nelson begitu anggun dan gagah.
Ketika Nelson melihat Bella dia tersenyum, seraya mematikan rokoknya ke dalam asbak, Nelson menghampiri Bella dia memeluknya serta mencium bibirnya dengan lembut seraya berkata. “ Aku merindukanmu,” bisiknya .
Bella tidak bisa bereaksi sama sekali, Bella cukup terkejut tak biasanya Nelson seperti ini.
Nelson menuntun Bella untuk duduk, dia bertanya. “ Kapan kau akan mempertemukanku dengan kedua putramu?” Ucapnya.
Nelson berharap agar Bella dapat mempertemukannya dengan kedua putranya secepatnya.
Bella sedikit terkejut karena Nelson ingin segera bertemu dengan anak-anaknya, Bella pun berkata. “ Anak-anak hari ini akan menginap di rumah pamannya. Jadi mereka tidak ada di rumah hari ini. Mungkin minggu ini aku akan membawa mereka untuk bertemu denganmu, bersabarlah sedikit.” Ucapnya.
__ADS_1
Nelson hanya tersenyum mendengar perkataan Bella. Dan berkata. “ Aku sangat menantikannya.”
Kembali ke Dean dan Dion.
Di sisi lain Dean dan Dion sedang mengemas barang yang akan dibawa untuk menginap di mansion Nelson. Dion cukup bersemangat, namun Dean terlihat tidak baik, wajahnya terlihat pucat pasi seperti tidak ada yang mengalir di dalam tubuhnya.
Namun Dean bersikap seperti biasa saja, seperti tidak merasakan apa-apa. Namun dibaliknya ada rasa sakit yang luar biasa, yang tak tertahankan. Tetapi Dean mencoba untuk tetap kuat agar dapat memenuhi janjinya terhadap Nelson.
Tepat pukul 16.00 di sore hari, Nelson menjemput mereka di bawah gedung apartemen. Dion yang melihat Nelson pertama kali langsung berhamburan ke pelukan Nelson, dia bertanya. “ Apakah ibu mereka mengizinkan mereka menginap di mansionnya.”
Pandangan Evan tidak lepas dari Dean, dia merasa sepertinya Dean sedang sakit namun dia tidak banyak bicara, Nelson menyapa Dean dan mengusap lembut rambutnya.
Mempersilahkan Dean dan Dion untuk masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Dion seakan terus menerus bermanja pada Nelson, dan sesekali tersenyum dan tertawa bersama. Berbeda dengan Dean yang hanya tertidur sepanjang perjalanan, Dean bahkan tidak bicara sedikit pun di dalam mobil.
Setelah satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai ke mansion Nelson. Mereka di sambut hangat oleh para pelayan, Dion masih bergelayutan di pangkuan Nelson.
__ADS_1
Deon hanya mengikutinya berjalan di belakangnya, dia terlihat sangat sakit, namun tetap mencoba untuk berjalan. Evan yang melihatnya pun seketika melepaskan barang bawaannya dan mencoba untuk menggendong Dean.
Dean berkata. “ Tidak perlu tuan, aku masih bisa berjalan,” ucapnya.
“ Kau terlihat sakit, biarkan aku menggendongmu,” pinta Evan.
Dean awalnya menolak tawaran Evan, namun kedua kakinya sudah tidak bisa menopang beban tubuhnya. Akhirnya Evan menggendong Dean sampai ke dalam mansion, dan membaringkannya di sofa ruang tamu.
Nelson yang belum menyadari karena sejak tadi meladeni dan tertawa bersama dengan Dion. Kemudian Nelson melihat Dean segera menghampirinya seraya bertanya. “ Apa yang terjadi?”
Namun Dean hanya terbaring lemah, dia berkata. “ Aku baik-baik saja, bisakah aku tidur lebih awal?” Tanyanya.
Jangan lupa; like, vote, dan komen. Terima kasih🙏🫶
Bersambung
__ADS_1