ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 181


__ADS_3

Robin duduk di hadapan Abe, dia menyatukan kedua tangannya, lalu berpikir sejenak. “ Sepertinya aku tahu siapa dia?” Robin bangkit dari duduknya, sebelum melangkah pergi dia menjatuhkan pandangannya pada Abe.


Robin tersenyum sinis. “ Anak-anak itu sudah kami dapatkan kembali, hanya saja kakaknya dalam kondisi kritis. Jika terjadi sesuatu padanya, aku bahkan akan mengejar keluargamu hingga tak menyisakan satu pun dari mereka.” Nada bicaranya penuh dengan ancaman. Membuat Abe sangat ketakutan.


Tiba-tiba Abe berlutut di hadapan Robin. “ Tunggu, kau sudah berjanji tidak akan menyentuh keluargaku! Aku mohon jangan sakiti mereka, putriku baru saja berulang tahun, aku mohon padamu.” Abe terdengar begitu putus asa.


“ Kau bahkan tidak memikirkan bagaimana nasib anak-anak yang telah kalian culik? Mereka bahkan kesakitan dan begitu menderita, karena keserakahan kalian! Dan sekarang kau memohon agar putrimu selamat,” Robin menyeringai lalu pergi meninggalkan Abe yang masih tertegun. Meratapi kumpulan foto yang berserakan di lantai.


Matanya berkaca-kaca, sorot matanya tersirat sebuah penyesalan yang dalam, dia menggigit bibir bawahnya, perlahan buliran air mata pun jatuh membasahi wajahnya yang sudah babak belur itu. Napasnya tersengal karena menahan emosinya.


Satu tangan menutup sebagian wajahnya, dan dia pun menangis sesegukan. “ Maafkan aku, maafkan aku.” Jeritnya.


Di sebuah mobil Andre tengah memeluk Dion yang masih syok, dia bahkan tak bicara sepatah kata pun sepanjang perjalanan, sorot matanya begitu kosong. Seakan jiwanya tak berada di tubuhnya saat ini.


Evan melirik pada Dion, dia pun tertunduk. Dirinya tak kuasa menatapnya lebih lama. Hatinya begitu hancur sehancur-hancurnya. Evan menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang besar, dia tak kuasa terus menerus mengingat apa yang telah di lalui oleh kedua anak ini.


Di sebuah apartemen.


Gisel tengah termenung dia yang duduk di sofa ruang tamu itu terdiam, sesekali tampak senyum kala mengingat kebersamaannya dengan Robin.


Dia beranjak dari duduknya menatap ke arah dapur, di mana pria yang pernah mengisi hari-harinya itu selalu memasak hidangan yang enak ketika mereka pulang setelah mendapatkan cuti dari atasan.


Tampak dalam bayangannya bahwa pria itu memperlakukannya sangat baik, dengan penuh cinta melewati hari-harinya. Akan tetapi itu tak bertahan lama, kini dia harus menanggung luka, rasa putus asa dan juga kecewa akan dirinya sendiri.


Gisel membaringkan tubuhnya di tempat tidur, terlintas bayang-bayang manis yang membuatnya tersenyum. Bahkan semua itu terlalu terlalu indah untuk di lupakan. Dia memejamkan matanya menghirup napas dengan dalam. Tiba-tiba dia teringat kecelakaan yang membuatnya harus kehilangan hal berharga sekaligus.


Saat itu Gisel tengah bertugas, dia melakukan misi penyamaran. Namun sebuah insiden terjadi, Gisel terluka parah dan menjadi salah satu korban dalam insiden tersebut. Akan tetapi karena sebuah rumor yang beredar, akhirnya harus menderita sendirian, dia harus kehilangan Robin, sekaligus buah hatinya yang bahkan tak sempat melihat dunianya. Gisel meringkuk di tempat tidur kilauan crystal bening itu kembali jatuh, membasahi wajah yang tadinya sudah kering.


Gisel membenamkan wajahnya ke dalam bantal, berharap tidak akan mengingat kenangan yang membuatnya kembali terluka. Dia mengingat kembali pertemuannya dengan Robin, ada perasaan senang saat dia melihatnya kembali setelah sekian lama. Namun ada juga kesedihan jauh di dalam lubuk hatinya.


Perlahan dia membuka kembali matanya, tak sengaja dia melirik pada sebuah lonceng angin yang tengah tergantung di antara jendela kamar yang besar, tak henti-hentinya dia memandangnya, suara yang lembut itu terngiang-ngiang di telinganya.


“ Gisel, aku sangat mencintaimu , sangat mencintaimu.” Dia memandang langit kamarnya, mencoba menyingkirkan segala yang membuatnya bersedih. Namun, kenyataannya dia tidak bisa sepenuhnya menyingkirkan bayangan Robin dalam hidupnya. Gisel menangisi jalan hidupnya yang tragis sendirian di dalam kamar yang dulu pernah terasa begitu hangat.


Di sisi lain.


Robin tengah mengejar Bos Zhang yang mana dia adalah orang yang memberi perintah, dan berhubungan langsung dengan orang yang menyewa jasanya. Dirinya yang sibuk bahkan melupakan wanita yang telah lama di cari-cari olehnya.


Robin mencari Bos Zhang di Shanghai, dia menggeledah kediamannya akan tetapi dia tidak bisa menemukan keberadaannya.

__ADS_1


Di rumah sakit.


Nelson telah selesai menjalani operasi, dia sudah di pindahkan ke kamar rawat intensif mengingat luka yang di deritanya cukup parah, walau operasinya berjalan dengan lancar. Namun, Nelson masih dalam keadaan kritis.


“ Operasinya berjalan dengan lancar, akan tetapi malam ini adalah masa kritisnya, jika pasien bisa melewatinya, kemungkinan besar dia bisa pulih kembali.” Setelah dokter menjelaskan situasinya pun mereka pergi meninggalkan keluarga besar Nelson.


Sandra terduduk di kursi tunggu, kedua kakinya seakan melemah tidak mampu lagi menopang beban tubuhnya sendiri, Leo Hongli mencoba menenangkan istrinya yang sedang terguncang itu.


“ Tenanglah Nelson pasti bisa melewati masa kritisnya, Putra kita adalah pria yang kuat, kau harus ingat itu.” hiburnya seraya memeluk istrinya.


“ Bagimana bisa semua itu terjadi pada keduanya? Aku bahkan tidak sanggup menghadapi ini semua.” Sandra terisak dia membenamkan wajahnya pada dada bidang milik suaminya, dia tak kuasa menahan tangisnya.


Leo tak mampu berkata, dirinya bahkan belum mendapat kabar dari cucunya yang tengah menjalani operasi, tubuh kecil itu harus berjuang untuk bertahan hidup, alat-alat operasi yang dingin itu bergesekan dengan kulit lembutnya. Dia sama sekali tidak dapat membayangkan rasa sakit yang menjalari tubuh kecilnya, sungguh membuat dirinya hancur.


Di sisi lain.


Di depan Altar Bella tengah berlutut, dia tak henti-hentinya berdoa dengan deraian air mata berharap suami dan anak-anaknya selamat. Dirinya tak beranjak sedikit pun dari sana. Penampilannya bahkan sudah tidak karuan, Bella juga tidak makan dan minum. Tatapan yang penuh pengharapan itu tersirat jelas dalam sorot matanya.


Di sisinya selalu ada Anita, dia mendampingi Bella hingga saat ini, dirinya tidak pernah meninggalkannya walau hanya sebentar, penampilan Anita juga tak kala semrawut dengan sahabatnya Bella, wajah yang biasanya cantik tampak tak kuyu.


“ Bella, kau harus memakan makananmu. Jangan seperti ini! Jika kau terus bigini kau akan jatuh sakit, apa kau tidak ingin melihat mereka? Bella, makanlah walau hanya sedikit.” Anita mencoba membujuk sahabatnya agar makan sesuatu.


Bella mengalihkan pandangannya pada Anita, mata yang indah itu kini di genangi oleh air mata. Dia menatap Anita dengan tatapan yang begitu dalam. “ Bagaimana aku bisa makan? Sedangkan putraku sedang berada di meja operasi.”


Anita memeluk tubuhnya, tatapan kosong yang di berikan Bella padanya sangat menyakiti hatinya. “ Aku tahu apa yang kau rasakan, tapi ku mohon makanlah walau sedikit. Dari kemarin kau bahkan belum memakan sesuatu, aku juga sangat mengkhawatirkanmu. Aku mohon padamu.” Anita terisak sembari memeluk Bella.


“ Nyonya.” Kepala pelayan menghampiri keduanya yang berada di depan Altar.


Bella maupun Anita pun berbalik mengalihkan pandangannya pada Kepala pelayan.


“ Nyonya Tuan besar sudah memberi kabar, bahwa operasi Tuan muda Nelson berjalan lancar, dan sekarang sudah di pindahkan ke ruang intensif. Sebaiknya Nyonya bergegas ke sana? Mungkin dengan adanya kehadiran Nyonya akan membuat Tuan muda lekas siuman.” ujar kepala pelayan pada Bella.


Setelah mendengar penjelasan dari Kepala pelayan seketika sorot mata Bella berbinar, tampak kegembiraan dan perasaan lega itu tersirat jelas di kedua matanya yang indah.


“ Anita, apa kau mendengar semuanya?” Anita menganggukkan kepalanya.


Bella memeluk Anita dengan erat, raut wajahnya kini sedikit membaik setidaknya dia kembali menampilkan senyuman yang lembut nan hangat itu.


“ Karena sudah ada kabar baik, bagaimana jika kau makan sesuatu? Setelah makan kita pergi ke rumah sakit.” Bella menganggukkan kepalanya. Tanda menyetujui saran dari Anita.

__ADS_1


Di rumah sakit.


Sebuah mobil baru saja tiba di rumah sakit, satu persatu orang yang berada di dalam mobil itu turun. Petugas medis telah siap memyambut kedatangan mereka. Dion yang berada di dalam enggan untuk keluar. Dia bahkan tidak melepaskan tangan Andre.


Di raut wajahnya terlukis dengan jelas rasa takut yang kini menyelimutinya. “ Aku mohon jangan tinggalkan aku,” Dion memohon pada Andre.


Andre tersenyum hangat menanggapi ucapan Dion, dengan lembut dan penuh kasih dia memegang erat tangan kecil yang penuh memar itu. Lalu berkata. “ Paman tidak akan meninggalkanmu, akan tetapi kau harus mendapatkan perawatan untuk lukamu. Apa kau mengerti?”


Dion menganggukkan kepalanya pelan.


Andre menggendong tubuh kecil itu di pangkuannya, wajah dan seluruh tubuhnya di tutupi oleh mantel. Dia di ikuti dengan Evan masuk ke dalam mengikuti petugas medis. Setibanya di ruang IGD rumah sakit Dion bahkan tidak ingin turun dari pangkuan Andre yang membuat petugas medis kewalahan. Hingga akhirnya petugas medis dan Andre sepakat memberinya suntikan penenang.


Perlahan Dion memejamkan kedua matanya, saat Dion tertidur petugas medis pun memeriksa luka yang ada di tubuhnya, banyak memar dan luka-luka kecil. Pergelangannya mengalami memar yang cukup parah. Selepas mengobati lukanya, Dion pun di pindahkan ke bangsal VVIP. Andre terus menjaganya dan selalu ada di sisinya.


Andre menatap ponselnya sejenak, terlihat di layar ada panggilan yang tak terjawab dan juga pesan yang belum di baca.


“ Robin?” batinnya.


Dia membuka pesan dari Robin. “ Aku sedang mengejar Bosnya, apa kau ingin ikut bersamaku?”


“ Ya, kenapa kau tidak menjawab teleponku?”


“ Andre?”


“ Aku sedang berada di Shanghai, bagaimana keadaan di sana?” bunyi pesan dari Robin.


Andre menekan nama Robin lalu melakukan panggilan, setelah tersambung terdengar suara yang sedikit marah. “ Ya, mengapa baru menghubungiku? Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan Nelson?” Robin memberondong Andre dengan banyak pertanyaan.


“ Untuk saat ini mungkin adalah masa kritisnya. Aku harap dia bisa melewati malam ini dengan baik-baik saja.” Suaranya rendah dan berat, tersirat kekhawatiran dari nada bicaranya.


Robin yang berada di seberang telepon itu ikut terdiam, dia juga merasakan rasa khawatir sama seperti Andre. “ Baiklah, akan aku tutup teleponnya, aku sedang mengejar Bos sialan itu. Kabari aku jika terjadi sesuatu.” Dia pun memutuskan sambungannya.


Andre menutup ponselnya, dia menatap kembali wajah Dion hatinya begitu pilu, raut wajahnya begitu gelap, dirinya tidak bisa memaafkan orang yang telah tega berbuat hal yang mengerikan pada anak-anak.


Sementara Sandra menunggu di depan ruang intensif Nelson, Leo Hongli tengah menunggui Dean di pintu ruang operasi, raut wajahnya begitu gelisah, pikiran negatif pun terus menghampirinya. Leo duduk di kursi tunggu jari tangannya menyatu dengan jari yang lainnya, kepalanya menunduk ke arah bawah. Dengan sungguh-sungguh dia berdoa untuk keselamatan cucunya. Memohon pada Tuhan untuk selalu melindunginya.


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹


Bersambung


__ADS_2