ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 160


__ADS_3

Bella mengulas sebuah tersenyum, seraya mengeluarkan gambar desain gaun pengantinnya, seraya bertanya dengan sopan. “ Apakah Bosmu ada? Aku sangat menyukai model desain gaun pengantinnya ini. Aku berharap saat pesta pernikahanku bisa mengenakannya.”


“ Ternyata perusahaan WO mengumpulkan gaun pengantin untukmu, Nona! Aku masih berpikir siapa yang melakukan hal itu?” Sang gadis menampilkan raut wajah sedikit muram.


Ekspresinya menunjukkan sikap serba salah, dengan pelan dia kembali berkata. “ Gaun pengantin ini sudah ada di etalase toko kami. Kau bahkan bisa melihatnya secara langsung, karena sudah selesai di buat beberapa tahun yang lalu. Hanya saja aku tidak yakin, jika Bos akan menjualnya padamu,” ujarnya pada Bella seraya menundukkan kepalanya ke bawah.


“ Soal harga aku tidak masalah, lagi pula suamiku mengizinkannya.” Bella berkata dengan sedikit menggoda.


“ Berhubung pernikahanku akan menjadi pernikahan yang mewah. Di sana banyak orang terkenal dan media. Jika aku mengenakan gaun pengantin dari studio kalian, juga termasuk melakukan sebuah promosi. Tentu saja studio kalian ini akan lebih di kenal banyak orang.” Bella terus menerus membujuk untuk mendapatkan gaun tersebut.


Sang gadis yang selesai mendengar perjalanan Bella, tetap menggelengkan kepalanya. “ Aku tidak yakin, Bos kami sama sekali tidak peduli dengan uang. Entahlah kalau Nona ketemu Bos, bila orang yang sekali lihat dia merasa suka dan cocok. Dia tidak akan ambil untung langsung kasih gratis.”


“ Meskipun aku tidak tahu detailnya memiliki makna apa? Tapi bagi Bos kami gaun itu sangat berharga. Aku tidak sengaja salah mengambilnya, hampir saja aku di pecat oleh bos.”


“ Biasanya temperamennya sangat baik, bahkan jarang bicara dengan suara keras. Hanya karena aku salah mengambil gambar desain ini, aku di marahi habis-habisan olehnya,” sang gadis terus meratapi gambarnya. Rasa bersalah kembali muncul di hatinya.


Bella juga terus meratapi gambar desain pengantin ini, sedikit pun tidak ingin mengembalikannya.


Pada saat yang sama, lonceng angin di depan toko berbunyi, sang gadis melihat ke arah pintu, tampangnya begitu semringah. “ Bos, kau sudah kembali!” Dia menyapa seorang wanita yang begitu cantik.


“ Bos saja yang berbicara dengan Nona itu,” seraya menunjuk Bella.


Bella terus memandanginya, seorang gadis tinggi ramping dan tegap berjalan masuk, kelihatannya berumur sekitar dua puluh lima tahunan, mengenakan mantel panjang warna abu-abu, parasnya sangat cantik dan anggun, tak ada cacat sedikit pun darinya.


Bella yang selalu dikatakan sangat cantik itu, saat ini malah merasa tertinggal jauh. Bahkan dia merasa kalau dia berdiri di dekatnya, dalam sekejab akan berubah menjadi gadis buruk rupa.


“ Ada tamu?” Dia bertanya pada gadis yang berada di sampingnya, suaranya lembut, nada bicaranya begitu halus, sangat enak di dengar.


“ Nona ini menyukai congsam klasik itu, sudah bayar. Tapi belum mengukur ukuran tubuhnya,” sang gadis berkata, seraya menyerahkan meteran.


“ Ehm,” Wanita itu menerima meteran, berjalan ke samping Bella seraya berkata dengan lembut. “ Nona tolong angkat tanganmu. Aku bantu untuk mengukur, ingin dibuat ketat atau sedikit longgar?” Tanyanya seraya mengukur tubuh Bella.


“ Ketat saja,” jawab Bella.


Tatapannya tertuju pada wanita yang ada di depannya, dia terus memandangi wajah cantiknya.

__ADS_1


“ Di lihat dari jarak yang begitu dekat, kulitnya begitu putih seputih salju, bersih dan tidak tercela,” batinnya.


Setelah mengukur, dia membuka buku catatan yang tetlihat sudah kusam, kemudian mengambil sebuah pena berinisial R.B di ujungnya, dia pun mulai mencatatnya dengan teliti. Lalu berkata padanya.


“ Dua belas hari lagi sudah bisa diambil, atau tinggalkan saja alamatnya, kami bisa mengantarkannya untukmu.”


Aku akan datang untuk mengambilnya sendiri,” seraya menyerahkan sketsa gaun pengantin ke hadapannya.


Wanita itu hanya melihat gambar desain itu dengan tenang, matanya yang indah menunduk, setelah terdiam sesaat, lalu dia berkata. “ Apa kau menginginkannya?”


Bella berkata. “ Tentu saja.”


Dia sedikit bingung, dirinya tidak mengerti apa yang sedang terjadi? Sehingga dia refleks berkata. “ Untuk biayanya kau bisa mendiskusikannya dengan pihak WO.”


Wanita itu hanya menatapnya dengan datar, dengan begitu tenang dia berjata. “ Untukmu saja.”


Bella terdiam sejenak, tidak mengerti dengan apa yang di katakan olehnya.


Wanita itu menyerahkan nota pengambilan congsam pada Bella, lalu berkata dengn wajah tanpa ekspresi. “ Sudah selesai, kamu sudah boleh pergi.”


“ Bukankah gaunnya sudah selesai di buat? Apakah aku bisa melihatnya?” Dia berkata dengan sedikit memelas. Berharap wanita itu mau memperlihatkan penampakan nyata gaun itu.


Sang wanita pun tersenyum tipis, seraya berjalan mempersilahkannya, untuk masuk ke sebuah ruangan khusus. Bella mengikutinya masuk, terlihat ada sebuah benda besar yang tertutupi oleh kain putih yang sangat lebar hingga menutupi dasar lantai.


“ Tolong kau turunkan tirainya,” pintanya pada sang gadis.


Bella hanya memperhatikan keduanya yang tengah menurunkan penutupnya. Dan… terlihatlah sebuah gaun yang begitu indah, terpampang di depan matanya, hingga dia tak mampu berkata-kata.


Bella ternganga, mulutnya terbuka, tidak mempercayai apa yang di lihatnya saat ini.


“ Ini adalah hasil dari gambar desain yang sedang kau pegang. Apa kau menyukainya?” Dia bertanya dengan raut wajah sedikit muram.


“ Kau bisa membawanya, empat hari sebelum hari pernikahanmu,” seraya pergi meninggalkan Bella.


Saat Bella sudah puas melihat, dia beranjak meninggalkan studio. Namun, tiba-tiba dia teringat lalu berkata. “ Terima kasih, Gisel,” seraya berlalu meninggalkannya.

__ADS_1


Bella merasa nama yang tertulis di bawah gambar desain adalah namanya.


Setelah wanita itu mendengarnya, ada senyum tipis yang menghiasi wajahnya. Senyumannya begitu manis. Namun, ada rasa pahit yang terlihat samar di balik senyumannya.


Setelah pelanggan pergi, sang gadis bertanya dengan penasaran. “ Nona, kenapa kamu menyerahkan gaun itu padanya? Bukankah gaun itu sangat berarti untukmu?”


Gisel sedang menundukkan kepalanya memeriksa catatan pelanggan yang datang ke toko hari ini, saat sang gadis selesai bicara, gerakan tangannya berhenti, dia menghela napas beratnya lalu menjawab seraya memejamkan kedua matanya.


“ Aku hanya membohongi diri sendiri dengan menganggapnya sangat berarti. Sebenarnya aku sudah tidak membutuhkannya. Tapi tidak bisa diberikan cuma-cuma seperti itu juga. Dia adalah pelanggan, mungkin seorang yang sangat kaya. Hingga uangnya yang banyak itu tidak tahu harus dihamburkan ke mana?”


Gisel berkata dengan santai. “ Apalagi, tidak semuanya bisa diukur dengan uang. Aku bisa melihat kebahagiaan, terlihat sempurna di tatapan matanya. Mungkin dia lebih pantas mengenakannya dari pada aku,” Gisel tersenyum getir.


Mengingat dahulu dia adalah seorang prajurit yang tangguh, hingga akhirnya dia harus berakhir kembali menjadi seorang desainer pakaian. Dia merelakan karir militernya dan kembali menjadi warga sipil. Profesi yang dia tekuni sebelum menempuh ujian masuk sekolah militer.


Di sisi lain.


Yeni yang setiap harinya menunggu kedatangan Mario pun semakin putus asa. Karena tak ada seorang pun yang mengunjunginya. Ayahnya di kejar karena kasus penipuan dan sedang dalam pengejaran oleh rentenir maupun polisi, sedangkan ibunya pun tak ada kabar sama sekali. Dia benar-benar tenggelam dalam keputusasaan. Setiap harinya dia hanya merenung dan merenung, hingga akhirnya dia benar-benar tak bisa kembali pada akal sehatnya.


Dia menyeringai entah apa yang dipikirkannya, tak ada seorang pun yang tahu. Yeni menulis pada sebuah kertas, dia terlihat begitu serius saat menuliskan kata demi kata.


“ Sudah ku duga jika Mario sudah meninggalkanku. Aku benar-benar sudah menjadi sampah baginya. Bahkan dia sudah tidak memedulikan diriku lagi.”


“ Ibu aku sangat merindukanmu,” batinnya.


Yeni memejamkan kedua matanya, kepalanya menengadah ke atas, mengusap ujung matanya yang mulai berair. “ Ah, sepertinya aku tidak sanggup melanjutkan hidupku lagi. Bahkan sudah tak ada yang mengunjungiku lagi. Rasanya ingin sekali dunia ini hancur saja seperti hidupku ini,” dia berbicara pada dirinya sendiri.


Orang-orang yang berada satu sel dengannya saling memandang satu sama lain, seraya mengedikkan bahunya masing-masing. Wanita yang berada di dekatnya pun bahkan merinding saat mendengar perkataannya. Seakan sesuatu yang besar akan terjadi.


*


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih untuk dukungannya. Salam sayang dan sehat selalu, jika masih ada salah dan kurangnya tolong di maafkan.🙏🥰🫶❤️🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2