ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 108


__ADS_3

Dion pun di gendong oleh Yohan, seraya menelisik wajah Dion dia berkata. “ Apa yang terjadi dengan kepalamu?”


“ Ah. Aku terjatuh di kantor ayahku,” ucap Dion.


Nelson menatap Andre seraya berkata. “ Apakah kau sudah membereskannya?”


Andre segera menjawab. “ Tentu saja. Sesuai instruksi. Wanita itu telah di pecat. Dan akan sulit mendapatkan pekerjaan di mana pun dia melamar “ ucap Andre.


Nelson menganggukkan kepalanya.


Nelson menatap Dion begitu hangat sesekali tersenyum, seraya berkata. “ Kelak aku ingin kalian menjaga kedua putraku.”


Teman-temannya serempak berkata. “ Tentu saja. Kami akan menjaganya walaupun nyawa taruhannya.”


Dion begitu gembira bercanda ria bersama para sahabat ayahnya. Nelson memperhatikannya seraya sesekali tersenyum.


Dion begitu bahagia kala berinteraksi dengan sahabat ayahnya. Dion bahkan dapat tertawa dengan lepas.


Yohan bertanya. “ Hei Tuan. Apakah kakakmu juga Tampan sepertimu?”


Dion menjawab. “ Tentu saja. Bahkan menurut orang lain kakakku adalah seorang perfeksionis. Tentunya aku juga tidak kalah tampan bukan? Ucapnya. Seraya melakukan gerakan yang imut.


Semua orang tertawa kala melihat gerakan yang dilakukan oleh Dion.


“ Bos, putramu sungguh berbeda denganmu,” ucap Robin.


“ Yang sama persis dengan ayah itu adalah kakakku. Kakakku seperti ayah versi mininya. Semuanya yang di turunkan kepada kakakku itu semua milik ayah,” ucap Dion.


“ Ya. Bagaimana kau bisa secerdas ini?” Ucap Yohan.


“ Tentu saja. Karena ayahku juga sangat cerdas,” ungkapnya.


“ Eh. Benar-benar anak ini,” ungkap Yohan.


Nelson yang mendengarkan percakapan mereka pun tersenyum simpul. Betapa bangganya dia memiliki putra yang mengagumkannya seperti sekarang.


“ Aku jadi ingin bertemu dengan kakakmu,” ucap Robin.


“ Paman benar. Paman harus bertemu dengannya, dan paman tidak akan menemukan perbedaan dengan ayahku,” ungkap Dion.


“ Aku semakin penasaran kepada kakakmu itu?” ucap Robin.


“ Bos. Mengapa kau mengirim putramu yang satunya ke luar negeri?” Ucap Yohan.


“ Aku tidak mengirimnya pergi, aku membawanya pergi bersamaku karena sebuah alasan.


“ Namun, aku harus kembali ke sini, dan meninggalkannya di sana bersama Evan. Dan seorang perawat medis untuk menjaganya.” ungkap Nelson.


“ Mengapa ada perawat? Apakah dia sakit di sana?” Tanya Ronald.


Nelson tidak menjawab pertanyaan dari Ronald. Namun, Dion dengan cepat berkata. “ Emmm. Kakakku sakit. Kanker otak. ucapnya.


Nelson bereaksi. “ Dion jaga bicaramu!” tegur Nelson.


“ Ayah. Tidak apa-apa, biarkan paman-paman ini tahu bahwa kakak sedang sakit. Sehingga paman bisa menjaganya,” ungkap Dion.


Nelson tidak bicara apa pun. Dia merasa sesak kala mengingat nasib Dean.


Semua orang terdiam kala Dion bicara, mereka berpikir pasti berat berada di posisi Nelson sekarang.

__ADS_1


Dengan sedikit memaksakan senyumnya Nelson berkata. “ Tentu saja. Mereka akan menjagamu, dan Dean sebaik mungkin.” ucapnya.


“ Bagaimana jika kita mengunjungi putramu yang satunya lagi ke Quebec, Kanada?” ungkap Yohan.


“ Ah. Kau benar. Bukankah kita ada skedul ke sana?” ungkap Ronald.


“ Ya. Kita bisa mampir ke hotel Nelson untuk bertemu dengan putranya di sana,” ungkap Yohan.


Andre tidak mengatakan apa pun. Karena yang paling dekat, dan mengerti Nelson adalah dirinya, sehingga dia tahu perasaan Nelson sekarang.


Hati orang tua mana yang tidak hancur kala mendengar putra/putrinya sakit parah, dan sulit di obati.


Tiba-tiba terdengar suara. “ Apakah kalian tidak pergi?” Ucap Dokter Kevin.


“ Hey. Lihat siapa ini?” Ucap Robin.


Dokter Kevin hanya melangkahkan kakinya menghampiri Nelson. Seraya berkata. “ Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.


“ Aku kira kau akan mati,” ucap Dokter Kevin puas mengejek Nelson.


“ Aku tidak akan mati semudah itu,” ucap Nelson.


“ Saat aku di luar kota. Aku mendapat kabar bahwa kau memdapatkan tindakan bedah,” ucap Dokter Kevin.


Nelson tak berkata apa pun. Seraya berkata. “ Dion kemarilah,” ucapnya.


Dion turun dari pangkuan Robin, dengan langkah kecilnya dia menghampiri ayahnya.


“ Duduklah di sini,” seraya menunjuk samping ranjangnya.


Dion pun duduk di sampingnya.


“ Periksalah lukanya. Aku tidak ingin putraku mendapatkan bekas luka di kulit putinya.


Dokter Kevin pun. Melepaskan plester di kepala Dion. Dengan hati-hati, dia melepasnya secara perlahan.


“ Bagaimana, apa kau merasakan sakit?” Dokter Kevin bertanya.


“ Tidak seperti sebelumnya,” ungkap Dion.


“ Baguslah. Lukanya sudah tertutup. Jahitannya juga rapih. Sehingga kemungkinan ada bekas luka sangat kecil,” ucap Dokter Kevin.


Dokter Kevin dengan segera menutup kembali luka Dion dengan plester kecil anti air.


“ Sekarang giliranmu,” ucapnya.


“ Yohan. Bawalah Dion bersamamu,” perintahnya.


Yohan dengan segera menggendong Dion ke pangkuannya.


Ya. Yang mereka takuti selain Nelson adalah Dokter Kevin. Dia juga tak kalah menakutkannya dari Nelson. Bahkan semua orang tertipu oleh tampan manis, dan baik itu. Namun, nyatanya dia sama saja dengan Nelson.


Nelson menghela napas beratnya, seraya mengangkat pakaiannya.


Dokter Kevin dengan kasarnya menarik plester yang ada di bagian perut Nelson.


Nelson meringis tanpa suara. Karena ada para sahabatnya. Karena tidak akan lucu saat Nelson berteriak kesakitan.


“ Apa sakit?” ejeknya.

__ADS_1


Nelson tidak bersuara, wajahnya merah menahan sakit.


“ Lukamu sudah hampir kering, mungkin beberapa hari lagi bisa lepas jahitan,” ungkap Dokter Kevin.


“ Emmm..” Nelson menganggukkan kepalanya.


“ Dan kalian. Jangan membuatnya meminum minuman beralkohol, itu akan sangat menyakitinya. Apakah kalian mengerti?”


Seketika semua orang dengan serentaknya berkata. “ Mengerti.”


“ Baguslah jika kalian mengerti. Jika tidak aku akan menghabisimu di meja operasi,” ancamnya.


Semua orang terdiam tak sanggup bicara lagi. Bahkan Dion pun melongo kala melihat sifat asli dari Dokter yang terkenal baik, dan ramah itu.


“ Ingatlah di sini ada putraku. Seharusnya kau menjaga ucapanmu,” ucap Nelson memperingatinya.


Dokter Kevin yang melupakan keberadaan Dion pun terdiam sejenak, kemudian menghampirinya dengan ekspresi yang manis, dia mengusap kepala Dion seraya berkata. “ Maafkan aku karena sudah membuatmu terkejut.”


Dion tak bereaksi, dia hanya menganggukkan kepalanya.


“ Anak baik, kau bahkan cepat mengerti?” ucap dokter Kevin.


“ Baiklah aku pergi dulu, aku harap kalian tidak membuat keributan,” ucap Dokter Kevin seraya meninggalkan kamar rawat Nelson.


Semua orang bernapas lega saat dokter Kevin keluar.


“ Lihatlah, bahkan dia lebih menakutkan dari Nelson,” ucap Yohan.


Nelson yang menyadari putranya tak bereaksi pun segera memanggilnya. “ Putraku. Dion… Dion.”


Dion pun tersadar, seraya menjawab panggilan ayahnya.“ Iya Ayah “ ucapnya.


“ Apakah kau terkejut?” tanya Nelson.


“ Ayah. Dalam pikiranku Dokter Kevin adalah Dokter yang halus, dan lembut. Namun, perspektifku kini telah berubah,” ungkap Dion.


“ Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Nelson.


“ Aku tidak akan membuatnya marah, dan aku tidak ingin menyinggungnya dalam hal apa pun,” ungkap Dion.


Semua orang yang mendengar perkataan bocah sembilan tahun itu merasa, jika perkataannya memang benar.


“ Kau benar. Sebaiknya jangan berurusan dengannya, kau mengerti,” ucap Ronald.


“ Kau sangat cepat tanggap,” gelak tawa dari Robin semakin terdengar keras.


Mereka tertawa terbahak-bahak kala mendengar perkataan Dion.


Dion yang menjadi pusat perhatian itu hanya bisa terdiam, tidak mengerti situasi apa yang telah terjadi di hadapannya ini?


“ Ayah. Apa yang mereka tertawakan?” tanya Dion yang penasaran.


“ Sudahlah. Tak perlu kau pikirkan, anggap saja mereka adalah orang gila,” seru Nelson.


“ Tapi Ayah,” Dion sedikit merengek pada Nelson.


Nelson pun dengan sedikit kesal berkata. “ Tidak bisakah kalian berhenti tertawa? Jika kalian ingin tertawa bawalah putraku untuk tertawa bersama kalian,” seru Nelson pada sahabatnya.


Gelak tawa pun kini kembali pecah. Namun, bedanya saat ini Dion ikut tertawa bersama. Nelson yang melihatnya hanya mampu memijat dahinya yang sakit kala melihat tingkah mereka.

__ADS_1


Para sahabat Nelson kini telah meninggalkan Nelson dan Dion, mereka kembali pulang setelah hadiah untuk Dion datang, mereka menggunakan lift untuk turun ke lantai bawah.


Bersambung


__ADS_2