ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 196


__ADS_3

“ Biarkan mereka masuk, dan masaklah makanan lebih banyak.” ujar Nelson. Pelayan pun pergi untuk mempersilahkan tamunya masuk. Tak lama Anita beserta Andre masuk bergantian untuk menyapa keluarga kecil Nelson yang tengah berada di ruang keluarga.


“ Paman Andre,” Dion berhambur menuju Andre. Andre dengan senang hati menerima pelukan darinya.


“ Halo Tuan muda Nelson,” Anita menyapanya dengan sopan. Nelson hanya menyunggingkan sedikit senyuman di sudut bibirnya. Anita baru kali ini melihat Nelson tersenyum, dia terpesona olehnya, Nelson terlihat begitu hangat. Bella memperhatikan Anita yang seakan tenggelam saat memandang suaminya.


“ Anita.” Bella menepuk pelan bahu sahabatnya.


“ Ah, aku ti-tidak ada. Anita sedikit kelimpungan saat menjawab pertanyaan Bella, dan akhirnya wajahnya memerah seperti sebuah tomat.


“ Duduklah,” Bella mempersilahkan keduanya untuk duduk. Dean hanya memandangi Keduanya, tatapannya begitu tajam. Anita yang menyadari tatapan dari Dean segera menghampiri dan memeluknya.


“ Bagaimana kabarmu?” Anita bertanya pada Dean, karena terakhir dia bertemu dengannya saat Dean masih terbaring koma di rumah sakit.


“ Aku, baik-baik saja.” Terukir sebuah senyuman di wajahnya tampan Dean.


“ Apa kedatangan kami berdua mengganggu kalian?” Tanya Andre pada Nelson.


“ Tentu saja tidak, kami juga sangat senang kau berkunjung kemari, lagi pula Dion begitu dekat denganmu.” Nelson melirik pada Dion yang sedang memeluk Andre.


Anita mengedarkan pandangannya, dia mendapati gaun Bella yang belum tertutup rapi sehingga Anita bisa tahu isinya.


“ Woah, Bella bagaimana kau mendapatkan gaun ini?” Anita takjub karena Bella bisa memiliki gaun edisi terbatas. Bella tersenyum lalu berkata. “ Itu hadiah dari Dean.”


Seketika Anita mengalihkan pandangannya pada Dean yang terdiam duduk manis di sofa. Anita sedikit tidak percaya akan tetapi keluarga mereka sangat kaya, bahkan tujuh turunan pun tak akan habis secepat itu.


“ Beruntungnya dirimu Bella,” Anita memeluk Bella.


“ Hei. Jangan berkata seperti itu! Kau juga sangat beruntung bisa berkencan dengan Andre. Ku dengar Andre juga tak kalah kaya dengan suamiku,” Bella setengah berbisik, kedua pria yang berada di sisi lain sofa itu saling memandang. Nelson mengedikkan bahunya berkata tidak tahu apa yang di katakan oleh istrinya. Sedangkan Dean tersenyum geli melihat mereka. Bella dan Anita berbincang satu sama lain, begitu pula dengan Andre dan juga Nelson mereka membicarakan tentang bisnis yang tengah ditangani oleh keduanya. Sedangkan anak-anak bersama dengan Oliver. Mereka begitu bahagia saat bertemu dengan satu sama lain.


Setelah berbincang cukup lama makan malam pun sudah siap. Meja makan dipenuhi oleh hidangan yang lezat, ada banyak makanan yang tersaji membuat perut meronta, karena ingin segera di isi. Semua orang beralih menuju meja makan, mereka duduk di tempat masing-masing, tak ketinggalan Oliver yang duduk di samping anak-anak sementara orang dewasa lainnya duduk di barisan paling depan. Benar-benar seperti keluarga besar.


Langit malam tampak cerah, dihiasi oleh jutaan bintang serta cahaya bulan yang begitu indah kala memandangnya. Nelson bersama Andre duduk di bawah sorot lampu balkon ruang kerja milik Nelson, keduanya menikmati malam ini dengan sedikit minum anggur. Selagi para wanita bersama anak-anak.

__ADS_1


“ Bagaimana dengan hubungan kalian? Apakah ada keinginan untuk menikah?” Tanya Nelson seraya menyesap kembali anggur yang ada di gelasnya.


Andre menatap langit malam sejenak lalu menundukkan kembali kepalanya, lalu berkata. “ Entahlah, aku pun belum tahu. Aku takut jika nanti aku belum bisa melupakan mendiang istriku. Aku tidak ingin menyakitinya.” Andre tersenyum pahit, sembari menggoyang-goyang gelas di tangannya.


Nelson bukanlah tipe orang yang bisa menghibur, maka dari itu dia tidak bisa berkata lebih banyak di depan Andre. Dia hanya akan menjadi seorang pendengar yang sangat baik.


“ Lalu bagaimana denganmu?” Andre membalikkan pertanyaannya.


“ Tentang apa?” Nelson melirik ke arah Andre.


“ Tentang Kenzo?” Nelson berpikir sejenak lalu berkata. “ Ah, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Lagi pula Kenzo serta orang tuanya tahu jika istrinya bersalah dalam hal itu. Mereka juga tidak akan menentangku.” Nelson sedikit menyeringai. Andre menganggukkan kepalanya, dengan sangat mengerti bahwa pria yang ada di depannya ini dapat melakukan apa pun.


“ Apakah kondisi Dean sudah stabil?”


“ Untuk sekarang dia baik-baik saja. Mungkin minggu ini Dean akan kembali ke rumah sakit melakukan serangkaian pemeriksaan, persiapan kemoterapi. Semoga setelah kemo, sel kankernya bisa segera menghilang dari tubuhnya.” Nelson menghela napasnya, di pejamkannya kedua mata itu berusaha untuk tegar. Nelson menyesap pelan anggur di tangannya lalu kembali berkata. “ Aku selalu berdoa pada Tuhan agar putraku masih di beri keajaiban lewat tangan author. Aku sangat ingin Putraku tumbuh seperti anak lainnya. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku sangat membenci keadaan ini. Putraku begitu malang hingga dia harus merasakan hal seperti ini. Jika saja bisa di tukar, aku akan menukar hidupku dengannya.” Nelson menutup wajahnya. Andre menepuk bahunya pelan berusaha mengurangi beban di hatinya.


“ Percayalah bahwa Dean mampu memenangkan pertarungannya. Tinggal tahap akhir, semuanya akan baik-baik saja.” Nelson berbalik pada Andre, dia menatapnya dengan dalam, dia sadar bahwa tidak ada yang bisa mengerti perasaannya kecuali orang itu benar-benar telah merasakan kehilangan yang sangat besar.


Malam semakin larut, anak-anak sudah masuk ke kamarnya dan tertidur di temani oleh Oliver. Sedangkan Nelson dan Bella mengantarkan Andre beserta Anita ke pintu. Andre telah mengemudikan mobil Rolls Royce miliknya dan membawa Anita pergi meninggalkan mansion. Nelson dan Bella menunggu mereka hingga keluar gerbang utama.


“ Berhentilah menatapku seperti itu!” Andre mencubit pipi Anita dengan gemas.


Anita hanya tersenyum manja menanggapi perlakuan dari Andre. Sesekali dia berlagak menggemaskan untuk menarik perhatian Andre.


“ Kita akan pergi ke mana?” tanya Andre pada Anita yang masih menatapnya. Karena tidak dapat jawaban dari Anita, Andre pun dengan semangat memutar mobilnya menuju hotel bintang lima.


Setelah berkendara selama lima belas menit akhirnya mereka sampai pada sebuah hotel. Anita yang masih berada di dalam mobil sedikit bingung, mengapa Andre membawanya ke hotel? Pikiran-pikiran mesum itu berseliweran di kepala Anita. Dia bahkan sudah menggigit bibirnya sendiri membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pintu mobil pun di buka, kini di hadapan Anita adalah Andre yang dengan sopan menjaga puncak kepalanya agar tidak terbentur dengan bagian mobil yang keras. Anita tersenyum hangat, dia merasa bagaikan seorang putri bila bersama Andre.


“ Ayo,” Andre menggandeng tangan Anita memasuki hotel. Anita hanya tersenyum manis saat Andre membawanya ke sebuah kamar suite presiden. Dia menatap ke arah pintu. Dalam bayangannya sudah tergambar jelas apa yang akan dilakukan keduanya. Saat seorang wanita dan pria berada dalam satu kamar. Namun bayangan itu kandas seketika karena pada saat pintu terbuka seorang pria muda yang pertama dia lihat dan saat dia mengedarkan pandangannya di dalam ada seorang wanita yang sudah berumur akan tetapi terlihat awet muda.


“ Ibu,” suara Andre menyadarkannya. Anita memandang Andre lalu beralih lagi menuju wanita yang berada di dalam.


“ Ibu?” batinnya. Anita masih termangu berusaha mencerna situasi apa yang sedang terjadi di hadapannya itu. Andre tak banyak bicara. Dia hanya menggandeng tangan Anita lalu membawanya masuk. Wanita yang berada di dalam tersenyum hangat padanya.

__ADS_1


Anita menatap Andre, dia seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Anita. “ Wanita itu adalah Ibuku.” Saat mendengar perkataannya Anita malah menjadi gugup, bagaimana tidak? Dia bertemu dengan ibu dari Andre.


“ Tenanglah, ibuku tidak semenakutkan itu. Jadi bisakah kau tersenyum padanya?” Andre sedikit memohon padanya. Anita pun berusaha untuk menampilkan senyuman terbaiknya.


“ Ibu,” Andre memeluk dan mencium wanita yang ada di hadapannya.


“ Apakah dia?” Sembari menatap Anita dengan tatapan yang begitu dalam, Andre hanya mengangguk malu di hadapannya.


“ Apa kau Anita? Aku adalah Mayleen, ibu Andre.” May mengulurkan tangannya pada Anita dengan sedikit kaget Anita meraih tangannya dan saling melempar senyum.


“ Anita Ye.” Sahutnya.


“ Kau memang lebih cantik dari dugaanku.” May mengajak Anita untuk duduk di sofa. Anita mengikuti langkah calon mertuanya itu walau sebenarnya dia masih kaget dengan situasinya sekarang. Akan tetapi Anita bisa mengimbangi Ibu Andre saat mereka berdua saling bercengkerama layaknya mertua dan menantunya. Andre cukup senang karena Ibunya bersikap lemah lembut pada Anita, dia juga tampak menyukainya.


“ Jadi kapam kalian akan menikah?” Tiba-tiba Ibu Andre melemparkan pertanyaan yang tidak bisa di jawab oleh keduanya.


“ Ibu,” Andre memotong perkataan Ibunya. Dia menggelengkan kepalanya pelan berharap ibunya tidak bertanya lebih jauh lagi.


“ Aku, aku hanya menunggu Andre. Semua keputusan ada di tangannya. Hubungan kami ini bagaikan sebuah kapal yang sedang berlayar. Dia yang mengemudikan kapal ini, dan aku hanya mengikutinya dengan setia.” Anita tersenyum malu karena dengan spontan dia berkata seperti itu di hadapan Ibu dari kekasihnya itu. Andre hanya tersenyum geli saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut kekasihnya itu. Begitu pula degan Mayleen yang hanya mengulas senyuman. Raut wajah Anita terlukis rasa malu yang semakin jelas terlihat.


Anita menggetok kepalanya sendiri karena menyadari perkataannya. Dia bahkan tidak berani menatap Andre.


“ Tidak apa-apa. Kau tidak perlu bersikap seperti itu.” Mayleen menepuk pundak Anita pelan. Anita tidak percaya bahwa wanita yang ada di hadapannya itu begitu baik dan humble.


“ Ibu, ini sudah larut malam. Aku akan mengantar kekasihku pulang.” Setelah pertemuan yang tidak terduga itu Anita beserta Andre pun berpamitan dengan ibunya dan meninggalkan hotel.


Di perjalanan menuju apartemen Anita tidak bicara sama sekali, dia tidak memiliki muka saat bersama dengan Andre.


“ Mengapa kau begitu malu padaku? Ayolah jangan seperti ini.” Andre terus membuka pembicaraan. Akan tetapi Anita tetap tidak ingin bicara. Hingga sampai di pintu masuk gedung pun Anita tetap bungkam, dua bahkan tidak mengizinkan Andre untuk sekedar mampir ke unitnya.


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹


Bersambung


__ADS_2