ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 171


__ADS_3

Robin menelan salivanya dengan kasar, dia tidak tahu apa yang ada di pikiran wanitanya sekarang. Dia begitu putus asa hingga tak mampu berkata-kata lagi.


Keduanya kembali tertegun, Robin memegangi kepalanya yang sakit, napasnya memburu seakan amarah ingin melahap dirinya.


Bella dan Zoya melirik ke dalam toko, terlihat suasana di dalam juga tidak baik, keduanya tampak murung.


“ Bagaimana ini? Mengapa begitu lama? Di sini sangat dingin,” ucap Zoya yang tengah kedinginan, begitu pula Bella.


Tiba-tiba seorang pria yang tinggi besar datang menghampiri keduanya. Parasnya yang rupawan membuat Zoya tertegun, kontur wajah yang tajam semakin menambah daya tariknya.


Dengan cepat dia melepaskan mantelnya dan memasangkannya pada tubuh Bella yang sudah setengah membeku. Saat Bella menatap wajahnya dia begitu terpesona, mata indah itu memandangnya begitu dalam.


“ Mengapa begitu lama? Di luar cukup dingin, mengapa memakai pakaian seperti ini?” Nelson bertanya dengan heran pada Bella.


Raut wajah Bella melukiskan betapa tidak berdayanya dia dalam situasi sekarang.


Sedetik kemudian Robin telah keluar dari studio, di dalam hanya meninggalkan Gisel yang tengah berdiri tegak. Namun kepalanya menunduk ke bawah, Bella memandangnya sekilas, sudah tahu apa yang terjadi sekarang.


Robin yang melihat Nelson tengah bersama Bella pun berkata. “ Maafkan aku karena sudah membuat susah kakak ipar,” seraya membungkuk hormat pada keduanya. Dia pun melangkah pergi meninggalkan mereka.


“ Apa sudah selesai?” Tanya Nelson pada istrinya.


Bella menganggukkan kepalanya, seraya berkata. “ Aku akan mengemas, dan berganti pakaian terlebih dahulu, tunggulah sebentar.”


Nelson menganggukkan kepalanya. Di dalam studio Gisel masih berada di tempat yang sama. Bella merasa situasinya telah berubah menjadi canggung. Hingga dia memutuskan berpamitan pada Zoya saja.


Mereka berdua pun meninggalkan studio dan berjalan menuju mobil yang telah terparkir di bahu jalan.


Sedangkan di dalam studio hanya menyisakan Gisel yang tengah terisak sendirian. Zoya yang melihat keadaannya yang rapuh pun segera memasang tanda di balik pintu kaca yang bertuliskan ‘TUTUP‘ lalu meninggalkan Bosnya sendirian di dalamnya.


Di sisi lain.


Di rumah sakit Dean tengah di jaga oleh neneknya Sandra, bersama Dion yang ikut kembali ke sana.


Dean sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun perubahan emosinya terlihat begitu jelas. Dia kembali pada pembawaannya yang dingin, namun terkesan hangat. Dia juga kembali tak banyak bicara seperti sebelumnya.


Dean tengah duduk di atas kursi roda, menghadap pada hamparan pemandangan asri yang di sajikan oleh pihak rumah sakit.

__ADS_1


Dion dan neneknya hanya bisa melihatnya dari jauh, membiarkannya untuk sendiri, selang berapa lama Oliver datang membawakan minuman kesukaannya.


Oliver menemani Dean menikmati pemandangan sore hari.


“ Tidak buruk juga berada di sini? ujar Dean dengan pelan.


“ Apa kau tahu ayahku kapan akan datang?” Dean bertanya pada Oliver. Namun, Oliver Sepertinya tidak mendengarkan perkataannya.


“ Apa kau mendengarku?” Dean memicingkan matanya pada Oliver yang tengah melamun itu.


“ Ah iya Tuan kecil, mungkin sebentar lagi Tuan,” jawabnya dengan sedikit kaget.


“ Rasanya aku begitu lelah, bisakah kau mengantarku kembali ?” Dean bertanya seraya mengulas senyum tipis.


“ Tentu saja.” Oliver pun mendorong kembali kursi rodanya ke kamar.


Dion telah menunggunya di dalam kamar. Saat Dean tengah masuk ke dalam, Dion segera menghampirinya seraya membawa sebuah kotak hadiah untuknya.


“ Apa ini?” Dean memandangi kotaknya.


“ Buka dan lihatlah,” seraya tersenyum Dion kembali pada tempatnya.


Oliver meraih kotaknya, pelan-pelan dia membuka kotaknya. Dan terlihatlah sebuah snow ball, terlihat begitu indah kala dibalik.


“ Indahnya,” ucap Dean pelan.


“ Ini adalah ketulusan hatiku, cepatlah sembuk Kakak, dan aku akan memperlakukanmu dengan baik,” ucap Dion, seraya tersenyum ceria.


Dean hanya menganggukkan kepalanya pelan. “ Aku lelah, aku akan kembali tidur.”


“ Baiklah, tidurlah. Kami juga akan segera pulang setelah ayah, dan ibu datang,” ujar Dion.


Setelah Oliver memindahkan Dean ke tempat tidurnya, dia pun beranjak pergi bersama Dion.


Setiap malam Nelson selalu menemani Dean, sedangkan Bella berada di rumah sakit pada siang hari. Kecuali kalau Nelson sibuk maka Bella yang akan menemaninya.


Entah kenapa malam ini begitu gelisah? Rasanya Nelson sangat tidak nyaman, saat dia terbangun dari tidurnya, Nelson mendapati sosok putranya yang tengah memandang bintang yang ada di langit.

__ADS_1


“ Mengapa kau bangun, Nak?” Nelson bertanya seraya menghampiri Dean. Dia pun duduk di tepi ranjang.


“ Aku hanya sedikit tidak nyaman Ayah,” jawabnya. Namun, pandangannya tetap pada hamparan langit.


“ Ayah,” Dean memanggilnya dengan suara yang bergetar.


Nelson mengangkat dagunya, dia pun memandang wajah putranya itu. “ Ada apa?”


“ Aku sangat takut Ayah, sangat takut.” Dean menghirup napas beratnya.


Nelson yang menyadari kegelisahan putranya pun segera mendekap tubuh kecil itu, di usapnya puncak kepala Dean seraya berkata. “ Ayah tahu perasaanmu, Nak, Ayah tidak akan membiarkanmu melewatinya sendirian. Ayah akan selalu menemanimu, bersama ibu dan juga Dion. Ayah tahu setiap kau berkata tidak apa-apa. Namun sebenarnya selalu ada ketakutan dalam hatimu. Maafkan Ayah karena tidak menyadarinya dari awal.” Selesai berkata Nelson tersenyum pahit, dia yang di kenal dingin dan berwibawa, kesannya runtuh saat dia bersama putranya.


Keesokan paginya sekitar pukul 09.30 pagi, Bella tiba di rumah sakit, Nelson yang keluar dari kamar Dean sedang menyusuri koridor, dia sekilas melihat bayangan istrinya Bella.


Pelan-pelan dia mengikuti bayangan itu pergi, dan terlihatlah Bella tengah bicara dengan seorang wanita paruh baya. Nelson tidak bisa mendengarkan percakapannya, karena jarak dirinya dan Bella cukup jauh.


Sejenak Nelson menghela napasnya, dia menundukkan kepalanya, seraya memejamkan matanya, lalu melangkah pergi dari tempatnya.


Dia sedikit menyeringai di sudut bibirnya, seraya beranjak pergi, dia menekan beberapa digit nomor telepon. “ Cari tahu mengapa anggota keluarga Fan mencari istriku?”


Selesai memberi perintah Nelson pun menutup ponselnya, dia kembali ke kamar Dean, tetapi saat dia kembali putranya tidak berada di tempat tidurnya.


Nelson mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dia pun mendengar suara air mengalir dari arah kamar mandi. Dan betapa kagetnya dia saat menemukan Dean yang tengah meringkuk kesakitan, dengan segera dia mengangkat Dean yang tengah meringis. Nelson segera membawanya ke tempat tidur, mencoba membaringkannya, dia terus menekan bel agar dokter dan perawat segera datang.


Sesaat kemudian perawat dan dokter pun datang, mereka menenangkannya dengan susah payah, setelah di berikan suntikan. Akhirnya dia berangsur-angsur tenang.


Nelson sedikit lega, setidaknya untuk saat ini. Nelson menatap jam tangannya, raut wajahnya menggelap, dia tahu istrinya sudah datang sedari tadi. Namun sampai sekarang istrinya belum muncul juga.


Dia memijat dahinya yang sakit, di tambah pekerjaan yang sudah menggunung, dengan malas Nelson menekan beberapa digit nomor di ponselnya.


“ Evan, bawa semua pekerjaanku ke rumah sakit. Sepertinya aku tidak bisa berada di kantor hari ini,” ujarnya pada Evan yang tengah berada di seberang telepon.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶❤️🌹🌹🌹🌹


Bersambung


__ADS_2