ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 206


__ADS_3

Robin menghela napasnya, lalu berkata. “ Apa dia tidak datang?” Yohan dan Andre tidak bicara sepatah kata pun. Robin kembali menghela napasnya dengan berat. Ia memejamkan matanya berharap jika Gisel datang menghampirinya. Namun, kenyataannya tidak seperti yang di harapkan. Gisel tidak pernah datang lagi menemui Robin.


“ Apa kau ingin makan sesuatu?” Andre bertanya pada Robin yang memalingkan wajah darinya. Robin hanya menggelengkan kepalanya. Dia tak ingin bicara dengan siapa pun. Robin hanya menatap ke arah jendela.


“ Jika saja tubuhku masih bisa berdiri, aku akan berlari menemuinya.” Robin mendengus. Sedangkan Andre dan Yohan hanya diam.


“ Kau bahkan tidak bisa bangun dari tempatmu! Jangan berlagak sok kuat!” tiba-tiba suara Nelson terdengar. Semua orang berbalik saat tahu Nelson datang.


Yohan dan Andre menyapa Nelson. Saat dia melihat di belakang Nelson ternyata ada Dean, Andre menyapanya.


“ Dean,” Andre melambaikan tangannya. Tapi seperti biasa Dean tidaklah pandai mengekspresikan dirinya.


“ Bukankah rapatnya sangat penting? tanya Andre pada Nelson.


“ Tidak, yang lebih penting itu adalah dia.” ucap Nelson. Sembari menunjuk pada Robin yang terbaring di tempat tidur. Robin menatap Nelson dengan dalam. Dia tahu Nelson selalu mengutamakan sahabatnya di banding pekerjaan. Bahkan dia pernah merelakan bisnis yang bernilai fantastis hanya untuk menolong Andre yang terpuruk.


Dean mengulas senyum, tatapannya begitu teduh saat dia menunjukkan dirinya dari tubuh Nelson yang menghalangi. Dean mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan sosok wanita yang selalu menunggui Robin.


“ Apakah wanita cantik itu tidak datang?” Seketika semua orang berbalik menatap Dean dengan tatapan yang tajam. Dean menyunggingkan sedikit senyuman di sudut bibirnya. Robin yang mendengar perkataannya seketika memutar kepalanya untuk melihat Dean.


“ Apa yang kau katakan?” Robin bertanya dengan penasaran. Sedangkan Dean berjalan menuju sofa, Dean berkata dengan santainya.


“ Ya, wanita cantik itu selalu datang menunggui paman,” selesai bicara Dean meraih sebuah apel beserta pisaunya. Seketika sorot mata Robin bersinar. Dia tahu bahwa Gisel masih setia menemaninya. Mendengar semua ucapan Dean, Robin mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Tampak buliran keringat dingin membasahi wajahnya.


“ Ya! Ya! Apa yang kau lakukan? Kau bahkan sulit bergerak!” Yohan dan Andre menahan Robin yang ingin bangun dari tidurnya. Nelson yang melihatnya hanya tersenyum sinis.


“ Pulihkan dulu lukamu. Baru kau kejar cintamublagi!” Selepas bicara Nelson duduk di sofa bersama Putranya. Dean sedang mengupas apel, dia memisahkan kulit apel dan dagingnya dengan begitu cekatan.


” Apa kau ingin Ayah membantumu?” Nelson menawarkan bantuan terapi Dean menolaknya dengan halus.


“ Tidak Ayah, aku bisa mengatasinya.” Saat Dean hendak mencari piring seketika Nelson menyodorkannya. Dean tersenyum saat melihat Ayahnya lah yang membantunya.


“ Terima kasih, Ayah!” Dean mengambilnya dan kembali mengupas apel lebih banyak.


“ Ayah, apa paman Robin sangat mencintai wanita itu?” Dean bertanya dengan penasaran. Nelson yang mendengar perkataan itu seketika tersenyum.


“ Apa kau sangat ingin tahu tentangnya?” Nelson bertanya balik pada Dean. Dan ia mengangguk, sorot matanya mengatakan bahwa beri tahu aku segalanya.


“ Baiklah. Ayah akan memberitahu.” Nelson mengatur napasnya sebelum lanjut bicara.


“ Tentu saja paman Robin sangat mencintainya lebih dari apa pun! Mereka berpisah karena suatu kesalahpahaman yang terjadi di masa lampau.” Dean terdiam lalu memotong pembicaraan Ayahnya.

__ADS_1


“ Jika paman Robin mencintainya mengapa paman meninggalkannya di saat dia terpuruk? Bukankah seharusnya paman Robin mendampinginya? Melewati semua rintangan bersama. Bukannya malah meninggalkannya. Benar-benar pengecut!” Dean memasukkan sepotong daging apel yang sudah di kupas ke dalam mulut kecilnya.


“ Aku tidak sengaja mendengar percakapan orang lain tentang kisah paman. Mereka berkata jika paman Robin lah yang mengabaikan wanita itu.” Seketika ucapan Dean langsung mengena di hati Robin. Nelson sadar akan kecanggungan yang terjadi karena ulah Putranya, Nelson segera menegur Dean dengan halus.


“ Tidak seharusnya kau berkata seperti itu Putraku! Karena kau tidak tahu masalah yang ada di belakang mereka yang kau bicarakan!” Nelson mengusap puncak kepala Dean dengan lembut.


Tetapi, Dean tidak peduli dengan tatapan Robin, yang dia lakukan hanya memasukkan kembali daging apel ke dalam mulutnya.


Seketika Robin yang berbaring itu memalingkan wajahnya. Ia begitu malu pada pada dirinya sendiri. Anak sekecil itu aja mengerti. Mengapa dirinya yang sudah dewasa begitu bodoh? Robin menatap Dean dengan tatapan yang dalam. Tiba-tiba emosinya meluap dan melampiaskannya pada Dean yang ada di hadapannya.


“ Kau ini anak kecil! Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini? Anak kecil hanya tahu bermain. Kau juga tidak tahu arti dari perjuangan seseorang. Dan kau tidak akan pernah mengerti bagaimana beratnya bertahan.” Nada suara Robin sedikit tinggi saat bicara pada Dean, ia tidak biasanya seperti itu.


Dean terdiam, semua orang kaget dengan apa yang dikatakan oleh Robin pada anak seusia Dean. Dean menyeringai, terselip senyum pahit di bibirnya yang tipis.


“ Paman benar, aku memang tidak tahu arti perjuangan. Walau kini aku sendiri masih berjuang. Dan aku adalah sebuah Bom waktu yang bisa meledak kapanpun, tanpa peringatan.” Seketika semuanya memjadi hening. Mereka yang ada di dalam ruangan tahu betul jika Dean anak dari pada Nelson dan Bella tengah berjuang melawan penyakit yang menggerogotinya perlahan. Terlebih Nelson, sorot matanya begitu tajam saat menatap Robin. Yohan dan Andre dapat merasakan aura Nelson yang mendominasi seisi ruangan. Mereka takut jika Nelson hilang kendali karena ucapan Robin yang asal bicara. Mereka juga tahu bagaimana penderitaan Nelson dan keluarganya karena putra sulung dan cucu pertama mereka terkena penyakit mematikan.


“ Jangan bicara lagi, apa kau lupa dia Putra sulung Bos.” Andre mencoba menghentikan Robin agar tidak meneruskan perkataannya. Dan Robin sendiri sadar akan kata-katanya yang telah menyakiti hati Ayah dan Anak itu.


Dean hanya tersenyum. Dia mengusap punggung tangan Nelson yang sudah mengepal sedari tadi.


“ Ayah, apakah kita bisa pulang sekarang?” Dean bertanya seakan tidak ada yang terjadi padanya. Dean sadar raut muka Ayahnya sudah tidak baik. Dean mengulas senyumnya sembari berkata.


“ Ayah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin semua itu hanya emosi sesaat. Jadi sebaiknya kita pergi!” Nelson tertegun putranya begitu tegar dan sabar. Dia bahkan masih bisa tersenyum setelah di bentak oleh Robin.


“ Hentikan Ayah, paman Robin sedang sakit! Apa Ayah tidak malu menggertak orang sakit?” Andre dan Yohan menahan tawanya agar tidak menggelegar. Karena baru kali ini Nelson mengikuti perkataan seseorang terlebih itu adalah seorang anak kecil. Nelson menarik napasnya perlahan, mencoba meredam emosinya demi putranya.


“ Baiklah, kami akan pulang!” Suaranya bergetar, seakan Nelson menahan semua emosinya pada Robin. Nelson, Evan dan Dean pun pergi meninggalkan ruangan di mana Robin berada.


Di Mansion.


Hari telah menjelang sore, panasnya matahari kini telah berganti dengan indahnya senja di sore hari. Bella tengah menatap Dion yang sedang bermain dengan Oliver. Gelak tawanya terdengar begitu renyah di telinganya.


Buuaaarrr…


“ Ibu, Aaahhh!” Dion berteriak kesakitan saat dirinya tidak sengaja tercebut ke dalam sungai kecil yang ada di halaman belakang mansion. Bella yang kaget langsung berlari menghampiri Dion yang sudah basah kuyup. Oliver yang ada di sisi lain juga berlari dengan cepat saat mendengar teriakan Dion.


“ Tuan kecil, apa Anda tidak apa-apa?” Tanya Oliver sembari mengangkat Dion dari air.


“ Aaaaa, ini sangat menyakitkan!” Dion sedikit berteriak saat Oliver memindahkannya.


“ Bagian mana yang sakit?” Bella bertanya dengan cemas saat Dion tengah mengaduh kesakitan.

__ADS_1


“ Kakiku,” Dion berkata dengan lirih. Oliver menurunkannya. Ia mencoba memeriksa pergelangan kaki Dion dan benar saja. Mata kakinya terlihat bermasalah.


“ Sepertinya ini terkilir Nyonya.” Oliver mencoba memastikannya dengan sedikit menyentuhnya. Tiba-tiba Dion berteriak.


“ Aahh… sakit!” Teriaknya memekakkan telinga.


“ Bagaimana ini?” Bella semakin panik saat Dion berteriak.


“ Tenang Nyonya, sebaiknya kita membawa Tuan kecil masuk. Lalu menghubungi Dokter.” Oliver segera membawanya masuk ke dalam mansion.


“ Tolong hubungi Dokter, kaki Tuan kecil Dion terkilir.” Pintanya. Kepala pelayan yang melihat Tuan mudanya kesakitan ia segera menghubungi Dokter untuk memeriksa Dion.


“ Halo, Dokter Kevin. Tuan muda Dion terluka. Sepertinya kakinya terkilir. Saya harap Anda bisa datang.” ucap Kepala pelayan di telepon.


“ Baiklah. Kebetulan saya sedang menuju ke sana. Sebentar lagi saya akan sampai.” Terdengar dari seberang telepon.


“ Baik Tuan, kami menunggu kedatangan Anda.” Kepala pelayan menutup sambungan teleponnya. Lalu mengikuti Oliver yang masuk ke dalam kamar Dion. Di ikuti dengan Bella yang terus mencoba menghubungi Nelson akan tetapi, tidak ada jawaban darinya. Karena tak dapat jawaban dari suaminya, Bella berlari menuju kamar Dion. Di sana dia begitu kesakitan, teriakannya seakan memberi semua orang bahwa dirinya begitu kesakitan.


“ Ibu,” Dion memanggilnya dengan lirih. Kedua mata yang indah itu telah berlinang air mata yang membasahi wajahnya.


“ Dion, Putraku.” Bella segera menghampiri Dion yang sedang di bantu berganti dengan pakaian bersih dan kering. Kedua matanya telah berkaca-kaca. Kilauan crystal putih menggenangi bola mata yang ada di dalamnya.


Tidak lama kemudian Dokter Kevin datang.


“ Apa yang terjadi? Bukankah hanya terkilir?” Dokter Kevin bertanya dengan heran. Karena dirinya mendapat kabar bahwa Dion hanya terkilir. Dan seketika Dokter Kevin terkejut saat melihat kondisi kakinya. Pergelangannya bergeser cukup jauh. Dokter Kevin memeriksanya sebentar, melihat keadaan kakinya. “ Ini lebih parah dari yang aku duga. Kita harus membawanya ke rumah sakit sebelum terlambat. Sebaiknya kita pergi sekarang.” ujar Dokter Kevin. Mereka pun membawa Dion masuk ke dalam mobil Dokter Kevin, menuju ke rumah sakit yang berada di bawah naungan Hongli Group.


Di sisi lain.


Nelson dan Dean berada di dalam mobil. Dean memyandarkan kepalanya pada jendela kaca mobil. Pandangannya tertuju ke arah luar. Ia memperhatikan semua yang terlintas di matanya yang berwarna hijau zamrud.


“ Dean, apa yang sedang kau pikirkan, Nak?” Dean berbalik. Dia menatap Nelson dengan tatapan yang dalam.


“ Ayah, apa aku akan tumbuh dewasa bersama dengan Dion? Apakah aku akan menua bersama kalian?” sorot matanya begitu menyedihkan. Membuat hati Nelson hancur. Dirinya yang seorang Presdir dari perusahaan yang sangat besar. Memiliki kekayaan yang belum tentu habis. Kekuasaan dan harta dimiliki olehnya. Tapi tidak bisa membeli kesehatan untuk putranya. Nelson mengepalkan tangannya, menahan kesedihannya, dia berusaha untuk menghibur putranya yang terbebani oleh resiko penyakitnya sendiri.


“ Kau pasti menang! Kau putra Presdir, tidak mungkin aku mengabaikanmu. Ayah akan melakukan yang terbaik untukmu. Jangan pernah putus asa dan lelah selagi Ayah, Ibu dan Adikmu masih bersamamu.” Nelson mengusap puncak kepala Dean pelan dan mengecupnya dengan lembut.


*


*


Terima kasih atas dukungannya. Salam sayang dan sehat selalu.🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2