
Dean sedikit tersenyum, seraya berkata. “ Aku akan menunggumu di sini. Bolehkah aku duduk di situ?” Seraya menunjuk sofa yang memghadap kaca jendela besar bergaya Prancis itu.
Nelson dengan tersenyum, mendudukkan Dean di sofa, seraya berkata dengan lembut. “ Tentu, duduklah di sini. Apakah kau menginginkan sesuatu?” Tanya Nelson.
Dean menjawabnya, “Tidak perlu, yang ku butuhkan hanya melihatmu ayah!”
Nelson kembali ke meja kerjanya, sedangkan Oliver menunggu di sudut ruangan.
Tiba-tiba Dean berkata, “ Ayah, entah kenapa aku sangat takut, jika aku tidak melihatmu? Aku tidak ingin berpisah denganmu!”
Nelson menghentikan aktifitasnya, dengan suara lembut dia berkata. “ Apa yang kau bicarakan? Ayah selalu ada untukmu! Ayah tidak akan meninggalkanmu!”
Dean menatap langit hitam diluar kaca jendela, seraya berkata. “ Aku hanya merasa takut saja, sepertinya aku belum ingin meninggalkan dunia ini. Aku takut tidak ada yang menjaga ibuku, serta saudaraku.”
Nelson merasa sangat terluka kala Dean membicarakan perihal rasa sakitnya, dengan suara tertahan dia berkata. “ Jangan berpikiran seperti itu, kau harus yakin jika dirimu akan sembuh. Jangan menyerah begitu saja, ingatlah ayah akan selalu mendukungmu, dan bersamamu melewati semua prosesmu. Ayah harap kau mampu bertahan, dan mampu melawan penyakitmu.” Nelson memeluk Dean dengan erat, dengan lembut dia mengusap kepala Dean.
Dean bertanya, “ Apa rencanamu, untuk memberitahu ibuku, bahwa aku dan saudaraku adalah anak kandungmu ayah?”
Nelson sedikit terdiam, dengan mantap dan tegas dia berkata. “ Jika aku pulang, aku akan memberitahunya, bahwa aku adalah pria yang pernah tidur bersamanya sepuluh tahun yang lalu. Walaupun sebenarnya aku takut ibumu tahu kebenarannya, dan dia akan pergi meninggalkanku, membawa kalian pergi menjauh dariku.”
Dean dengan yakin berkata. “ Ya mungkin, Ayah akan di tinggalkan sendirian lagi.” Dean sedikit mengejek ayahnya.
Nelson sedikit bingung, dia berkata. “ Ya, bagaimana bisa kau berbicara seperti itu? Bahkan kau tidak memdukung ayahmu ini, bagaimana bisa aku menghadapi ibumu nanti?”
Dean bertanya, “ Apa perlu aku yang membantumu ayah?”
__ADS_1
Nelson kembali bertanya. “ Apakah ayah perlu memberi tahu ibumu?”
Dean berkata. “ Jika kau memberikan pesta pernikahan yang mewah untuk ibuku, aku sendiri yang akan memberitahunya. Jadi aku harap ayah tetap membiarkan semuanya berjalan seperti semula.” Dean kembali memeluk Nelson dengan erat.
Nelson menatap tangan kecil putranya, dengan pandangan berkaca-kaca, dia berkata. “ Apakah sakit? Lihatlah tanganmu semakin kurus! Wajahmu semakin terlihat tirus!” Nelson semakin tidak bisa menahan air matanya, yang mengalir begitu saja di wajah tampannya.
Dean tersenyum seraya berkata, “ Bukankah aku semakin imut? Ayah tidak akan merasa berat jika menggendongku ! Bukankah aku terlihat tampan seperti ini?”
Nelson hanya bisa menangis tanpa suara saat mendekap putra sulungnya, begitu pilu kala melihat perubahan putranya, yang awalnya berisi, kini semakin hari semakin kurus.
Dean berbisik di salah satu telinga Nelson, dengan lembut dia berkata. “ Cepatlah resmikan pernikahan kalian, jangan di sembunyikan terlalu lama, dan segeralah memberi aku dan Dion seorang adik yang lucu, karena kelak dia akan menggantikan kehadiranku.”
Nelson tidak mampu berkata-kata, dia masih termangu mencerna perkataan putranya, setelah dia beranjak pergi bersama perawatnya, Oliver.
Dean dengan lembut berkata, “ Mr. Olaf, apakah Anda bisa memberiku sedikit makanan? Aku cukup lapar sekarang!”
Oliver bertanya. “ Tentu saja, makanan apa yang Tuan muda inginkan?”
Dean menjawab, “ Apapun tidak masalah.”
Oliver hanya menganggukkan kepalanya, diapun beranjak pergi meninggalkan Dean untuk membawa sedikit makanan dan buah.
Oliver mendengar percakapan antara Nelson dan Evan.
Nelson berkata, “ Evan, Dean memintaku untuk segera membuat pesta pernikahan untuk ibunya.”
__ADS_1
Evan berkata. “ Mungkin sebaiknya Presdir, mempercepat acara resepsi tersebut, untuk membahagiakan Tuan muda.”
Nelson berkata. “ Mungkin kau benar, semakin hari tubuh Dean semakin kurus. Aku takut dia tidak mampu bertahan!”
Evan berkata. “ Jangan pernah ada pemikiran seperti itu Presdir. Pikirkan hal baik, semuanya akan baik-baik saja.”
Nelson dengan suara bergetar berkata. “ Tapi Evan, sel kanker Dean tumbuh semakin cepat. Aku tidak ingin putraku menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk berada di rumah sakit. Dan itu juga keinginannya!”
Evan terdiam, dia tidak pernah menyangka akan melihat Nelson begitu sakit dan terluka, kini dirinya begitu rapuh, kala menyangkut putra sulungnya.
Evan kembali membalas perkataan Nelson, dengan mencoba sedikit tenang dia berkata. “ Namun, bukankah lebih baik jika Tuan muda melanjutkan perawatan intensifnya di rumah sakit, jika melewati Radiograpi dan kemoterapi, mungkin akan memperlambat sel kankernya berkembang, sehingga bisa memperpanjang hidup Tuan muda. dan siapa tahu ada keajaiban dari Tuhan, kita tidak tahu kedepannya seperti apa, yang penting kita berusaha.
Nelson dengan pelan berkata, “ Ya, itu adalah rencana awalku untuk Dean, namun setiap melihat senyum, dan merasakan kehadirannya aku tidak sanggup meninggalkannya, untuk tinggal di sana!”
Evan sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Sungguh walaupun Dean bukan putranya sendiri, namun rasa sakit yang Nelson rasakan, Evan juga bisa merasakan bagaimana hatinya terluka.
Akankah Nelson mempercepat resepsi pernikahannya dengan Bella, mengingat kondisi Dean yang semakin memburuk.
Akankah Dean mampu bertahan, sampai acara resepsi Nelson dan Bella terwujud?
Ataukah Dean tidak akan sempat melihat ibunya menggunakan gaun pengantin impiannya?
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🙏🌹🌹
Bersambung
__ADS_1