
Dean tiba-tiba bangkit dari kursinya yang membuat Marvel bertanya. “ Mau kemana, Dean?”
“ Heleh, palingan pergi nemuin sang pujaan hati” ucap Luis.
“ Maklum Marvel, orang baru pertama kali jatuh cinta ya gini. Sedang berbunga-bunga. Palingan entar nangis, gara-gara di tolak untuk kedua kalinya.” Tambah Brian.
“ Widih, jangan lupa kenalin dong. Akhirnya tante Bella bakalan otw punya cucu. Semangat Dean!” seru Marvel.
“ Tidak mau, entar kamu rebut.” Canda Dean yang langsung berlari ke arah pintu.
Sekarang hanya tersisa Brian, Luis dan Marvel.
“ Marvel, kenalin dong sama adiknya. Siapa tahu jodoh.” Rayu Brian ke Marvel.
“ Tidak.” jawab Marvel tegas.
“ Kenapa sih kamu Marvel, tidak mau ngenalin adik kamu ke kita-kita? Penasaran woi, penasaran.” Ujar Brian.
“ Sekali tidak tetap tidak. Titik, tidak pake koma.” Kekeh Marvel belum mau mengenalkan adiknya ke teman-temannya.
“ Mungkin Brian, adiknya Marvel itu jelek?” ucap Luis yang membuat Marvel ingin menendang kedua temannya itu.
“ Ngomong gitu coba entar di depan adik aku, di jamin mampus kamu, dimasak plus di potong-potong.”
“ Ya mungkin saja kan, adik kamu jelek Marvel?” lanjut Brian lagi.
“ Bilang adik aku jelek sekali lagi, aku bakal pukul kalian berdua pakai high hels adik aku entar. Mau nyoba?!” jawab Marvel kesal.
Nyali mereka langsung ciut mendengar ancaman Marvel. Luis sudah pernah merasakan itu, saat Sisil sedang ada tamu bulanan, dan Luis memancing amarahnya karena dia tidak tahu sang kekasih kedatangan tamu bulanannya, dan berakhir sebuah benjolan muncul dijidat Luis.
“ Hehehe, ampun Marvel.” ucap Brian dan Luis hampir bersamaan.
Di Kediaman Erin.
“ Erin, pulang!” teriak Erin saat dia masuk ke dalam rumah.
“ Woi dik, Kakak tidak budek ya. Teriak-teriak mulu kamu.” Celetuk Marvel yang sedang berada di ruang tengah.
Setelah itu, Erina berjalan ke ruang tengah, dia akan bercerita tentang kejadian yang terjadi di restorannya.
“ Kakak!” Teriak Erin lagi yang saat ini sudah disamping Marvel yang sedang memainkan games di ponselnya.
“ Astaga, Kakak tidak tuli adikku sayang. Jangan teriak-teriak. Hobi banget, deh.” Jawab Marvel pada adiknya Erin.
“ Hehehe, Kakak.”
“ Kakak! Masa tadi ya, ada orang yang ngajakin Erin nikah? Gila tidak tuh?!” ujar Erin pada kakaknya.
“ Hah?! Marvel kaget mendengar perkataan adiknya barusan.
” Siapa, Erin?” tanya Marvel penasaran.
“ Tau tuh, orang aneh.” ujar Erin sambil meninggalkan kakaknya ke kamar yang berada di lantai atas untuk beristirahat.
Di pagi hari Erina menuruni tangga dengan tergesa-gesa, yang membuat Marvel beserta kedua orang tuanya menggelengkan kepalanya.
“ Apalagi, sekarang?” ucap Ayahnya bernama Alfa Jiang.
“ Sudah pasti telat lagi.” Sang Ibu bernama Talita menjawab sambil tertawa pelan melihat tingkah laku putrinya.
__ADS_1
“ Pagi, Ibu! Ayah! Kakak!” teriak Erina saat sampai di ruang makan.
“ Dik, bisa tidak kalau tidak pake teriak! Ibu ngidam apa sih? ko bisa Marvel punya adik macam Erin.”
“ Halah, gini-gini juga kalau adik kamu hilang pasti nangis. Manusia macam adik kamu tuh langka tau.” Kalimat terakhir yang di ucapkan sang Ayah membuat wajah Erina yang tadinya ceria berubah jadi datar.
Lalu dia mengadu ke Ibunya sambil berkata. “ Ibu! Masa Erina dikatain langka? Emangnya aku hewan apa? Terus, Ayah mau Erina hilang gitu?!”
“ Ayah hanya bercanda. Putriku.”
“ Tau ah, aku pergi dulu.” Jawab Erina sambil pergi begitu saja, dan memakai sepatunya.
“ Erin, makan dulu nak!” teriak ibunya Talita.
“ Tidak mau. Erin ngambek! Erin pergi dulu.” dan akhirnya, Erina pergi tanpa memakan sarapannya.
“ Ada ya, orang ngambek pakai bilang-bilang?” ucap Ayahnya sambil tertawa.
“ Kamu sih, Yah. Ngambek deh tuh Anak. Pakai dibilangin langka.”
“ Udah, biar Marvel yang anterin sarapan ke restorannya nanti.”
Erina mengendarai mobilnya dengan santai, padahal dia sudah sangat terlambat. Oke biarkan saja, karena dia pemilik restorannya.
Saat dalam perjalanan, mobilnya tiba-tiba berhenti. Yang membuat Erina kesal setengah mati.
“ Aish! Ini mobil kenapa sih!” dumel Erina
Erina keluar untuk melihat apa yang salah, dan ternyata ban mobilnya kempes. Sialnya lagi, jalanan saat itu sepi dan tidak ada bengkel di sana.
“ Mobil sialan! Duhh, gimana dong ini!”
“ Tasku ke tinggalan di kamar! Huaaa, dobel sial ini namanya!”
Dia melihat jam tangannya sekilas dan kemudian berkata. “ Telat dua puluh menit. Oke, atasan macam apa aku ini?”
Erina terduduk di samping mobilnya, sambil melihat mobil yang lalu lalang walaupun jumlahnya bisa dihitung pakai jari, karena sepi.
“ Gila, ini jalanan apa pemakaman sihh.” teriak Erina frustrasi.
“ Nyesel aku lewat jalan pintas!”
Sekitar dua puluh menitan Erin dilanda rasa bosan, dan kesal. Tiba-tiba ada mobil Audì R8 warna hitam berhenti didepan mobilnya. Erina segera berdiri, sambil merapikan pakaiannya.
Siapa tau, bisa minta tumpangan, ya kan?
Seseorang pria tampan bermata hijau zamrud keluar dari mobil tersebut. Yang membuat Erina sangat-sangat kaget.
“ Hai, kita ketemu lagi.” sapanya.
“ Kenapa harus dia sih!”
Dia yang di maksud adalah, pria gila yang mengajak Erina menikah saat di restoran saat itu, Dean Hongli.
“ Mobil kamu kenapa?” tanyanya.
“ Oh? Bannya kempes.” Jawab Erina jutek. Tiba-tiba dia malas berbicara.
“ Mau kemana emangnya?” tanya Dean lagi dengan ramah plus dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
“ Restoran.” Erina menjawab tanpa melihat pria yang ada di hadapannya. Dia lebih memilih melihat keadaan sekitar dibandingkan pria tampan yang berdiri di depannya.
“ Jutek amat sih.” gumam Dean.
“ Ayo, masuk.” ucap Dean sambil membukakan pintu mobilnya untuk Erina.
“ Buat?” tanya Erina.
“ Aku anterin.” Jawab Dean percaya diri.
“ Emang saya minta tumpangan?” ucap Erina.
“ Ehmmm. Terus mau sampai kapan di sini?”
Erina terdiam sejenak, lalu tanpa malu dia masuk ke dalam mobil Dean. Setelah Erina masuk, Dean menutup pintu mobil dan tersenyum senang.
Selama perjalanan, Erina hanya diam sambil menatap ke arah luar. Mereka saling diam sampai akhirnya Dea memberanikan membuka suara.
“ Uhmm, nama kamu siapa?” tanyanya.
“ Erina Jiang.” jawab Erina dingin.
“ Aku, De..”
“ Saya tidak menanyakan nama Anda.”
“ Ya ampun, jutek banget sih.” batin Dean.
“ Ehmm. Maaf untuk yang waktu itu.” ucap Dean ragu sambil fokus menyetir.
Erina melihat Dean sekilas, setelah itu dia kembali menatap jalanan.
“ Ehmm.”
Hening tidak ada percakapan setelah itu. Sampai pada akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
Erina tergesa-gesa turun dari mobil Dean, mengingat dia sudah sangat-sangat terlambat.
“ Terima kasih.” Kata Dean sambil tersenyum menatap Erina yang tergesa-gesa.
“ Oh. Maaf. Ini kartu nama saya, saya akan mentraktir Anda makan. Terima kasih!” ucap Erina sebelum meninggalkan Dean.
“ Tadi jutek, sekarang tidak. Dasar, cewek.” ucap Dean sambil tertawa melihat Erina yang tergesa-gesa masuk ke restorannya.
Tapi, lama-lama tawanya itu meredam saat melihat Erina berpelukan dengan sosok yang sangat dia kenal, Marvel. Sosok yang aslinya adalah Kakak dari Erina yang tidak diketahui oleh Dean.
“ Mungkin yang mau di nikahi Marvel adalah Erina?” ucap Dean dengan nada kecewa.
*
*
Maaf up nya tidak seperti biasanya, Author lagi kurang Fit untuk berpikir, daripada berantakan alurnya, ya kan?! Sehat dan happy selalu ya guys🙏😇💪❤️🥰😘🌹
Kalau mau ngasih like, vote dan komen Alhamdulillah🙏😇🫶🌹
Tidak juga gpp. Terima kasih guys.🙏❤️
Bersambung
__ADS_1