
Di Mansion.
Dion berlarian di antara anak tangga, sedangkan yang mengejarnya adalah ibunya Bella.
“ Dion, hati-hati Nak.” Nelson sedikit ngeri jika putra keduanya terjatuh. Begitu pula Bella dia berusaha mendapatkan Dion.
Nelson yang berada di lantai dua mengedarkan pandangannya. Tatapan matanya jatuh pada Dean yang tengah bersandar pada sofa ruang keluarga. Pakaiannya sudah rapi dan sudah siap untuk pergi. Oliver telah menungguinya sedari tadi untuk membawanya ke rumah sakit menjalankan semua pemeriksaan yang di perlukan untuk menunjang perawatannya. Wajahnya begitu tenang dan damai, tak ada sedikit pun kegelisahan yang menghantuinya. Nelson berjalan dengan anggun saat menuruni anak tangga, dirinya begitu berkarisma dan berwibawa. Bella yang lelah mengejar Dion menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, wajahnya penuh keringat. Namun, tetap terlihat cantik itu memandang ke arah putranya Dean yang sedang memejamkan matanya. Tak henti-hentinya Bella memandangi wajah Dean.
“ Ada apa? Mengapa Ibu memandangiku seperti itu?” Seketika Bell terkejut saat mendengar suara lembut Dean. Karena keterkejutannya Bella melempar senyum padanya seraya berkata. “ Karena kau begitu Tampan anakku.”
“ Siapa dulu Ayahnya?”jawab Dean pada ibunya.
” Aku!” Nelson yang baru saja tiba membanggakan dirinya sendiri. Seakan menekankan bahwa kedua Putranya lebih mirip Ayahnya daripada Ibunya. Bella menghela napasnya karena dia tahu maksud perkataan suaminya.
“ Setidaknya aku memiliki paras yang cantik dan anggun.” Bella berbicara sendiri sembari meraba-raba wajahnya. Nelson yang melihat tingkah istrinya itu membuatnya cekikikan sendiri.
“ Kau juga sangat cantik Ibu, sangat cantik hingga aku tidak bisa berpaling darimu.” Dean bersuara mencoba menghibur ibunya.
“ Lalu apa yang telah di perbuat oleh Dion hingga kamu mengejarnya seperti itu?” tanya Nelson.
“ Aku hanya menemaninya bermain kejar-kejaran. Karena Dion yang memintanya.” Bella mengerucutkan bibirnya setelah menjawab pertanyaan dari suaminya. Nelson kembalilah tersenyum hangat.
“ Apa kamu ingin mengatakan bahwa aku seperti anak-anak!” Nada suara Bella sedikit kesal.
“ Siapa yang mengatakanmu seperti anak kecil?” Bella melirik ke arah Dean yang setengah memenangkan matanya, dan jarinya yang mengisyaratkan bahwa Dean yang mengatakannya.
“ Kenapa aku bisa jatuh cinta pada wanita ini?” dalam batinnya Nelson bertanya. Namun dia hanya tersenyum simpul saat memikirkannya.
“ Sungguh beruntungnya aku bisa menjadikannya seorang istri, dan dia pula yang melahirkan dua orang putra yang sangat genius dan rupawan.” Nelson semakin bahagia di dalam hatinya. Walaupun kesedihan datang silih berganti menghampiri keluarga kecilnya.
Dion datang berhambur memeluk Nelson dari arah belakang. Mendekap Ayahnya begitu erat.
“ Ada apa? Mengapa belakangan ini kau sangat manja sekali?” Nelson berbalik menghadap ke Dion. Kini dengan setengah berlutut di hadapannya. Menatapnya lekat seakan mengingat-ingat kontur wajah putra keduanya.
“ Aku hanya mengikuti perkataan Dean.” ucap Dion.
“ Lalu apa yang dikatakan oleh Kakakmu?” Nelson bertanya dengan penasaran.
“ Bermanjalah sesering mungkin dengan Ayah dan Ibu karena…” Dion tidak meneruskan perkataannya.
“ Ada apa?” Nelson dan Bella saling memandang satu sama lain. Dion menundukkan kepalanya.
“ Karena jika suatu saat Dean jatuh sakit. Aku tidak akan punya kesempatan untuk bersama kalian.” Seketika hati keduanya terenyuh oleh perkataan Putra keduanya.
“ Jangan bersedih. Aku ini masih bersama kalian. Mengapa selalu bersedih seperti ini?” Suara Dean mencairkan suasana yang tadinya suram. Bella berusaha menahan tangisnya. Oliver yang mendengarkan percakapan mereka ikut terharu.
__ADS_1
Anak-anak yang terlahir dengan jenius memang spesial. Mereka di paksa mengerti dan di dewasakan oleh keadaan. Di saat anak seusianya masih bermanja tanpa memikirkan hal-hal apa pun yang membuat mereka bersedih. Mereka sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan di usinya yang terbilang muda.
“ Tuan, Nyonya makanan telah siap!” Seru Kepala Pelayan.
“ Terima kasih. Anak-anak ayo kita sarapan.” Semua orang beranjak dari ruang keluarga berjalan menuju meja makan. Setelah menyelesaikan sarapan semua orang berkumpul kembali di ruang keluarga.
“ Diom bukankah hari ini kau akan bertemu dengan Kakek dan Nenek?” Nelson bertanya seraya menyesap teh yang ada di tangannya.
“ Ehm. Tapi Dean tidak bisa ikut denganku.” Raut wajah Dion berubah menjadi murung.
“ Hari ini Dean akan pergi ke rumah sakit. Jadi tidak bisa pergi bersamamu. Jangan bersedih, masih ada lain hari.” Nelson menepuk pundak Dion.
“ Baiklah, Ayah akan membawa Dean ke rumah sakit dan Dion bermainlah bersama Kakek dan Nenek. Bersenang-senanglah bersama mereka. Kau mengerti?” Dion hanya mengangguk pelan sembari mengulas senyum di wajahnya.
Setelah berpamitan mereka pun pergi meninggalkan mansion. Nelson pergi menuju rumah sakit sedangkan Bella bersama Dion pergi bersama menuju rumah utama keluarga Hongli.
Bella menghela napasnya. Walau mertuanya sangat baik. Namun, Bella selalu merasa tidak nyaman jika datang bertamu ke rumah utama. Karena keluarga besar Hongli masih ada yang tidak menyukai kehadiran mereka.
Di dalam mobil Nelson membaringkan kepala Dean di pahanya, Dean yang memejamkan matanya sesekali membuka matanya,Nelson yang menyadari itu hanya berkata. “ Tidurlah Ayah akan membangunkanmu jika kita sudah sampai.” Mendengar ucapan ayahnya Dean kembali meneruskan tidurnya. Oliver duduk dengan manis di kursi samping kemudi, sementara yang mengemudi adalah Evan.
Sesampainya di rumah sakit Dean masih tertidur, Nelson dengan enggan membangunkannya. Oliver dengan sigap turun dan membuka pintu di mana Dean duduk. Namun. Nelson mencegahnya saat ingin membawa Dean dalam pelukannya.
“ Biar aku saja.” Nelson mengancingkan jasnya. Lalu membawa Dean dalam gendongannya memasuki area rumah sakit. Sebelum membawanya ke tempat pemeriksaan, Dean tinggal di kamar VVIP terlebih dahulu sembari menunggu gilirannya.
Nelson berdiri di depan jendela, pandangannya tertuju ke arah luar. Ia tengah berbicara dengan seseorang di telepon.
“ Kau sudah bangun, Nak?” Nelson menghampiri Dean yang ada di tempat tidur.
“ Ehm, mengapa Ayah tidak membangunkanku?” Nada suaranya terdengar sedikit kesal.
“ Karena Ayah enggan mengganggumu.” ucapnya seraya mengecup keningnya.
“ Gantilah pakaianmu. Ayah akan menunggumu. Kita akan pergi bersama. Apa kau ingin Ayah membantumu memakaikannya?” Nelson berkata dengan suara yang sedikit menggoda.
“ Aku bukan anak kecil lagi? Aku bisa melakukannya sendiri.” Wajah Dean memerah. Ia tersipu saat Ayahnya menggodanya.
Nelson merasakan ponselnya bergetar ia menatap ponselnya, di dalam layar terdapat nama Andre.
“ Apa terjadi sesuatu?” Nelson bertanya dengan cemas. Terdengar dari seberang telepon suara yang sudah tidak asing lagi.
“ Robin sudah bisa dikunjungi walau terbatas. Aku hanya ingin memberitahumu ini. Dan semalam ia juga dapat bertahan sehingga masa kritisnya sudah lewat.” ucap suara dari seberang telepon.
“ Aku juga berada di rumah sakit, aku akan datang ke sana.” Nelson menutup teleponnya, lalu saat berbalik Dean sudah selesai mengganti pakaiannya.
“ Apa kita akan pergi sekarang?” Dean bertanya seraya memiringkan kepalanya.
__ADS_1
“ Tentu,” Nelson menggandeng tangan Dean, keduanya berjalan menuju ruangan di mana dokter Kevin berada. Tatapan Nelson tertuju pada seorang wanita yang tengah berdiri, raut wajahnya begitu teduh, matanya terlihat sembab. Sudah dipastikan bahwa wanita itu sudah menangis. Nelson menatapnya dengan tatapan dalam, ia ingin menghampirinya. Namun, dia mengurungkan niatnya dan pergi meninggalkannya.
Dean yang berjalan di belakang Ayahnya menatapnya dari arah belakang. Dia memandangi sosok Ayah yang telah memberinya kehidupan. Dean berjalan dengan suasana hati yang sangat baik. Tiba-tiba Nelson berbalik.
“ Mengapa tidak berjalan di samping Ayah?” Nelson menatap anaknya dengan tatapan yang dalam.
“ Aku hanya ingin melihat Ayah dari belakang.” Sembari tersenyum Dean melangkah ke samping Ayahnya. Ia menggenggam erat tangannya dan mengajaknya melanjutkan langkahnya.
“ Ayah siapa wanita itu?” Dean bertanya dengan penasaran.
“ Siapa? Ah, itu adalah wanita yang sangat dicintai oleh paman Robin.” Nelson bicara seraya mengulas senyum di wajahnya.
“ Jika itu wanitanya, mengapa tidak berada di sisi paman Robin?” Dean menghentikan langkahnya. Nelson juga berhenti dia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan putranya. Nelson dengan setengah berlutut bicara pada Dean.
“ Bukannya tidak ingin menemani, tetapi ada sesuatu yang membuat mereka seperti itu! Ayah tidak bisa mengatakan lebih jelas, dan belum tentu juga kau akan mengerti.” Nelson menggendong Dean dan berjalan menuju ruangan Dokter Kevin. Dean menyandarkan kepalanya di bahu Nelson, sesekali senyum hangat terpancar di bibir tipisnya.
Di rumah utama keluarga Hongli Bella dan Dion baru saja sampai. Mereka di sambut oleh Sandra dan juga Leo Hongli yang sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
“ Kakek, Nenek.” Dion yang gembira langsung berhambur menuju keduanya.
“ Cucuku,” Leo membuka lengannya dengan lebar bersiap menerima Dion dalam pelukannya.
“ Dion hati-hati!” Bella turun dari mobil setengah berteriak. Dia membungkuk menyapa keduanya dengan sopan dan hormat.
“ Ibu, Ayah. Apa kabar?” Bella mengulas senyum hangat di wajahnya. Ia memeluk Sandra dan Leo Hongli bergantian.
“ Maaf Ibu, Dean tidak bisa datang karena ada pemeriksaan di rumah sakit.
“ Tidak apa-apa sayang. Masih ada lain hari.” Sandra membawa Bella masuk ke dalam. Di sana telah hadir banyak tetua keluarga Hongli. Ada pula Kenzo beserta kedua orangtuanya.
“ Jangan pedulikan mereka,” bisik Sandra. Setelah menyapa dan memberi hormat ada tetua keluarga Hongli, Sandra membawa Bella ke ruangan lain. Sementara Leo sedang asyik mengajak Dion bermain.
“ Kemarilah!” Sandra meminta Bella untuk masuk ke dalam kamarnya. Namun, dia tidak berani hingga Sandra sendiri yang menyeretnya masuk ke dalam kamarnya.
Bella di dudukkan di sebuah sofa yang ada di ruangannya. Bella melirik sekilas, dia menangkap suasana kamar mertuanya ini sama seperti kamar miliknya, sederhana namun Elegan.
Sandra mengeluarkan sebuah kalung antik yang sangat indah, di dalam liontin itu ada sebuah batu yang berwarna hijau zamrud sama seperti netra yang dimiliki oleh suami dan kedua putranya.
“ Ini apa, Ibu?” Bella kebingungan saat ibu mertuanya menyerahkan kalung tersebut padanya.
“ Ini adalah hadiah turun temurun yang diberikan oleh leluhur kami. Karena Nelson telah menikah jadi aku serahkan padamu, jadi tolong kau jaga baik-baik. jika suatu saat kamu punya anak perempuan atau menantu, kalung itu bisa kau berikan pada mereka.” Sandra memasangkan kalung miliknya di antara leher jenjangnya. Kalung itu tampak indah saat dikenakan oleh Bella.
*
*
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya. Salam sayang dan sehat selalu.🙏😇💪🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹
Bersambung