ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 174


__ADS_3

Nelson mendekatkan tubuhnya, mencoba menepuk bahu istrinya dengan lembut. “ Aku juga baru menyadarinya sekarang, Dion pasti sangat kesepian. Ku harap kita semakin peka terhadap anak-anak. Selama ini kita terlalu fokus untuk kesembuan Dean. Hingga kita melupakan Dion, yang juga membutuhkan perhatian kita.” ujar Nelson seraya memandang ke luar jendela.


Bella hanya menganggukkan kepalanya, kilauan crystal bening itu tak henti-hentinya mengalir di wajah cantiknya.


Di dapur Sandra Hongli tengah memasak, dia menyiapkan berbagai macam makanan, dia begitu bersemangat walau hatinya masih saja merasa cemas. Dia tidak tahu apa yang terjadi di antara putra dan menantunya, akan tetapi setelah melihat interaksi keduanya yang berada di ruang kerja itu membuat dirinya lega. Walau pun dirinya sempat menguping dan mengintip sebentar karena cemas, tetapi tidak apa-apa karena mereka putra dan menantunya.


Karena masalah di antara keduanya hanya masalah sepele saja. “ Aih, anak itu memang pecemburu,” ucapnya pelan. Pelayan yang membantunya pun terheran-heran dengan tingkah Nyonya besarnya.


Para pelayannya serempak menggelengkan kepala mereka, karena tidak mengerti tentang apa yang ada dalam benak majikannya.


“ Tolong siapkan sarang burung waletnya, aku akan memasakkan sup untuk kedua cucu, dan menantuku.” Pinta Sandra pada pelayan yang membantunya.


“ Baik, Nyonya,” seorang pelayan menyerahkan beberapa sarang burung walet yang sudah bersih untuk di masak.


Aroma dari masakan yang telah matang begitu menggugah selera, begitu harum. Siapa pun yang mencium aromanya tak akan bisa untuk menolak, dan tidak memakan hidangannya.


Hidangan yang di sajikan tidak hanya lezat, tetapi penampilannya pun begitu cantik.


Dion dan Dean yang telah bermain pun datang.


“ Ehmm… harum sekali,” ujar Dion yang baru memasuki ruang keluarga. Dia segera berlari kecil menghampiri dapur.


Dion berdiri di depan meja makan, menghirup aroma masakan yang begitu membuatnya lapar.


“ Ah, aku lapar,” ujarnya seraya menyeka bibirnya yang telah basah, saat dia hendak mencicipi satu hidangan, Dean berkata. “ Cuci tanganmu terlebih dahulu, Dion,” suaranya pelan. Namun terkesan mendominasi.


Tangan kanan Dion menggantung, dia hampir saja berhasil, tetapi di hentikan oleh kakaknya. Dia pun menghela napasnya. “ Aku tahu, aku tahu,” ujarnya sedikit kesal.


Sandra menatap pada kedua cucunya, Dean melayangkan senyuman yang begitu lembut pada neneknya. Sandra mengerjapkan matanya tidak percaya melihat cucu sulungnya menampilkan senyuman yang begitu hangat padanya.


Dean berjalan menuju westafel bersanding dengan Dion yang sedang membasuh tangannya. Wajahnya yang cemberut memberi kesan yang begitu menggemaskan.


Dean tersenyum simpul melirik pada adiknya yang tengah cemberut itu.


Setelah selesai membasuh tangannya, Dion segera berhambur ke meja makan. Saat Dean tengah membasuh tangannya dengan air yang mengalir.


Oliver yang berada di luar pun merasa ada yang aneh karena Tuannya tak kunjung keluar, dia menyusul Dean. Tapi sesaat kemudian Dean keluar, terselip sebuah senyuman. “ Apakah aku terlalu lama?” ujarnya pada Oliver.


Oliver menatapnya, dia melirik pada perubahan di wajah Dean. Dia terlihat lebih pucat dari beberapa saat yang lalu.


“ Aku kira Tuan kecil ada dalam masalah, sehingga aku berniat untuk menyusul Tuan,” Oliver yang berdiri di pintu itu menghalangi Dean.


Dean mengulas sebuah senyuman seraya berkata. “ Apa kau bisa bergeser, aku tidak bisa lewat,” ujarnya. Seraya berjalan menuju ruang keluarga.


“ Duduklah,” pinta Dean. Oliver yang mendengar perkataannya pun, mendekat dan duduk di sampingnya.


Dean menyalakan televisi, dia mencari saluran yang bisa dia tonton. Oliver masih terus mengamati perubahan wajah Dean, yang di rasanya cukup abnormal.


“ Berhentilah memandangiku seperti itu,” suaranya begitu rendah hingga yang bisa mendengar percakapan keduanya hanya Oliver saja.


“ Tuan apakah Anda merasa sakit?” Oliver bertanya dengan sedikit khawatir.


Dean hanya tersenyum tipis, dia berkata. “ Tidak apa-apa, hanya sakit sedikit,” ucapnya, seraya mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


“ Tuan kecil.”


Dean menaruh jari telunjuknya di depan bibir tipisnya, mengisyaratkan agar Oliver berhenti bicara.


Oliver terperangah, mulutnya setengah terbuka, dia pun menghela napasnya, lalu berkata. “ Apa saya harus memberi tahu Ayah Anda tentang ini?” Oliver bertanya namun terkesan mengancamnya.


Wajah Dean mengerut, tatapannya begitu tajam, dia tidak percaya Oliver mengancamnya.


“ Berhentilah bicara omong kosong, aku bahkan baik-baik saja. Tidak perlu di perpanjang lagi, jadi diamlah!” Pintanya pada Oliver.


Oliver yang menanggapi perkataan Dean, hanya bisa memijat dahinya yang pening, dia menghela napasnya lalu melangkah pergi meninggalkan Dean yang tengah memejamkan matanya di sofa ruang keluarga.


Oliver masuk ke dalam kamar Dean, mengambil obat-obatan untuk di minum Dean nanti setelah selesai makan malam.


Setelah memasukkannya ke dalam kotak obat, dia membawanya turun, dia meletakkannya di meja tepat di hadapan Dean.


Dean yang sedari tadi memejamkan matanya pun perlahan membuka matanya, dia memicingkan matanya pada Oliver, lalu melirik pada meja, di sana telah tersedia serangkaian obat untuknya. Dean menghela napas panjangnya, lalu kembali memejamkan matanya.


Di meja makan Dion tengah sibuk mencicipi setiap hidangan yang telah tersaji di meja.


“ Nenek, kamu memang hebat,” teriaknya seraya memasukkan kembali makanan ke dalam mulutnya.


“ Dion, makanlah perlahan. Kau bisa tersedak,” teriaknya dari dalam dapur.


Dion tidak menghiraukan perkataan Neneknya, dia terus melahap makanannya hingga akhirnya.


“ Uhuuuk… Uhuuuk, Dion tersedak.


Sandra yang berada di dapur pun segera berlari menghampirinya.


Nelson dan Bella yang baru saja turun, sedikit memicingkan matanya ke arah meja makan.


Nelson mengerutkan dahinya. di liriknya Oliver yang tengah menemani Dean yang sedang memejamkan matanya.


“ Nenek sudah bilang, pelan-pelan,” nada bicaranya sedikit tinggi kala dia berbicara pada Dion karena khawatir.


Dion menelan salivanya dengan kasar, dia kaget. “ Maafkan aku, karena sudah membuat khawatir,” ucapnya lirih.


Nelson dan Bella menghampiri kerumunan, seraya berkata. “ Apa yang terjadi di sini?”


Sandra dan Dion berbalik secara bersamaan. “ Ayah,” ucap Dion pelan.


“Dion apa yang sedang kau lakukan?” Nelson bertanya seraya memijat dahinya yang sakit.


Dion mengulas senyum yang begitu menawan. “ Masakan Nenek sangat harum, membuatku lapar. Aku tidak bisa melewatkan hidangan yang di masak oleh Nenek. Masakannya adalah yang terbaik!” ujarnya. Seraya memberikan senyum yang menggemaskan.


Bella hanya tersenyum melihat tingkah putra keduanya, dengan lembut dia mengusap puncak kepalanya, tetapi saat dia melirik pada Dean, hatinya kembali redup.


Memandang Dean yang tengah memejamkan matanya, memberikan ketakutan tersendiri bagi Bella. Dia takut jika suatu hari nanti Dean tengah tertidur, dia tidak pernah bangun lagi.


Dean terlihat damai dan tenang bahkan ada keributan saja dia tidak bangun.


“ Tuan, Nyonya,” Oliver menyapa keduanya dengan sopan dan hormat.

__ADS_1


Bella tersenyum lembut, dia menghampiri Dean lalu duduk di sampingnya. “ Apa dia tidur?” tanyanya pada Oliver.


Oliver menganggukkan kepalanya, seraya berkata. “ Mungkin Tuan Kecil kelelahan setelah bermain,” ujarnya pada Bella.


Bella memgusap lembut rambut Dean, sesekali dia mengecup lembut pipinya yang tirus. Perlahan Dean membuka matanya, dia tersenyum lembut. “ Ibu,” ucapnya pelan.


“ Apa tidurmu nyenyak?” Bella menatap intens wajah putranya, dia merasa wajah Dean agak pucat.


“ Apa ada yang sakit?” Dia bertanya dengan cemas.


Dean menggeleng pelan. “ Tidak, semua rasa sakitku hilang saat melihat ibu tersenyum. Jadi tersenyumlah ibu. Berhenti menampilkan wajah khawatir seperti itu lagi!” ujarnya pada ibunya.


Bella terdiam sejenak, dia tahu bahwa putranya tengah merasakan sakit. Napasnya terasa begitu berat, matanya kini berkaca-kaca.


Bella mengangguk pelan, seraya mengulas senyum pahit.


Nelson menggendong Dion, seraya menghampiri Bella.


“ Apa kau sudah kenyang?” Bella bertanya pada Dion yang tengah di gendong oleh Nelson.


“ Ehmm,” seraya menganggukkan kepalanya.


“ Dasar tukang makan,” ujar Bella bercanda pada putranya Dion, seraya mencubit pipinya yang cabi itu. Terasa ada perbedaan yang cukup besar saat menyentuh bagian pipi. Dia melirik kembali pada Dean, kini tampak jelas Dean sudah kehilangan berat badan yang cukup banyak.


Bella terisak, dia menghela napas panjang. Matanya kembali berkaca-kaca. Namun, dia mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh.


Nelson yang melihat itu mendekap istrinya, berusaha menenangkannya, dia tidak peduli walau Oliver melihatnya.


“ Tidak apa-apa,” ucapnya lembut.


Dion yang menyadari apa yang membuat ibunya begitu sedih, melirik pada sosok Dean yang tengah memejamkan matanya. Dia menunduk, mengusap lembut puncak kepala ibunya. Seraya berkata. “ Tidak apa-apa ibu, kakak pasti baik-baik saja. Kakak pasti bisa melewati semua ini, jangan bersedih. Kakak saja tidak menunjukkan kesedihannya di depan kita semua.”


Ucapan Dion membuat Bella tersadar, bahwa kedua putranya telah memiliki pemikiran yang begitu dewasa di usianya yang begitu muda. Walau dia tahu kedua putranya memiliki kecerdasan di atas rata-rata, akan tetapi dia tidak menyangka kedua putranya telah tumbuh menjadi anak yang begitu bijaksana.


Dion maupun Nelson mengusap lembut buliran air mata yang tengah mengenang di matanya.


“ Bantulah mommy di dapur,” pinta Nelson pada istri tercintanya.


Bella memperbaiki penampilannya, dia menghirup napas panjang, lalu melangkah menuju dapur.


Sandra yang melihatnya terisak tidak ingin banyak bertanya, Bella membantu mertuanya menyiapkan makanan, dan menghidangkannya di meja makan untuk makan malam.


“ Bella, semuanya akan baik-baik saja, jangan bersedih. Lihatlah Dean, dia bahkan melupakan rasa sakitnya saat bersama kalian.”


Bella mengalihkan pandangannya, tatapannya jatuh pada Dean yang tengah tersenyum lebar bersama dengan Adik, serta Ayahnya, tak lupa juga Oliver yang tengah bersenda gurau dengan mereka bertiga.


Raut wajahnya terlukis sebuah kebahagiaan yang tak ternilai, dia tidak tampak seperti orang sakit pada umumnya. Dean sangat ceria walau kadang sikapmya dingin terhadap orang lain. Tetapi jika bersama keluarga terdekatnya dia lebih sering tersenyum, seperti saat ini.


Bella memindahkan lauk terakhir ke dalam piring besar. Dia membawanya ke meja makan, tampak banyak hidangan yang tersaji di meja makan. Hingga sup sarang burung walet pun ada, sungguh mewah makan malam hari ini.


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹


Bersambung


__ADS_2