ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 117


__ADS_3

Nelson memejamkan matanya menahan air mata agar tidak jatuh membasahi wajahnya yang tampan.


Nelson menampilkan senyuman terbaiknya seraya berkata. “ Tentu saja. Dia di rawat, dan di jaga dengan baik di sana,” ucapnya.


Bella menghirup napas beratnya dan berkata. “ Aku merasa sangat bersalah padanya. Aku tidak memperhatikan kedua putraku dengan baik.”


“ Rasanya itu semua adalah kesalahanku, membiarkannya melewati rasa sakitnya sendirian,” ucap Bella begitu lirih.


Tak terasa air mata Nelson pun menetes. Mengalir begitu saja, membasahi wajah tampan Nelson. Hatinya begitu hancur kala Bella menyalahkan dirinya sendiri.


“ Aku juga bersalah dalam hal ini. Jika saja aku bertemu dengan kalian lebih cepat. Kau dan anak-anak tidak akan semenderita ini,” ungkap Nelson yang tidak bisa lagi membendung kesedihannya yang teramat dalam.


Nelson memeluk Bella begitu erat, seakan tak ingin dia menjauh darinya. Berulang kali meminta maaf yang tak terhitung jumlahnya.


Nelson kembali menidurkan Bella. Dia berjalan keluar kamar. Di luar sudah ada Dion yang sedang berdiri di depan pintu kamar.


Nelson menundukkan kepalanya, saat melihat wajah putranya.


Dion bertanya. “ Apakah ibu tidak bangun?”


Nelson menggelengkan kepalanya.


“ Aku akan mencoba bicara pada ibu,” ucap Dion.


“ Dion, Ayah mohon bujuklah ibumu,” ucap Nelson lirih.


Dion terdiam, baru kali ini dia melihat ayahnya begitu putus asa. Dion tersenyum seraya berkata. “ Tenanglah Ayah,” ucapnya.


Dion mendorong pintu kamar, dia melihat ibunya yang terbaring di tempat tidur. Dion mendekat, di ciumnya kening ibunya dengan lembut seraya berkata. “ Ibu bangunlah. Ibu harus makan, jika tidak makan ibu akan sakit,” ucapnya.


“ Tidak benar bukan jika ibu terpuruk di sini? Sedangkan Dean sedang berjuang di sana.”


Bella yang merasakan kehadiran Dion pun mencoba membuka matanya perlahan. Dion dengan penuh senyuman menyambut ibunya.


“ Ibu. Ayo kita makan. Ayah sudah menunggu kita,,”ucapnya.


Bella kembali terisak, meminta maaf dengan setulus hati. “ Maafkan ibu Nak, maafkan ibu,” ucapnya berulang kali.


Dion hanya menundukkan kepalanya, mencoba mengusap puncak kepala ibunya. Dengan begitu lembut dia menyetuhnya seraya berkata. “ Tidak apa-apa ibu. Tenanglah.”


“ Jangan murung seperti ini. Dean tidak akan menyukainya,” ungkap Dion.


Bella kembali menatap nanar putranya Dion.


“ Ibu kau tahu, aku dan Dean sangatlah mengagumimu. Kami berdua sangat mencintaimu lebih dari apa pun.”


“ Walaupun orang berkata tidak-tidak tentangmu, kami tidak peduli. Karena yang lebih tahu ibu, adalah kami berdua.”

__ADS_1


“ Meskipun orang berkata bahwa ibu adalah ibu yang buruk. Namun, bagi kami ibu adalah yang terbaik,” dengan senyuman dia mengutarakan isi hatinya.


Bella yang mendengarkan perkataan Dion pun terdiam sejenak. Dalam batinnya dia berkata. “ Kau putra yang sangat bijaksana, begitu beruntungnya aku.”


“ Jadi apakah ibu akan pergi makan bersamaku?” tanya Dion.


Bella sedikit menampilkan senyuman cantiknya. Kini wajahnya berseri kembali. Kini Bella menyadari tidak seharusnya dia terpuruk di saat putranya tengah berjuang.


Bella bangkit dari tidurnya, dia menatap mata Dion. Seakan dia tahu bahwa Dion juga tahu akan kesedihannya. Bella menangis, seraya memeluk Dion.


“ Maafkan ibu Nak, seharusnya ibu tidak seperti ini!” ucap Bella.


Dion membalas pelukan ibunya. Di tatapnya wajah Bella. Dion menghirup napas beratnya seraya berkata. “ Matamu terlihat sembab. Berhentilah menangis. Mari berjuang bersama-sama. Jangan biarkan Dean sendirian,” ucapnya.


Bella tersenyum seraya berkata. “ Kau benar. Seharusnya ibu tidak seperti ini.”


Dion beranjak dari tempat tidur, dia berjalan masuk ke kamar mandi. Sesaat kemudian terdengar suara air mengalir. Dion keluar dari kamar mandi, dengan lembut dia berkata. “ Mandilah ibu. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Jadi pergilah mandi,” ucapnya.


Bella merasakan kehangatan dalam hatinya. Seraya tersenyum dia berkata. “ Tunggulah di bawah, ibu akan segera turun,” ucapnya.


Dion pun menganggukkan kepalanya, seraya melangkahkan kakinya keluar kamar.


Di luar kamar Nelson telah menunggu. Sedari tadi dia mendengarkan percakapan keduanya. Nelson tersenyum pada Dion, seraya mengajaknya untuk turun ke bawah.


Di dapur semua pelayan sedang sibuk membuatkan makanan untuk makan malam.


“ Baik, Tuan muda,” ucap koki.


Nelson duduk di sofa ruang keluarga bersama Dion. Dion berada dalam pelukan Nelson. Mereka terlihat begitu akrab dan harmonis. Semua orang yang berada di Mansion begitu kagum akan kebersamaan keduanya. Mansion terasa begitu hangat.


Di sisi lain Sahabat Nelson telah sampai di Quebec, Kanada.


Mereka berempat sampai di Hotel milik Nelson. “ Ah. Akhirnya kita sampai,” ucap Robin.


“ Kau benar. Perjalanannya begitu melelahkan,” ucap Ronald.


“ Apakah kau sudah memesan kamar?” Tanya Andre.


“ Tentu saja. Aku sudah memesannya. Lagi pula mereka tahu bahwa kita akan datang ke sini,” ucap Yohan.


Mereka yang berada di mobil, terlalu lelah hingga memejamkan mata mereka untuk istirahat sejenak.


Mereka yang sudah sampai di Hotel pun segera di sambut oleh pihak Hotel. Mereka kemudian di antarkan ke kamar mereka masing-masing. Barang bawaan pun sudah di antar ke kamar mereka.


“ Ayo kita pergi ke tempat Evan,” ucapa Ronald.


“ Apakah kau tidak lelah setelah perjalanan panjang ini?” tanya Andre.

__ADS_1


“ Ayo kita pergi ke sana. Kita harus mentraktirnya makan enak,” ucap Robin.


“ Baiklah, sudah di putuskan kita akan menuju kamar Evan,” ucap Yohan.


Setelah membersihkan diri mereka masing-masing mereka menuju kamar di mana Evan dan Dean tinggal.


Ting… tong.. ting… tong.. suara bel berbunyi.


Oliver segera membuka pintu kamar, dan terlihatlah sekelompok orang memenuhi pintu kamar.


“ Maaf Tuan-tuan, ada yang bisa saya bantu?” ucapnya.


“ Siapa dia? Bukankah ini kamarnya?” ucap Yohan kebingungan.


Andre bertanya. “ Maaf Tuan. Bukankah ini kamar yang di tempati oleh Evan?”


Oliver pun segera sadar dan segera bertanya.


“ Apakah Tuan-tuan mencari Tuan Evan? Sekretaris Tuan Nelson?” tanyanya .


“ Ya. Ya kau benar. Apakah dia ada di dalam?” ucap Robin.


“ Ada Tuan. Silahkan masuk,” ucap Oliver.


Mereka berempat pun memasuki kamar. Ada yang duduk di sofa, ada pula yang mencari makanan, dan ada pula yang memandangi keindahan kota Quebec, dari jendela kamar.


“ Kalian sudah datang?” ucap Evan.


“ Hei-hei. Mengapa kau formal sekali?” tanya Yohan.


“ Di mana? Di mana anak itu?” ucap Robin penasaran.


Evan berkata. “ Dia sedang mandi,” ucapnya.


“ Apa yang terjadi? Mengapa wajahmu begitu muram?” tanya Andre.


“ Tidak ada. Mungkin aku hanya lelah,” jawab Evan.


“ Kau pasti lelah, aku akan meminta Nelson menaikkan gajimu,” ucap Andre. Seraya memijat bahu Evan.


“ Paman Evan, siapa yang datang?” ucap Dean.


Semua orang kaget kala melihat wajah Dean. Walaupun mereka sudah bertemu dengan Dion. Namun, mereka masih saja terkejut.


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹🌹


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2