ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 175


__ADS_3

“‘panggillah mereka ke mari, makanan telah siap.” Pinta Sandra pada menantunya.


Bella menghampiri mereka yang tengah berada di ruang keluarga. “ Makan malam sudah siap, ayo ke meja makan!” ujar Bella pada semua orang.


“ Ayo,” Nelson bangkit memgajak kedua putranya untuk makan malam, tidak lupa dia mengajak Oliver untuk makan bersama. Wajah pucat Dean tidak menghalangi antusiasnya untuk mencicipi masakan yang di buat oleh Nenek tercintanya.


Setelah mereka duduk, mereka makan dengan antusias. Hidangan yang begitu banyak bahkan habis seketika. Namun, tidak dengan Dean, dia hanya makan sedikit lalu meninggalkannya.


Setelah makan malam, semua orang duduk di sofa ruang keluarga, Oliver pergi ke dapur untuk membawa tempat air minum, dan gelas agar Dean bisa minum obat.


Nelson melirik pada obat yang akan di komsumsi oleh putranya, tampak lebih banyak dari sebelumnya.


Oliver mengeluarkan satu persatu pil obatnya, lalu menyerahkannya pada Dean untuk segera di minum.


Semua orang saling memandang. Namun, tak ada satu orang pun yang bicara. Mereka tahu minum obat bukanlah hal yang menyenangkan, bagi mereka yang sakit mungkin itu sudah menjadi rutinitasnya setiap hari seperti Dean saat ini.


Semua orang telah kembali ke kamarnya masing-masing. Sedangkan Nelson masih berada di ruang keluarga menemani Dion bermain.


“ Dion, sudah malam. Kita akhiri bermainnya, kau harus istirahat.” Ujar Nelson pada putranya.


Dion bukanlah anak yang keras kepala sehingga dia menurut dan pergi naik ke kamarnya.


Saat Nelson akan kembali ke kamarnya, samar-samar dia mendengar suara percakapan kedua putranya. Dia tertegun menatapi putranya yang tengah kesakitan, seraya di peluk oleh Dion yang telah berderai air mata, dari balik celah pintu yang tidak tertutup rapat. Matanya berkaca-kaca, menyaksikan adegan yang membuat hatinya hancur. Dia bersandar di dinding, memejamkan kedua matanya, buliran air mata membasahi wajah tampannya.


Terdengar percakapan keduanya. “ Aku sudah tidak apa-apa, kembalilah ke kamarmu.” ujar Dean pada adiknya.


“ Tak bisakah aku malam ini tidur denganmu? Izinkan aku bersamamu.” Pinta Dion dengan nada suara memohon.


Wajah yang pucat itu tampak mengulas senyum yang di paksakan, dia mengangguk pelan, tanda setuju atas permintaan adiknya.


Tangan kecilnya menyentuh pipi Dion, mengusapnya dengan lembut. “ Jangan menangis lagi, seorang laki-laku pantang untuk menangis.”


Dion menahan emosinya, tak kuasa menahan kesedihannya, dia menggigit bibir bawahnya, berusaha agar tangisnya tidak pecah.


Di belakangnya Oliver mengusap panggung Dion. “ Menangislah jika itu membantu meluapkan emosimu.”


Nelson ingin masuk, akan tetapi dia tidak ingin anak-anaknya melihat dia tengah menangis, dia hanya memejamkan matanya, membiarkan buliran air matanya mengalir begitu saja. Dia memandang ke atas berharap air matanya berhenti mengalir. Dia yang terisak pun melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya yang berada di dekat kamar Dean dan dion.


Nelson memasuki kamar, tampak istrinya telah tertidur. Nelson duduk, dia kembali terisak tak kuasa menahan emosinya.


Bella yang tengah tertidur pun, pelan-pelan membuka kedua matanya, samar-samar dia mendengar seseorang tengah menangis. Bella yang masih mengantuk itu mengucek kedua matanya.


“ Suamiku, Apa itu kamu?” Tanya Bella.


Nelson yang mendengar suara Bella pun berhenti menangis. Dia tersenyum simpul pada istrinya. “ Kamu bangun?”


“ Ada apa? Mengapa menangis?” Bella kembali bertanya, karena tidak biasanya Nelson menangis seperti itu.


“ Tidak apa-apa, tidurlah. Maaf karena sudah mengganggumu.” Nada bicara Nelson terdengar begitu berat, seakan memikul beban yang begitu berat di pundaknya.


Bella beranjak dari tempatnya, dia bergeser menuju suaminya yang berada di sisi lain tempat tidur. Dia memeluknya dari belakang begitu hangat dan lembut. Kedua tangannya berpegang erat di tubuh Nelson.


Nelson yang sedari tadi menunduk pun memgangkat dagunya, menatap Bella yang tengah bersandar di bahunya.

__ADS_1


“ Apa yang terjadi?” Bella bertanya pada suaminya.


Nelson mengulas senyum pada Bella walau matanya masih berkaca-kaca. Namun, dia tetap memaksakan sebuah senyuman.


“ Setiap kali dia merasa kesakitan hatiku begitu hancur di buatnya. Apakah kita mampu bertahan sampai akhir? Bahkan, sekarang aku tidak sanggup. Nelson berbisik di sebelah telinga Bella.


Bella yang mendengar perkataan suaminya itu, tertegun sejenak. Dia mengusap punggung Nelson pelan. “ Kita bisa melakukannya, jika kita tidak tegar, bagaimana kita berhadapan dengan Dean? Walau hati ini tidak kuat. Namun, kita akan berjuang bersama hingga Dean berhasil sembuh. Walaupun kemungkinannya rendah sekali pun aku ingin tetap memperjuangkan hidup putraku. Mungkin aku sedikit egois suamiku, tapi jangan pernah berhenti untuk mendukungnya.” Bella tersenyum. Dia menatap wajah suaminya dengan tatapan yang begitu dalam.


“ Sebaiknya kita tidur, malam sudah semakin larut,” Bella mengajak suaminya untuk segera tidur.


Keesokan harinya.


Karena Nelson sedang banyak pekerjaan, sehingga dia sibuk tidak bisa menemani kedua putranya untuk jalan-jalan.


Sejak berada di rumah sakit, Dean selalu menginginkan untuk pergi ke tempat bermain. Sehingga kali ini ibunya, Bella dan Oliver yang menemani keduanya.


Di sisi lain.


Mira Yu yang telah menyusun rencana bersana Linny Su pun terus mengintai, dia ingin mencari kesempatan untuk melakukan aksi jahatnya. Dan kesempatan itu pun tiba. Mira tanpa segan menyewa anggota mafia untuk melancarkan aksinya. Setelah sekian lama mereka menunggu akhirnya dia mendapatkan kesempatan di mana anak-anak itu tanpa pengawasan orang dewasa di sekitarnya.


“ Dion ambil ini,” pinta Bella seraya menyerahkan segelas minuman. Namun saat Bella berbalik kedua putranya menghilang dengan sekejab mata.


“ Dion.” Bella berteriak mencari keberadaan keduanya. Dia juga tidak menemukan sosok Dean dan juga Oliver.


“ Ibu,” Bella berlari menuju ibu mertuanya yang tengah menunggu di area taman bermain.


Sandra yang melihat Bella terlihat begitu panik pun bergegas untuk menghampiri Bella. Napasnya tersengal-sengal sebab dia berlari hingga ke sana. Di raut wajahnya tersirat sebuah kekhawatiran.


“ Apa ibu melihat Dion?” Bella bertanya dengan gugup.


Sandra tetap menggelengkan kepalanya, tanda dia tidak melihat mereka sama sekali. “ Terakhir kali melihat Dean dan Oliver saat mereka berpamitan untuk pergi ke toilet.” ujarnya pada Bella.


Raut wajah Bella menjelaskan bagaimana paniknya dia, sekarang.


“ Ibu, bagaimana ini? Aku takut sesuatu terjadi pada mereka berdua.


Bella berlari menuju pusat informasi, mereka mencoba untuk memanggil kedua putranya di pusat informasi, berharap mereka hanya tersesat. Namun, tak ada yang datang satu pun dari mereka.


“ Ibu bagaimana ini?” Bella sangat panik, tubuhnya bergetar. Begitu juga dengan Sandra. Mereka bahkan meminta staf taman bermain untuk mencari ketiga orang itu.


“ Bella kau harus memberitahu Nelson kejadian ini. Ibu merasa sesuatu yang buruk akan terjadi,” ucapnya seraya memegang erat tangan Bella.


Bella meraih ponselnya yabg berada dalam tasnya. Dia menekan beberapa digit nomor lalu panggilan pun terhubung.


Drrrttt…Drrrttt… Ponsel Nelson bergetar. Namun, belum sempat di angkat karena dia berada di ruang rapat.


“ Bagaimana?” Sandra bertanya dengan gelisah.


Matanya yang telah berkaca-kaca pun menatap Ibu mertuanya, dengan pasrah Bella menggelengkan kepalanya.


Di sisi lain taman bermain seseorang melaporkan bahwa ada seorang pria yang tengah terluka dan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ciri-virinya memgarah pada perawakan Oliver.


Bella bersama Sandra menuju rumah sakit di mana Oliver tengah di tangani.

__ADS_1


Di kantor, Nelson mendapati ponselnya terdapat banyak panggilan dari istrinya Bella.


“ Ada apa? Mengapa banyak sekali panggilan masuk?” Nelson menatap layar ponsel yang menampilkan panggilan tak terjawab. Dia pun menghubungi balik nomor istrinya.


Di rumah sakit di mana Oliver sedang di beri pertolongan, saat Bella sampai ponselnya berdering. Di lihatnya dari layar adalah suaminya Nelson yang menghubungi. Terdengar dari seberang telepon. “ Ada apa? Mengapa banyak sekali panggilan darimu?”


“. Suamiku,” suaranya bergetar kala bicara pada Nelson.


“ Ada apa?” Nelson bertanya dengan tidak sabar.


“ Aku kehilangan anak-anak,” ucapnya lirih.


“ Apa yang sebenarnya terjadi?”


Samar-samar seseorang tengah berteriak, memanggil Bella. “ Bella, itu benar Oliver, yang terluka adalah Oliver,” Sandra setengah berteriak.


“ Suamiku tunggu sebentar, aku akan menemui Oliver. Aku akan bertanya padanya lebih dulu.” Bella meminta Nelson untuk menunggu tanpa menutup teleponnya.


Oliver masih merasakan sakit di kepalanya, dia yang baru siuman itu membelalakkan matanya. Mengingat kembali kejadian sebelumnya.


“ Tuan muda,” teriaknya hingga mengagetkan pasien lain.


“ Oliver,” panggil Bella.


“ Nyonya, Tuan muda!” wajahnya tersirat kepanikan.


“ Apa yang terjadi denganmu? Bagaimana dengan Dean? Apa kau melihat Dion? Di mana mereka berdua?” Bella memberondong banyak pertanyaan pada Oliver.


Sorot matanya menjadi kosong, dia tahu apa yang terjadi pada Tuannya.


“ Nyonya maafkan saya, saat saya selesai mengantar Tuan muda, ada dua orang laki-laki yang menghalangi jalan kami. Saya bertanya pada mereka ada urusan apa? Akan tetapi tiba-tiba ada yang menghantam kepala belakang saya. Di situ saya tersungkur, pandangan juga kabur, samar-samar saya melihat Tuan muda tengah di bawa paksa orang itu.” ujar Oliver penuh penyesalan.


Selepas mendengar kesaksian Oliver, tubuh Bella bergetar, tatapannya kosong, darahnya seakan berhenti mengalir dalam tubuhnya. Ponsel di tangannya bahkan lepas dari genggamannya.


“ Halo, Bella… istriku” suara terdengar dari dalam ponsel yang jatuh.


Di dalam mobil Van.


Dean dan Dion tengah tidak sadarkan diri, mereka di bawa oleh segerombolan orang yang berpakaian serba hitam.


Tampak dua orang tengah mengapit Dean dan Dion di kursi penumpang, sedangkan dua lainnya berada di kursi depan dan kursi kemudi. Mereka bagaikan binatang yang haus darah, wajah yang begitu sangar menimbulkan kesan berbahaya.


Mereka berdua di bawa ke sebuah gudang tua yang sudah terbengkalai, di sana cukup terpencil, sehingga tidak terdengar suara kendaraan yang berlalu lalang.


Di sisi lain.


Tubuh Bella bergetar hebat, dia begitu panik, tatapannya begitu kosong. Sandra juga sama cemasnya.


Di bangsal rumah sakit Oliver tengah dimintai keterangan atas hilangnya kedua putra Bella. Mereka awalnya acuh tak acuh, dalam menangani kasus hilangnya Dean serta Dion. Namun, setelah mereka mengetahui anak yang hilang itu adalah anak dari Nelson, orang yang berpengaruh dalam negeri, mereka pun dengan sigap melayani.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2