
Nelson kini berada di depan kamar Dion. Setelah mengetuk pintu beberapa kali dia kemudian masuk ke dalam. Terlihat Dion sedang duduk di tepi ranjangnya, dia sedikit termenung tatapannya tertuju ke arah luar.
“ Dion.” Terdengar suara dengan nada yang begitu rendah namun, terdengar berwibawa dan tegas. Dion berbalik, dia menatap Ayahnya yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Dia memaksakan sedikit senyuman di wajahnya.
“ Ada apa Ayah?” Dion sedikit enggan melihat ke arah Ayahnya. Nelson berjalan menghampiri Dion, dia mencoba mensejajarkan tubuhnya dengan wajah Dion. Sehingga saat Nelson bicara Dion dapat menatap mata Ayahnya.
“ Ada apa? Apa yang membuatmu tidak nyaman?” Nelson bertanya dengan penuh kasih. Dion menangkap sorot mata Ayahnya yang begitu teduh.
“ Ayah, aku tidak apa-apa! Aku hanya sedikit kesal karena Ibu terus-terusan menggodaku.” Saat bicara Dion menatap wajah Nelson.
“ Jadi sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mengapa Ibu menggodamu?” Nelson kembali bertanya. Kini Nelson setengah berlutut di hadapan Dion.
“ Hari ini aku bertemu dengan seorang anak perempuan yang dikenalkan oleh Kakek dan Nenek. Anak itu baik dan sangat manis. Saat acara makan aku memang menyukainya, tapi entah kenapa saat Ibu menggodaku, aku sangat kesal? Aku juga tidak tahu apa artinya?” Di raut wajahnya terlukis kesedihan. Mendengar perkataan Dion, Nelson duduk di sampingnya. Tangan yang besar dan kekar namun lembut itu membelai rambut Dion dengan penuh Cinta dan kasih sayang.
“ Ayah tidak tahu untuk soal kau jadi kesal pada ibumu karena apa? Tetapi, menurut Ayah kau hanya tidak ingin ada seseorang yang mengusik kesenanganmu. Itu semua tidak apa-apa. Tetapi, kau jangan bersikap seperti itu. Saat kau merasa kesal atau marah pada seseorang. Jangan melampiaskan kekesalanmu pada orang yang tidak tahu apa-apa.” Dion sedikit bingung dengan perkataan Ayahnya. Ia merasa bahwa dirinya tidak seperti itu.
“ Ayah, aku bahkan tidak bersikap seperti itu!” Dion menatap mata Nelson dengan tidak percaya. Nelson hanya tersenyum saat mendengar ucapan putranya Dion.
“ Kau bahkan mengabaikan Ayah yang berdiri di depanmu. Padahal Ayah tidak tahu apa pun.” Dion membelalakkan kedua matanya. Ia mencoba mengingat-ingat tentang apa yang dilewatkan olehnya.
“ Ah!” Dion menyadarinya. Dia kembali menatap Nelson dengan perasaan bersalahnya. “ Maaf Ayah, aku tidak seharusnya seperti itu! Aku janji tidak akan melakukannya lagi.” Nelson menggenggam kedua tangan Dion lalu berkata.
“ Anak baik! Pergilah mandi, Ayah masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan.” Nelson mengecup keningnya lalu pergi meninggalkannya. Sebelum bekerja Nelson selalu memeriksa ponselnya. Melihat apa ada kabar tentang Robin. Nelson menutup kembali ponselnya lalu berjalan masuk ke ruang kerjanya.
Tok… tok… tok.
Suara pintu di ketuk dari luar. Sedetik kemudian Bella terlihat dari balik pintu. Dia mengulas senyum padanya. Nelson membalas dengan senyum yang begitu menggemaskan.
“ Apa aku bisa masuk?” Tanya Bella sembari mengedipkan sebelah matanya.
“ Bukankah kamu sudah masuk? Lalu untuk apa bertanya?” Nelson sedikit menggodanya. Sedangkan Bella hanya tertawa saat mendengar perkataan suaminya itu. Dia berjalan menghampiri Nelson yang sedang bekerja di balik mejanya. Bella merangkul lehernya, menciumnya dengan nakal.
“ Apa yang kamu mau?” Nelson bertanya sembari mengecup pipi istrinya yang masih bergelayutan di lehernya. Bella menggelengkan kepalanya.
“ Bagaimana hasil pemeriksaan Dean?” Bella bertanya dengan penasaran.
“ Semuanya baik-baik saja. Dan hasilnya juga baik.” Nelson berbicara sembari memutar kepalanya agar berhadapan dengan istrinya.
“ Minggu ini Dean akan melakukan kemoterapi untuk yang pertama. Aku hanya bisa berharap agar putra kita baik-baik saja.” Nelson memegang tangan Bella, menatapnya dengan dalam.
__ADS_1
“ Aku juga berharap seperti itu, aku yakin jika Dean pasti bisa melewatinya. Karena dia sangat kuat dan tangguh.” Bella menunjukkan senyuman manis di bibirnya yang tipis.
“ Ah! Bagaimana kamu bisa menggodaku hanya dengan senyuman saja? Kamu benar-benar membuatku candu. Aku bahkan tidak bisa untuk tidak menginginkanmu!” Nelson mendudukkan Bella di antara salah satu pahanya. Tak henti-hentinya Nelson memandangi istrinya yang ada di hadapannya. Tatapannya bagaikan predator yang menahan lapar.
Gejolak di hatinya semakin membara kala Bella duduk di pangkuannya. Raut wajah Nelson penuh pengharapan pada Bella yang masih termangu mencerna situasi yang sedang terjadi di hadapannya. Tanoa disadari Nelson telah membawa Bella menuju sofa yang ada di ruang kerjanya. Di dudukkannya secara perlahan. Nelson menyeringai saat Bella tengah tertunduk malu. Tingkahnya tersebut membuat Nelson gemas sendiri.
Di rumah sakit.
Di alam bawah sadar Robin. Di sebuah ladang ranjau yang telah diamankan. Robin terbangun langit telah berganti. Cahaya matahari di sore hari membuat langit berwarna merah. Seorang wanita tengah berdiri di antara cahaya yang menutupinya. Robin merasakan silau di kedua matanya, dia mencoba bangkit dari tidurnya. Robin duduk memandangi wanita yang tersenyum hangat sembari membawa setangkai bunga liar.
“ Lihatlah bunga ini, indah bukan?” Gisel memperlihatkan bunga yang sedang di genggamnya pada Robin.
“ Ehm, ini sama indahnya denganmu!” Robin bangkit. Dia memeluk Gisel dari belakang. Keduanya memandangi langit yang semakin merah. Dia mencium pipinya sesekali.
“ Di mataku kaulah yang terindah. Aku bahkan tidak bisa berpaling darimu. Saat yang selalu di rindukan oleh keduanya adalah menghabiskan waktu bersama.
Satu tangannya menyentuh lengan Robin. Sedang satunya lagi tetap memegang setangkai bunga liar. Gisel tampak menikmati saat melihat matahari terbenam bersama Robin. Perlahan cahaya itu mulai tenggelam. Robin mengecup kening Gisel dengan lembut dan penuh cinta.
“ Senja tertelan kegelapan, kau tahu jika senja selalu datang walau entah kapan waktunya. Dan itu seperti diriku, aku akan berusaha mendapat pengakuan dari Ayahmu. Akan kubuktikan jika aku pantas untuk bersamamu.” Robin mendekap tubuh Gisel dengan erat. Sembari menyaksikan senja yang berganti dengan gelapnya malam.
“ Robin,” suara lembut itu terus terngiang-ngiang di telinganya.
“ Gisel, Gisel,” hanya nama itu yang keluar dari mulutnya. Dengan lemah Robin memanggilnya berharap Gisel berada di sampingnya.
Seorang perawat baru saja masuk, dia begitu kaget saat mendapati Robin telah siuman. Perawat segera menekan alat di samping tempat tidur pasien.
“ Tuan, apa Anda mendengar suara saya? Jika iya, maka kedipkan mata Anda.” Robin mendengar semua perkataan perawat. Dengan lemah dia mengedipkan matanya. Sang perawat mengamati dengan seksama. Dan seperti yang di harapkan Robin telah siuman walau kondisinya masih lemah. Tak berapa lama Dokter berdatangan untuk memeriksa keadaan Robin yang baru saja siuman. Kabar gembira ini tersiar di seluruh penjuru negeri, berita yang selalu di tunggu-tunggu oleh khalayak banyak. Yohan dan Andre yang selalu menunggui di luar ruangan segera menghubungi Nelson. Berita gembira itu sampai ke telinga Revan.
Gisel sejak kemarin berdoa di depan Altar, dia terus berlutut hingga kedua kakinya mati rasa. Gisel berdoa dengan tulus untuk meminta kesembuhan Robin. Pria yang sangat dicintai olehnya sejak dulu hingga sekarang.
“ Gisel, Robin sudah siuman.” Revan segera menemui Gisel sesaat setelah mendapat kabar dari orangnya yang ada di rumah sakit tempat Robin di rawat. Gisel mengulas senyum saat mendengar kabar itu. Namun, saat ia hendak bangkit tiba-tiba tubuhnya hilang keseimbangan. Gisel menatap lemah Kakaknya. Seketika ia hilang kesadaran.
“ Gisel!” Revan meraih tubuh Adiknya. Dia mengguncang tubuh kurus itu di pangkuannya. Seberapa keras ia memanggilnya tetap tidak ada jawaban darinya. Revan segera membawanya ke kamar membaringkannya lalu memanggil Dokter untuknya.
“ Robin.” Dalam gumamnya Gisel selalu memanggil nama Robin tanpa henti.
“ Mengapa demamnya begitu tinggi?” Revan segera mencari baskom dan handuk untuk merawat Gisel sembari menunggu Dokter tiba.
Di sisi lain.
__ADS_1
Nelson yang berada di kantor bersama dengan Dean. Dia mengajak Dean ke kantor sebelum pergi mengunjungi Robin yang berada di rumah sakit. Saat Nelson berada di ruang rapat ponselnya terus bergetar. Dia melirik sedikit ke arah meja. Di layar tampak nama Andre yang menghubunginya. Dengan sopan dia berpamitan keluar untuk menjawab panggilan.
“ Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Robin?” Nelson bertanya dengan cemas.
“ Robin telah siuman. Sekarang sudah di pindahkan ke bangsal rawat inap.” Terdengar suara Andre begitu gembira kala menyampaikannya.
“ Syukurlah, aku akan segera ke sana.” Nelson menutup ponselnya. Dia berjalan menuju ruang rapat. Di dalam sana semua orang heran karena tidak biasanya seorang presdir menjawab panggilan dari seseorang saat sedang rapat.
“ Maafkan aku, rapat hari ini sampai di sini saja. Aku ada urusan yang lebih penting dari ini.” Nelson membereskan barangnya lalu berjalan keluar meninggalkan semua orang yang masih kebingungan.
Saat tiba di ruangan miliknya Nelson mendapati Dean lagi tiduran di sofa, dia membangunkan Dean, lalu berkata. “ Ayah akan pergi ke rumah sakit. Apa kau mau ikut dengan Ayah?” Dean memutar kepalanya, sejenak ia menatap mata Nelson.
“ Apakah terjadi sesuatu pada paman Robin?” tanya Dean.
Nelson tersenyum. lalu berkata. “ Paman Robin baru siuman, apa kau ingin ikut bersamaku?” Saat mendengar perkataan Ayahnya di raut wajahnya terlukis kebahagiaan yang tidak bisa di katakan olehnya. Yang bisa ia lakukan hanya menganggukkan kepalanya.
“ Baiklah, ayo kita pergi!”tetapi sebelum pergi Nelson memasangkan mantel untuk Dean. Evan yang melihat interaksi Ayah dan Anak itu terharu atas tindakan kecil yang dilakukan Nelson yang terkenal angkuh dan dingin itu.
Nelson menggenggam tangan Dean dengan begitu erat. Semua mata tertuju pada keduanya. Mereka baru tahu jiak presdir yang biasanya tidak tersenyum itu kini tertawa bahagia kala bersama dengan putra sulungnya. Orang-orang di perusahaan juga tidak kalah heboh saat tahu jika Nelson membawa putra sulungnya ke kantor karena biasanya yang di bawa adalah putra keduanya.
“ Ayah, aku lelah bisakah kau menggendongku?” Dean sedikit bersikap manja pada Ayahnya. Bukannya Nelson marah tetapi dengan senang hati dia menggendongnya hingga ke mobil.
“ Aku ingin mendapatkan seorang suami seperti Presdir.”
“ Aku juga, tetapi apakah masih ada pria seperti Presdir?” Para pegawai wanita terus berkhayal, calon suami mereka kelak seperti setelah melihat interaksi antara Nelson dan Dean.
Mobil Bentley hitam milik Nelson segera membelah jalanan yang sepi pengendara setelah di guyur hujan.
Di rumah sakit.
Robin telah di pindahkan ke bangsal VVIP. Walau masih lemah tetapi Robin masih terus mencari-cari wanitanya. Robin mengedarkan pandangannya yang bisa dia temukan hanyalah Andre dan juga Robin.
*
*
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹
Bersambung
__ADS_1