ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 168


__ADS_3

Nelson hanya memberikan tatapan dingin, pada keduanya. Lalu mengalihkan pandangannya pada istrinya yang terpaku kala melihat adegan yang merusak suasana di depannya.


“ Apa kamu tidak apa-apa?” Nelson bertanya dengan tatapan yang dalam pada istrinya.


“ Ehm, tidak apa-apa,” seraya menganggukkan kepalanya pelan. Namun, terlihat jelas dirinya begitu khawatir.


“ Ayo,” Nelson mengajaknya masuk, untuk memberikan penghormatan terakhir pada mendiang.


Mira yang masih di bakar emosi itu, kembali bangkit dari duduknya saat melihat kedatangan Nelson dan Bella.


Jauh di lubuk hatinya Mira sangat membenci Nelson, dan juga Bella. Namun, dia tidak bisa menunjukkannya di khalayak ramai. Di tambah dia tidak memiliki apa-apa saat ini.


Setelah meletakkan setangkai bunga krisan warna putih, mereka berdua membungkuk memberi penghormatan terakhir pada mendiang.


Raut wajah Mira sangat gelap, dia hanya bisa memendam amarahnya untuk suatu saat membalaskan dendamnya pada mereka yang telah menyakiti putrinya.


Nelson beserta Bella tidak berbicara pada Mira walau mereka berhadapan sekalipun. Mereka berdua pun meninggalkan rumah duka dengan cepat karena harus segera kembali ke rumah sakit.


Berbeda dengan Mario dia masih setia berlutut di depan altar. Kilauan crystal bening telah membanjiri wajahnya, sorot matanya begitu dalam kala menatap sosok yang berada di dalam pas foto berukuran besar itu.


“ Maafkan aku Yeni. Maafkan aku,” ucapnya pelan, dengan terisak dia mengatakannya.


Tatapan matanya begitu kosong, tercermin sebuah perasaan yang setidaknya dia pernah mencintai mendiang mantan istrinya itu walau hanya sesaat.


Sejenak Mira yu memandang Mario yang tengah berlutut dan terisak, terdengar begitu pilu. Mira menatap langit-langit menahan agar buliran-buliran air mata tidak lagi jatuh. Pelan-pelan dia menghampiri Mario, tanpa bicara dia menyerahkan secarik surat padanya. Mario yang mendapati sosok Mira sejenak terpaku. Lalu tanpa sadar menerima surat itu.


Sekilas Mario memandang tulisan tangan yang berada di depannya, bertuliskan namanya. Dia bangkit dari tempatnya, mencoba untuk melihat isi suratnya.


Suamiku tersayang,


Aku sudah menyadari kesalahanku padamu, dan juga pada keluargamu. Aku memang tidak pantas menerima maaf darimu, tapi tak bisakah kau memaafkan aku sekali saja? Aku sangat merindukanmu, sangat rindu.


Namun, apa dayaku, aku hanya bisa membayangkan dirimu yang selalu bersikap baik padaku, walau diriku selalu membuat masalah untukmu. Kini aku sangat menyesal, sangat menyesal lebih dari apa pun. Cinta memang terasa begitu pahit adanya, semakin aku mencoba menggapainya, itu kan kian menjauh. Perpisahan memang selalu terasa mudah. Namun tidak bagiku, karena aku begitu mencintaimu lebih dari diriku sendiri.


Suamiku mengapa kau tega meninggalkanku saat diriku sedang terpuruk? Di saat aku membutuhkan dukungan darimu, kau malah meninggalkanku begitu saja. Walau aku tahu alasanmu meninggalkanku itu apa! Tetapi tetap saja aku tidak bisa menerimanya begitu saja. Aku harap kau akan baik-baik saja jika aku tidak ada.

__ADS_1


Selamat tinggal suamiku, yang harus kau ingat aku akan selalu mencintaimu, walau pun kau tidak pernah mencintaiku. Jangan menyalahkan dirimu, ini adalah jalan yang telah aku pilih sendiri, aku yang pernah mencintaimu sepenuh jiwa dan ragaku. Tak kan lekang oleh waktu.


Tertanda, Yeni Xia.


Selesai membacanya, tubuh Mario seketika ambruk, dia berlutut. Buliran air mata mengalir deras di wajahnya, dia menggenggam suratnya, menjerit dengan begitu pilu.


Bahkan para pelayat yang tidak sengaja melirik padanya pun dapat merasakan penyesalan dan kesedihan seperti apa yang di rasakan olehnya.


Setelah jasad Yeni di kremasi, Mario pulang dengan keadaan kacau, sorot matanya seakan padam. Dia berjalan memasuki kamarnya tanpa memedulikan panggilan dari ibunya.


Sudah beberapa hari ini Mario mengurung dirinya di dalam kamar, setiap kali pintu di ketuk tak ada jawabam darinya. Sungguh membuat orang cemas. Dia tidak makan dan tidak minum. Seperti mayat hidup saja.


Hingga ibunya tidak tahan, dia memanggil tukang profesional untuk mendobrak paksa pintu kamarnya.


Setelah dengan susah payah pintu pun akhirnya bisa dibuka. Terlihat Mario sedang duduk di kursinya, saat dia memutar kepalanya, terlihat pemandangan yang menyayat hati. Wajahnya begitu pucat, sorot matanya begiti kosong, terlukis jelas kehampaan yang menariknya lebih dalam pada jurang penyesalan. Tampak janggut beserta kumis telah tumbuh, menambah kesan tidak peduli lagi dengan hidupnya.


Sekilas ibunya mendapati bayangan putranya yang tengah tersenyum pahit padanya. Sangat tipis sekali hingga yang lain tidak dapat menangkap makna dari senyuman yang di berikannya.


Pedih yang kini di alami oleh putranya, amat menyiksa dan mungkin akan terus menghantuinya.


Setengah mulutnya terbuka, kala melihat kondisi putranya yang begitu rapuh, dia kehilangan berat badan, tubuhnya begitu lemah hingga ibunya membawanya ke rumah sakit untuk di lakukan perawatan.


“ Mario,” Bella berteriak pelan kala melihat bayangannya yang berlalu.


Dia mencoba mengikuti ke mana mereka membawanya. “ Apa yang terjadi padanya? Mengapa keadaannya begitu memprihatinkan?” banyak pertanyaan terlintas dalam benak Bella .


Di ruang UGD Bella mencari sosok Mario. Namun, dia tidak menemukannya. Jelas-jelas dia melihatnya masuk, namun dia tidak menemukannya.


Dion yang sejak tadi mengikuti ibunya merasa heran, dia dengan tidak sabar menarik gaun yang di kenakan oleh Bella.


“ Kenapa kita ke sini, mencari siapa?” tanya Dion pada ibunya.


Saat dia menoleh dia baru sadar telah meninggalkan putranya. “ Maafkan ibu sayang, tidak, tidak ada yang ibu cari,” Bella gelisah dan gugup kala menjawab pertanyaan dari putranya.


“ Ayo kita pergi,” ajaknya seraya menggandeng tangan Dion dan berlalu pergi menuju ruang rawat Dean. Tetapi pikirannya masih melayang pada bayang Mario, dia penasaran dengan apa yang terjadi padanya.

__ADS_1


Dion membuka pintu kamar, Dean tengah terlelap setelah melakukan serangkaian pemeriksaan untuk persiapan Kemoterapi


Di sana telah berada sesosok yang sangat familier, tubuhnya yang tinggi dan tegap itu membuat orang yang berada di dekatnya merasa nyaman. Bella mengulas sebuah senyuman lembut padanya.


“ Kamu sudah datang?”ucap Bella seraya meletakkan minuman kesukaan Dion.


Nelson menganggukkan kepalanya pelan seraya tersenyum tipis.


“ Ayah,” Dion menyapanya, lalu dengan cepat dia berhambur pada Nelson yang tengah berdiri di depannya.


Nelson yang tengah menggendong Dion pun menyadari sikap murung Bella saat datang. “ Ada apa?” Nelson bertanya seraya melepaskan Dion dari gendongannnya.


“ Tidak, tidak ada,” ucapnya muram. Tersirat sebuah senyuman namun terkesan pahit di wajahnya.


Nelson melirik pada putranya. Namun, Dion hanya mengedikkan bahunya tanda dia tak tahu apa-apa tentang masalah ini.


Nelson sedikit bingung. Namun dia tidak ambil pusing, dia menarik lengan istrinya, mendekapnya dengan lembut, dan penuh kasih. Mencoba meredam kegelisahan yang tengah melanda istrinya saat ini.


Harumnya aroma tubuh Nelson membuat Bella merasa tenang dan nyaman, dia bahkan melupakan bayangan tentang mario yang sekilas hadir dalam pikirannya.


Saat Nelson dan Bella tengah berpelukan, seseorang telah datang dan berdiri di ambang pintu, seraya mengamati dua sejoli yang tengah berpelukan, yang juga di saksikan oleh Dion.


“ Ehmm,” Robin berdehem berusaha agar keduanya dapat saling melepaskan diri. Namun seketika aura dalam ruangan itu berubah drastis, suhu di dalamnya ikut turun seiring dengan tatapan Nelson yang dingin.


Tatapan yang begitu menusuk, seakan langsung mengerti kala menatapnya. “ Aku tidak bermaksud mengganggu kalian, aku hanya ada perlu dengan kakak ipar,” ujar Robin pada Nelson.


“ Ada perlu apa ?” Bella sedikit kebingungan.


“ Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada kakak ipar. Jadi apakah aku bisa meminjamnya sebentar?” Robin bertanya pada Nelson.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶❤️🌹🌹🌹🌹


Bersambung


__ADS_2