
Bella segera menyela perkataan Dion, dengan lembut dia berkata. “ Tidak, Nak!” Tidak seperti itu, tentu saja ibu lebih mementingkan kalian berdua, kamu ingin ibu untuk berhenti bekerja? Ibu selalu ada dirumah menemanimu? Mulai sekarang ibu akan menemanimu, ibu akan berbicara dengan ayah Nelson perihal ibu akan berhenti kerja, jika ayah Nelson mengizinkannya ibu akan segera mengundurkan diri dari pekerjaan ibu. Sekarang kamu harus turun untuk sarapan. Jika tidak, ibu tidak akan menemanimu! Apa kau mengerti?
Dion menganggukkan kepalanya tanda mengerti, seraya berkata. “ Aku akan berbicara dengan ayah. Jadi persiapkan saja surat pengunduran ibu. Lagi pula, tempat ibu bekerja adalah milik ayah. Sehingga cukup mudah untuk meyakinkan ayah.”
Bella tak bisa berkata apa-apa lagi, mengingat putranya begitu pintar membalas perkataannya, dalam hatinya. “ Kenapa putranya jadi lebih mirip Nelson, yang suka mendominasi
Tok… tok… tok.
Suara pintu di ketuk, seorang pelayan berkata. “ Nyonya, Tuan kecil, makanan telah siap. Apakah Anda ingin makanannya diantar ke kamar?” Tanya pelayan.
Bella berkata. “ Tidak perlu, kami akan turun sekarang. Terimakasih karena sudah memanggil kami.”
Pelayan kembali berkata, “ Baik Nyonya, saya pamit lebih dulu.” Seraya meninggalkan kamar Dion.
Bella mengajak Dion untuk turun ke lantai bawah, dia berjalan dengan lembut, “ Ayo Dion kita turun, kau sudah berjanji bukan? Seorang pria tidak baik mengingkari janji.”
Dion menganggukkan kepalanya, seraya berkata, “ Baiklah.”
Mereka berdua pun turun untuk sarapan pagi. Hari in Bella meminta cuti pada kantornya.
Ada sebuah buket bunga mawar yang datang untuk Bella, sebuah kartu ucapan terselip diantara tangkai bunga, disana tertulis dari Nelson, isi pesannya membuat Bella tersipu. Pipinya merah merona kala membaca isinya.
“ Selamat pagi bungaku, ku harap harimu indah, layaknya dirimu yang selalu indah, dan cantik di depan mataku, tunggu aku kembali cintaku, dan aku akan memanjakanmu sepanjang hari, akan ku warnai harimu dengan kasih sayangku, agar harimu tak sunyi dan redup. Jaga dirimu baik-baik, jangan berpaling dariku bahkan jika aku tak berada jauh darimu, salam rindu selalu dari suamimu tertanda Nelson.”
Bella tidak menyangka jika dirinya akan mendapatkan hadiah romantis dari suaminya, membuatnya sedikit bersemangat. Dirinya bahkan tidak tahu bahwa Nelson begitu romantis. Bella benar-benar di mabuk asmara.
Di rumah sakit.
Di tengah malam. Tiba-tiba kepala Dean sakit, Nelson dan Evan begitu panik. Evan segera memanggil dokter untuk memeriksa Dean.
__ADS_1
Dean berkata dengan lirih, Aku tidak apa-apa, hanya sedikit sakit!”
Nelson berkata. “ Bersabarlah,Nak! sebentar lagi dokter akan datang.” Nelson mencoba menenangkan Dean.
Nelson bertanya dengan tidak sabar. “ Evan, apa yang mereka lakukan? Kenapa Dokter, dan juga perawat belum juga tiba? Dean kesakitan.
Evan menjawab. “ Saya sudah memanggil mereka, mereka mengatakan akan segera datang kemari!”
Tak lama berselang dokter jaga pun datang, mereka cukup terkejut melihat Dean meringkuk kesakitan dalam diamnya. Dokter memeriksa dan mulai memberikan Dean obat penenang, dan penghilang rasa sakit. Sehingga membuat Dean kembali tertidur.
Nelson bertanya. “ Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Dean terlihat begitu tersiksa?”
Dokter menjawab, “ Rasa sakit yang timbul karena sel kankernya kemungkinan mulai menyebar kebagian lain, dan di perparah karena terjadinya benturan di kepalanya, untuk lebih lanjut, besok pagi akan saya ajukan untuk tes Laboratorium.”
Nelson dengan cemas berlata, “ Apakah sekarang kondisinya sudah stabil?”
Dokter kembali menjawab, “ Untuk saat ini, keadaannya sudah stabil kembali, jadi Anda tidak perlu khawatir.” Setelah menjelaskan keadaan Dean, Dokter jaga, dan perawat meninggalkan ruangan Dean.
Nelson bertanya pada Evan. “ Bagaimana dengan Hotel? Apakah kau sudah mengetahui sebab, mengapa staff Hotel tidak memantau putraku di kamarnya? Jika pelayan terlambat sedikit saja mungkin putraku tidak akan mampu bertahan!”
Evan menjawab. “ Sudah Presdir, dari CCTV terlihat hari itu hotel cukup ramai, sehingga mereka menunda untuk datang ke kamar Tuan muda.”
Nelson berkata dengan sedikit geram. “ Urus staff yang membiarkan putraku.”
Evan menjawab. “ Baik, Presdir.”
Tiba-tiba terdengar suara lembut, namun sedikit parau berkata. “ Ayah, itu semua adalah kecelakaan. Tidak ada yang perlu disalahkan, itu semua adalah kesalahanku.
Nelson berkata dengan tidak sadar sedikit meninggikan suaranya pada Dean, “ Tapi jika mereka tidak membiarkanmu, mungkin kejadian ini tidak akan menimpamu!”
__ADS_1
Evan mencoba menenangkan Nelson, saat Nelson menatap Dean, dia terkejut melihat Dean, Dean menatap dirinya dengan tatapan kosong.
Nelson tersadar seraya berkata, “ Maafkan Ayah, Nak. Ayah tidak bermaksud membentakmu!”
Dengan tersenyum Dean berkata. “ Ayah, bukankah tidak baik jika menyalahkan seorang yang tidak bersalah? Bukankah tindakan itu tidak benar, dan tidak baik? Biarkanlah kejadian itu berlalu, jangan pernah menghancurkan kehidupan orang yang tidak bersalah. Jadi bisakah Ayah tidak memperpanjang kejadian ini.?”
Nelson sedikit terdiam. Namun, dia pun menjawabnya, dengan tersenyum dia berkata. “ Tentu saja. Jika itu keinginanmu, ayah akan lakukan. Serahkan saja semuanya pada ayah.”
Dean berkata. “ Ayah, bisakah aku tinggal di hotel? Aku sudah tidak ingin berada di sini! Jika aku berada di sini, mungkin ayah akan lelah menungguku, belum pekerjaan ayah yang semakin menumpuk, aku ingin tinggal di hotel saja ayah!” Dean sedikit memohon kepada Nelson.
Nelson menatapnya dengan sedih, dia menghampiri Dean, seraya memeluknya berkata. “ Ayah akan berbicara dengan dokter, apakah mereka bisa merawatmu di kamar hotel? Jadi Bersabarlah sebentar. Sekarang tidurlah kembali, tadi kau terlihat begitu kesakitan. Kau butuh istirahat yang banyak.”
Dean perlahan menutup matanya yang sendu, dia pun kembali tertidur.
Nelson berkata pada Evan. “ Kau bisa mengurusnya bukan? Aku serahkan semuanya padamu, peringatkan mereka agar lebih memperhatikan Dean, yang mana dia akan mewarisi Hotel itu kelak.”
Evan menganggukkan kepala, dan undur diri. Nelson kembali menatap nanar wajah putranya yang kini telah tertidur kembali. Nelson bergumam, “ Hatimu begitu baik, seperti ibumu Bella! Sungguh kau tidak mewarisi sifatku, walaupun dari segi fisik kau adalah jelmaan yang sempurna. Namun, aku tetap tidak bisa menerima kenyataan bahwa kau harus berjuang melawan kanker yang ganas seperti ini. Berapa banyak rasa sakit yang kau lewati? Sungguh ini membuatku sangat terluka.”
Nelson meneguhkan hatinya, untuk segera memberi tahu kedua orangtuanya, perihal kehadiran putra kandungannya.
Nelson mencoba menghubungi kedua orang tuanya, setelah beberapa lama akhirnya ibunya Sandra menjawab panggilannya. Terdengar suara diseberang telpon berkata. “ Halo, Nelson, ada apa kau menghubungi mommy? Tidak seperti dirimu biasanya!”
Nelson menjawab, “ Mom, aku ingin memberitahu sesuatu.”
Suara Sandra terdengar sedikit panik. “ Ada kabar apa? Kenapa? Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Dean? Cepatlah katakan, jangan membuat mommy takut, Nak!”
Mohon maaf author hanya bisa up satu bab, badannya lagi kurang fit. Sehat sll readersku sayang.🙏😇❤️🌹
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🙏🥰🫶🌹🌹
__ADS_1
Bersambung