ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 131


__ADS_3

Di kamar hotel Andre terbangun, dilihatnya wajah Dion yang masih tertidur. Dia begitu damai dalam tidurnya. Dia berbisik. “ Tidurlah lebih lama, aku akan pergi sebentar.”


Andre meninggalkannya, pergi perlahan-laham karena takut membangunkan Dion.


Saat dia keluar kamar dia begitu terkejut kala semua teman-temanya berada di kamarnya. Saat keluar kamar Andre terlihat begitu semringah, wajahnya berseri-seri.


Dengan sedikit kaget Andre berkata. “ Astaga. Apa yang kalian lakukan di sini?”


“ Untuk apa lagi? Kami sangat mengkhawatirkanmu,” ucap Yohan.


“ Aku? Emangnya ada apa denganku?” tanya Andre.


“ Ah. Sepertinya kita tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Lagi pula kalian bisa lihat kan? Jika dia tersenyum begitu bahagianya,” ucap Robin.


“ Ah sial! Sia-sia aku mengkhawatirkanmu,” ucap Ronald.


Yohan berkata. “ Sungguh kau membuatku takut.”


“ Apakah Dion masih tidur?” tanya Evan.


Andre menganggukkan kepalanya. Dia berjalan menuju lemari es. Mengambil sekaleng bir.


“ Aku bahkan tidak apa-apa. Mengapa kalian cemas seperti itu?” ucap Andre.


“ Hei…hei… bagaimana suasana hatimu?” ucap Ronald.


“ Aku baik-baik saja, bahkan aku lebih baik sekarang,” jawab Andre.


“ Baguslah.” ucap Ronald.


Andre terdiam sejenak, seraya menyesap birnya dia berkata. “ Terkadang obat terbaik untuk mengobati luka, adalah seseorang yang dapat mengerti tentang situasi yang sedang di hadapi,” ucapnya.


Evan menghampirinya, dia berkata. “ Tentu saja, di saat kau menemukan seseorang yang mampu mengobati lukamu. Maka dia akan menjadi seseorang yang begitu berarti bagimu,” ucapnya.


“ Kau benar, terkadang kita membutuhkan seseorang yang mengerti kita. Namun harus di ingat, kita juga harus mengerti diri sendiri,” ucap Robin.


Andre hanya tersenyum menanggapi perkataan Robin. Dia kembali menyesap birnya. Tak lama kemudian Dion yang terbangun, menghampiri mereka.


“ Kenapa ribut sekali?” ucap Dion.


Semua orang mengalihkan pandangannya pada suara yang mereka dengar.


“ Waw… kau sudah bangun?” ucap Yohan. Seraya menghampiri dan menggendongnya ke sofa.


“ Apakah kau ingin minum? Atau ingin makan sesuatu?” tanya Yohan.


Dion malah berkata. “ Kenapa kalian ada di sini?”


“ Eh. Apa kau tahu jika ibumu mencarimu seperti orang gila?” ungkapnya.


“ Haaah…” ekspresi terkejutnya itu terlihat semakin menggemaskan.


“ Memangnya kenapa ibuku mencariku?” tanya Dion.


“ Tentu saja karena kau di anggap hilang,” seru Yohan.

__ADS_1


“ Kau lihat Evan begitu panik, dia berlarian ke sana ke mari untuk mencarimu,” jelasnya.


“ Dion, kau harus baik pada paman Evan,” ucap Robin.


“ Apakah seperti itu? Aku bahkan tidak tahu itu.” ungkap Dion.


“ Bagaimana kau tahu? Sedangkan kau sedang tertidur pulas bersamanya,” ucap Robin seraya menunjuk Andre.


Dion semakin merasa bersalah pada ibunya.


“ Ada yang ingin aku tanyakan padamu Dion.” tanya Robin.


“ Apa?” Jawab Dion sedikit gugup.


Robin semakin menatapnya intens. “ Jadi mengapa kau tidak memberikan kabar? Jika ingin pergi ke suatu tempat, tinggalkan catatan untuk ibumu.”


“ Dia pasti tidak akan cemas dan khawatir seperti itu, jika kau pergi meninggalkan pesan untuknya.” ucap Robin.


“ Aku tahu, aku tahu, aku salah paman,” ungkapnya sedikit malu.


“ Ibuku di mana?” tanya Dion agar dia bisa terlepas dari godaan sahabat ayahnya.


“ Tentu saja mereka di rumah sakit. Sedangkan kau tidak boleh ke mana-mana, itu perintah ayahmu,” ucap Ronald.


“ Ah. Paman pasti bohong. Ayahku tidak akan bicara seperti itu? ucapnya.


“ Apa kau ingin bertaruh?” tanya Robin.


“ Tentu saja, aku percaya ayahku tidak bicara seperti itu,” ucap Dion dengan bangga.


“ Apa kau yakin?” ucap Yohan.


“ Ah. Dia benar-benar. Ayolah dia masih terlalu muda untuk mengikuti permainan itu,” ucap Evan.


“ Lalu apakah kau ingin mewakilinya?” tanya Robin.


“ Eh. Tentu saja tidak. Aku tidak mau terjebak bersama kalian lagi,” ungkap Evan.


“ Baiklah, jangan mempermainkan Dion. Kita bermain yang lain saja, bagaimana?” usul Yohan.


“ Kita bermain seperti apa?” tanya Robin.


Semua orang saling melirik satu sama lain. Dengan serempak mereka berkata. “ Karaoke,” ucapnya bersamaan.


Dion terkejut sehingga tidak bisa mengendalikan ekspresinya.


“ Dion apa kau baik-baik saja?” tanya Yohan.


“ Dion…” terdengar suara memanggilnya.


“ Ah iya,” ucap Dion.


Di saat mereka karaoke. Ruangan yang awalnya hening tiba-tiba terdengar suara gelak tawa.


” Hahahaha…”

__ADS_1


Andre bahkan memegangi perutnya yang tidak sakit, karena melihat Robin yang tidak bisa bernyanyi. Namun, berusaha berlaga seperti seorang vokalis.


“ Uw-hahahaha…” orang-orang tertawa, mereka bahkan tidak ragu-ragu untuk menirukan gaya bernyanyi Robin.


Dia berlagak bisa segalanya. Namun nyatanya Robin lemah terhadap musik.


Andre hanya tersenyum sambil menikmati minumannya.


Ada yang menikmati dan ada pula yang baru mengetahuinya.


Dion hanya bisa terngaga saat melihat sifat asli sahabat ayahnya itu.


Evan , terduduk di pojokan. Sedangkan Robin terus curhat tentang patah hatinya di tinggal kekasih hatinya melalui lagu yang dinyanyikannya.


Andre yang mendengarnya kembali menyesap birnya, dia berkata dengan pasrah. “ Mengapa jadi sangat panas sekali,” ucapnya.


“ Hei.. apakah kau tidak menghentikannya?” Pinta Yohan.


“ Biarkan saja dia, mungkin dia mulai teringat dengan mantan kekasihnya,” ucap Ronald.


Dion masih tidak mengerti apa yang ada di hadapannya, dia bersandar pada sofa, memandangi semua orang yang sedang bersenda gurau bersama, bahkan mereka meneriaki Robin yang sedang bernyanyi, layaknya seorang bintang dengan suara pas-pasan.😀


Di rumah sakit.


Nelson sedang mendapat telepon. Ya, itu adalah ibunya, kedengarannya dia begitu khawatir.


Terdengar suara Sandra dari seberang telepon. “ Sayang, bagaimana keadaan Dean?Apakah semuanya baik-baik saja?”


Nelson yang mendengar ibunya begitu mengkhawatirkan Dean, dia sedikit tersenyum seraya berkata. “ Emm.. semuanya baik-baik saja. Untungnya luka di kepalanya tidak begitu parah, bahkan besok dia sudah keluar dari sini,” jawabnya.


“ Syukurlah, Mommy sangat khawatir pada Dean. Lalu bagaimana keadaan Bella? Apakah dia baik-baik saja? Setelah apa yang terjadi? tanyanya.


“ Emm… tentu saja, menantu Mommy wanita yang kuat. Dia pasti bisa melewati ini semua. Jadi jangan khawatirkan kami, Mommy dan papa juga jaga kesehatan, jangan sampai penyakit menyerang kalian, pinta Nelson.


“ Jagalah anak-anak dan ibunya dengan baik, Nak. Jangan pernah menyakiti mereka, jika kau menyakiti cucu, dan menantuku. Kau akan tahu konsekuensinya, apakah kau mengerti? ucap Sandra hongli.


“ Aku tahu, aku tidak mungkin menyakiti mereka. Aku sangat menyayangi mereka lebih dari apa pun.” ungkap Nelson.


“ Baiklah jika begitu, akan Mommy tutup teleponnya, cepatlah kembali. Karena kami ingin segera bertemu dengan cucu kami,” ucapnya.


“ Aku tahu, bersabarlah kami akan segera kembali ke sana,” ungkapnya.


“ Sudah ya, aku tutup teleponnya,” ucapnya seraya menutup telepon di tangannya.


“ Siapa?” tanya Bella.


“ Ah ini, ibu, mereka sangat mencemaskan putra kita,” jawab Nelson.


Bella tersenyum, dia sangat bersyukur karena mereka diterima dengan baik oleh kedua orang tua Nelson. Tanpa ada permasalahan sedikit pun. Mereka berdua sangat menyayangi Bella dan kedua putranya.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹


Bersambung


__ADS_2