
“Masuklah!” Yohan menyuruhnya segera masuk. Karena waktu saat menjenguknya juga di batasi karena berkunjung di ruang intensif tidak sama dengan berkunjung ke bangsal lain.
Gisel menghirup napasnya dengan dalam berusaha menguatkan hatinya, dengan mantap dia berjalan memasuki ruangan di mana Robin tengah terbaring lemah tak berdaya. Perlahan butiran crystal bening berjatuhan tanpa terkendali. Hatinya begitu hancur saat ia menggenggam tangan Robin yang dingin. Dia memejamkan kedua matanya dan terisak tertahan di samping Robin.
Gisel menatap Robin dengan tatapan yang sangat dalam. Sorot matanya memancarkan kesedihan dan juga kesepian. Gisel menggenggam erat tangan Robin mencoba untuk mengajaknya bicara. Gisel setengah berbisik di sebelah telinga milik Robin.
“ Hai tampan, bagaimana kabarmu? Aku sangat kesepian tanpamu, tak bisakah kau bangun sebentar? Aku sangat merindukanmu!” Namun, tak ada reaksi dari Robin.
“ Aku mohon bangunlah, jangan biarkan aku sendirian di dunia ini. Aku sangat membutuhkanmu, aku tidak ingin kau pergi meninggalkanku.” Gisel mengecup punggung tangan Robin yang masih saja tidak sadarkan diri. Suara monitor gelembung oksigen, tetesan infus yang mengalir dalam tubuh Robin semakin memberi kesan yang mencekam. Deraian air mata terus memenuhi wajah pucat Gisel. Matanya sembab karena terus menerus menangis tanpa henti.
“ Robin, jika kau meninggalkanku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Sungguh! Hei ! Apa kau masih ingat saat kita pertama kali bertemu? Aku masih saja terus mengingatnya. Jika waktu bisa aku putar. Aku ingin terus bersamamu. Aku masih ingat saat dirimu lebih memilih meninggalkan karier militermu demi menikahi aku. Bagaimana dirimu mencintaiku saat itu. Ketika semua pengorbanan yang seharusnya terbayar dengan sesuatu yang bahagia. Tetapi nasib malang selalu menghampiri kita berdua. Tetapi aku, aku tak bisa terus bersamamu walau aku ingin!” Gisel menangis dengan sendu di dalam ruang intensif, baik Yohan maupun Nelson melihat adegan itu. Gisel yang selalu terlihat kuat ketika menyangkut pria yang dicintainya ia akan goyah, hatinya begitu lembut walau terkadang dia akan bersikap keras kepala.
Nelson tahu bahwa keduanya masih saling mencintai, mereka menjauhi satu sama lain. Walau saat mereka bersama hanya memberikan luka lebih dalam, akan tetapi sesuatu yang bahagia selalu terpancar dari wajah keduanya. Nelson melirik ke arah Yohan terdiam sorot matanya begitu sedih kala menatap Gisel. Nelson tahu lebih dari siapa pun kisah cinta diantara mereka bertiga. Dia memiliki sahabat yang terlibat cinta segitiga. Yang satunya mencintai dalam diam, dan satunya lagi mencintainya dengan penuh perjuangan dan pengorbanan. Tentu saja Gisel lebih menaruh hati pada Robin ketimbang dengan Yohan.
Karena pada dasarnya mereka tumbuh di lingkungan yang sama. Diiringi dengan perasaan yang semakin berkembang setiap harinya. Namun, pada kenyataannya hanya dirinya yang memiliki perasaan itu untuk Gisel. Sedangkan Gise hanya menganggapnya sebagai seorang kakak baginya. Hancur tentu saja, tetapi Yohan tahu kebahagiaan Gisel lah yang terpenting. Karena cinta yang sebenarnya adalah mampu merelakan dan ikut berbahagia saat sang kekasih tertawa bahagia bersama dengan orang lain. Walau sebenarnya sangat menyakitkan. Tetapi Yohan melakukan itu. Namun, sekarang Gisel begitu menderita, ia sangat ingin memeluknya, menguatkannya. Tetapi juga tak sanggup melakukannya.
“ Masa muda memanglah sangat menyenangkan!” Suaranya terdengar pelan tetapi Yohan dan Andre yang baru saja tiba itu mendengar semua perkataan Nelson. Andre dan Yohan saling memandang karena mereka baru kali ini mendengar Nelson bicara seperti itu. Yohan memberi isyarat dengan mengedikkan bahunya tanda dua tidak mengerti dengan apa yang sedang dikatakan oleh Nelson.
Dean yang telah melakukan pemeriksaan tampak lelah, dia di gendong oleh Oliver karena Dean tidak ingin menggunakan kursi roda.
“ Tuan, tuan kecil sudah selesai. Hanya menunggu hasilnya saja.” Oliver menyapa Nelson yang tengah berdiri di depan dinding kaca.
Nelson berbalik, dia melirik ke arah Dean yang terlelap dalam pangkuan Oliver. Nelson tersenyum hangat saat menatap putranya. Dengan cekatan dan hati-hati Nelson memindahkan tubuh Dean ke dalam gendongannya.
__ADS_1
“ Biar aku saja yang menggendongnya. Aku akan membawa Dean ke kamarnya. Kabari aku jika ada sesuatu yang terjadi pada Robin.?” Nelson meminta Yohan untuk segera menghubunginya jika terjadi sesuatu pada Robin. Nelson pergi meninggalkan Yohan dan juga Andre.
Di sebuah restoran mewah.
Leo dan Sandra tengah membawa cucu mereka pada sebuah pertemuan yang dihadiri oleh banyak keluarga kaya lainnya. Di sana juga banyak anak-anak yang sebaya dengan Dion. Seorang anak perempuan menarik perhatian Bella. Anak itu begitu cantik dan lemah lembut namun karakternya begitu kuat.
Dion berkeliling untuk menyapa para tamu yang lain. Bersama dengan Kakek dan Neneknya, sementara Bella lebih memilih untuk duduk sembari menatap ke arah luar. Hujan lebat masih mengguyur kota. Bella bisa merasakan bagaimana dinginnya udara saat hujan. Entah mengapa? Dia selalu menikmatinya. Walau terkesan dingin tetapi membuatnya nyaman. Sama seperti Nelson, suaminya yang orang tahu dia adalah pria yang bertangan dingin dan angkuh. Tetapi baginya dia adalah suami terbaik yang dimiliki olehnya. Dan Ayah yang terbaik untuk kedua putranya.
“ Putriku, kemarilah Nak!” Sandra memanggil Bella dengan panggilan ‘Putriku’ membuat Bella sangat di hargai di keluarganya. Bella berjalan dengan anggun, ketika dia berjalan semua mata tertuju padanya. Karena semua orang mendengar bahwa Nyonya besar Sandra Hongli memanggil menantu perempuannya dengan panggilan ‘Putriku’ mereka seakan ingin tahu sosok seperti apa menantu dari keluarga Hongli.
“ Ibu, ada apa?” Apa Dion membuat ulah?” Bella menghampiri ketiganya, bertanya sembari mengulas senyum di wajahnya.
“ Tidak, kemarilah!” Sandra mengajak Bella dan mengenalkannya dengan keluarga Yan. Mereka memiliki putri yang sedari tadi diamati olehnya.
“ Nyonya Yan, ini adalah Bella menantu kami, dan ini Dion Putra kedua Nelson dengan Bella sekaligus cucu kami.” Sandra mengulurkan tangan Bella pada Nyonya Yan.
“ Riani!” Nyonya Yan memanggilnya. Seketika Anak yang sedari tadi diamati oleh Bella berbalik, dan menghampiri mereka. Dia sangat sopan, senyum manis selalu menghiasi wajahnya. Tatapannya yang teduh membuat Bella semakin yakin jika anak itu suatu saat nanti akan bersanding dengan salah satu Putranya. Bella menatapnya dengan dalam, pertama kali bertemu sudah menarik pandangannya.
“ Semoga kau berjodoh dengan salah satu Putraku nanti.” batinnya.
“ Halo, Tuan dan Nyonya Hongli, saya Riani Yan. Senang bertemu dengan kalian.” Riani membungkukkan tubuhnya. Lalu menyapa Dion yang sedari tadi asyik dengan makanannya sendiri.
“ Aku Riani Yan. Senang berkenalan denganmu Tuan muda Dion.” Riani mengulurkan tangannya berharap Tuan muda Dion mau menerimanya. Seketika Dion berbalik saat mendengar namanya disebut. Ia menatap anak yang ada di hadapannya itu dengan tatapan hangat. Tanpa sadar ia mengulas senyum yang membuat orang yang melihatnya tidak dapat melupakan senyuman yang diberikan olehnya. Riani terpaku saat memandang Dion. Dia tidak tahu bahwa Tuan muda Dion Hongli sangatlah tampan ketimbang di foto. Keduanya berjabat tangan sembari melempar senyum yang penuh arti.
__ADS_1
Dion dan Riani bermain bersama, mereka juga menikmati hidangan yang di sajikan oleh pihak restoran di meja yang sama. Sementara para orang tua berada di meja terpisah. Dion begitu menikmati waktu bersama dengan Riani. Begitu pula dengan Riani. Riani sangat bersemangat saat berbincang dengan Dion. Bella tidak menyangka bahwa Putranya dapat cepat akrab dengan Riani yang notabenenya baru saja bertemu. Tak terasa hari telah menjelang sore, Dion sebenarnya tidak ingin berpisah dengan Riani. Tetapi Neneknya menjamin jika nanti ia akan di pertemukan lagi dengan Riani di acara selanjutnya.
“ Dion, sampai jumpa!” Riani yang berada di dalam mobil melambai pada Dion yang masih menunggu supir untuk menjemput mereka. Dion hanya tersenyum hingga bayangan mobil yang di kendarai oleh Riani hilang berbaur dengan mobil yang memadati jalanan.
Bella menyadari sikap Dion, dia tahu bahwa putranya tertarik pada Riani. Sepanjang perjalanan Dion selalu membicarakan Riani, hingga Kakek dan Neneknya tertawa karena tidak henti-hentinya dia mengagumkan sosok Riani.
“ Lalu apa kau menyukainya?” Bella bertanya pada Putranya. Dion terdiam, seketika wajahnya memerah. Dia sangat malu saat di goda oleh ibunya sendiri.
“ Apa yang ibu katakan? Aku bahkan tidak tahu apa yang ibu bicarakan!” Dion menundukkan kepalanya karena malu, dia tidak ingin menatap mata ibunya. Kakek dan Neneknya bahkan menertawakannya di dalam mobil. Bella juga ikut menertawakan putranya hingga seluruh wajahnya merah padam.
Dion mengerucutkan bibirnya karena dia merasa kesal pada semua orang yanga ada di dalam mobil karena semuanya terus menggodanya. Sesampainya di mansion Dion masih cemberut. Dia bahkan berjalan lebih cepat dari ibunya.
“ Dion! Berikan salam pada Kakek dan Nenek dulu!” Bella setengah berteriak pada Dion yang pergi begitu saja. Dion yang mendengar suara ibunya itu segera berbalik menuju ke arah mobil dengan sopan dan hormat ia berpamitan ke pada Sandra dan juga Leo Hongli.
“ Kakek, Nenek, terima kasih atas waktu kalian.” Selepas bicara Dion segera berlari masuk ke dalam mansion.
Nelson telah kembali lebih dulu, Oliver sedang menunggui Dean yang sedang tertidur di kamarnya sedangkan Nelson berada di lantai dua menuju ruang kerjanya. Tetapi saat dia berjalan ia melihat Dion yang begitu terburu-buru memasuki rumah. Nelson memperhatikan wajahnya yang merah, Nelson sedikit bingung melihat tingkah Dion.
Dion begitu tergesa-gesa saat menaiki anak tangga, dia bahkan tidak menyadari kehadiran Ayahnya yang sedari tadi memperhatikan dirinya. Dion melewati Nelson begitu saja tanpa menoleh sedikit pun. Nelson sendiri tidak menegurnya, yang ia lakukan hanyalah mengikuti Dion dari belakang.
*
*
__ADS_1
Terima kasih untuk dukungannya. Salam sayang dan sehat selalu.🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹
Bersambung