
Nelson sedang sibuk mempersiapkan resepsi pernikahannya, semua itu membutuhkan waktu. Namun, Nelson memintanya untuk menyelesaikannya dalam waktu dua minggu. Asistennya Arsen secara intensif sedang mengatur jadwalnya, berusaha keras agar jadwal Nelson tidak bentrok dengan yang lainnya.
Setelah rapat rutin, Nelson berjalan keluar dari ruang rapat, tangan kirinya memegang sebuah dokumen, sambil berjalan, sambil berpesan sesuatu pada Evan.
Asisten Arsen datang dari depan, dengan hormat berkata. “ Presdir, orang dari perusahaan penyelenggara pernikahan datang, saya sudah mengaturnya di ruang tamu kecil untuk menunggu Anda.”
“ Emm.” Nelson mengangguk pelan, dia berjalan memasuki ruang tamu, Evan adalah salah satu orang kepercayaan Nelson, dan juga sahabat baginya. Maka dari itu setiap Nelson merencanakan sesuatu, dia akan selalu ikut andil di dalamnya. Evan segera mengikutinya masuk ke dalam.
Perusahaan Wedding organizers datang tiga orang, satu adalah direktur perencanaan perusahaan WO, pria berusia empat puluh tahunan, penampilan masih termasuk rapi, mengenakan setelan jas pas di badan, dua lagi wanita berusia sekitar tiga puluhan, parasnya lumayan cantik walaupun sudah kepala tiga. Namun, mereka berdua sangat modis, mereka adalah asisten direktur.
Tiga orang melihat Nelson masuk, mereka langsung berdiri, lalu menyapa dengan sopan dan hormat. Seraya membungkukkan tubuh mereka dihadapan Nelson.
Nelson duduk di posisinya, mata yang dingin melirik mereka sejenak, “ Silahkan duduk.” Berada berhadapan dengan orang besar sangatlah berbeda. Terasa begitu mendominasi ruangan.
Ketiga orang itu baru duduk lagi setelah di persilahkan oleh Nelson, direktur masih bisa tenang. Tetapi, kedua asistennya terus menatap Nelson, hampir saja meneteskan air liur karena terus memandangi wajah tampan Nelson. Keduanya terpesona kala menatap mata indah berwarna hijau zamrud milik Nelson.
Tuan Nelson selalu rendah hati, tidak pernah terekspos ke hadapan media. Jadi, selain keluarga, teman dan petinggi di perusahaan, sangat jarang ada orang yang bertemu dengannya. Mungkin dari perusahaan penyelenggara pernikahan juga tidak menyangka kalau Tuan muda Nelson begitu muda dan tampan.
“ Mulai saja, kalian memiliki waktu empat puluh menit.” Nelson mengangkat lengannya, melihat sekilas jam tangan warna hitam di pergelangan tangannya.
Presdir Nelson jika bertemu klien, paling banayk juga hanya memberi waktu dua puluh menit bagi pihak itu, bisa dilihat betapa pentingnya pesta pernikahan ini untuknya.
Direktur WO tanpa ketahuan mengulurkan satu kaki, menendang asisten yang ada di sebelahnya, akhirnya kedua asisten pun menyadarinya, dari dalam tas dia mengeluarkan setumpuk dokumen tebal.
Direktur secara pribadi memberikan dokumen ke hadapan Nelson, ada desain model cincin pernikahan dan gaun pengantin, tersedia berbagai model untuk setelan jas anak-anak, ada berbagai macam rencana upacara pernikahan, mulai dari gaya barat dan gaya China semuanya ada, masih ada data brosur untuk foto pernikahan dari studio terkenal. Serta rekomendasi tempat bulan madu.
Selembar deni selembar Nelson membalik data, terlihat sangat serius, direktur dari WO pernikahan itu terus menjelaskan apa yang ada di dalam dokumen itu.
__ADS_1
Tiga puluh menit berlalu, Nelson juga sudah lumayan melihat informasi dasarnya. Cincin pernikahan, pakaian untuk anak-anak, gaun pengantin dan upacara pernikahan, serta bulan madu, harus pengantin wanita puas baru bisa memutuskan. Sehingga Nelson menunggu Bella selesai melihat dan memilihnya sendiri.
“ Setelah aku dan istriku mendiskusikannya, asistenku yang akan memberi kalian jawaban. Maaf karena sudah merepotkan.” Nelson memgangkat gelas kopi yang ada di depannya, ini artinya mengantar tamu untuk segera kembali ketempat mereka.
Direktur dan asistennya berdiri, berkata dengan sungkan. “ Presdir Nelson terlalu sungkan, bisa melayanimu adalah kehormatan bagi kami,” ungkap direktur.
Kemudian Evan membawa mereka bertiga keluar meninggalkan ruang tamu.
Evan melihat mereka masuk dalam lift, lift pun tertutup, asisten wanita sangat bersemangat mereka berdua hampir saja ingin melompat kegirangan.
“ Tuan muda Nelson sangat tampan sekali, benar-benar terlalu tampan! Terutama waktu dia fokus melihat katalog, sungguh begitu memesona sekai.
“ Tuan muda memang berbeda dia benar-benar tampan. Aku bahkan tidak bisa memalingkan pandanganku dari wajahnya.
“ Aku juga sangat menginginkan pria seperti dia, walaupun terlihat dingin tapi dia benar-benar hangat dan lembut.” Kedua asisten itu semakin tenggelam dalam khayalannya. Bahkan melupakan kehadiran direktur mereka sendiri. Hingga sebuah suara memecah lamunan mereka.
“ Pernikahan ini adalah pernikahan yang besar, yang menjadi klien kita juga orang yang paling berpengaruh di negara.”
“ Jika pernikahan ini dilakukan dengan baik, akan menjadi promosi yang sangat bagus untuk perusahaan kita. Dan kita akan mendapat bonus yang sangat besar dari sini.”
“ Jika sampai berantakan, dan klien tidak merasa puas maka kita siap di pecat dari perusahaan.” Direktur mengingatkan kedua asistennya untuk bekerja lebih keras, dan tidak menimbulkan kekacauan sedikit pun.
Sang asisten wanita mengangguk dengan patuh.
Saat ini, di dalam ruang tamu. Evan penuh minat membolak-balik katalog itu. “ Gaun pengantin dan upacara pernikahan, serta pakaian anak-anak, tinggal menunggu persetujuan dari Bella, perjalanan bulan madu tidak usah terburu-buru, menunggu Dean membaik.”
“ Tugas penting sekarang adalah memilih cincin pernikahan.”
__ADS_1
Nelson mengambil satu buku katalog dari setumpuk katalog model cincin pernikahan, saah satu halaman sudah dilipat, jelas sekali model itu yang sudah di pilih Tuan muda Nelson, beruntung sekali.
Yang paling penting cincin model itu memiliki makna yang sangat bagus. Mahkota cinta, mendengarnya saja sudah merasa cukup romantis. Selera Nelson benar-benar bagus.
Nelson terus menerus memandangi lembar katalog yang sudah dia lipat itu. Bella pasti sangat menyukainya, cincinnya sudah sesuai dengan karakter Bella tidak terlalu berlebihan. Namun, dapat memperlihatkan ketulusan hati dan cintanya padanya.
Evan yang melihat Nelson hanya sedikit mengulas senyumannya. Dia begitu bahagia kala sahabat sekaligus atasannya itu mendapatkan kebahagiaannya.
“ Jadi kapan kau akan memberi tahu Bella bahwa kau yang membeli vila keluarganya?” tanya Evan pada Nelson.
Nelson berpikir sejenak, dia pun berkata. “ Mungkin sebentar lagi, akan kujadikan sebagai hadiah untuknya.”
“ Biarkan seperti ini saja, perlahan aku akan mengatakannya. Tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Aku tidak ingin dia tahu dari orang lain jadi biarkan saja dulu.”
Evan menganggukkan kepalanya, menyetujui keputusan Nelson. Lagi pula dia tidak bisa membantah perkataan maupun keputusan yang Nelson buat.
Di samping mobil, bersandar seorang pria bertubuh tinggi dan tegap, dia mengenakan jas berwarna hitam yang pekat, dengan gayanya yang sedikit santai, satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya, dan tangan lainnya memegang rokok, asap rokok berkerlap-kerlap di tengah malam yang dingin.
Bella baru keluar dari gedung apartemen Anita. Saat dia lihat sosok Nelson, matanya begitu bersinar. Bella segera berlari menghampiri Nelson. Dia berhambur ke dalam pelukan Nelson. “ Kenapa kau ada di sini?”
*
*
*
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Bersambung