ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 148


__ADS_3

“ Kau sudah bangun, Nak?” Nelson memberi isyarat pada Oliver agar membawakan segelas air pada Dean. Dia pun segera mengerti lalu beranjak menuju dapur, menuangkan air ke dalam gelas dan membawanya kembali ke kamar untuk di berikan pada Dean.


“ Minumlah,” seraya membantu Dean untuk minum, dengan perlahan membantunya untuk bangkit. Kedua mata Nelson berkaca-kaca kala menopang tubuh ringan itu. Dia menutup mulutnya, mencoba untuk bertahan agar tidak mengeluarkan suara tangis. Nelson menguatkan dirinya, bahwa semua ini akan berlalu.


“ Ayah aku lapar, sangat lapar,” ucap Dean pelan.


Nelson yang mendengarnya segera bereaksi. “ Apa yang kau inginkan, Nak?” tanyanya.


“ Apa pun, apa pun akan aku makan. Asalkan ayah yang memasaknya.” Nelson yang mendengar permintaan putranya itu terdiam sejenak, lalu dia mengulas sebuah senyuman pada Dean.


“ Baiklah, Ayah akan memasak untukmu.” ucapnya.


“ Aku ingin melihatmu…” ucap Dean terhenti.


“ Ayah tahu, turunlah bersama Mr. Oliver. Ayah akan berada di dapur,” ucapnya pada Dean.


Nelson segera turun ke dapur. Di dapur terlihat koki dan beberapa pelayan sedang sibuk. Saat Nelson menghampiri mereka. Para pelayan menyapa Nelson dengan sopan dan hornat.


“ Tuan muda, apa yang membawa Anda ke sini? Apa Anda ingin memesan sesuatu?” Tanya kepala pelayan.


“ Biarkan aku yang memasak sisanya, putraku ingin memakan masakanku,” pintanya.


Semua orang yang berada di dapur tercengang kala mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Nelson. Baru kali ini mereka melihat Tuan mudanya memasak.


“ Tolong ambilkan sebuah celemek untukku,” Nelson meminta celemek pada seorang pelayan.


Pelayan pun segera memberikannya pada Nelson. Dan dengan anggunnya dia memakai celemek di tubuhnya yang tegap dan kekar itu. Perlahan memulai menyiapkan bahan masakan yang akan di buatnya.


“ Di mana kalian menyimpan sarang burung waletnya?” tanya Nelson.


Seorang koki menunjukkan di mana tempat sarang burung walet di simpan. Seraya mengambilnya empat buah.


“ Silahkan Tuan muda,” seraya menyerahkannya pada Nelson.


Nelson hanya meliriknya, dia meneruskan aktivitas memasaknya. Dean yang sudah turun ke lantai bawah bersama Oliver menunggu di ruang keluarga, terlihat sebuah senyuman yang sangat manis dan lembut dari bibir Dean. Wajah pucatnya tertolong oleh senyumannya.


Sandra dan Leo Hongli sengaja datang ke Mansion untuk melihat cucu mereka. Karena sudah lama mereka tidak mengunjunginya. Namun, pemandangan yang langka itu terlihat begitu memesona.

__ADS_1


Tangan Nelson begitu lincah kala memotong sayuran. Gerakan tangannya sangat cepat. Aroma dari masakan tercium, harumnya membuat perut lapar. Sungguh Nelson sangat pintar memasak. Dia memang serba bisa.


Bella dan Dion baru saja tiba di ruang keluarga. Dia menatap Nelson dengan dalam, baru kali ini dia mendapati Nelson memasak. Dia bahkan tidak tahu bahwa suaminya itu sangat pandai dalam hal memasak. Bella pun terpesona pada gerakan-gerakan yang di lakukan oleh Nelson.


Gerakan yang indah seakan tidak mampu menghentikan orang untuk memandangnya. Bella mengulas senyuman kala memandangi suaminya itu. Harumnya daging yang di bakar semakin membuat perut meronta-ronta.


“ Aku tidak percaya yang memasak itu adalah putra kita,” ujar Sandra Hongli pada suaminya Leo Hongli.


“ Kau benar, bahkan sudah setua ini kita belum pernah merasakan rasa dari makanan yang dimasak olehnya,” seraya menepuk bahu istrinya.


Bella yang menyadari bahwa kedua orang tua Nelson telah berada cukup lama pun segera menyapa dengan sopan lembut. “ Mommy, Papa,” seraya membungkuk memberi hormat kepada keduanya.


“ Nenek, Kakek,” teriak Dion seraya menghambur kepelukan mereka berdua.


“ Ouh, cucuku. Apa kabar?” tanyanya.


“Apakah nenek tidak melihat jika aku semakin gemuk dan ceria seperti ini?” ucap Dion seraya membanggakan tubuhnya yang kini terlihat sedikit cubby.


Sandra menoleh pada Dean yang tengah memejamkan matanya, dia terlihat begitu damai, seakan menikmati ketenangan hidupnya.


Seraya menggendong Dion mereka menghampiri Dean yang berada di sofa.


Dean membuka matanya dengan perlahan, dia berkata. “ Nenek dan Kakek sudah datang? Aku hanya sedikit lelah, tidur sebentar juga sudah lebih baik,” ucapnya seraya mengulas senyum pada keduanya.


Bella memegang dahi putranya. Dia cukup senang karena suhu tubuh Dean normal tidak demam.


“ Aku tidak apa-apa, Bu!” ucap Dean pelan. Agar ibunya tidak cemas.


Di meja makan telah tersaji banyak makanan enak, masakan Nelson aromanya begitu harum, seakan membawa mereka untuk segera memulai sarapannya.


Nelson yang telah selesai memasak pun memanggil mereka untuk segera duduk bersama di meja makan, saat semua orang melangkah pergi. Dengan sabar Oliver menuntun Dean berjalan. Tubuhnya masih lemah. Namun, dia tidak ingin terlihat sakit di depan semua orang. Kecuali bersama Nelson Ayahnya sendiri.


“ Dean, Dion. Makanlah yang banyak,” seraya memberikan daging bakar pada keduanya.


“ Terima kasih Ayah,” ucapnya kompak.


“ Emm.. ini sangat enak ucap Dean dan Dion. Semua orang terus memuji masakan Nelson yang sangat enak, bahkan koki pun tersingkir oleh Nelson jika soal rasa. Mereka menikmati hidangan yang di sajikan di meja, bahkan Leo Hongli dan Dion tidak berhenti makan. Hingga mereka berdua tidak bisa bergerak karena kekenyangan.

__ADS_1


Di sisi lain.


Anita datang ke acara kantor di sebuah restoran mewah. Di dalam sebuah ruangan sudah ada beberapa atasan dari tempat kerjanya, dia terpaksa mengikuti mereka untuk minum.


Seorang pria menarik Anita hingga ke depan. “ Baiklah Tuan, perkenalkan ini adalah Anita Ye, dia adalah Manajer IT di perusahaan kami.”


Anita sangat risih dengan semua orang yang berada dalam satu ruangan dengannya. Terutama dengan David Chen. Dia adalah pria plaboy yang gemar mempermainkan wanita.


Dia selalu bermain dan bergonta-ganti wanita setiap harinya. Jika dipikirkan lagi Tuan muda David tidaklah seberbakat itu. Bahkan dia lebih terkenal dengan pria Playboy dari pada prestasinya.


Satu jam telah berlalu semua orang sudah setengah mabuk. Anita memiliki toleransi alkohol yang cukup tinggi, sehingga dia tidak mudah mabuk. Anita sedikit was-was kala Tuan muda David Chen terus memperhatikannya.


Di akui bahwa Anita memakai pakaian sedikit terbuka. Sehingga membuat dirinya jadi mangsa pria-pria cabul. Anita melirik pakaiannya sendiri.


“ Ash.. kenapa aku memakai pakaian seperti ini? Buaya darat itu pasti sudah mengincarku saat ini,” batinnya.”


Di ruang VVIP yang berada satu blok dari ruangan Anita. Andre bersama dengan Robin, dan juga Yohan beserta teman Yohan, tengah minum dan bermain mahyong. Mereka menikmati waktu mereka di temani gadis-gadis cantik yang di sediakan oleh Yohan.


Karena restoran ini adalah milik Yohan sehingga bebas membawa wanita cantik mana pun yang mereka inginkan untuk menemani mereka mabuk.


“ Jadi apa kau masih sendirian?” Tanya Yohan pada Andre.


Andre menjawab dengan datar. “ Kau sudah tahu jawabnya, mengapa kau masih bertanya?”


“ Oopss,” Yohan menutup mulutnya kala Andre mengeluarkan suaranya.


“ Hei ayolah… jangan menampilkan muka yang serius seperti itu? Aku bahkan hanya menanyaimu sedikit,” ucap Yohan sedikit kesal, lalu mengalihkan pandangannya pada Robin.


“ Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau sudah menemukan Gisel?” tanya Yohan pada Robin.


*


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Sehat dan happy sll. Terima kasih.🙏😇🥰🫶🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2