ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 97


__ADS_3

“ Kakek, apakah ibuku sudah datang?” Dion bertanya dengan lirih.


Leo menjawab. “ Entahlah, kakek juga tidak tahu!”


Dion kembali berkata. “ Apakah ibuku sudah tidak mencintai ayah lagi? Buktinya dia tidak datang kemari?”


“ Padahal, ayah pasti sangat membutuhkan dirinya.” Dion membenamkan wajahnya di dada kakeknya.


Leo yang melihat wajah cucunya begitu suram, membuat Leo ikut sedih dibuatnya.


Dengan lembut dia berkata. “ Tenanglah, ibumu mungkin sedang perjalanan ke sini!”


“ Jadi kau tidak perlu risau, kakek dan nenekmu yang akan mengurus ayahmu!”


“ Aku tahu kakek!” ucap Dion.


“ Kakek, apakah aku berat? Kakek pasti lelah menggendongku?” Dion bertanya.


Leo menjawab. “ Tentu saja tidak! Ini adalah penebusan dosa, karena kakek tidak bisa menggendongmu saat bayi! Maafkan kakek Dion!


Dion hanya tersenyum kala mendengar perkataan Kakeknya, dirinya begitu bahagia kala, keluarga dari ayahnya begitu mencintainya. Sungguh kebahagian yang sesungguhnya bagi Dion.


Di sisi lain.


Bella Xia menangis di dalam taksi, dia takut Nelson akan pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Bella terus mencoba menghubungi nomor yang tadi menghubunginya. Namun, tetap tidak bisa.


“ Kenapa tidak bisa? Apa yang sebenarnya terjadi?” Bella terus menerus berbicara sendiri.


Sopir taksi pun menjadi sedikit bingung melihat penumpangnya menangis.


“ Ayolah…!!!” Bella terus mencoba menghubungi nomor tadi.


Jalanan sangat macet, bahkan mobil yang ditumpangi tidak bergerak sama sekali.


“ Pak sopir, apa yang terjadi sekarang? Mengapa mobilnya tidak bergerak? Bella bertanya dengan cemas.


“ Saya juga tidak tahu, Nona! Sepertinya di depan sana, terjadi kecelakaan! Jawab sang sopir.


Bella semakin khawatir. “ Ini terlalu lama! Jika aku menunggu di sini!”


“ Bagaimana jika aku tidak sempat bertemu Nelson lagi?” Dirinya semakin tidak terkendali.


Pikiran-pikiran negatif pun bersarang di kepalanya.


Jarak antara tempatnya berada, dan rumah sakit terbilang jauh.


“ Apakah aku lari saja ke rumah sakit?”


Bella berpikir sejenak hingga akhirnya dia memutuskan keluar dari taksi, dan memilih untuk berlari.

__ADS_1


Bella berkata. “ Pak sopir, saya turun di sini saja!”


Sopir taksi pun berkata. “ Tapi ini masih terlalu jauh Nona! bagaimana bisa Nona berlari sampai ke rumah sakit?”


Bella cukup bimbang. Dia kembali bertanya. “ Pak, apakah jalannya akan lancar kembali?”


Sang sopir tidak cukup yakin kala menjawabnya. “ Entahlah Nona, saya juga tidak yakin. Melihat jalurnya saja merah, yang artinya tidak akan bergerak dalam waktu dekat, Nona!” ungkap sang sopir.


Bella tanpa pikir panjang, dia keluar mobil dan menyerahkan ongkos taksinya.


“ Pak, saya turun di sini saja! Dan ini ongkos taksinya. Terima kasih.” Ucap Bella.


“ Aku harus secepatnya sampai ke rumah sakit. Aku tidak ingin kehilangan Nelson!” Batinnya.


Bella mulai berlari, menyusuri jalanan yang macet total.


Di rumah sakit.


Nelson masih tidak sadarkan diri pasca operasi. Dion juga telah berganti pakaian, dengan pakaian baru dan bersih, dia sedang menunggui ayahnya Nelson.


Dion mencoba memegang tangan ayahnya, dengan harapan Nelson akan sadar.


Dion berkata. “ Ayah, bukankah kau ingin membawaku jalan-jalan. Lekaslah bangun! Aku ingin pergi denganmu!” Ucap Dion, seraya memeluk lengan ayahnya.


“ Sayang, lebih baik kau istirahat! Bukankah, dokter memintamu istirahat!” Seru Sandra, mengingatkan cucunya Dion.


“ Nenekmu benar sayang, sebaiknya kau istirahat!” Seru Leo.


Sejam telah berlalu, Dion masih menunggu Nelson tersadar, dia menggenggam erat tangan ayahnya seraya berkata. “ Ayah, kau sudah berjanji padaku, jika ayah tidak akan meninggalkanku walau dunia ini hancur sekalipun!”


“ Tapi lihatlah, bahkan sekarang ayah tidak bisa membuka mata ayah sendiri!” Dion berkata sengan putus asa, air mata mulai membasahi wajahnya.


Tiba-tiba saja sebuah suara terdengar di telinganya. “ Laki-laki tidak seharusnya menangis bukan?”


Dion menengadahkan kepalanya, melihat ayahnya telah membuka matanya, membuat dirinya kaget.


“ Ayah, ayah sudah siuman?” Seru Dion.


Semua orang yang menunggu di kamar Nelson seketika kaget, campur bahagia.


Leo yang melihat putranya siuman, dengan sigap memanggil dokter.


“ Dokter, dokter putraku siuman!”


Dokter pun segera berdatangan ke kamar rawat Nelson, mereka memeriksa keadaan Nelson.


Dokter berkata. “ Keadaan Tuan muda Nelson, cukup stabil, luka operasi juga tertutup dengan baik!”


“ Pendarahan di perut juga sudah di atasi, dan kami harap Tuan muda jangan meminum minuman asam, minuman bersoda, dan minuman beralkohol!”


“ Kami akan memantau terus keadaan Tuan muda, dan memastikan pemulihan pasca operasinya dengan teliti.”

__ADS_1


“ Untuk selanjutnya, kami harap Tuan muda juga kooperatif dalam menjaga tubuhnya! Pinta dokter.


“ Saya undur diri, selamat beristirahat Tuan muda!” Sang dokter pun membungkukkan badannya pada Nelson.


“ Terima kasih dokter, atas kerja kerasmu.” Leo berkata , seraya membungkukkan badannya kepada dokter.


Dokter pun pergi meninggalkan ruangan Nelson.


“ Kau mendengarnya bukan? Kemarin malam kau di sini, mengapa kau pergi meninggalkan rumah sakit saat kondisimu buruk?” Leo sedikit marah pada Nelson putranya, yang selalu seenaknya sendiri.


“ Dion, kau ingin pergi ke mana dengan ayah?” Nelson bertanya, dia ingin memeluk putranya. Namun bagian perutnya terasa begitu menyakitkan.


Sandra sedikit berteriak. “ Hati-hati, lukamu!”


Dion menatap nanar ayahnya, wajahnya pucat, pulir keringat menetes di wajahnya.


Dion bertanya. “ Apakah sakit?”


Nelson menatap putranya, kepalanya di balut perban, yerlihat begitu kala melihatnya.


Namun, Dion tidak memikirkan lukanya sendiri, malahan dia mengutamakan keadaan ayahnya.


Nelson dengan susah payah bertanya, “ Bukankah keadaanmu sama seriusnya dengan ayah?”


Dion tersenyum seraya berkata. “ Luka ini tak sebanding dengan penderitaan kakakku Dean, bukan?”


Nelson sedikit merenung, dia tidak sanggup berbicara.


Dion kembali berkata. “ Aku harap ayah cepat pulih, agar kita bisa bersama lagi.”


Nelson berkata. “ Apakah kepalamu baik-baik saja?”


Dion menjawab. “ Ehmm, tentu saja, kepalaku ini sekeras batu jadi jangan khawatirkan aku!” dengan tersenyum dia menatap Nelson.


Nelson sedikit tersenyum, seraya menahan sakit dia berkata. “ Tentu saja, kau adalah putra ayah yang kuat!”


Sandra dan Leo Hongli ikut tersenyum kala melihat interaksi ayah dan anak itu.


Leo berkata. “ Ah, aku iru pada mereka berdua. Bahkan mereka tidak menganggap kita ada di sini!” ucapnya.


Sandra berkata. “ Eh, kau tidak boleh berbicara seperti itu! Lihatlah mereka berdua, mereka terlihat bahagia, dengan perlakuan kecilnya!” Sandra melemparkan senyumnya pada Nelson dan Dion.


“ Baiklah, kalian berdua sudah puaskan berbincangnya? Sekarang kalian berdua beristirahat, dan jangan membantah lagi! seru Sandra.


Dion memajukan bibirnya, hingga seperti bebek. Seraya berkata. “ Aku ingin bersama ayah! Aku tidak mau pergi dari sini!” Dion kembali merajuk.


Nelson tersenyum kala melihat tingkah Dion, dengan lembut dia berkata. “ Dion putraku, kau harus menurut pada Nenek! Bukankah kau anak yang baik, dan penurut? Seharusnya kau mengerti tentang keadaanmu saat ini! Istirahatlah, ayah juga akan beristirahat, tidurlah di ruang sebelah!” Pinta Nelson.


Dion dengan enggan menuruti perkataan ayahnya, seraya pergi meninggalkan Nelson.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2