
Nelson yang terpejam pun dengan malas membuka kembali matanya, menatap lembut putranya seraya berkata. “ Tentu saja Ayah sedang menikmati waktu di sini.”
Dion sedikit heran dengan jawaban ayahnya. Tidak biasanya dia bersantai. Karena biasanya Ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Dion berkata. “ Tidak biasanya Ayah sesantai ini?”
“ Ayah hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamamu saja,” ungkap Nelson.
Dion tersenyum lembut, seraya berkata. “ Benarkah? Baguslah jika begitu. Aku ingin pergi jalan-jalan bersamamu,” ucapnya.
Nelson bangkit dari tidurnya, seraya bertanya. “ Kau ingin pergi ke mana?”
“ Pergi ke tempat bermain,” ungkap Dion.
“ Bukankah ini sudah terlalu siang untuk pergi ke sana?” ucap Nelson.
“ Tidak apa-apa Ayah. Ayo pergi ke sana,” ucap Dion.
“ Hanya kita berdua?” Tanya Nelson.
“ Emmm” Dion menganggukkan kepalanya.
“ Apakah tidak mengajak ibu?” Nelson kembali bertanya.
“ Tidak perlu. Biarkan ibu istirahat saja,” ungka Dion.
“ Baiklah kita pergi sekarang,” ucap Nelson.
“ Ayo. Aku akan pergi ganti pakaian terlebih dahulu,” ucap Dion seraya berlari menuju rumah.
Nelson hanya tersenyum kala memandangi putranya yang berlarian masuk ke dalam rumah.
“ Ah. Dia sudah tumbuh besar. Walaupun sudah bergelar sarjana. Namun, dia tetaplah seorang anak-anak yang ingin menghabiskan waktu bermain bersama.
Terkadang dunia menuntut mereka untuk bersikap lebih dewasa di usianya yang lebih muda.
Di ruang tamu Nelson sedang menunggu putranya turun dari kamarnya.
Terdengar suara ponsel Nelson berbunyi. Terlihat di layar ponselnya panggilan dari luar negeri. Saat Nelson menjawab panggilannya, terdengar suara di seberang telepon yang begitu familier.
“ Ayah. Bagaimana kabarmu?” Sebuah suara terdengar.
“ Kabar ayah baik, bagaimana denganmu, Nak?” Tanyanya.
“ Aku baik-baik saja,” ungkap Dean.
“ Ayah. Apakah kau sedang sibuk? Aku ingin bicara sebentar,” pintanya.
Nelson berkata. “ Ada apa? Katakanlah apa yang kau butuhkan, Nak?”
“ Begini Ayah, apakah aku bisa memintamu untuk membawa Mr. Oliver bersamaku?” Pinta Dean.
“ Apakah Paman Evan sudah bicara denganmu Ayah?” Tanya Dean.
“ Jika itu keinginanmu, Nak, Ayah akan membawa Oliver pulang bersamamu. Tenanglah, apa yang kau ingin akan Ayah berikan jika Ayah masih mampu memberikannya,” ucap Nelson.
Di seberang telepon itu Dean tersenyum bahagia, seraya berkata. “ Terima kasih, Ayah.” ucap Dean.
“ Ayah harap kondisimu stabil sampai hari kepulanganmu ya, Nak,” ungkap Nelson.
__ADS_1
“ Emmm. Aku akan menjaga kondisiku dengan baik,” ucap Dean.
Terdengar suara. “ Ayah. Ayo pergi. Aku sudah siap,” teriak Dion.
Dean bertanya. “ Apakah itu Dion?”
Nelson bertanya. “ Ya. Itu Dion, apakah kau ingin bicara dengannya?”
“ Apakah boleh?” Jawab Dion.
“ Tentu saja, tunggu sebentar,” ucap Nelson.
Dion mendekati Nelson seraya berkata. “ Ayah. Siapa yang menelepon?” tanyanya.
“ Kemarilah,” ucap Nelson seraya menyerahkan ponselnya pada Dion.
Dion berbisik. “ Siapa?”
Nelson hanya berkata. “ Bicaralah.”
Dion dengan bingung berkata. “ Halo.”
Dean yang mendengar suara adiknya begitu bahagia, seraya berkata. “ Dion. Bagaimana kabarmu?”
Dion tidak percaya dengan apa yang di dengarnya saat ini, matanya berkaca-kaca kala mendengar suara kakaknya. “ Kakak. Apakah itu kau? Aku sangat merindukanmu,” ungkapnya.
“ Emmm. Ini aku, aku juga sangat merindukanmu.” ucap Dean.
“ Kau sedang apa di sana?” tanya Dion.
Dean menghirup napas beratnya, memandang butiran obat di mejanya seraya berkata. “ Aku sedang bermain dengan Paman Evan,” ungkapnya.
“ Dean. Aku dan Ayah akan pergi ke taman bermain,” ucapnya.
“ Benarkah? Kau pasti sangat senang bukan?” ungkap Dean.
“ Emmm. Aku sangat senang, segeralah pulang agar kita bisa pergi bersama,” ucap Dion.
“ Tunggu saja. Aku akan segera pulang,” ucap Dean.
“ Bagaimana ibu? Apakah ibu tidak ikut bersamamu?” tanya Dean.
“ Tidak, ibu sedang istirahat. Sehingga hanya kami berdua saja yang pergi,” ungkapnya.
“ Baiklah, hati-hatilah di perjalanan. Jangan terlalu banyak meminta pada Ayah,” Dean mengingatkannya.
“ Tentu saja,” ucap Dion.
“ Berikan ponselnya pada Ayah. Aku ingin bicara sebentar lagi padanya,” pinta Dean.
“ Ayah.” Dion menyerahkan ponselnya pada Nelson.
“ Ada apa, Nak?” ucap Nelson.
“ Ayah. Aku harap Ayah baik-baik saja. Aku ingin segera bertemu dengan kalian.”
“ Aku juga sangat merindukanmu. Tolong jaga Dion. Jangan marahi dia jika dia berbuat salah,” pintanya.
“ Tenanglah, mana bisa Ayah marah padanya. Apakah ada lagi yang kau butuhkan?” tanyanya.
__ADS_1
“ Tidak ada Ayah. Dion pasti sudah menunggumu, pergilah,” ucapnya.
“ Cepatlah pulang. Agar kita bisa pergi bersama,” ucap Nelson.
“ Baiklah, aku tutup teleponnya ya Ayah. Aku sayang Ayah,” telepon pun terputus.
Dean yang sedari tadi menahan sakit kepala pun, menundukkan kepalanya. Dengan gemetar dia meraih obat di atas nakas. Untuk meminumnya.
“ Ah. Sakit sekali,” ucapnya. Dean pun beranjak ke tempat tidurnya, rasanya sangat sakit.
Di saat dia terbaring Dean tersenyum kala mendengar suara Dion yang sangat bahagia. Dia berpikir jika Dion telah menemukan kebahagiaan yang selama ini dia nantikan.
Dalam hatinya dia berkata. “ Dari suaramu kau terdengar begitu bahagia, aku sangat senang jadinya.”
“ Aku harap kau sehat-sehat adikku,” Dean pun memejamkan matanya, untuk tidur sejenak.
Di sisi lain Nelson masih terdiam kala panggilannya terputus. Hingga Dion menyadarkannya.
“ Ayah. Apakah kita jadi pergi?” ucap Dion.
Nelson yang tersadar dari lamunannya pun berkata. “ Tentu saja, ayo kita pergi,” ucapnya.
Sebelum pergi Nelson berpesan kepada kepala pelayan. “ Jika istriku bangun, buatkanlah sup sarang walet. Dan beri tahu jika aku dan Dion pergi keluar. Kau mengerti?”
“ Mengerti Tuan muda,” ucap kepala pelayan seraya membungkukkan tubuhnya.
Nelson menatap putranya begitu hangat seraya mengulurkan tangannya pada Dion. Dion tersenyum seraya meraih tangan Ayahnya. Dengan erat dia menggenggamnya.
Para pelayan yang melihat interaksi keduanya pun ikut senang. Karena jarang-jarang mereka melihat senyuman Nelson yang begitu memesona, dan memabukkan.
Di luar Roy telah menunggu mereka berdua. Saat melihat mereka berdua mendekat, dia dengan sigap membukakan pintu mobil, seraya membungkukkan tubuhnya.
Roy bertanya. “ Kita akan pergi ke mana Tuan muda.”
Dengan dingin Nelson berkata. “ Taman Hiburan.”
Roy yang mendengar perkataannya pun segera menancap gas. Mobil pun meninggalkan Mansion.
Di dalam mobil awalnya begitu hening. Hingga akhirnya Dion mencairkan suasana di dalam mobil.
Dengan ceria Dion menceritakan kejadian-kejadian konyol yang di alami oleh keduanya.
Nelson yang biasanya jarang tersenyum kini tertawa lepas kala mendengar lelucon Dion, bahkan Roy terkejut melihat Nelson tertawa lepas.
Tak terasa perjalanan menuju Taman hiburan pun telah sampai.
Setelah Roy memarkirkan mobil Nelson, dan Dion menuju loket tiket. Saat berjalan Dion berkata. “ Paman Roy, ayo kita bermain bersama,” pintanya.
Roy yang sedikit terkejut pun berkata. “ Tidak perlu Tuan kecil, saya menunggu di sini,” ungkapnya.
“ Ayolah kita pergi bersama,” pintanya Dion seraya menarik lengan Roy.
Roy menatap Nelson. Namun dengan hangatnya dia berkata. “ Ikutlah bersama kami. Lagi pula putraku ingin pergi bersamamu,” ucapnya.
Baru kali ini dia merasakan kehangatan dari perlakuan Nelson selama dia bekerja padanya.
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih🙏🥰🫶🌹🌹🌹
Bersambung
__ADS_1