ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 147


__ADS_3

“ Tidak mau,” ucap Bella sambil menggelengkan kepalanya.


“ Aku juga belum mengantuk. Seharusnya aku tidak mengganggumu, jika aku tetap di sini! Aku tidak akan bicara, aku hanya akan duduk diam saja seperti ini,” seraya memperlihatkan posisi duduknya.


Bella tidak ingin pergi dari tempatnya, Nelson juga tidak tega mengusirnya, dia hanya membiarkan istrinya menunggu.


Pandangannya kembali ke komputer dan fokus dengan pekerjaannya. Sesekali dia melirik istrinya.


Bella juga hanya bisa duduk di sampingnya sambil meletakkan satu tangan menopang dagunya sendiri, dia patuh tidak berbicara dan tidak melakukan apa-apa, sesuai yang dia katakan sebelumnya.


Dia hanya menatap suaminya, seakan menikmati pemandangan indah yang ada di depannya saat ini.


Jari-jari Nelson yang Indah dan lentik itu dengan lihainya bergerak pada keyboard dengan cepat, begitu serius dan penuh konsentrasi.


Setelah menangani sebagian besar pekerjaannya, dia memegang mouse di tangannya, lalu menutup beberapa file, dan akhirnya mematikan laptop itu bersamaan dengan dokumennya.


Bella yang berada di sampingnya terus menatapnya, Nelson tidak bisa tidak terganggu. Bagaimana bisa dia mengabaikan istrinya yang terus menggodanya dengan terus melirik padanya.


“ Bagaimana kalau kita kembali ke kamar?” Tanya Nelson.


Bella tidak menjawab, seakan dia terpaku pada Nelson, hingga Nelson menghampiri seraya menepuk lembut bahunya. Seketika dia tersadar, lalu dia berkata. “ Ah. Ada apa suamiku?”


“ Mengapa melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan?” Nelson bertanya dengan sedikit heran.


“ Ah… tidak, tidak ada,” seraya mengulas sedikit senyuman.


Nelson mencoba duduk di sampingnya. “ Sebaiknya kita kembali ke kamar, ini sudah larut malam,” ucap Nelson seraya menarik pelan lengan Bella. Nelson menggendongnya, ala bridal style.


Saat mereka berjalan menuju kamar, mereka mendengar suara rintihan dari dalam kamar Dean, sejenak Nelson menurunkan Bella. Dia mendorong pintu kamar Dean. Dan terlihatlah pemandangan yang menyayat hati. Dean tengah merintih kesakitan.


“ Dean,” teriaknya. Nelson dan Bella segera menghampiri Dean yang tengah berlari ke kamar mandi.


“ Oliver. Apa yang terjadi?” Dengan cemas Nelson bertanya.


“ Sepertinya, sakit kepala Tuan kecil kembali menyerang.” Jawab Oliver cemas.

__ADS_1


“ Owe… owe… owe..” terdengar lagi suara Dean yang sedang muntah. Nelson dan Oliver segera ke dalam untuk membantu Dean. Semakin lama rintihan itu terdengar begitu pilu.


Bella menutup mulutnya. Kedua mata indahnya berkaca-kaca. Dia tidak tahan saat melihat putranya begitu menderita. Dia hanya terdiam mematung benar-benar tidak berdaya.


Oliver mencoba memberikan obat pereda nyeri. Namun saat Dean mencoba menelan obatnya dia terus menerus memuntahkan isi perutnya. Nelson baru kali ini mendapati kondisi putranya kian parah kala sakitnya menyerang.


“ Oliver ambilkan jarum suntik dan ampul obat Dean.” Dia memerintahkannya untuk segera mengambil obat.


Oliver segera membuka laci nakas di samping tempat tidur Dean. Secara naluriah seorang ibu mencoba menenangkan putranya Dean yang tengah merintih kesakitan. “ Sayangku Dean. Ini ibu, Nak. Bertahanlah sebentar lagi!” bisik Bella di sebelah telinga Dean.


Dean berusaha menahan sakit yang luar biasa, bibirnya bergetar hebat mencoba melawan rasa sakitnya. Perlahan dia membuka matanya lalu digenggamnya erat tangan ibunya Bella. Sorot matanya menunjukkan bagaimana tersiksanya dia, dalam melawan penyakitnya selama ini.


Oliver datang memberikan sebuah alat suntik dan juga sebuah ampul obat. Nelson memindahkan obatnya dengan alat suntik. Dengan mantapnya Nelson menyuntik paha putra sulungnya. Setelah menunggu sesaat Dean pun berangsur-angsur tenang.


Bella masih memegangi tangan kecil putranya. Nelson memindahkan putranya ke tempat tidurnya. Dengan cekatan Oliver mengganti seluruh pakaian Dean yang basah. Dilapnya tubuh kurus itu dengan hati-hati.


Nelson dan Bella menatap tubuh putranya, benar-benar membuat patah hati sedalam-dalamnya.


Bella menghapus air matanya. Dia tidak sanggup saat melihat Dean begitu menderita. Bella sedikit terisak. Namun, dia mencoba untuk tetap tegar. Dia tidak ingin kalah dengan putranya. “ Jika Dean bisa melewati semua ini, aku pun sebagai ibunya harus bisa kuat melewati semua ini.” batinnya.


Nelson menatap istrinya, dia terlihat begitu kaget. Kala menghadapi situasi kritis seperti ini. Di peluknya tubuh istrinya yang bergetar. “ Tidak apa-apa! Semuanya sudah terkendali.” Kamu tidak perlu khawatir, ada Oliver yang akan menjaga Dean.


Nelson mengusap punggung istrinya dengan lembut, berharap istrinya tidak sedih ataupun murung. Dia tidak ingin keceriaan yang selalu dia lihat dari sosoknya itu menghilang bersamaan datangnya rasa sakit yang di derita putra sulung mereka.


“ Ayo kita kembali ke kamar, ini sudah larut,” Nelson mengajaknya kembali. Dia menggandeng tangan Bella yang masih gemetar itu.


“ Tidak apa-apa. Percayalah putra kita sangatlah kuat, dia tidak akan kalah dengan semudah itu.” Nelson menguatkan istrinya.


Bella masih tertunduk, dia tidak mengatakan apa-apa. Dia berjalan mengikuti langkah kaki suaminya. Sesekali menatap ke belakang memastikan bahwa putranya sudah kembali tenang.


Nelson mengulas sebuah senyuman pada istrinya. “ Percayalah semuanya akan baik-baik saja.” Seraya menyejajarkan bahu mereka saat melangkah menuju kamar. Walau sebenarnya Nelson sedikit khawatir. Namun dia tidak menunjukkan kepada istrinya.


Pagi hari Nelson dan Bella mengunjungi kamar Dean, saat dia masuk terlihat Dean tengah tertidur bersama Oliver di ranjang yang sama, karena semalam Dean agak demam, sehingga saat menjelang pagi Oliver baru bisa tidur.


“ Ada apa ini?” Batinnya.

__ADS_1


Nelson menghampiri Dean disentuhnya dahi putranya itu.


“ Ada apa ini?” tanya Bella cemas.


Nelson meraih termometer di nakas, mencoba memeriksa suhu tubuh Dean. Terlihat di alat termometer menunjukkan angka 38 derajat Celsius. Suhu tubuhnya masih saja tinggi.


“ Oliver,” Nelson memanggilnya dengan lembut. Namun Oliver tidak merespons suaranya.


Bella menghela napasnya. Dia bergegas mengganti air dalam baskom dengan air hangat. Bella dengan telaten membasuh setiap inci kulit putranya. Di tatapnya tubuh kurus itu dengan mata berkaca-kaca, Nelson mengelus dengan lembut bahu istrinya memberi semangat.


Setelah menunggu lebih lama Nelson kembali memeriksa suhu tubuh Dean. Kali ini dia dapat bernapas dengan lega. Suhu tubuhnya kini telah turun. Telah normal kembali. Oliver terperanjat kaget kala melihat Nelson dan Bella berada di dalam kamar.


“ Ah Tuan. Nyonya. Maaf, maafkan saya karena sudah lancang tidur bersama Tuan kecil,” ucapnya dengan sedikit gemetar dia takut jika Nelson akan marah besar padanya.


Dengan ekspresi datarnya dia berkata. “ Tidak apa-apa! Lagi pula aku mengerti kau pasti sangat lelah menjaga putraku semalaman.”


Oliver tidak percaya majikannya ini ternyata sangat perhatian. Jika dia berada di keluarga lain mungkin dia akan segera di usir. “ Tidurlah lebih lama, aku dan istriku akan menjagannya.” Seraya mengambil baju untuk Dean dan menyerahkannya pada Bella.


“ Tidak Tuan, tidak perlu saya sudah cukup tidur,” Oliver berkata seraya beranjak dari tempat tidur.


Nelson dan Bella hanya mengulas senyum padanya. semakin membuat dirinya makin canggung. Nelson yang menyadari kecanggungannya pun segera bereaksi. “ Kau tidak perlu sungkan seperti itu!”


“ Lagi pula kau sudah bekerja dengan begitu baik,” seraya memperhatikan Bella yang sedang memakaikan pakaian pada Dean. Kemudian Bella pamit untuk membangunkan Dion.


“ Aku titip Dean, aku akan membangunkan Dion lalu menyusul kalian ke ruang makan untuk sarapan.” Bella mengecup kening putra sulungnya. Seraya beranjak pergi meninggalkan kamar Dean.


“ Ayah aku sangat haus, ingin minum,” suara lemah itu mengalihkan pandangan keduanya.


*


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2