
“ Aku bahkan mengabaikan kedua putraku!” Ungkap Bella.
Anita berkata. “ Sebaiknya kita makan terlebih dahulu. Hidangan yang aku buat untukmu, kini sudah dingin .”
Bella menyela perkataan Anita, dia berkata. “ Maafkan aku Anita, yang aku bisa hanya menyusahkanmu saja!”
Anita berkata. “ Eh, eh, apa yang kau katakan? Kita ini sahabat bukan? Berbagilah rasa sakit, dan dukamu padaku!”
Anita kembali bertanya. “ Apakah kau akan memakan makananmu?”
Bella menggelengkan kepalanya, seraya berkata. “ Tidak, aku tidak ingin makan apa pun Anita!”
Anita hanya menghirup napas beratnya, seraya berkata. “ Baiklah, aku akan makan sendirian.”
“ Oh ya, aku akan berangkat kerja. Tinggallah di sini, sementara. Hingga kau bisa, dan mampu menemui Nelson. Apa kau mengerti? Tanya Anita.
Bella hanya menganggukkan kepalanya.
Di Hotel Quebec, Kanada.
Dean yang masih mengalami rasa sakit yang luar biasa, kala obat penghilang rasa sakitnya telah menghilang. Begitu pilu jika melihatnya.
Dean terus memegang kepalanya yang sakit. Mr. Oliver telah mengupayakan berbagai cara untuk mengurangi rasa sakitnya, hingga akhirnya Dean dapat kembali tenang.
Oliver begitu mengkhawatirkan Dean, dengan cemas dia berkata. “ Tuan muda, apakah rasa sakitnya telah berkurang?”
Dean menjawab dengan susah payah, dengan suara lirih, dia berkata. “ Setidaknya ini sudah lebih baik!”
“ Mr. Olaf, mengapa sekarang gejalanya, begitu menyakitkan! tidak seperti biasanya?”
Oliver menjawab. “ Apakah sebaiknya, kita ke rumah sakit saja!”
Dean dengan halusnya menolak, seraya menampilkan senyuman terbaiknya, dia berkata . “ Tidak perlu, aku masih bisa mengatasinya.”
Oliver menyela perkataan Dean, dengan suara tinggi Oliver nerkata. “ Tapi Tuan muda!”
Dean kembali berkata. “ Aku percaya, Mr. Olaf mampu menanganinya. Jangan terlalu khawatir, aku bahkan lebih tahu, tentang kondisi tubuhku ini!”
Oliver merasa takjub, biasanya anak yang di tanganinya selalu merengek, dan menangis kala rasa sakitnya menyerang. Namun, berbeda dengan Dean dia begitu tenang.
Namun sesekali dia menangis tanpa suara, agar tidak ada seorang pun mengetahui rasa sakitnya.
“ Mr. Olaf, apakah kau pernah kehilangan pasienmu? Dean tiba-tiba saja bertanya.
Oliver sedikit bingung. Namun, dengan mantap dia berkata. “ Tentu saja, karena setiap jiwa akan kembali ke penciptanya!”
“ Dulu aku kehilangan adikku, karena penyakit kanker pankreas, aku begitu kehilangan. Sosoknya yang begitu ceria, dan gembira hingga akhir hayatnya.”
__ADS_1
“ Aku sempat berpikir mengakhiri hidupku, karena untuk apa aku hidup? Sedangkan separuh jiwaku saja telah pergi untuk selamanya.” Perlahan air mata Oliver turun membasahi wajahnya yang tampan.
Dengan susah payah Dean mencoba menggenggam tangan Oliver, seraya berkata. “ Mr. Olaf adalah orang yang kuat, aku beruntung dapat dijaga olehmu!”
Oliver merasakan hatinya begitu hangat, kala mendengar ucapan Dean.
Oliver mencoba menguatkan Dean seraya berkata. “ Aku selalu berdoa pada Tuhan, agar Tuan muda dapat melewati rasa sakitnya, dan dapat sembuh seperti sedia kala!”
Dean hanya tersenyum, seraya berkata. “ Aku sangat ingin bertemu ibuku, dan juga saudaraku. Namun, aku tak kuasa melihat tatapan sedih mereka, kala melihat tubuhku yang semakin kurus!”
Dean menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Akhirnya Oliver melihat sosok asli Dean, yang tak lain hanyalah anak biasa, yang membutuhkan dukungan dari orang terdekatnya.
Saat Evan mencoba mengetuk pintu kamar Dean, dirinya tidak sengaja mendengar percakapan keduanya, yang membuat hati Evan menjadi pilu.
Evan tak kuasa menahan air matanya. “ Ah, kenapa aku harus mendengar percakapan mereka berdua? Rasanya begitu sesak di dadaku!”
Tok.. tok..tok.. suara pintu di ketuk.
Evan mendorong pintu kamar, seraya berkata. “ Tuan kecil, Mr. Oliver. Makanan sudah siap!”
“ Apakah Tuan kecil ingin makan di kamar?” Evan bertanya.
Saat mendengar suara Evan, dengan segera Dean mengusap air matanya. Namun, suaranya tidak bisa berbohong.
Dean dengan suara sedikit paraunya berkata. “ Tidak perlu, aku bisa meminta Mr. Oliver membawaku ke meja makan.”
Oliver menjawab. “ Baik Tuan muda.”
Oliver menggendong Dean di pelukannya, terlihat Oliver sangat tulus kala membawa Dean, ke meja makan.
Oliver mencoba, menyuapi Dean. Namun, dampak dari kemo dan radoterapi menyebabkan mual dan muntah, dengan begitu menyakitkannya. Membuat yang mendengarnya begitu khawatir.
Evan mencoba mengetuk, seraya berkata. “ Tuan kecil, apakah Tuan kecil baik-baik saja?” Evan bertanya dengan cemas.
Terdengar suara Dean yang muntah, terdengar begitu pilu. Dean berkata. “ Aku, tidak apa-apa.” Seraya membuka pintu kamar mandi. Wajahnya begitu pucat pasi. Sungguh pemandangan yang menyayat hati.
Evan dan Oliver secara bersamaan menangkap tubuh Dean yang hampir terjatuh.
Oliver bertanya. “ Apakah Anda tidak apa-apa, Tuan kecil?”
Perlahan Dean kehilangan kesadarannya, yang terdengar hanya panggilan namanya.
“ Tuan kecil… Tuan kecil… Tuan kecil…”
Oliver, segera memangku Dean untuk membawanya ke rumah sakit. Staf hotel yang melihat Oliver, dan Evan berlarian, membuat mereka begitu khawatir.
Evan dengan cekatan, dan sigap mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit. Rasa sakit Dean terlihat jelas kala, dahinya mengernyit kesakitan.
__ADS_1
Di dalam mobil, Evan berdoa dalam hatinya. “ Ya Tuhan, angkatlah rasa sakitnya, berikanlah waktu yang lebih lama untuk Tuan kecil.”
“ Aku tidak mau melihat hati Tuan muda Nelson hancur, kala Tuan kecil meninggalkannya.”
Apa yang akan terjadi pada Dean selanjutnya, kala Nelson tidak berada di sampingnya?
Di tempat Nelson di rawat.
Drrrttt… drttt ponsel Nelson bergetar.
Terdengar suara di seberang telepon begitu panik.
“ Halo Presdir, di perusahaan terjadi sedikit masalah.”
Nelson bertanya. “ Apa yang terjadi?”
“ Ada sebuah virus, menyerang data Base perusahaan, dan itu seperti kanker.”
“ Setelah di hapus, akan ada lagi, dan lagi!” ungkap seorang teknisi IT di perusahaan yang di naungi oleh Hongli Group.
Nelson sedikit berpikir, dia pun berkata. “ Baiklah, aku akan melihat ke sana! Pertahankan pengamanannya.”
“ Baik, Presdir!”
Nelson yang masih merasakan sakit di bagian perutnya pun, bersusah payah mengenakan pakaiannya. Dan di saat yang sama Dokter Kevin masuk, untuk memeriksa keadaan Nelson.
Dokter Kevin bertanya. “ Apa yang kau lakukan?”
Nelson menjawabnya dengan enteng. “ Aku akan pergi ke kantor, ada sedikit masalah di sana.
Dokter Kevin sedikit marah, dia berteriak pada Nelson di depan perawat. “ YA! Kau sudah bosan hidup ya!”
Nelson dengan tenangnya berkata. “ Tidak perlu berteriak seperti itu. Aku ini masih pasienmu!”
Dokter Kevin berkata. “ Nelson, bahkan luka di perutmu saja belum pulih! Bagaimana bisa kau mencoba untuk pergi ke kantor dengan wajah pucat pasi itu?”
Nelson kembali menimpali perkataan dokter Kevin. “ Aku baik-baik saja, jangan berlebihan seperti itu? Bahkan kau memanggilku, tanpa rasa hormat begitu! Benar-benar Dokter yang satu ini. Begitu berani padaku!”
Dokter Kevin merasa jengkel pada Nelson, dirinya mencoba memperingatkannya. “ Jika kau berani melangkahkan kakimu keluar dari sini, aku tidak akan bertanggung jawab!”
Dokter Kevin dengan putus asa, dia kembali memperingatkan Nelson. “ Ingatlah jika kau merasakan sakit di bagian perutmu segeralah kembali kesini!”
“ Baiklah,” seraya Nelson meninggalkan kamar rawatnya.
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹
Bersambung
__ADS_1