
Bella masih berada di vila keluarga Xia. Kini dia sedang menyusuri vila tersebut. Rasanya tidak ada yang berbeda saat dirinya meninggalkan vila ini.
Di dapur terlihat Bi amoy sedang sibuk memasak, aroma masakan yang sangat familier itu membuat Bella rindu akan cita rasa masakan Bi Amoy.
Bella menuju dapur, melihat lebih dekat tubuh Bi Amoy yang sudah renta itu.
“ Bau masakannya harum sekali Bi,” ucap Bella.
“ Eh, Nona. Nona pasti rindu kan masakan Bibi,” ungkap Bi Amoy.
Bi Amoy berkata. “ Duduklah, sebentar lagi masakannya selesai.”
Rasanya seperti nostalgia ya Bi,” ucap Bella.
“ Ada apa, Non?” ucap Bi Amoy.
“ Bella duduk di sini itu, rasanya seperti Bella waktu kecil. Setiap Bi Amoy masak, Bella selalu menunggu di meja makan,” ungkap Bella seraya tersenyum hangat.
Bi Amoy yang melihatnya, begitu terenyuh kala Bella membicarakan masa-masa itu.
Bi Amoy menyiapkan makanan. Di meja makan sudah ada berbagai macam lauk dan sayuran. Serta makanan kesukaan Bella.
Bella berdecak kagum kala melihat begitu banyak masakan.
“ Wah. Bibi mengapa banyak sekali makanan?” ucap Bella.
“ Bukankah vila ini sudah terjual? Apakah boleh kita makan seperti ini, di sini?”
“ Apakah bibi tahu siapa yang membelinya?” Bella bertanya karena penasaran.
Bi Amoy berkata. “ Bibi juga tidak tahu Nona, siapa yang sudah membelinya. Karena pembelinya tidak datang ke sini.”
Bella kembali bertanya. “ Bibi. Apakah bibi tahu ke mana ayahku pergi?”
“ Bibi juga tidak tahu Non. Bibi cuma di suruh untuk menjaga vila ini. Bibi juga tidak tahu siapa yang mempekerjakan bibi di sini,” ungkap Bi Amoy.
Bella terdiam sejenak. Dalam hatinya dia berkata. “ Sebaiknya aku mencari tahu siapa yang membeli vila ini.”
“ Ini sangat lezat bibi,” ungkap Bella.
__ADS_1
Bi Amoy hanya tersenyum seraya berkata. “ Makanlah yang banyak. Selagi Bi Amoy masih ada di sini.”
“ Bibi kan sudah tua, tinggal menunggu giliran saja. Bibi sangat senang bisa bertemu sama Nona Bella lagi,” ucap Bi Amoy.
Bella makan dengan lahap makanan yang di masak oleh Bi Amoy. Dia benar-benar merindukan aroma dan cita rasa masakan Bi Amoy.
Setelah selesai Bella duduk di ruang tamu, tiba-tiba saja terlintas bayangan seorang anak perempuan yang berlarian dengan begitu gembira, di belakangnya ada Bi Amoy yang sedang menjaganya. Bahkan dalam bayangannya Belinda Xia, ibu Bella terlihat bahagia tanpa beban.
Tiba-tiba saja butiran crystal bening jatuh membasahi wajah cantiknya. Seraya memejamkan matanya Bella berbicara dengan sangat pelan,” aku sangat merindukanmu ibu, sangat rindu,” ucapnya.
“ Andai saja wanita murahan itu tidak muncul dalam hidupnya, mungkin keluarga kecilku akan tetap harmonis, aku masih bisa bersama ibuku, dan juga ayahku,” batin Bella.
Bi Amoy yang sedari tadi memperhatikan Bella pun, menghampirinya dengan lembut Bi Amoy menepuk-nepuk pundak Bella seraya berkata. “ Menangislah Nona. Jika menangis mampu membuat Nona kembali lega, dan tenang maka lakukanlah,” ucapnya.
Bella yang menangis tertunduk itu pun menengadahkan kepalanya. Menatap wajah tua Bi Amoy. Tangis Bella kembali pecah.
“ Bi Amoy,” ucap Bella
“ Iya, Nona,” balas Bi Amoy.
“ Kenapa semua ini harus Bella rasakan? Ini semua begitu pedih Bi,” ungkap Bella.
“ Bi dunia ini begitu kejam untuk Bella, jika bukan karena Anita. Bella sudah ingin mengakhiri hidup Bella Bi,” ungkap Bella.
“ Bibi tahu, dan mengerti bagaimana hancurnya Nona. Saat di usir dari rumah saat tengah mengandung. Hati bibi juga terluka saat itu.”
“ Tapi Bibi mencoba bertahan, karena bibi yakin Nona Bella akan kembali ke sini suatu hari nanti,” ucap Bi Amoy.
Bi Amoy semakin erat kala mendekap Bella, dengan lembutnya Bi Amoy mengusap puncak kepala Bella. Seraya berkata.
“ Nona sudah bekerja keras, Nona adalah salah satu wanita tangguh, dengan tegarnya Nona mampu membesarkan anak tanpa dukungan keluarga, saya sangat berterima kasih pada Tuhan. Karena Nona kembali dengan sehat,” ungkap Bi Amoy.
“ Jangan biarkan hasrat ingin balas dendam Nona. Menguasai diri Nona. Jangan biarkan Nona menjadi seperti mereka yang telah menyakiti Nona. Jika itu terjadi Nona sama saja seperti mereka,” ucap Bi Amoy memberi nasehat pada Bella.
“ Bi Amoy. Apakah bibi ingin melihat kedua putraku?” Tanyanya.
“ Apa! Ada dua? Anak kembar?” Bi Amoy terkejut bukan main saat mendengar perkataan Bella.
Bella menyalakan ponselnya. Dan menunjukkan foto kedua putranya seraya berkata. “ Lihatlah mereka berdua adalah anak-anakku Bi Amoy. Mereka sangat tampan bukan?” Ucapnya.
__ADS_1
Bi Amoy lebih kaget lagi kala melihat wajah keduanya. Benar-benar sangat identik, tanpa perbedaan sedikit pun.
“ Nona. Ini anak-anak Nona? Mereka sangat tampan. Bagai pinang di belah dua. Nona sangat beruntung memiliki putra yang begitu sangat tampan,” ucap Bi Amoy.
Bella yang sedari tadi menangis menyebabkan matanya membengkak, dan suaranya kini terdengar begitu parau.
“ Ah. Bagaimana ini? Suaraku begitu parau. Dan mataku terlihat bengkak, seperti ini?” batinya.
“ Aaahh. Aku tidak ingin terlihat kacau seperti ini di hadapan Nelson. Bagaimana ini?”
Bella menggeleng-gelengkan kepalanya. Menepis apa yang telah dia bayangkan sekarang. Bella mencoba untuk tenang. Dia mencoba untuk menghirup napasnya perlahan. Bella menguatkan hatinya untuk bertemu dengan suaminya dengan keadaan seperti itu.
“ Bi. Bi Amoy,” panggilnya.
“ Iya, Non,” balas Bi Amoy.
Bi Amoy yang sedang mencuci piring kotor pun segera menghampiri Bella seraya berkata. “ Ada apa Nona?” ucapnya.
“ Bi Amoy. Bella pamit pulang terlebih dahulu. Oh ya, jika pemilik vila yang baru datang berkunjung. Bisakah bibi untuk meminta nomornya? Agar aku bisa menghubunginya,” ucapnya seraya memberikan pelukan erat pada Bi Amoy.
Bi Amoy tidak bisa menolak permintaan bayi kecilnya, dia sudah berjanji menghubunginya setelah bertemu pemilik baru vila nya.
“ Ah. Tunggulah sebentar lagi. Aku akan mengambilmu kembali. Bersabarlah sedikit lagi,” batin Bella.
Bella berjalan menyusuri taman bunga yang kini kering kerontang tak terurus, melihat kembali ke belakang. Seakan melihat ibunya sedang memetik bunga mawar kesukaannya.
Bella menahan gejolak di hatinya. “ Jangan menangis lagi. Sudah cukup,” ucapnya.
“ Berhenti membayangkan hal yang tak kan pernah kembali lagi. Aku mohon jangan buat aku menangis lagi “ ungkapnya.
Bella yang berdiri di pinggir jalan pun, sadar akan sangat sulit mendapatkan taksi di sini. Hingga akhirnya Bella berjalan cukup jauh dari kawasan vila keluarga Xia.
Kakinya yang belum pulih sepenuhnya itu kini terasa sakit kembali. Bella berhasil berjalan menuju halte bus, seraya menunggu bus atau taksi, dirinya melepas sepatunya dan terlihat pemandangan yang membuat mata sakit. Lukanya yang sudah kering itu kembali basah.
“ Ah. Nelson pasti sangat marah, biarkan sajalah.” batinnya.
Tiba-tiba turun hujan, Bella yang masih menunggu bus pun berteduh di halte. Entah mengapa? Saat hujan turun dia begitu merindukan Nelson. Rindu akan kehangatan dan kelembutannya yang tidak dia dapatkan dari ayahnya.
Bersambung
__ADS_1