ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 153


__ADS_3

Selesai mandi Dean memilih celana hitam panjang, serta kaus putih polos bermerek, lalu memakai jaket denim. Dia terlihat begitu menawan, cara berpakaiannya di dukung oleh wajah yang rupawan.


Dion juga tak kalah menawan, saat dia keluar kamar secara bersamaan dengan Dean. Terlihat pakaian yang mereka pakai hampir sama. Paduan warna hitam dan putih adalah warna favorit mereka.


Dan lebih mengejutkan lagi adalah. Nelson pun mengenakan paduan warna hitam dan putih. Jas buatan desainer ternama itu membalut tubuhnya yang tegap dan atletis.


Bella menundukkan kepalanya, “ Aku rasa tidak ada gen milikku yang tersimpan dalam DNA mereka berdua.” gumamnya.


Dia menghela nafas beratnya seraya berkata. “‘ayo kita berangkat.”


Mereka pun naik ke mobilnya karena hari ini Nelson yang mengemudi, sehingga dia membawa mobil Audi R8 warna hitam miliknya.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam setengah akhirnya mereka tiba di rumah utama. Milik keluarga Hongli, di mana Kakek Nelson dan kedua orang tuanya tinggal.


Saat memasuki pekarangan, terlihat banyak mobil yang terparkir. Ada bermacam-macam merek mobil di sana, Nelson sudah tahu pasti di dalam sudah ramai. Di mulai anak, cucu, dan menantu telah berkumpul di sana.


Di pintu utama Nelson beserta yang lainnya telah di sambut dengan sopan dan hormat oleh para pelayan di sana.


Dean dan Dion berjalan di belakang Ayah dan Ibunya. Terlihat mereka berempat begitu menarik perhatian.


Dean beserta adiknya memang memakai topi saat keluar dari mobil, hingga masuk ke dalam rumah.


“ Lihatlah bukankah itu Tuan muda Nelson?”


“ Jadi wanita itu adalah istrinya?”


“ Ku dengar mereka memiliki putra yang sudah besar.”


Saat kedua wanita itu membicarakan Nelson, di saat yang sama si kembar pun lewat di hadapan mereka. Dean melirik dengan ujung matanya yang indah itu seakan memberikan tatapan dingin, namun terkesan memabukkan.


“ Duduklah di sana,” seraya menunjuk sofa panjang ruang tamu. Agar kedua putranya duduk di sana, sedangkan dirinya bersama Bella menemui tetua sekaligus kakek dari Nelson sendiri.


“ Kakek,” Nelson menyalaminya, semua mata tertuju pada mereka.


Selain Nelson memang tampan bawaan lahir, sedangkan Bella tak kalah menawan, dia begitu cantik. Bahkan saat wanita yang berada satu ruangan dengannya itu merasa sangat buruk.


“ Kau sudah datang? Di mana mereka?” Seraya mencari-cari keberadaan putra kembar Nelson.


“ Mereka ada di ruang tamu,” ucap Nelson.


Dean dan Dion memang sedikit lelah, mereka juga tidak terlalu bersemangat. Mereka berdua bersandar di sofa seraya menunggu Nelson selesai.


Dean memejamkan matanya, begitu pula Dion. Tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


“ Kau siapa?” tanya wanita paruh baya.


Dean membuka matanya perlahan. Namun dia tidak berbicara.


Wanita itu sedikit kesal karena di abaikan oleh anak kecil. Topi di kepala keduanya terlepas. Memperlihatkan wajah tampan yang benar-benar indah tanpa cacat sedikit pun.


Tatapan mata yang di tunjukkan oleh Dean terlihat begitu dingin hingga menembus tulang. Wanita yang menangkap tatapan Dean seketika tidak bicara lagi.


Kakek buyut menghampiri mereka berdua. Dean yang menyadari keberadaannya segera bangkit seraya menyapa, dengan sopan dan hormat padanya. Terlihat seutas senyuman dari Kakek.


“ Gen dan DNA nya benar-benar dari Nelson. Tak ada sedikit cacat dari wajahnya, benar-benar sempurna.” gumamnya.


“ Dean, apa yang ini?” seraya menunjuk pada wajah Dean.


Dean sedikit mengulas senyum, tidak beda dengan Nelson sama sekali, senyumannya begitu angkuh.


Kakek buyut melihat sekeliling, cicitnya ada di mana-mana, mereka bermain ke sana kemari, berlarian menabrak apa pun yang ada di depan mereka.


Namun berbeda dengan kedua anak kembar Nelson, mereka diam duduk di sofa. Tak banyak yang di lakukan mereka. Hanya menonton televisi, seraya menunggu acara makan malam di mulai.


Setelah perbincanngan yang di lewati oleh ketiganya, Kakek buyut sangat menyukai keduanya. Tak hanya cerdas mereka berdua juga bijaksana pada usia yang begitu muda.


Di meja makan makanan telah siap. Di meja yang panjang dan besar itu telah duduk banyak keluarga yang hadir.


Nelson dan Bella telah duduk di barisan depan, sedangkan mereka berdua duduk di barisan anak-anak, sesekali Kakek buyut memperhatikan keduanya.


“ Bahkan saat makan pun mereka terlihat anggun,” seraya melirik pada cicitnya yang lain, terlihat mereka begitu ribut. Berebut makanan kesukaan mereka, yang membuatnya sakit kepala.


Setelah makan malam usai, Dean dan Dion duduk di ruang keluarga bersama dengan anak yang lebih tua dari mereka. Sedangkan Nelson bersama Bella berbincang dengan kakek buyut, serta tetua keluarga Hongli.


Di sisi lain.


Andre yang kembali merasakan getaran cinta itu, semakin sering tersipu, terkadang wajahnya memerah saat mendapat pesan dari seseorang.


Namun terkadang dia kembali murung saat menatap kembali foto mendiang istri serta putrinya. Andre memejamkan matanya, menguatkan hatinya untuk mulai membuka hatinya untuk wanita lain.


Anita seakan memberikannya suatu harapan, yang akan mengubah hidupnya. Dia benar-benar melukis momen yang tak akan pernah di lupakan olehnya.


Raut wajahnya yang begitu menggemaskan, senyumnya yang lembut, seakan terus membayangi hari-harinya, Andre seakan tenggelam dalam lautan asmara yang belum pasti itu.


Walau dia tahu akan terluka jika memulai hubungan dengan seorang wanita, dirinya ingin menolak kehadiran Anita. Namun tidak bisa. Semakin dia mencoba untuk melupakannya, semakin besar ke inginannya memiliki Anita.


“ Ah, kau benar-benar, membuatku larut dalam bayanganmu.”

__ADS_1


“ Seakan kau selalu mengikutiku, suaramu yang lembut itu terngiang-ngiang di telingaku. Ingin sekali aku kembali memeluk tubuh indahmu.” Andre mulai membayangkan Anita dalam pikirannya.


Berbeda dengan Robin walau terkadang dia baik-baik saja. Namun, kenyataanny dia menyimpan lukanya yang sangat dalam.


Hidupnya masih dalam bayang-bayang wanita yang sangat dia cintai, hatinya begitu hampa, seakan warna dalam hidupnya telah hilang. Dia selalu terlihat tegar di luar namun dia sangatlah rapuh.


Drrrttt… Drrrttt… Ponsel Robin bergetar, terlihat ada panggilan masuk. Dia segera menjawabnya.


“ Bos, dia sudah kembali,” terdengar suara dari seberang telepon yang membuat Robin terdiam.


Robin segera mengambil mantelnya, tidak lupa dia membawa kunci mobilnya. Kakaknya Rainer memperhatikan gelagat adiknya itu yang begitu terburu-buru meninggalkan rumah.


Di bandara seorang wanita yang sangat cantik itu tengah berjalan sendirian. Walaupun wanita namun bentuk tubuhnya begitu tegap dan anggun.


Ya. Itu adalah Gisel, wanita yang selama ini dicintai dan di puja oleh Robin. Dia menatap sekelilingnya. “ Rasanya begitu banyak yang berubah padahal baru empat tahun yang lalu aku pergi.”


“ Tapi segalanya berubah begitu cepat.” Gisel menatap sepatu yang di kenakannya. Dia memejamkan matanya, perasaan sedih terluka itu kembali menghampiri dirinya.


Walau sepasang sepatu itu sering kali membuatnya mengingat masa lalu yang begitu menyakitkan. Namun, tetap saja dia enggan membuangnya. Sepatu itu terlalu berharga baginya.


Gisel mengusap ujung matanya. “ Ada apa ini? Mengapa seperti ini? Semuanya telah berlalu. Mungkin saja dia telah memiliki kehidupannya sendiri,” dia menguatkan hatinya sendiri.


Dengan perlahan dia mulai melangkahkan kakinya menuju mobil Bentley hitam yang telah menunggunya di luar bandara.


Saat Robin hendak masuk ke dalam bandara, dia berpapasan dengan Gisel yang hendak masuk ke dalam mobil hingga mereka berdua tidak dapat bertemu satu sama lain.


“ Selamat datang kembali,” ucap pria yang ada di dalam mobil.


Gisel mengula senyuman yang begitu menenangkan, dan itu terkesan seperti bukan dirinya. “ Terima kasih sudah menjemputku,” ucapnya. Seraya memegang tangan pria itu.


Di dalam bandara Robin masih mencari sosok yang selama ini dia rindukan, Robin terlihat sangat putus asa saat mencarinya. Bahkan orang yang di perintahkan olehnya pun kehilangan sosok wanita itu.


Benar-benar membuat frustrasi, Robin duduk di kursi tunggu di dalam bandara, kedua telapak tangannya mengusap kasar wajahnya. Dia tak habis pikir, bahkan CCTV pun tidak menangkap sosoknya.


“ Bagaimana ini bisa terjadi? Mengapa aku tidak bisa menemukannya? Apa yang sebenarnya terjadi?” Robin bertanya-tanya dalam harinya.


Robin semakin putus asa, dia menghela napas beratnya, sekian lama dia menunggu baru kali ini wanita itu muncul, walau dia tidak menemukannya hari ini, setidaknya dia tahu bahwa wanita yang selalu membuatnya sekarat telah kembali.


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih atas dukungannya.🙏🥰🫶🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2