ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 187


__ADS_3

“ Oliver, tolong kau jaga anak-anak. Kami akan pergi. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku.” Nelson menitipkan anak-anaknya pada Oliver, lalu beranjak pergi bersama Bella dan Evan di belakangnya.


Oliver hanya membungkuk hormat pada mereka, dia yang tahu apa yang tengah di alami oleh majikannya itu ikut merasakan perbedaan aura mereka semenjak insiden itu terjadi. Segalanya mulai terasa berubah. Nyonyanya yang biasa ramah dan ceria itu kini hanya diam, bahkan tidak bicara selain kepada suaminya sendiri.


Oliver menghela napas panjangnya lalu mengembuskannya kembali, dia menatap kedua anak yang tengah terbaring di ranjang. Keduanya tampak begitu tenang seakan tidak ada yang terjadi pada mereka. Namun, pada kenyataannya luka yang di dapatkan begitu berdampak pada diri mereka berdua, dia duduk di sofa yang ada di dalam ruangan sembari membaca sebuah buku.


Di dalam mobil Bella terus memandang ke arah luar jendela mobil, langitnya begitu gelap, buliran air mata tertahan di dalam bola matanya yang indah, tampak menggenang namun tidak jatuh ke bawah, saat Bella berkedip kilauan Crystal bening itu akhirnya jatuh perlahan mengalir melewati wajah pucat Bella. Nelson yang melihatnya tak kuasa menahan kesedihannya.


Dengan lembut Nelson mengusap air mata yang ada di pelupuk mata istrinya, dia berusaha menguatkan batin istrinya yang tengah terguncang itu, dengan erat menggenggam telapat tangannya yang dingin itu.


“ Kamu pasti kuat melewati semua ini, aku akan selalu ada di sampingmu. Jangan bersedih lagi, saat kau seperti ini aku juga terluk.” Nelson terus mengajak istrinya bicara, akan tetapi dia hanya memandanginya dengan tatapan yang begitu dalam.


“ Maafkan aku, karena aku membuatmu khawatir.” Bella kembali memandang langit yang mendung itu lewat kaca jendela mobil.


Setelah perjalanan selama dua jam akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit kecil yang ada di pinggiran kota Provinsi. Bella menghirup napasnya dengan berat, tangannya sedikit gemetar, dia menguatkan dirinya untuk masuk ke dalam. Nelson menggandeng tangan istrinya dan berjalan berdampingan menuju pintu masuk di ikuti dengan Evan yang mengekor di belakangnya.


Di dalam sana sudah ada Andre yang menunggu kedatangan mereka berdua, Andre berdiri di depan pintu bersama dengan dua orangnya yang sedang berjaga, dia berpakaian serba hitam sama seperti Bella maupun Nelson yang ada di hadapannya. sebagai tanda mereka ikut berkabung.


“ Bagaimana?” Nelson bertanya pada Andre yang tengah berdiri di ambang pintu.


“ Jasadnya ada di dalam, menurut Dokter dia sudah tewas dua hari yang lalu, perkiraan penyebabnya adalah akibat serangan jantung. Akan tetapi itu belum pasti sebelum dilakukannya autopsi.” Andre menjelaskan situasinya pada Nelson. Lalu dia pun menganggukkan kepalanya.


Nelson mendekap tubuh istrinya, seketika tangan dingin Bella menyentuh punggung tangan suaminya, dia berbalik dan mengulas sebuah senyuman padanya. Tampak begitu pasrah dengan keadaan.


“ Apa kau ingin masuk?” Nelson bertanya, Bella pun menganggukkan kepalanya dengan pelan, tubuhnya sedikit bergetar kala memasuki ruang jenazah.


Di depan sana tampak ada sebuah meja yang di tutupi kain putih rumah sakit. Di sanalah tubuh Ayahnya Lian Xia terbaring kaku, merasakan bagaimana dinginnya dia di baringkan pada sebuah tempat pembaringan jenazah.


Bella diam mematung menatap nanar sesuatu yang berada di balik kain putih yang menutupinya. Dia tampak tegar di sana, bahkan matanya tidak berkedip sama sekai terus menatap ke depan.


Seorang petugas forensik pun datang menghampiri keduanya, lalu berkata. “ Silahkan untuk mengkonfirmasi jenazahnya.”


“ Apa kamu ingin melihatnya? Jika tidak kuat, tidak perlu melihat.” Nelson bertanya seraya menggenggam tengan istrinya.


“ Tidak apa-apa, aku tetap harus melihatnya.” Bella berkata dengan pelan suaranya terdengar parau.

__ADS_1


Nelson pun menganggukkan kepalanya pada petugas, sang petugas pun perlahan membuka kain putih yabg menutupi kepalanya. Di sana terpampang jelas wajah pucat Lian Xia yang sudah membiru. Bella menatapnya dengan dalam. Tubuhnya mundur dua langkah ke belakang. Nelson segera meraih lengannya agar dia tidak terjatuh.


“ Kamu tidak apa-apa?” Nelson bertanya dengan cemas. Buliran air mata mulai menetes perlahan melewati pipinya yang halus.


“ Apa kamu sudah cukup melihatnya?” Bella menganggukkan kepalanya. Nelson memberi isyarat pada petugas untuk segera menutup kembali jenazahnya. Bella yang terhuyung itu di bawa keluar oleh Nelson, penampilan Bella begitu menyedihkan, dia menangis dengan pilu di pangkuan suaminya.


Andre mendekati keduanya lalu setengah berbisik bertanya. “ Dokter forensik bertanya, apa kalian akan melakukan autopsi pada jenazahnya?”


Nelson menatap istrinya lalu berkata. “ Apa kamu ingin melakukan autopsi pada tubuh ayahmu? Untuk menemukan penyebab kematiannya.” Bella yang mendengar perkataan suaminya berbalik, sejenak dia terdiam lalu berkata. “ Tidak perlu, aku tidak ingin membunuhnya untuk kedua kalinya.” Suaranya bergetar karena menahan tangis.


“ Baiklah, sebaiknya kita segera memindahkan jasadnya ke rumah duka. Agar kita juga lebih dekat dengan anak-anak. Bella hanya mengangguk, tanpa bicara sepatah kata pun.


Selagi Andre mengurusi proses pengambilan jenazahnya, mereka berdua menunggu di kursi tunggu. Bella tidak lagi menangis dia hanya menunjukkan ekspresi wajah yang kosong, dari sorot matanya memancarkan kesedihan yang dalam. Sungguh membuat orang sedih kala melihatnya.


Andre datang dan di ikuti oleh sebuah brankar yang tengah di dorong oleh petugas dan juga anak buah Andre. “ Sudah selesai.” Nelson menoleh lalu menganggukkan kepalanya.


“ Sayang kita sudah selesai, ayo kita kembali.” Nelson mengajak Bella untuk beranjak pergi.


Setelah jenazahnya di masukkan ke dalam mobil ambulance, Nelson dan Bella pun beranjak masuk ke dalam mobil. Evan segera menyalakan mobilnya lalu pergi meninggalkan rumah sakit kecil itu.


Di rumah duka Sandra beserta suaminya Leo Hongli sudah menunggu ke datangan keduanya, kedua orang tua Nelson cukup terkejut akan kabar kematian Lian Xia. Walau besannya itu tidak terkesan di matanya. Akan tetapi dia tetaplah Ayah dari Bella menantunya, ibu dari kedua cucunya.


“ Ada apa?” Leo kembali bertanya.


“ Aku khawatir dengan keadaan Bella, apa dia baik-baik saja?” Sandra menatap ke arah luar. Hujannya cukup deras, kilauan guntur pun saling bertaut semakin menambah kesan mencekam.


“ Percayalah bahwa menantu kita adalah wanita yang kuat. Aku yakin dia pasti mampu melalui cobaan ini. Walau ini begitu berat baginya, akan tetapi Nelson akan selalu bersamanya, dan tidak akan meninggalkannya.” Leo menepuk pundak istrinya pelan. Sandra hanya bisa mempercayai suaminya.


Kilatan petir tampak jelas dari kaca jendela kamar di bangsal VVIP begitu terang, dan menakutkan, gemuruh hujan semakin menambah kesan kelam.


Duuuuaarrr… suara guntur itu begitu keras, membangunkan Dion yang tengah tertidur, dia berteriak karena kaget.


“ Ayah…” napasnya tersengal, detak jantungnya bahkan cepat dari biasanya, matanya membelalak karena ketakutan.


“ Ada apa?” Oliver segera berlari menghampiri Dion yang ada di tempat tidurnya.

__ADS_1


Tubuhnya gemetar di dalam penglihatannya seakan melihat hal yang begitu mengerikan baginya. Oliver memeluknya dengan erat. “ Tidak apa-apa, ada aky di sini.”


“ Ayah, ayah…” teriaknya lagi. Dion melepaskan pelukan Oliver lalu berlari ke luar kamarnya, dia menabrak siapa saja yang tidak sengaja menghalangi jalannya.


“ Ayah!” Dion yang syok terus berteriak dan berlari sepanjang koridor rumah sakit, Oliver mengejarnya tapi tidak berhasil mendapatkannya kembali.


Dion menyusuri koridor rumah sakit namun dia tidak menemukan Ayahnya. Hingga di ujung jalan dia menemukan sebuah pintu, di mana pintu itu tertulis tangga darurat. Dion melangkahkan kakinya dan membuka pintu. Saat Oliver menyusulnya dia tidak menemukan Dion di sana. Dengan gugup dia menghubungi ponsel Nelson namun tidak dapat tersambung karena hujan lebat.


Oliver berpikir sejenak lalu kembali mencari Dion di sekitar rumah sakit. Namun, tetap saja dia tidak menemukannya.


Di balik pintu darurat yang berada di sisi lain rumah sakit Dion tengah berjalan menuruni tangga, deru hujan dan gemuruh guntur membuat dia menghentikan langkahnya. Napasnya terasa begitu sesak, dia memegangi dadanya. Tubuhnya kembali gemetar, di raut wajahnya terlukis ketakutan, dia memeluk tubuhnya sendiri meringkuk di pojokan sambil terus memanggil Ayahnya.


“ Ayah tolong aku.” Teriaknya lirih. Namun tangga darurat yang ada di gedung yang lain itu tidak terlalu terjamah oleh orang sehingga Dion tidak menemukan siapa pun yang datang ke sana.


Di dalam perjalanannya kembali kerumah sakit Nelson mendapatkan sebuah panggilan dan di lihat dari layar itu adalah Oliver. Nelson tanpa segan segera menjawabnya. “ Halo, ada apa?” Nelson mendengarkan dengan seksama apa yang di katakan olehnya, raut wajahnya Nelson berubah. Oliver menghubungi Nelson karena dia tidak menemukan Dion di mana pun. Di tambah CCTV tidak menangkap sosok Dion yang lewat.


Nelson menutup teleponnya. “ Evan tolong lebih cepat. “ Evan yang menangkap sesuatu telah terjadi itu menyadari dari raut wajah Nelson yang gelisah. Dia tak banyak bertanya dengan segera memacu mobilnya membelah jalanan di hujan yang begitu deras.


Sesampainya di sana Nelson membawa Bella untuk menunggu bersama ibunya di rumah duka. Di sana Sandra menunggunya, raut wajahnya juga tak kalah cemas. Saat Nelson hendak pergi Bella menangkap lengannya, dia memgangkat dagunya wajahnya yang sedih itu menatap wajah suaminya.


“ Mau ke mana?” Suaranya terdengar parau.


Nelson memegang tangannya seraya berkata. “ Aku harus pergi sebentar, dan aku akan segera kembali. Jadi tunggulah di sini bersama ibu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Tunggulah.” Nelson mengecup kening istrinya sebelum pergi dia tidak lupa memberikan kenyamanan untuknya. Bella mengangguk pelan tanda mengerti dengan apa yang di katakan oleh suaminya. Nelson pun pergi untuk menemui Oliver dan beberapa orang yang sedang berkumpul untuk mencari Dion.


“ Tuan.” Oliver menyapa dengan sopan dan hormat padanya.


“ Apa yang sedang terjadi?” Oliver pun kembali menjelaskan bagaimana semuanya terjadi karena Dion tidak menemukan sosok Nelson di sisinya.


“ Kita harus segera menemukannya, sebelum istriku menyadari kehilangannya.” Nelson memberi perintah pada semua orabg untuk mencari Dion di sudut rumah sakit.


Oliver dan dya petugas lainnya mengelilingi bagian rumah sakit di bagian barat. Sedangkan Nelson pergi ke ruang keamanan di mana semua rekaman CCTV berada. Dengan seksama Nelson mengamati setiap sudut yang terpantau oleh kamera.


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih atas dukungannya.🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹


Bersambung


__ADS_2