ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 121


__ADS_3

“ Aku akan menginap di sini,” ucap Andre yang keluar dari kamar mandi.


“ Jika kau di sini, aku juga di sini,” ucap Ronald.


“ Ya. Di sini tidak banyak kamar,” ucap Andre.


“ Bukankah ada kamar Nelson. Kita bisa memakainya. Iya kan?” ucap Ronald. Seraya menatap Evan.


“ Emm.. kau bisa memakainya,” jawab Evan.


“ Baiklah, bagaimana kalau kita minum?”tanya Robin.


“ Hei. Di sini ada anak-anak. Bukankah tidak baik memperlihatkannya?” ucap Andre.


Evan menyela pembicaraan. “ Kita minum bir saja. Lagi pula di lemari es ada banyak.


“ Ya. Itu juga tidak apa-apa,” jawab Robin.


Mereka pun minum bir hingga larut malam, hingga mereka tertidur.


Di saat tengah malam Dean terbangun. Kepalanya sangat sakit. Oliver yang tertidur tidak sadar jika Dean bangun.


“ Ah. Mengapa begitu sakit?” batinnya.


Di dalam kamar mandi sakit kepalanya semakin menjadi. Dean muntah beberapa kali, di luar kamar mandi terdengar begitu pedih.


Di wastafel Dean menatap di cermin wajahnya begitu pucat. Tenggorokannya sakit karena muntah terus menerus.


“ Ayah. Sakit sekali. Tolong aku,” ucapnya dengan lirih.


Dean mencoba untuk bertahan. Namun rasa sakit itu semakin menggila.


Semua orang telah terlelap dalam tidurnya. Hingga tak seorang pun yang mendengar rintihannya.


“ Mr. Olaf. Mr. Olaf,” Dean memanggilnya dengan lirih. Namun, tidak ada yang mendengar.


Hingga akhirnya sakit kepalanya tak tertahankan, dia pun terjatuh di kamar mandi, kepalanya terbentur pada westafel hingga kepalanya mengeluarkan darah.


Dengan lirih dia mencoba memanggil seseorang. “ Tolong…tolong aku.”


“ Mr. Olaf.”


“ Paman Evan.”


“ Siapa pun tolong aku,” rintih Dean.


Separuh wajahnya kini tergenang oleh darahnya. Dean menatap pintu, menatapnya sendu. Hingga dia tidak sadarkan diri.


Dua puluh menit telah berlalu. Dean masih berada di kamar mandi dengan darah menggenang.


Oliver terbangun. Dia mendapati ranjang Dean kosong. Dia melihat pintu kamar mandi terbuka.


“ Tuan kecil,” panggilnya. Oliver beberapa kali memanggil Dean tapi tidak ada jawaban.


Oliver kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Dean yang berlumuran darah.

__ADS_1


“ Tuan kecil,” teriak Oliver.


Hingga membangunkan semua orang. Evan dan Andre segera menuju kamar Dean. Dan betapa terkejutnya mereka kala melihat pemandangan berdarah.


“ A-apa yang terjadi?” tanya Evan.


Oliver menjawab. “ Saat aku menemukannya Tuan kecil sudah seperti ini,” ucapnya.


Andre berkata. “ Kita harus segera membawanya ke rumah sakit.”


“ Oliver. Hentikan pendarahannya,” perintah Andre.


Oliver segera membaringkan Dean di tempat tidur, dengan gemetar dia mengambil perban.


Ronald, Robin, dan Yohan yang mendengar keributan pun bergegas melihat Dean. Betapa patah hatinya mereka melihat keadaan Dean.


Oliver yang gemetar tak sanggup menghentikan pendarahannya. Ronald dengan cekatan membantu Oliver menghentikan pendarahannya.


Andre telah bersiap. Melihat jam sekarang masih pukul 01:00 tengah malam. Andre segera menggendong Dean, Evan dan yang lainnya mengikuti di belakang.


“ Apa yang sebenarnya terjadi?” batin Andre.


Pihak Hotel kebingungan kala melihat Evan berlarian keluar kamar.


Andre memasukkan Dean ke dalam mobil. Dan Evan yang mengemudi. Mereka menuju rumah sakit terdekat agar Dean segera di tangani.


“ Anak muda, apa kau mendengarku?” ucap sang dokter.


“ Anak muda, apa kau mendengarku?” Panggilnya. Seraya memeriksa Dean. Namun tidak ada reaksi.


“ Berikan infus. Dan siapkan pindai Ct Scan,” ucap dokter.


Andre sangat cemas kala itu, dia takut terjadi sesuatu pada Dean. Dalam hatinya dia berdoa agar Dean bisa melewati masa kritisnya.


Di Mansion Nelson.


Drrrttt .. Drrrttt…Drrrttt.. Ponsel Nelson bergetar.


Nelson sedang berada di dapur, Dion melihat ada telepon masuk di ponsel Ayahnya. Dion pun setengah berteriak.


“ Ayah. Sepertinya ada telepon masuk,” teriaknya.


Nelson bertanya seraya berjalan menghampiri Dion. “ Siapa?”


Dion melihat nama yang tertera di layar ponsel adalah Evan. “ Dari Paman Evan,” ucapnya.


Nelson segera menjawab teleponnya. Dan terdengarlah suara yang begitu panik, suaranya bergetar kala bicara.


PRANG…


Gelas di tangan Nelson pun terjatuh kala mendengar apa yang di katakan oleh Evan di telepon. Tubuhnya lemas seakan kehilangan keseimbangan.


Bella yang melihat kejadian itu secara langsung segera menghampiri Nelson dan bertanya. “ Apa yang terjadi? Mengapa wajahmu begitu pucat.


Nelson menutup teleponnya. Dia segera meminta seseorang untuk menyiapkan Jet pribadi agar bisa segera terbang ke Kanada.

__ADS_1


Dia mengalihkan pandangannya pada Bella dan Dion. Dia sedikit ragu saat ingin mengatakan situasi apa yang sedang dialami saat ini.


Dengan berat hati seraya menghirup napas beratnya, dia berkata. “ Terjadi sedikit kecelakaan. Dan Dean masuk ke rumah sakit,” ucapnya.


Tiba-tiba tubuh Bella seakan kehilangan keseimbangan. Untungnya Nelson sigap menangkap tubuh Bella dengan cepat.


Bella memegang tangan Nelson seraya bertanya. “ Apa yang terjadi padanya? Apakah sesuatu yang buruk menimpanya?” Tanya Bella


Nelson tak bisa berkata apa pun, dengan panik Nelson berkata. “ Kemasilah barangmu. Kita akan berangkat menyusul Dean,” ucapnya.


“ Jangan menangis. Percayalah Dean akan baik-baik saja,” ucap Nelson. Seraya menghibur Bella.


Dalam batin Nelson berkata. “ Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Dean bisa terluka di kamar mandi?”


Nelson sangat khawatir. Dengan tidak sabar dia kembali menghubungi seseorang yang bertanggung jawab dalam jet pribadi miliknya.


Terdengar suara di seberang telepon. “ Halo. Presdir. Pesawat telah siap,” ucapnya.


Nelson berkata. “ Baguslah aku akan segera ke sana,” ucap Nelson.


Dion telah bersiap, begitu pun Bella. Mereka sangat khawatir akan keselamatan Dean.


Banyak fikiran negatif yang terlintas dalam benak Bella. Mereka mengendarai mobil menuju bandara. Di mana jet pribadi Nelson berada.


Sesampainya di bandara Nelson beserta Bella pun menaiki Jet Pribadinya. Di sana sudah ada pilot serta pramugari yang siap melayani mereka selama berada di pesawat.


Di Rumah Sakit.


Dean telah di tangani, dan juga telah melakukan pemindaian Ct Scan.


Evan di panggil ke ruang dokter. Untuk mendapat penjelasan darinya.


“ Tuan. Di otak kanan putra Anda terdapat Hematoma Subdural.” ucapnya.


Evan bertanya. “ Apa pendarahannya banyak?


Dokter berkata. “ Untungnya tidak banyak.”


“ Ada fraktur tengkorak. Tetapi darahnya hanya membentuk lapisan tipis di bagian bawah. Saya rasa tidak perlu sampai di operasi. Kendati begitu, Putra Anda akan di pantau di unit perawatan intensif. Sampai dua hari ke depan.”


“ Lalu mengapa dia tidak sadarkan diri? tanya Evan.


“ Kesadaran memamg bisa melemah, bila terjadi pendarahan berat di kepala. Selama di obati dengan baik, dan pendarahan tidak bertambah. Kesadarannya pasti bisa pulih kembali,” ungkap sang Dokter.


Evan keluar dari ruangan Dokter. Dia melangkah dengan begitu gontai seakan kakinya melayang, raganya tanpa jiwa.


Dean telah di pindahkan ke ruang perawatan intensif. Andre dan yang lainnya menunggu di kursi tunggu.


Saat Evan datang mereka semua berdiri dan bertanya pada Evan bergantian.


Evan berkata. “ Untuk saat ini kita bernapas lega. Menurut Dokter untuk saat ini tidak ada yang perlu di khawatirkan,” ucapnya.


Semua orang bernapas lega. Kala mendengar perkataan Evan.


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2