ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 71


__ADS_3

Malam semakin larut, Nelson dengan sabar menjaga Dean, dia bahkan memeriksa keadaan Dean sesekali, betapa sayang dan tulusnya Nelson pada Dean.


Pernah terlintas Nelson ingin melakukan tes DNA terhadap Dean dan Dion, tapi selalu diurungkannya, namun hati kecilnya berkata bahwa anak-anak ini adalah miliknya.


Nelson menatap tubuh mungil itu, tangan yang awalnya berisi kini telah kehilangan berat badan cukup banyak, kini tubuh mungill itu semakin lemah, cahaya di wajah tampannya semakin meredup.


“ Kau harus kuat Dean.. bertahanlah. Kehidupanmu baru saja di mulai. Aku harap kau bisa tumbuh dewasa bersamaan dengan menuanya diriku dan ibumu. Jangan biarkan kau kalah melawan penyakitmu,” ungkap Nelson.


Ke esokan harinya


Dean telah bangun menunggu dokter untuk memeriksakan keadaan matanya yang tiba-tiba kabur. Dean masuk keruangan dokter spesialis mata, setelah serangkaian pemeriksaan, Dean dikembalikan ke kamarnya. Sedangkan Nelson mengikuti dokter ke ruangannya.


Dokter dengan seksama dan telaten menjelaskan kondisi mata Dean.


Dokter khawatir sel kankernya menyebar cukup cepat, sehingga meminta Dean untuk melakukan biopsi.


Nelson dengan gontai keluar ruangan dokter. Nelson berjalan seperti tanpa jiwa. Dia tidak menyangka jika sel kanker Dean berkembang begitu cepat. Nelson berada di kursi tunggu, dia sedikit dilema apakah harus memberitahu Bella tentang Dean atau tidak?


Benar-benar membuat dirinya frustrasi. Setelah menimbang-nimbang akhirnya Nelson memutuskan untuk membicarakan masalh ini pada Dean agar dia mau memberitahu Bella ibunya.


Cekrek… suara pintu kamar di buka.


“ Ayah, apakah itu kau? Tanya Dean, nada suaranya terdengar sedikit ceria.


Nelson yang sedari tadi tiidak kuasa menahan tangisnya pun menjawab.


“ Ya, Ayah sudah kembali nak. Apa ada yang kau butuhkan? Tanya Nelson.


Nelson dengan tegar menghampiri Dean, dengan mata yang sudah merah karena menahan tangis, dan amarah yang menyatu dalam dirinya.


Kala Nelson menghampiri Dean yang berada di sofa menghadap jendela besar itu, terlihat Dean yang sedang duduk itu, tak biasanya dia tersenyum, wajahnya yang tampan terlihat sangat memesona, dan memukau kala sinar mentari itu menyinari wajahnya.


“ Kau terlihat sangat tampan nak!” Ucap Nelson seraya memberikan senyuman hangatnya.

__ADS_1


“ Bukankah aku sudah tampan sejak lahir,” dengan bangga Dean mengatakannya.


“ Ya, kau benar. Kau memang sudah tampan sejak lahir,” ungkap Nelson. Seraya mengusap kepala Dean.


Nelson merasa tidak biasanya Dean seceria ini, bahkan sekarang dia terlihat sering tersenyum.


“ Ayah… ayah…” seru Dean. Nelson yang termangu pun tersadarkan oleh suara Dean yang memanggilnya.


” Aah.. iya ada apa nak?” Tanya Nelson.


“ Apa yang dokter bicarakan? Apakah semakin memburuk?” Dengan tenangnya Dean bertanya.


Nelson sedikit bingung, untuk menjelaskan situasinya.


“ Akh… sudah kuduga. Akhirnya seperti ini juga, mata merahmu mengatakan semuanya,” dengan santainya Dean mengatakan hal itu.


Nelson bahkan tak habis pikir pada Dean. Bagaimana bisa? Dia dengan tenangnya menerima kenyataan yang begitu tidak adilnya.


“ Takut tentu saja, namun menunjukkannya pun tidak akan merubah apa pun. Semuanya sudah tertulis sejak aku dalam kandungan ibuku.”


“ Untuk apa mengeluh? Semunya akan kembali pada saatnya tiba. Bahkan ketika orang meninggal, akan ada juga yang lahir ke dunia ini. Untuk menggantikan kehidupan yang telah berakhir.” Dean dengan santai berbicara pada Nelson.


“ Dean, bagaimana kalau kita memberitahu ibumu?”


“ Ayah takut jika nanti ibumu mengetahuinya dari orang lain. Pasti dia akan sangat kecewa,” terang Nelson ingin Bella tahu keadaan Dean saat ini.


Dean berkata. “ Tidak. Saat ini ibuku sedang jatuh cinta kepadamu, jadi jangan biarkan dia sedih dan merasa tertekan. Jika kalian sudah merayakan pernikahan kalian, aku dengan senang hati memberi tahu ibuku,” dengan senyum yang menggoda Dean menatap Nelson.


“ Dean tidak bisakah kau mengatakannya sekarang?” Nelson kembali membujuknya.


“ Tidak belum saatnya , tunggu sampai acara resepsi kalian aku akan memberitahunya,” Dean dengan kekeh menjawabnya.


“ Nak, apa kau pikir dunia ini tak adil bagimu?” Nelson bertanya dengan sedih.

__ADS_1


“ Apanya yang tidak adil? Tuhan itu adil bahkan seadil-adilnya.”


“ Aku tampan, cerdas, memiliki keluarga dan saudara. Namun Tuhan tahu dengan dia memberikanku sesuatu yang spesial seperti ini, itu tandanya aku adalah orang yang begitu spesial bagi Tuhan.”


“ Tidak ada Tuhan itu jahat, atau pilih kasih dan sebagainya. Namun yang harus di ingat adalah sudahkah bersyukur hari ini? Jika tidak bersyukur semuanya akan sulit di gapai bukan?”


“ Aku tidak sempurna walau orang lain berkata aku adalah seorang yang sempurna.”


“ Namun di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan adalah milik Tuhan seorang,” Dean dengan bangga mengatakan isi pikirannya.


Nelson sangat mengagumi cara pikir Dean, ya Tuhan memang baik. 😇🥹


Nelson berniat pulang, namun dia mengurungkan niatnya, Nelson pun meminta Evan untuk datang ke rumah sakit F, dan membawakannya beberapa pakaian untuknya dan juga Dean.


Setelah menunggu dua puluh menit akhirnya Evan datang ke rumah sakit. Membawa apa yang Nelson butuhkan.


“ Evan berkata, “ Presdir, ini yang anda butuhkan.” Seraya menyerahkan tas kertas, berisi pakaian dan juga makanan. Evan juga tidak lupa memberi informasi tentang apa yang Nelson perintahkan padanya.


Evan menyerahkan sebuah dokumen penyelidikan tentang kejadian sepuluh tahun yang lalu. Nelson menerima berkas tersebut, namun tidak dilihatnya isi berkasnya. Nelson segera masuk kembali ke dalam kamar Dean, sedangkan Evan kembali ke perusahaan.


Nelson menghampiri Dean, dia begitu terpaku kala wajah tampannya begitu pucat pasi. Sungguh, membuat hati Nelson begitu hancur. Nelson yang terkesan sombong, angkuh, dan terkenal kejam dalam dunia bisnis itu, menangis tanpa suara seraya menggenggam tangan mungil Dean.


Nelson berkata. “ Sungguh tak adil bukan? Kenapa harus dirimu yang sakit? Jika saja ayah bisa menukar hidupmu? Maka akan ayah tukar dengan hidup ayah, lagi pula ayah sudah hidup cukup lama!” Nelson menangis tanpa suara.


Dean terbangun kala mendengar Nelson yang menangis sesegukan. Dengan suara yang sedikit parau Dean berkata, “ Ayah, kenapa kau menangis? Apa kau tidak menerima takdir yang telah Tuhan tetapkan? Jika kau menganggap Tuhan tidak adil? Bukankah selama ini sudah terlihat jelas, jika aku telah mendapatkan banyak karunia dari Tuhan! Ayah ingatlah jika aku terlahir sebagai pilihan Tuhan! Yang selalu dekat dengan Tuhan.


Setelah Nelson menyadari jika Dean mendengar keluh kesahnya. Nelson dengan mantap menatap wajah Dean yang mungil, dan dengan menyesal dia berkata, “ Ayah tidak menangis, Nak! Ayah hanya saja merasa sedih, ayah ingin menukar hidup ayah jika bisa! Namun ayah sadar bahwa itu tidak mungkin.”


Dean dengan susah payah bangkit dari tidurnya, dengan lembut mengusap air mata di wajah Nelson dan berkata. “ Ayah, ingatlah bahwa ini takdir Tuhan yang sudah di tetapkan. Jangan pernah memgeluh ataupun marah, karena aku saja tidak mengeluhkan semua ini.” Dean memperlihatkan senyuman terbaiknya, mencoba memberi tahu Nelson bahwa dia baik-baik saja.


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2