ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 179


__ADS_3

Nelson keluar dari mabil, dia berlari menghampiri putranya. “ Dion putraku. Apa kau tidak apa-apa?” Nelson memeluknya erat.


“ Ayah,” suaranya bergetar, Napasnya tersengal.


“ Dean masih berada di sana,” tangannya menunjuk ke arah belakang.


Nelson melirik tubuh Dion terdapat memar di pergelangan tangannya. Membuat hatinya begitu hancur.


“ Bos.” Andre menghampiri.


Nelson menyerahkan Dion ke pangkuan Andre. “ Jaga dia, aku akan segera kembali, panggil bantuan. Aku akan mendapatkan kembali putraku.” Nelson menyiapkan amunisi untuk pistolnya.


Sebelum pergi dia menghampiri Dion. “ Tunggulah sebentar, Ayah akan segera kembali.” ucap Nelson.


Tiba-tiba Dion menarik lengan Nelson, dia berkata. “ Ayah, selamatkan Kakakku. Aku mohon.” Pintanya, penuh pengharapan.


Nelson memacu mobilnya menuju tempat terakhir Dean, di depannya terlihat seorang pria tengah menggendong seseorang.


“ Berhentilah di situ!” Nelson berteriak seraya menembakkan pistolnya ke atas langit.


Sang penjahat pun menghentikan langkahnya, dia membalikkan tubuh lemah Dean menjadikannya sebuah tameng.


“ Dean,” teriak Nelson.


Samar-samar Dean mendengar suara Ayahnya. Dengan susah payah dia membuka matanya, tampak sosok Nelson dari jauh.


Dean menyeringai. “ Lihatlah dia Ayahku, sekarang tamat riwayatmu!” Dia memprovokasi orang yang menyanderanya.


“ Diam kau bocah sialan!” Sang penjahat pun menempelkan pisau di leher Dean, menggores kulit luarnya, tampak darah membentuk garis tipis di lehernya.


Nelson mengamati keadaan Dean, tampak berantakan, dan sangat kacau, sekujur tubuhnya terdapat luka-luka, bahkan pergelangan tangannya terdapat darah yang sudah mengering.


Wajah tampannya menggelap, tatapannya begitu tajam seakan ingin segera membunuhnya saat ini juga. Akan tetapi Nelson tidak bisa sembarang menembakkan pistolnya mengingat Dean menjadi tamengnya.


Di sisi lain.


Evan yang menerima permintaan bantuan pun segera membawa personil, dan juga tim medis menuju alamat yang di berikan oleh Andre padanya.


Di depan adalah mobil yang tengah di kendarai oleh Evan dan juga Yohan. Yohan yang tadinya di luar negeri itu bahkan terbang langsung dengan jet pribadi miliknya, untuk membantu misi penyelamatan kedua putra Nelson.


Di ikuti dengan tiga mobil jip di belakangnya. Pergi menuju ke tempat Andre berada.


“ Jadi bagaimana situasinya.” Yohan bertanya dengan tatapan yang serius.


“ Menurut Andre. Tuan muda Dion sudah di selamatkan. Sekarang Presdir tengah menyelamatkan Tuan muda Dean, yang masih dalam pengejaran.” Evan berkata seraya menghela napas napas beratnya.


Yohan menatap Evan dengan tatapan yang dalam. “ Ada apa? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi?” Yohan bertanya dengan cemas.


“ Ya, kami sangat khawatir mengingat Tuan muda Dean .” Evan menundukkan kepalanya. Dia menggigit bibirnya, lalu menghela napasnya.


Yohan tahu apa yang tengah di rasakan oelh Nelson, maka dari itu dia tidak banyak bicara. “ Sebaiknya kita bergegas agar cepat sampai di sana.” Ucapnya.


Evan pun memacu mobilnya dengan kecepatan penuh.


Di sisi lain hutan.

__ADS_1


Nelson tengah berhadapan dengan penjahat yang menjadikan Dean sebagai sandera. Nelson waspada terhadap orang yang tengah berada di hadapannya sekarang.


Tubuh Dean yang kurus itu tampak tak berdaya, dia kesakitan. Raut wajahnya semakin pucat membuat hati Nelson gelisah.


Nelson berjalan perlahan, seraya mengacungkan senjatanya. Dia berusaha mendekati mereka berdua sedekat mungkin. Sang pria yang telah terpojok pun bergerak mundur.


“ Aku perintahkam sekarang turunkan senjatamu!” Teriak sang penjahat.


“ Jika tidak akan aku habisi nyawa anak ini.” Ancamnya.


Awalnya Nelson tidak menuruti perintah sang penjahat. Namun dia menyaksikan orang itu tengah menyayat tipis kulit leher Dean hingga mengeluarkan darah.


“ Cepat.” Teriaknya lagi.


Dean menatapnya nanar, dengan suara yang begitu parau dia berteriak. “ Jangan Ayah. Jangan hiraukan aku!”


Namun sedetik kemudian, leher yang telah terluka itu kembali disayat secara perlahan, wajah pasrah itu mengernyit kesakitan, namun dia tak mengeluarkan suara sedikit pun.


Amarah Nelson kian memuncak, dia benar-benar marah sangat marah. Tatapannya begitu tajam kala menatap sang penjahat, dia tidak bisa memaafkan orang yang telah melukai putranya.


Nelson menghirup napasnya, lalu pelan-pelan dia mulai meletakkan senjatanya di tanah. Tatapannya tertuju pada isyarat yang di berikan oleh Dean. Tatapanny menandakan agar Nelson bersiap.


Dean mengumpulkan seluruh tenaganya, dia membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan sang penjahat, dengan sekuat tenaga menendang selangkangannya, di tengah sang penjahat kesakitan, Dean mendorong tubuh penjahat itu hingga terjatuh ke belakang. Dia mencoba berlari menjauh.


Nelson yang sudah bersiap segera menerkam sang penjahat. Dia meninju wajahnya berkali-kali, wajah sang pria terpental ke kiri dan ke kanan, karena mendapat pukulan dari Nelson.


Bug… bug… bug.. wajah sang penjahat di hantam oleh pukulan demi pukulan yang di lancarkan Nelson. Tampak di sudut bibir sang penjahat mengeluarkan darah.


Sang penjahat berusaha melawan, dia membalikkan tubuh Nelson, sehingga kini Nelson yang berada di bawah, Nelson juga mendapat beberapa kali pukulan di wajah tampannya. Nelson berusaha bangkit, sejenak dia melirik pada tubuh Dean yang tidak bergerak. Karena lengah dia terkena pukulan keras lagi, Nelson terhuyung-huyung.


Selagi Nelson sedang baku hantam dengan penjahat, Evan dan Yohan baru saja tiba di lokasi Andre.


Evan tercengang saat menatap pada kondisi Dion yang begitu kacau, kedua pergelangan tangannya memiliki memer yang cukup parah. Membuat hati sakit dan hancur bagi yang melihatnya.


“ Tuan muda,” teriak Evan.


Beberapa orang yang bertugas dintim medis pun bergegas menuju Andre untuk memeriksa keadaan Dion yang masih syok itu.


“ Di mana Nelson berada?” Yohan bertanya karena dirinya tidak menemukan Nelson di sekitarnya.


“ Dia pergi menyelamatkan Dean, pergilah bantu dia,” teriak Andre pada Yohan.


“ Evan, aku akan membawa beberapa personel untuk membantu Nelson di sana! Aku akan pergi, apa kau ingin ikut denganku?” teriaknya pada Evan yang tengah memeriksa keadaan Dion.


“ Pergilah, lagi pula ada aku di sini yang menjaga Dion.” ucap Andre.


“ Tunggu, aku ikut!” Teriaknya, seraya berlari menuju mobil yang tengah di kendarai oleh Yohan.


Mereka pun pergi menuju keberadaan Nelson yang telah memasuki area hutan itu.


Dean membuka matanya, napasnya tersengal, tampak begitu berat. Tatapannya tertuju pada Ayahnya yang tengah bertarung dengan sang penjahat. “ Ayah.” Suara terdengar pelan terus memanggil Nelson yang tengah berada di sisi lain.


Saat Nelson lengah karena mendengar suara Dean, sang penjahat pun menghunuskan pisau di tangannya ke arah perutnya. Nelson yang tertusuk pun tertegun, saat sang penjahat memutar pisaunya dan mendorongnya masuk lebih dalam, membuat Nelson memekik kesakitan.


Dean yang telah kehabisan tenaga pun berusaha menolong ayahnya. Dia bangkit dengan susah payah. Dia mengambil sebatang ranting yang ujungnya runcing, dia berteriak seraya berlari menghampiri penjahatnya. “ Ayah!”

__ADS_1


Sang penjahat yang lengah itu tidak menyadari Dean yang tengah berlari ke arahnya. Dengan sekuat tenaga Dean menghunuskan ranting itu di antara paha sang penjahat yang membuatnya menjerit. Dengan refleks menarik pisau yang menikam Nelson.


Nelson tersungkur, penglihatannya sedikit kabur, rasa sakit mulai menjalari tubuhnya, membuatnya mengernyit, tak terasa darah mulai mengalir keluar. “ Dean.” Teriaknya lemah.


Nelson melirik ke arah penjahat, penjahat itu terhuyung-huyung mendekati Dean, yang sedang mencoba bangkit. Dia menendang tubuh kecil itu begitu kuat. Tampak raut wajahnya tersirat kesakitan yang begitu dasyat.


Setelah di hantam dan di tendang. Tubuh kecil itu sudah tidak bergerak lagi. Kepala Dean berbalik menatap wajah ayahnya, yang berada tidak jauh darinya dia menyeringai, tatapannya begitu kosong kala bertemu dengan sorot mata Nelson.


“ Dean.” Nelson mencoba bangkit, di peganginya perut yang telah berlubang itu. Dia berlari menabrakkan dirinya pada tubuh sang penjahat hingga keduanya pun terjatuh.


Nelson yang marah seakan mendapatkan kekuatan yang besar, dia terus menghantam wajah penjahat itu dengan pukulan di tangannya. Sang penjahat tidak menyangka orang yang terluka parah itu masih bisa melawannya.


Nelson menahan sakit di bagian perutnya. Darahnya begitu banyak yang keluar namun dia tidak memedulikannya. Dia terus memukuli tersangka penculikan itu.


“ Beraninya kau memukuli anak malang itu.” Bug.. bug… Nelson kembali menghantam wajahnya hingga penjahat itu meregang nyawa.


Tak berapa lama, tampak beberapa personil datang , mengamankan lokasi kejadian.


“ Presdir,” Evan berteriak seraya berlari menghampiri Nelson yang tengah berjalan terhuyung-huyung.


Evan segera memapah Nelson. Sedetik kemudian Nelson ambruk akan tetapi dia masih dalam keadaan sadar.


“ Presdir,” Evan merasakan ada sesuatu yang mengalir di tangannya. Saat membalik telapak tangannya telah dilumuri oleh darah.


“ Medis, medis.” Teriak Evan.


Evan menurunkan Nelson, kemudian membaringkan Nelson yang terluka. Evan mencoba menekan titik pendarahan Nelson, agar tidak tidak semakin parah. Kepala Nelson berbalik dengan pelan, tatapannya jatuh pada putranya yang tengah terbaring tak berdaya.


“ Berhentilah bicara, simpan tenagamu.” ujar Evan yang berusaha menghentikan pendarahannya.


Yohan memeriksa Dean yang tergeletak tak berdaya itu, sejenak tertegun. Wajahnya babak belur, bibirnya tampak mengeluarkan darah. Akan tetapi dia menjaga agar kesadarannya tidak hilang.


“ Medis, di sini.” Yohan berteriak memanggil tim medis agar segera mendapat pertolongan pertama. Kondisi tubuhnya begitu menyedihkan. Bahkan Yohan tak kuasa melihatnya.


Nelson menatap nanar wajah putranya. Dia mencoba untuk bangkit. Namun, segera ditahan oleh Evan. “ Apa yang sedang kau lakukan?”


Evan menahan tubuhnya, lalu menekannya kembali agar dirinya berbaring, sementara dirinya menghentikan pendarahan di perutnya.


Nelson terus menatap wajah Dean yang semakin hilang dalam penglihatannya, sedetik kemudian dirinya memejamkan matanya. Samar-samar terdengar teriakan Evan yang menggema di telinganya.


“ Medis, medis.” Evan berteriak seraya menekan luka di bagian perut Nelson.


Yohan yang mendengar teriakan Evan pun meminta tim medis untuk datang membantu Nelson.


“ Bagaimana?” Yohan bertanya pada petugas medis.


Sang petugas hanya menggelengkan kepalanya. “ Kondisinya sangat lemah kita harus segera membawanya ke rumah sakit.”


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏😍❤️🫶🌹🌹🌹🌹


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2