
Bella masih terbaring di atas kasur dan ketiduran sampai siang hari, entah kenapa? Anak-anak tidak datang ke kamarnya untuk membangunkan dirinya.
“ Oh,” Bella membungkus diri dengan selimut, lalu terduduk di atas kasus dengan malas, isi otaknya tetap saja kosong. Mungkin anak-anak sudah mengerti jika dirinya sudah bersama ayahnya.
Mereka tahu ibunya sangat kelelahan karena ulah ayah mereka. Bella bangun karena perutnya keroncongan, dia membuka selimutnya dan turun dari tempat tidurnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian.
Saat dia menuruti anak tangga terlihat kedua putra kembarnya sedang berada di ruang tamu, terlihat Mr. Oliver sedang menemani keduanya. Terlihat Dean yang tertidur di sofa ruang keluarga. Sedangkan Dion sedang bermain menyusun puzzle bersama Oliver.
Walaupun Oliver tinggal di Kanada. Namun, dia fasih dalam bahasa Mandarin sehingga dia tidak terkendala oleh bahasa. Dia mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya dengan cepat.
Saat Bella berjalan ke dapur Oliver menyadari kehadirannya. Dia bangkit dari duduknya. Oliver dengan sopan dan hormat menyapanya. “ Selamat pagi, Nyonya.”
Bella menganggukkan kepalanya, membalas sapaan dari Oliver. Dion yang mengetahui ibunya telah bangun. Dengan segera dia berhambur kepelukan ibunya. Dirinya yang terdorong oleh tubuh putranya itu sedikit terhuyung. Rasanya dia tidak punya tenaga.
“ Ibu sudah bangun?” Seraya mencium pipi Bella.
“ Emm,” Bella menganggukkan kepalanya dengan pelan.
“ Apa kalian sudah makan?” tanya Bella.
Dion menggelengkan kepalanya, seraya berkata. “ Belum. Karena makanan belum siap, ucapnya. Seraya memgulas senyum lembutnya.
Bella melirik meja yang sudah banyak obat tertata rapi serta segelas air yang tertutup. Perlahan hatinya menyusut. Dilepaskannya Dion dari pelukannya. Dia menghampiri Dean yang terlelap. Wajah tampannya sedikit pucat. Di kecupnya lembut kening Dean. Seraya kembali berbalik menuju dapur.
Di dapur terlihat begitu sibuk. Para pelayan sedang menyiapkan peralatan makan di meja makan. Bella menghampiri mereka dan hendak membantu. Namun, oleh kepala pelayan di larang.
“ Nyonya, apakah Anda sudah lapar?” Kepala pelayan pun bertanya. Dengan sopan dan hormat.
“ Emm,” Bella menganggukkan kepalanya. Karena sedari pagi dia belum makan apa pun.
“ Maafkan saya Nyonya. Izinkan saya memberikan kudapan untukmu Nyonya. Selagi menunggu makanan siap,” seraya menyerahkan sepotong kue pada Bella.
Dia pun segera kembali ke ruang tamu seraya membawa sepiring kue di tangannya. Dia menemani Dean yang masih tertidur.
Selama Bella berhenti bekerja, dia selalu berada di rumah, Dion selalu menempel padanya. Walaupun keduanya dulu tidak memiliki waktu bersama karena dia sibuk mencari nafkah untuk kedua putranya, sehingga dia tidak mengetahui perkembangan kedua putranya.
Di tatapnya wajah Dean yang tertidur. Dan beralih kembali pada Dion yang tengah bermain dengan Oliver. “ Ah. Aku sudah melewatkan perkembangan dan pertumbuhan mereka berdua.”
“ Mereka terlihat sudah sangat besar. Aku bahkan melewati momen indah bersama mereka.”
Bella merenungi semua hal yang telah dilewatkan olehnya, yang terakhir dia ingat adalah saat Keduanya pertama kali bisa berdiri tanpa berpegangan pada apa pun.
Oliver menemani Dion duduk di depan jendela untuk membangun replika pesawat yang ukurannya cukup besar, Oliver membolak-balikkan buku panduan, untuk melihat cara membuat sebuah pesawat besar, setelah lima belas menit akhirnya pesawat pun sudah jadi.
__ADS_1
Oliver mengangkat tinggi pesawat dan berlari-lari di dalam rumah bersama Dion.
“ Wah pesawatnya terbang.” Bella berkata seraya bangkit dari duduknya.
Dion yang mengikuti di belakang Oliver dan berlari dengan ceria. Dion setengah berteriak berkata. “ Dean bangunlah, lihat pesawatnya sudah bisa terbang,” ucapnya.
Dean yang mendengar keributan pun dengan enggan membuka kedua matanya secara perlahan. Dia bangkit dari tidurnya.
“ Mengapa sangat ribut sekali?” ucapnya. Seraya mengucek matanya yang masih ngantuk.
“ Kau sudah bangun, Nak?” tanya Bella.
“ Emm,” Dean menganggukkan kepalanya.
“ Ayo makan siang,” ajak Bella.
Dean tersenyum, seraya melangkahkan kakinya menuju westafel untuk mencuci mukanya. Dion beserta Oliver menunggunya di meja makan. Dia pun segera bergegas menghampiri mereka untuk makan bersama.
Setelah makan siang Dean di temani oleh Oliver, Dia meminum obatnya satu persatu, Oliver memberikannya segelas air untuk membantunya memelan obat-obatan itu.
Bella yang melihat itu, hatinya sungguh terluka, dia begitu patah hati. “ Putraku yang terlihat sehat itu ternyata sakit parah,” batinnya.
Bella menemani kedua putranya bermain hingga sore, dan saat makan malam, Nelson pulang.
Nelson meletakkan tas kerjanya, lalu melepas mantel, mengganti sepatu dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya, dan kemudian menghampiri Dion.
Ketika Dion melihat ayahnya jelas tidak seramah ketika melihat ibunya, dia seolah bersikap seolah sudah dewasa.
“ Apakah kalian bermain seharian bersama ibu? Bagaimana kau melewatkan harimu? tanya Nelson Nelson pada Dion.
“ Ya aku menemani mereka berdua bersama Oliver seharian ini.”
“ Ketika kamu berbicara dengannya, tidak bisakah memberikan sedikit senyuman? Jangan memasang wajah tegas seperti itu.” Bella berkata terlebih dahulu sebelum Dion menjawab.
“ Bella, aku sedang berbicara pada Dion, mengapa malah Kamu yang menjawab?” tanya Nelson.
Bella mengerucutkan bibirnya seperti bebek, Bella sedikit kesal karena yang di tanya lebih dulu adalah putra kedua mereka bukan dirinya.
Nelson tersenyum kala melihat tingkah menggemaskan dari istrinya itu. Dia menyentuh bibir Bella dengan jari telunjuknya. Menekannya dengan lembut, seraya berbisil. “ Bersabarlah bagianmu adalah saat kita berada di atas tempat tidur yang sama. Di ruangan yang tertutup.”
Bella tidak percaya dengan apa yang di dengarnya saat ini. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu saat menggendong Dion di pangkuannya.
Setelah makan malam, Bella menemani kedua putra kembarnya menonton film action, dan film yang di tonton pun selesai.
__ADS_1
Kemudian Dean dan Dion di antar ke kamarnya oleh Bella. Oliver membereskan obat-obatan milik Dean untuk di bawa naik ke kamar.
Setelah memgantar kedua putranya, Bella kembali menonton TV di ruang keluarga sebentar, karena acara TV tidak ada yang menarik minatnya. Dia pun mematikan TV. Dia beranjak untuk kembali ke kamarnya.
Tapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Lampu di ruang kerja suaminya masih menyala, ternyata dia masih bekerja di dalam sana.
Bella. Berhenti di pintu. Dia melihat suaminya yang tampak lelah, dari celah pintu lalu kembali ke bawah.
Dia kembali ke dapur, dan mengambil sekotak kopi impor. Kemudian, dia merebus air, membuat kopi lalu membawanya ke lantai atas. Aroma kopi memenuhi area dapur.
Bella memegang secangkir kopi di satu tangannya, dan tangan yang satunya mengetuk pintu ruang kerja tiga kali.
Tok… tok… tok. suara pintu di ketuk.
“ Masuklah.” Suara rendah dan tenang Nelson terdengar dari dalam ruangan.
Bella mendorong pintu, dia setengah bersandar di daun pintu. Seraya tersenyum pada pria di depan meja kerja.
“ Suamiku mau minum kopi?” Suara lembut nan menggoda itu terdengar begitu jelas di telinganya.
Nelson menghentikan pekerjaannya, perlahan menatap Bella dengan kopi hangat di tangannya. Dengan suara rendah dia berkata. “ Masuklah.”
Bella membawa kopi ke hadapan Nelson, lalu duduk di sampingnya. “ Minumlah, aku menaruh banyak gula. Tidak pahit sama sekai.” Mata Bella berbinar kala menatap padanya. Seraya menyerahkan cangkir yang di pegangnya.
Nelson meraih cangkir yang di berikan olehnya. Dia tersenyum dan menyeruput secangkir kopinya.
“ Um, memang benar terlalu banyak gula, dan ini manisnya sampai membuatku mual,” batinnya.
Nelson meminum setengah cangkir kopi di depannya, lalu meletakkannya di samping. Dia juga sengaja meliriknya dengan ujung matanya.
“ Kenapa kamu tidak meminum lagi? Apa rasanya tidak sesuai dengan seleramu?” Bella bertanya. Mengerucutkan bibirnya seperti bebek.
“ Ini secangkir kopi bukan anggur. Haruskah di minum sampai habis?” Nelson tersenyum ringan, lalu membelai kepala Bella dengan lembut.” Aku masih punya beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan, pergilah tidur lebih dulu.”
*
*
*
Jangan lupa like, Vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹🌹🌹
Bersambung
__ADS_1