
"Baiklah. Kalau begitu...." Ucapan Danil terpotong oleh Khanza yang tiba-tiba bangun dan berjalan ke samping Tania dan Kevin.
"Tunggu sebentar. Tidakkah hanya dengan berdiri saja masih tidak dapat menjelaskan semuanya. Bukankah kita juga harus memperhatikan kenyamanan dari pengguna produk kita juga?" Ucap Khanza menarik perhatian semua orang.
Semua orang pada awalnya hanya fokus memperhatikan keserasian Kevin dan Tania. Lalu dipadukan dengan gaya berpakaian yang tampak menarik dan elegan. Jadi saat Khanza mengatakan hal ini, mereka semua mulai berbisik-bisik. Mereka ternyata melupakan hal yang begitu penting.
Kepala bagian pemasaran juga baru tersadar. Ia sudah melihat sendiri jika Kevin dan Tania terlihat nyaman memakai pakaian itu. Dan kedua pakaian itu juga terlihat indah saat dipakai. Jadi dia melupakan jika para petinggi perusahaan belum melihatnya.
"Bukankah kalian juga setuju jika kita meminta Tuan Kevin dan Miss Angela untuk berjalan mempresentasikan pakaian itu?" Khanza melanjutkan saat melihat ekspresi semua orang yang mulai terpancing.
"Tuan Kevin, Miss Angela bagaimana menurut anda?" Kepala bagian pemasaran harus menanyakan kesediaan Kevin dan juga Tania. Keduanya bukan orang yang bisa dia abaikan bagaimana pun.
"Tidak masalah. Memang seharusnya seperti itu." Bukan Kevin yang menjawab, melainkan Tania. Khanza tersenyum licik saat mendengar kesediaan Tania.
Melihat Tania tidak keberatan, Kevin pun tidak menolak. "Baiklah." Kevin mengangguk.
"Baiklah. Kalau begitu silahkan."
Pakaian yang mereka kenakan adalah pakaian Couple. Jadi saat menjadi model yang memperagakannya juga harus bertindak sebagai pasangan. Tania menggamit lengan Kevin dengan mesra seperti saat mereka datang tadi.
Dengan Tania yang aktif, Kevin hanya mengikutinya dan mulai berjalan bersama dengan Tania. Kevin tidak tahu bahwa Tania mau menggamit lengannya dengan paruh tidak semata-mata karena mereka menjadi model bersama namun lebih karena Tania khawatir jika ia akan jatuh setiap saat dan mengacaukan semuanya.
Di dalam Ruangan itu memang sudah disediakan landasan untuk model berjalan yang berada di bagian ujung ruangan itu. Mulai dari tempat mereka berdiri sampai landasan, keduanya berjalan dengan bergandengan tangan. Sebenarnya melihat mereka berjalan biasa saja, semua orang sudah merasa puas. Namun jika mereka bisa melihat keindahan yang keren dan serasi berjalan di depan mereka untuk pertama kalinya, mereka tidak akan melepaskan kesempatan langka itu.
Tania tidak berharap jika semakin dia berjalan, semakin dia merasa tidak nyaman. Tubuhnya semakin terasa panas dan tidak nyaman. Pandangan matanya buram.
"Ah!" Teriak Tania saat ia tidak dapat mempertahankan keseimbangan dirinya dna terjatuh. Beruntung Kevin bergerak cepat dan menangkapnya. Jika tidak, Tania pasti sudah terjatuh dengan menyedihkan di lantai.
Tania sudah merasakan tubuhnya yang panas dan tidak nyaman untuk beberapa saat. Dan saat ia merasakan tangan Kevin yang memeluknya erat terasa lebih dingin dan nyaman, ia tidak bisa tidak bergerak mencari kenyamanan. Tidak seperti biasanya yang akan segera menjauhkan Kevin dengan mendorongnya menjauh, Tania bahkan berinisiatif membalas memeluk Kevin. Yang segera menyadarkan Kevin jika ada sesuatu yang salah dengannya.
__ADS_1
"Kev, kenapa kamu begitu tampan?" Gumam Tania saat ia menatap Kevin dengan mata yang berkabut.
Kevin terkejut. Beruntung mereka berada cukup jauh sehingga mereka tidak mendengar apa yang dikatakan Tania.
"Tania, ada apa denganmu?" Tanya Kevin menatap wajah Tania yang memerah. "Apa kamu sakit?" Lanjutnya sambil memeriksa kening Tania dengan punggung tangannya.
"Kev, aku merasa tidak nyaman. Kenapa di sini begitu panas?" Tania kehilangan kesadaran nya sepenuhnya dan meracau. Ia mencari kenyamanan dan menggosokkan tubuhnya pada Kevin. Tidak berhenti di situ, Tania bahkan mulai menciumi leher Kevin.
"Danil, urus sisanya di sini." Kevin berbicara sebelum menggendong Tania dan berjalan cepat meninggalkan ruang rapat di bawah tatapan terkejut semua orang. Mereka tidak ada yang menyangka akan melihat hal semacam itu.
"Ehem. Apa Yang terjadi di sini, kalian tidak bisa menyebarkannya. Anggap saja tidak pernah terjadi sesuatu. Jika tidak, kalian pasti akan tahu akibatnya." Ucap Danil tegas.
"Tentu. Tentu saja tuan. Kami akan berpura-pura tidak ada yang terjadi. Kami tidak pernah melihatnya." Meskipun Danil tidak mengatakan yang lain sebelum ia pergi, Semua orang tahu untuk bertindak bijak untuk menyimpan rahasia ini dan berhenti pada mereka.
Setelah puas dengan ucapan semua orang, Danil segera keluar dari ruang rapat. ia masih harus memastikan tuannya baik-baik saja.
Tidak. Dia tidak boleh membiarkan Tania mendapatkan Kevin bagaimana pun caranya. Ia harus mengendalikan semuanya. Dengan mengepalkan tangannya, ia berjalan cepat dengan keluar dari ruang rapat. Ia harus mencari Kevin dan Tania. Tania dalam pengaruh obat perangsang saat ini. Ia tidak boleh membiarkan keduanya bersama dalam waktu lama dan melakukan hal itu atau dia akan terlambat.
Setelah Khanza keluar dari ruang rapat, Khanza tidak melihat Siapapun di luar sana. Bahkan Danil yang baru saja keluar juga tidak ada. Khanza segera memencet tombol lift khusus Kevin. Namun karena ia tidak memiliki kartu akses lift tersebut, lift tidak terbuka sama sekali. Jadi Khanza dengan paksa beralih pada lift biasa.
Setelah menunggu selama hampir lima menit, lift yang ditunggunya tiba. Karena masih jam kerja, di dalam lift hanya ada dua orang gadis yang membawa map di tangan mereka. Dari kemeja putih yang dikenakan kedua gadis itu, mereka pasti adalah mahasiswa magang yang baru masuk selama beberapa hari.
Melihat Khanza masuk, keduanya segera menyapa dengan hormat. Khanza sudah terkenal begitu ia masuk ke perusahaan. Jadi bahkan mahasisa magang pun mengenalnya dan mengetahui jika mereka tidak boleh menyinggung perasaan wanita itu. Keduanya juga secara otomatis mundur dan memberikan tempat yang luas untuk Khanza. Namun karena emosi Khanza yang sedang buruk, niat baik mereka disalah pahami olehnya.
"Apa kalian pikir aku ini gemuk dan membutuhkan tempat yang luas?" Teriak Khanza marah.
"Maaf nona." Keduanya segera ketakutan dan mendekat. Namun sekarang justru Khanza lah yang mundur.
"Jangan dekat-dekat! Apa kalian pikir kalian pantas?" Khanza semakin kesal. Keduanya adalah mahasiswa magang. Bisa ditebak pekerjaan mereka adalah pekerjaan yang paling berat. Para karyawan akan menyuruh mereka melakukan banyak hal yang akan membuat mereka lelah. Keduanya juga sama. Mereka bertugas mengcopy berkas dari pagi mereka datang. Saat ini mereka penuh dengan keringat yang membuat Khanza jijik.
__ADS_1
Khanza masih ingin melampiaskan amarahnya pada kedua gadis malang itu, namun pintu lift terbuka karena telah sampai di lantai tujuan mereka.
"Maaf nona. Kami permisi dulu." Tanpa menunggu persetujuan Khanza, keduanya segera melipir di tepi dinding lift sebelum keluar dengan tergesa-gesa. Meninggalkan Khanza yang menatap keduanya dengan penuh amarah.
"Huh! Nasib kita sangat buruk hari ini." Keluh salah satu gadis itu.
"Ya sudahlah. Kita berdoa saja semua berjalan lebih lancar setelah ini." Sahut temannya sebelum mereka berpisah menuju tempat mereka masing-masing.
*
*
*
...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_99🍁...
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...
...***...
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
__ADS_1