
Hasil tes DNA Kaylee dan Kaisar keluar keesokan harinya. Kakek Seno dan nenek Ambar yang mengetahui jika Kevin mengambil sampel darah untuk melakukan tes DNA dengan Kaylee dan Kaisar yang mmebuat Kaylee menangis saat mandi pagi ini, mereka sangat marah. Mereka bergegas pergi ke rumah sakit untuk mencari pertanggungjawaban dari Kevin yang telah membuat cicit mereka yang manis sampai menangis kesakitan.
"Sayang, kamu tenang saja. Nenek buyut akan menghajar daddymu itu. Apa dia tidak punya otak? Tidak punya mata? Kalian berdua ini sekali dilihat saja sudah tahu jika memang anaknya. Kenapa mesti harus ada drama seperti ini. Membuat malu saja." Nenek Ambar terus mengulangi dialognya sepanjang jalan ke rumah sakit.
"Nenek buyut jangan marah lagi. Daddy melakukannya juga karena kami berdua sudah setuju. Lagipula kami juga ingin membantu Daddy membela mami." Kaylee menarik lengan nenek Ambar yang sedang memeluknya.
"Eh? Memangnya ada apa?" Nenek Ambar bertanya dengan bingung.
"Nyonya, mungkin karena masalah ini." Asisten Kakek Seno yang duduk di kursi depan menyerahkan ponselnya yang menampilkan berita di laman penyiaran. Yang semuanya menyudutkan Tania dan bahkan menyerang Kaisar dan juga Kaylee.
Nenek Ambar menerimanya. Lalu mengerucutkan bibirnya saat ia membaca semua berita itu. "Heh! Orang-orang ini benar-benar tidak punya kerjaan. Senang sekali mencampuri urusan yang bukan urusannya." Nenek Ambar kesal. Meremas ponsel yang ada di tangannya. Dia sudah tua dan tidak terlalu memperhatikan berita di internet, jadi dia benar-benar tidak tahu ada berita seperti itu.
"Kalau kamu tahu ada hal semacam ini, kenapa masih diam saja dan tidak memberitahuku hah?" Nenek Ambar memukul asisten itu dengan ponselnya sebelum melemparkan ponsel itu yang segera ditangkap cepat oleh pemiliknya.
"Maaf. Maaf nyonya. Ini juga bukan salah saya." Asisten itu tidak mau disalahkan. Lagipula memang juga tidak sepenuhnya salahnya. Dia sudah akan memberitahu nenek Ambar tetapi selalu tidak bisa.
"Berani mengelak hah?" Nenek Ambar tidak sabar dan memgambil majalah untuk memukul asisten itu.
"Ampun nyonya. Ampun. Tapi ini memang yang sebenarnya. Saya sudah akan memberitahu Anda kemarin begitu saya mengetahuinya, tetapi anda sibuk dengan nona dan tuan kecil. Bukankah Anda sendiri yang mengatakan pada saya agar saya tidak menggangu anda kemarin?" Ucap asisten itu dengan cepat sambil menutupi kepalanya yang masih dipukuli oleh nenek Ambar.
"Huh! Kenapa tidak bilang jika itu masalah penting?" Nenek Ambar semakin kesal. Jika asisten ini memberitahunya jika yang ingin dia laporkan ada hubungannya dengan Tania, apakah dia masih tidak tahu sampai sekarang?
"Sudah sudah sayang. Jangan marah lagi. Ingat kata dokter." Kakek Seno segera menarik tangan nenek Ambar dan mengambil majalah di tangannya. Lalu dengan sabar mengelus pundak wanita yang telah menemaninya lebih dari setengah abad itu.
__ADS_1
"Huh! Aku kan kesal. Ada masalah seperti aku sebagai neneknya tidak tahu. Nenek macam apa aku ini!"
"Nenek, sudah tidak apa-apa. Daddy sudah menyelesaikan semuanya." Kaylee ikut menenangkan nenek Ambar.
"Benar nenek. Mami juga bukan orang yang tidak masuk akal. Bahkan mami pasti akan sangat berterima kasih karena nenek sudah menjaga kami kemarin." Kaisar juga ikut berbicara. Meskipun ia tidak pandai membujuk orang, mengatakan kebenaran pasti akan ada gunanya.
"Anak baik. Anak baik. Nenek buyut akan memberikan hadiah yang besar pada kalian nanti, ya." Nenek Ambar memeluk Kaisar dan Kaylee sambil mengelus kepala mereka.
"Tuan, Nyonya, tuan muda akan mengadakan jumpa pers di perusahaan siang ini." Asisten kakek Seno mengangkat kacamata nya dan menoleh ke belakang.
"Jumpa pers?" Nenek Ambar mengerutkan alisnya. "Bukannya hari ini Tania juga akan pulang?" Lanjutnya. Mereka datang ke rumah sakit hari ini bukan hanya untuk menjenguk dan mengantar Kaylee dan Kaisar menemui ibu mereka melainkan juga menjemput Tania. Dengan keadaan Tania saat ini tidak mungkin untuk tinggal sendirian dan masih harus menjaga dua anak, jadi nenek Ambar merasa jika ini adalah kesempatan yang bagus untuk membawa Tania bersedia tinggal do kediaman Abraham.
"Anak itu melakukan sesuatu pasti memiliki rencananya sendiri. Kita tidak perlu ikut campur lagi. Langsung pergi ke rumah sakit sekarang." Kakek Seno berbicara dengan tenang.
"Tapi aku ingin tahu apa yang akan dilakukan anak nakal ini. Jangan sampai hal itu malah membuat Tania semakin jauh." Nenek Ambar khawatir jika masalah akan semakin kacau. Kesempatan untuk memeluk cicit-cicit nya akan berkurang jika sampai Kevin menyinggung Tania.
Suasana di AB Grup hari ini sangat ramai. Tidak seperti biasanya. Salah satu aula pertemuan dipenuhi dengan orang-orang dengan peralatan media mereka. Para wartawan memenuhi kursi yang telah disediakan oleh pihak AB Grup. Segala hal yang menyangkut AB Grup selalu menarik untuk diperhatikan. Apalagi kali ini hal itu menyangkut pemimpin perusahaan, Kevin Axmala Abraham.
Beberapa hari ini internet sibuk membicarakan mengenai Kevin dan Tania. Mereka semua berpendapat jika jumpa pers kali ini, Kevin pasti akan berdiri melawan Tania, mantan istrinya yang dulu berselingkuh darinya. Lalu mengenai anak-anak itu, mereka yakin pasti Kevin sudah mengambil sampel darah mereka. Melakukan tes untuk dijadikan bukti. Lalu setelah terbukti bahwa mereka adalah putra dan putri kandung Kevin, merek berdua pasti akan dibawa kembali oleh Kevin.
Nanti dalam jumpa pers, di dari para wartawan ini akan diberi kesempatan untuk bertanya masing-masing satu pertanyaan. Jadi saat ini beberapa dari mereka sibuk mencatat dan menghafalkan apa saja yang mereka tanyakan jika mereka beruntung diberi kesempatan untuk bertanya nanti. Beberapa orang sedang melakukan perekaman, sebagian lagi duduk di tempat mereka dengan tenang.
"Aku yakin jika tuan Kevin pasti akan mengelak anak-anak itu. Meskipun keduanya sangat mirip dengannya, tidak menutup kemungkinan jika kedua anak itu didapat dari mana. Seperti yang digosipkan." Salah satu wartawan yang sedang mengatur kameranya berbicara pada rekannya.
__ADS_1
"Uh! Jangan bicara sembarangan. Apa masalah seseorang seperti tuan Kevin ini bisa kamu bicarakan seenaknya. Kita beruntung diundang kemari. Jangan sampai membuat orang yang tidak boleh disinggung malah kita singgung begitu saja dan membuat kita diusir. Apa kamu ingat ancaman dari bos sebelum kita berangkat tadi? Kita sudah bersusah payah untuk sampai di sini. Jangan sampai ucapan asal asalan mu itu membuat kita kehilangan pekerjaan. Kamu mengerti?" Rekannya yang bertugas menjadi reporter segera menasehatinya.
"Iya iya. Aku paham. Aku adalah tulang punggung keluarga ku sekarang. Aku tidak boleh sampai kehilangan pekerjaan."
"Bagus jika kamu mengerti. Sekarang lakukan saja apa yang harus kamu lakukan. Periksa semua peralatan kita agar tidak ada kesalahan sedikit pun."
*
*
*
🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_173🍁
kasih sudah mampir 😘
Like, VOTE, rate dan komentar nya tunggu...🤗
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️
***
__ADS_1
Salam sayang 😘
❤❤❤Queen_OK❤❤❤